Send My Letter To Heaven

Send My Letter To Heaven
Payung Hitam Bermotif Bulan


__ADS_3

“Argghh!”


“Dhafin!”


“Kak!”


Semua pengunjung menoleh pada kami. Aku yang tengah sibuk merapikan cangkir di belakang berlari saat mendengar seseorang memanggil nama kakak ku cukup keras.


“Kak Dhafin!”


Tubuh ku bergetar saat kakak ku berada di dekapan Kak Andrian. Wajahnya memerah seolah menahan sakit. Tangan yang tadi sempat bertengger di dada kini beringsut di samping kiri tubuh.


Melihat aku berlari menghampiri, Kak Dhafin tersenyum. Sungguh, pemandangan yang tidak ingin ku lihat dari Kakak ku. Menahan sakit dan berpura-pura tersenyum padaku.


“Hyera, bawa Dhafin masuk, Kenzie bantu Hyera. Aku akan menutup café setelah ini.” Aku mengangguk, begitu pula Kenzie yang sigap membantu Kak Dhafin berdiri.


Di café kakak ku, ada tempat beristirahat. Kamar kecil yang di susun Kak Dhafin untuk beristirahat saat dirinya kelelahan atau untuk berjaga-jaga jika aku bosan dan mengantuk.


Kenzie membaringkan tubuh Kak Dhafin perlahan. Isakan ku mulai terdengar samar. Maaf, meski aku sudah menahannya, isakan dan air mata itu tetap tidak bisa aku tahan.


“Hey, sssttt jangan nangis. Kakak cuma kelelahan kok.”


“Tapi kakak hampir jatuh.”


“Itu karena kakak nggak hati-hati.”


Kak Dhafin mengelus pipi ku. Menghapus air mataku dan tersenyum lembut ke arahku.


Melihat dia sok kuat seperti ini membuat hatiku semakin hancur. Aku tahu kakak sakit, aku tahu kakak menderita, aku tahu kakak tidak baik-baik saja. Tolong jujur, apa salahnya?


“Kak,” aku beringsut mendekat. Memegang tangan kakak ku yang sedari tadi ia pakai untuk mengelus pipiku. “Aku tahu semuanya nggak mudah semenjak kepergian ayah sama ibu. Apa salah nya berberbagi semua nya dengan ku?”


Kak Dhafin menggeleng pelan, dan aku kembali menyahut.


“Aku mungkin nggak sempurna, tapi kakak nggak sendiri. Ada aku.” Aku semakin menguatkan pegangan pada tangan Kak Dhafin. “Kita lalui sama-sama. Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu di khawatirkan. Kakak khawatir sama aku, dan aku khawatir sama kakak. Daripada kita saling khawatir, ayo laluin sama-sama dengan semua hal kita buat seterbuka mungkin.”


“Adek…”


“Kak, aku mohon. Ayo kita buat semuanya jadi lebih baik. Kakak jangan forsir waktu kakak bekerja terus-terusan demi aku. Aku bahkan nggak pernah minta dibeliin ini itu kak.”


Kak Dhafin melepaskan pegangan tangannya. Merentangkan tangan menyambut tubuhku untuk di rengkuh ke dekapannya. Dan aku beringsut menghapus air mata lalu menenggelamkan wajah ku ke dada bidang nya.


“Sayang Hyera sampai kapanpun.”


Wajahku semakin tenggelam di pelukan Kak Dhafin. Sayup-sayup aku mendengar degup jantung kakak ku. Aku meringis sedih mendengarnya. Bolehkah aku meminta untuk terus mendengarkan detak jantung ini seterusnya?


“Kenapa nangis sih? Kakak hanya kelelahan, nggak perlu secemas ini.”


Bohong.


Mataku terpejam erat, detak jantung Kak Dhafin semakin menginterupsi pendengaranku, dan hal itu membuat dadaku ikut nyeri.


“Sampai kapan kakak nyembunyiin semuanya?” Aku merasakan tangan Kak Dhafin berhenti mengelus punggungku. “Kenapa nggak jujur sama aku? Aku berhak tahu kondisi kakak.”


“Kakak hanya kelelahan, tidak perlu khawatir.”


“Oh ya? Berani bertaruh apa? Jantung kakak?”


Pelukan Kak Dhafin mengendur. Tubuhnya menegang, aku bisa merasakan keterkejutan kakak ku.


Aku menjauhkan tubuhku, “Mau nunggu sampai kapan buat jujur ke aku?”

__ADS_1


“Dek?”


“Kenapa kak?”


“Kamu… tahu?”


“Semuanya.”


Mata Kak Dhafin berkaca-kaca menatap ke arahku. Detik setelahnya aku merasakan elusan di pundak kiriku. Tangan Kenzie sepertinya terulur mengelus pundakku agar aku bisa lebih mengontrol emosiku.


“Kak Dhafin masih nggak mau jujur?”


Masih dengan diamnya, tanpa berniat membuka mulutnya. Seolah mulut Kak Dhafin terkunci, hanya gelengan kepala pelan yang menjadi jawaban atas pertanyaan ku.


Aku tersenyum masam. Semakin merasa tidak berguna saja aku hidup. Menggeleng kepala pelan, aku berdiri tanpa menatap Kak Dhafin.


“Istirahat aja, aku pamit.”


Memilih pergi meninggalkan Kak Dhafin mungkin pilihan terbaik sekarang. Menatap wajahnya yang hanya memandangku tanpa kata seolah memberitahuku, kalau pun aku tahu tentang penderitaan juga penyakitnya, semua tidak akan berubah.


“Loh mau kemana?” Tidak menoleh dan tidak menjawab, aku masih angkuh dengan langkah ku yang semakin ku pacu sedikit lebih cepat. Meninggalkan Kak Andrian yang memanggilku dengan suara kerasnya. Tidak peduli dengan tatapan beberapa pengunjung yang masih tersisa. Aku sudah tidak peduli lagi dengan siapapun, saat ini.


Kakiku berpacu satu sama lain. Membelah bisingnya kota juga deru kendaraan yang saling bersahutan. Tidak ada lagi lelehan air mata di pipi. Entah, air mataku bahkan enggan keluar lagi setelah kaki ku menginjakkan kaki ke luar café.


Bisa ku dengar jelas, petir yang saling bersahutan. Langit yang tadi cerah berubah kelabu. Suasana alam yang langsung berubah seketika ketika hatiku semakin sesak saat telingaku kembali mendengar degup Kak Dhafin.


Sorot mata ceria yang selalu ia tunjukan, bayangan celotehannya tanpa henti, semua hal tentang kesempurnaan Kak Dhafin yang mungkin bisa hilang kapan saja.


Seperti air mata yang berbaur dengan hujan. Meski terus memaksa keluar, tapi dengan mudahnya di samarkan oleh hujan.


Aku benci diriku yang lemah, aku benci diriku yang cacat, aku benci diriku yang tidak bisa melakukan apa-apa saat tahu kakak ku sekaligus orang tuaku sedang sekarat menahan sakit.


Ucapan Dokter Kang kembali mengiang di telingaku.


Suara-suara itu terus berdengung, semakin aku memacu langkah suaranya semakin terdengar jelas. Semakin hujan mengguyur tubuh, suara itu semakin berbaur dengan intonasi yang mengeras.


“Kamu yakin tidak pernah ada riwayat sakit jantung? Atau mungkin dulu pernah mengalami kecelakaan hebat yang membuat kakak mu tidak sadarkan diri atau semacamnya?”


Seperti orang gila, aku menutup telingaku dan berteriak histeris di bawah hujan.


Kenangan pahit kecelakaan itu ikut berputar di fikiranku. Suara bising dua mesin yang saling beradu pun ikut menginterupsi pendengaranku.


“Kamu sudah memastikan analisis Dokter yang menangani kakak mu? Begini, semua orang bisa berkata baik-baik saja, tapi nyatanya dalamnya perasaan seseorang tentu tidak ada yang bisa memprediksi. Maksut saya, kakak mu bisa dengan mudah berkata baik-baik saja, tapi kamu tetap tidak tahu apa kakak kamu itu jujur atau sedang menutupi kebohongannya darimu. Kata ‘baik’ tidak selamanya berarti ‘baik’.”


“Argghhh!”


Sekuat tenaga aku melempar hearing aid yang bertengger di telingaku. Melepas dan membuang nya menjadi pilihanku saat ini, karna benar saja, saat aku melepas dan melempar nya, suara-suara itu ikut lenyap.


Aku mendudukkan diriku di atas trotoar yang basah. Menatap hearing aid yang tergolek mengenaskan di bawah guyuran air hujan. Menangis sejadi-jadinya tanpa mendengar apapun yang seharusnya aku dengar.


Hidupku terlalu kacau, satu malam yang membuat hidupku hancur bertahun-tahun lamanya atau mungkin selamanya.


Kecelakaan itu dengan rakus membabat habis kehidupan juga kebahagiaanku. Mengambil pendengaranku, mengambil kedua orang tuaku, dan hampir mengambil kakak ku. Atau mungkin, sebentar lagi mengambil kakak ku karena kerusakan jantung akibat kecelakaan mengenaskan itu.


Aku benci malam itu, aku benci takdir yang tidak adil ini.


Mataku menatap langit. Hujan dengan lancang jatuh menerpa wajahku. Tidak pernah mau permisi saat ingin turun. Enak mereka jika turun selalu berombongan, sementara aku?


Yakin aku bisa memberikan jantungku untuk kakak ku? Yakin jantungku akan cocok? Bagaimana jika tidak cocok? Bagaimana jika jantung ku tidak bisa di terima dengan baik oleh tubuh kakak ku?


Tubuhku ambruk menyamping, menahan beban batin selama hampir sisa hidupku nyatanya tidak semudah itu. Di kelilingi cinta juga orang-orang yang sayang nyatanya tidak bisa menjadi jaminan lolos dari perih batin yang lebih dulu membebani.

__ADS_1


Sebuah tangan kokoh merangkulku. Satu tangan nya cekatan menopang tubuhku. Aku melirik sekilas, pandanganku sedikit kabur terkena hujan, meski begitu aku tahu siapa orang ini.


Entah sejak kapan Kenzie mengikutiku. Entah sejak kapan Kenzie berdiri di belakangku. Entah sejak kapan Kenzie berjaga di sekitarku.


Bibirnya bergerak merangkai kalimat, cukup panjang, terlihat dari gerak bibirnya yang lama mengucapkan sesuatu hal, sayangnya aku tidak bisa mendengar ucapannya.


Kenzie memajukan kepalanya, menutupi wajahku dari guyuran air hujan. Bibirnya terus bergerak seolah mengajakku berbicara, sampai sebuah payung berwarna gelap dengan corak bulan datang menaungi kami berdua.


Kepala ku dan Kenzie saling mendongak menatap seseorang yang menaungi kami dengan payung nya. Dahiku mengernyit, mencoba mengingat orang yang masih menatapku dari atas, tanpa beralih untuk menatap Kenzie.


Pelan-pelan Kenzie membantuku berdiri, mengambilkan hearing aid yang baru saja ku buang. Menyerahkannya padaku setelah mengecek rusak atau tidak.


Orang itu masih menatapku, dan aku pun begitu. Kami masih saling menatap di waktu yang terbilang cukup lama, sampai aku merasakan lengan kiriku di sentuh seseorang.


Ahh Kenzie memberikan hearing aid itu. Maaf, aku tuli, mungkin Kenzie sudah memanggilku tapi aku tidak mendengarnya.


Menerima benda itu, lalu aku memasangnya perlahan. Mataku memejam, mendengarkan suara demi suara menyapa gendang telingaku, membiasakannya masuk ke pendengaran baru aku membuka mataku.


“Jovin Kaindra.” Kenal nya.


Aku masih mengernyit, dia cukup sadar kalau ternyata aku tidak bisa mendengar, pantas saja dari tadi hanya menatap.


“Maaf, apa kami menghalangi jalan mu?” Kenzie bertanya sopan, dan ajaib anak itu tidak menoleh ke arah Kenzie atau sekedar menjawab pertanyaan Kenzie.


Tunggu.


Jovin?


Jovin Kaindra?


Seperti tidak asing??


“Kita pernah berteduh di halte. Dan kau pernah lancang menasehatiku.” Jovin kembali membuka suara, Kenzie diam menatapku, dan aku membalas tatapan bingung Kenzie.


Lancang menasehati? Tanya ku dalam hati.


“Kau mengenalnya?” Tanya Kenzie dan aku tidak menjawab. Masih sibuk mengingat sosok yang sekarang berdiri di depan kami.


Jovin Kaindra..


Berteduh di halte..


Lancang memberi nasehat..


“Siap..?? Oh! Kau yang waktu itu hampir tertabrak bukan?”


Kenzie menatapku ketika tanganku menunjuk ke arah Jovin. Aku bisa melihat Jovin sedikit menyunggingkan senyum. Sedikit, atau mungkin aku hanya salah lihat?


“Ya, itu aku. Terimakasih sudah ingat.”


Aku mengangguk mengiyakan.


Kami bertiga saling diam, tidak ada ucapan setelahnya sampai aku merasakan tidak ada lagi tetesan hujan dari langit.


Percikan air yang sedari tadi mangkir mengenai kaki juga sepatuku ikut terhenti. Kicau burung mulai terdengar sayup-sayup. Jovin menatapku dan aku menatapnya. Sepersekian menit kami saling menatap sampai tangan besar bertengger menutupi penglihatanku.


“Tidak baik anak gadis menatap intens ke arah lawan jenisnya.” Dan jelas aku tahu itu tangan siapa.


“Ayo, kita harus pulang, katanya kau mau merancang design florist mu, jangan buang-buang waktu.” Aku mengangguk mengiyakan, baru setelahnya tangan Kenzie turun dan menggenggam tanganku erat.


Tidak berniat pamit, aku melangkah melewati Jovin. Melirik nya sekilas lalu benar-benar menghilang dari pandangan Jovin. Sampai aku melupakan kata ‘terimakasih’ atas tumpangan payung yang ia berikan pada ku di bawah guyuran hujan.

__ADS_1


Payung hitam bermotif bulan yang secara tak sengaja menyelamatkanku dari derasnya hujan dan rombongannya.


Terimakasih laki-laki berpayung hitam dengan motif bulan, Jovin Kaindra.


__ADS_2