
Malam itu, Jiraiya menjamu Karina dan Mahesa di rumahnya di temani Gulikan yang baru pulang dari tugasnya memata-matai Luoyi untuk menjaga keselamatannya.
Yang paling sibuk di antara mereka adalah Luoyi yang selalu menjodoh-jodohkan Jiraiya dan Karina yang tampak malu malu.
"Ayo Kak, berikan gelang itu kembali, Kak Karin pasti mau menerimanya." Luoyi terus saja menggoda.
Karena sudah tidak sanggup mendengar ocehan Luoyi, Jiraiya berkata saat mereka masih makan,
"Yimoi, kalau Koko lihat lihat, kau sangat cocok jika berjodoh dengan Mahesa. Bagaimana Yimoi? bagaimana Mahesa? Ayah dan ibu pasti setuju kan?" Seru Jiraiya.
"Kami sangat setuju Nak, aku memang telah lama berbicara untuk mengikat hubungan kekeluargaan dengan keturunan Ong Barya."
Gulikan berkata sambil tersenyum di ikuti oleh anggukan Nyonya Mei yang juga tersenyum senang.
Luoyi yang tadinya ketawa ketawa menggoda tiba tiba menunduk. Mukanya merah padam. Tampak sekali benih benih cinta dari kerlingan pandangannya kepada Mahesa.
Mahesa juga agak menunduk dengan wajah sedikit memerah,
"Jiraiya, tak ingatkah engkau tentang Tiara dan Alvina?" Seru Mahesa pelan yang membuat wajah kecewa tampak pada Jiraiya.
"Mari makan, masalah itu lain kali saja kita bicarakan." Seruan Kek Ang menghentikan pembicaraan mereka.
.---***---. .---***---. .---***---.
Seorang pemuda yang masih sangat muda sekali memasuki sebuah ruang di bawah tanah Pulau Bon dimana Jiraiya dulu pernah di kurung oleh Ketua Bu.
Bu Su yang berbadan tegap itu meski masih berusia belasan tahun melangkah di kegelapan ruangan yang lumayan besar itu dengan langkah perlahan.
Sesampainya di sudut, dia menekan sebuah tuas kecil di sudut yang telah tertutup lumut dan tumbuhan menjalar sehingga tak tampak pandangan biasa meski dalam keadaan terang sekalipun.
"Grriiiitttthhh,,," Suara sebuah pintu kecil yang terbuka di sudut kiri terdengar bergemuruh.
Setelah memasuki tempat itu, Bu Su kembali menekan tuas di dalam ruangan yang jauh lebih luas dari ruangan dimana Jiraiya dulu terkurung.
Setelah pintu tertutup rapat, Bu Su segera melangkah ke arah sebuah ruangan luas sebelah kanan dimana terdapat rak buku besar di kirinya dan sebuah dipan di sebelah kanan nya.
Tepat di depan tempat nya berdiri, Bu Su melihat ada rak senjata dimana terdapat 27 macam senjata dari berbagai ahli beladiri dunia yang pernah di ketahui nya dari kitab yang pernah ia baca.
Beberapa tahun lalu, Bu Su menemukan ruangan ini tanpa sengaja setelah dia yang mendapat hukuman dari ayah nya yang dulu melatih dia dan kakak nya secara keras dan kejam.
__ADS_1
Selama tiga tahun ini, Bu Su selalu masuk ke ruangan itu diam diam untuk mempelajari berbagai macam disiplin ilmu beladiri dari kitab kitab yang sangat lengkap berada di situ.
Selama ini, dia yang hanya menjadi pelatih tingkat dua menyembunyikan keahliannya di Pulau Bon. Hanya Bong Gan yang telah tewas itu saja yang mengetahui tempat rahasia ini serta keahliannya yang tinggi sekali.
Bu Su yang sedang kecewa berat kepada ayahnya, segera berlatih mengeluarkan kemampuannya dalam kamar luas itu.
Ke dua puluh tujuh senjata itu di pakainya berlatih. Mulai dari senjata seperti tombak, toya, ruyung dua dan tiga ruas, golok baja, hingga senjata yang memang berpasangan seperti pedang, golok kecil, dan lain sebagainya.
Memang dari gerakan gerakannya, tampak bahwa Bu Su sangat berpengalaman dalam memegang senjata senjata tersebut.
Bakat alami yang di milikinya pun tampak sangat besar, terbukti dari desingan senjata senjata yang bergema di dalam kamar dimana dia selalu tidur jika kemalaman berlatih.
Setelah selesai berlatih menghilangkan amarah nya, Bu Su segera menuju ke pembaringan yang tampak sangat tua dari batu yang dilapisi semacam serat yang tidak pernah dikenal oleh manusia.
Di dinding sudut Bu Su mencabut beberapa jamur basah berwarna biru muda dan memakannya.
Mulai hari itu, dunia tidak pernah lagi mendengar tentang nasib putra Ketua Bu ini yang telah dianggap hilang oleh dunia.
.---***---. .---***---. .---***---.
Pemerintah Thailand telah berkoordinasi dengan Pemerintah dunia dimana mereka setuju agar penghuni Pulau Phuket di musnahkan seluruh nya.
Pada saat tim penyelidik yang di utus dengan pakaian dan persenjataan lengkap itu mendarat, mereka diberikan waktu selama tiga bulan dalam tenggang masa 3 hari sekali selambat lambatnya harus memberi laporan ke markas pusat.
Malam itu, delapan kelompok pasukan militer penyidik pemerintah mendarat daru delapan penjuru angin.
Sekelompok pasukan yang mendarat menyisir bagian Timur Laut berjumpa dengan 10 mayat hidup yang gerakannya sangat cepat dan cekatan.
Mayat hidup itu meloncat ke sana sini dengan memegang senjata tajam seperti pedang dan golok serta parang atau besi di tangan mereka menyerang seluruh kelompok yang datang dari arah Timur Laut tersebut.
Tembakan tembakan pun terjadi, untungnya para pasukan yang memakai baju pelindung lengkap itu segera berlari memasuki hutan lindung di sebelah kanan yang menembus ke arah lapangan bola dimana terdapat banyak lampu yang sangat terang benderang yang membuat para zombi aneh itu enggan mengejar.
Mereka terus saja menyisir tempat itu hingga minggu pertama terlewati dengan aman.
Minggu kedua malam ketiga, dari sebelah barat terlihat dua orang pemuda berjalan mendarat di pinggir pantai Kota Phuket bersama kendaraan khusus mereka yang tidak lain adalah dua ekor Naga besar menyeramkan yaitu Candu dan Rapit.
Jiraiya yang mendengar tentang kekacauan di Provinsi Phuket segera mengajak Mahesa untuk melakukan penyelidikan secara berterang ke pulau itu.
Baru saja Jiraiya memasuki hutan buatan pinggir pantai, kedua pemuda itu telah di sergap oleh beberapa pasukan bersenjata yang menodong mereka siap untuk menembak.
__ADS_1
"Siapa kalian?" Seru komandan pasukan penyelidik dengan moncong senjata ke arah mereka.
"Aku Jiraiya dan dia Mahesa, kalian siapa?" Jawab Jiraiya yang langsung di tarik tangan nya oleh tim penyelidik bersama Mahesa yang tidak melawan.
Candu dan Rapit yang melihat hal itu segera mengibaskan ekor mereka ke sana sini hingga membuat para pasukan terguling jatuh beterbangan dan lain hal sebagainya.
"Candu, Rapit, jangaann,," Seru Jiraiya mencegah amukan kedua binatang itu.
Segera mereka berdua di bawa masuk ke inkubator besar dimana terdapat penjaga di luar bersama Candu dan Rapit yang membuat sebagian pasukan takut dan merasa ngeri.
Para pasukan berjumlah 7 orang membuka helm kaca mereka dan berkata,
"Siapa kalian? Apakah kalian penduduk asli atau pelancong yang terkurung? Binatang apa yang bersama kalian?"
"Aku Jiraiya dan ini Mahesa. Kedua binatang itu adalah hewan biasa saja yang kami sihir sehingga terlihat seperti itu." Jiraiya sengaja berbohong demi keselamatan kedua hewan piaraan mereka.
"Tak mungkin, apakah kalian orang orang sakti?" Tanya seorang pria tampan brewokan yang agaknya menjadi pemimpin regu itu.
"Mari kita lihat nanti saat kami menghadapi para mayat hidup itu." Seru Mahesa yang mengerti maksud Jiraiya.
Kesembilan orang itu segera keluar dari inkubator besar, saat Jiraiya dan Mahesa ditawarkan baju pelindung dan senjata cadangan mereka menolak dengan halus.
Segera Mahesa dan Jiraiya berjalan perlahan ke tengah kota di ikuti 20 pasukan regu E tersebut. Sesampainya mereka di sana, mereka segera di kepung oleh 50 lebih pasukan zombi aneh yang terus menyerang mereka.
Jiraiya dan Mahesa membabatkan pedangnya ke leher setiap mayat hidup yang mendekat. Sibuk lah 20 orang pasukan itu ketika di keroyok zombi lainnya.
Namun, tak sampai 15 menit, semua mayat hidup itu tergeletak dengan kepala terpisah dari badannya.
"Jikooooooo,,,," Teriakan Luoyi terdengar nyaring di pantai luar pulau.
"Mahesa, lihat mereka, serahkan mayat mayat ini padaku." Seru Jiraiya di susul Mahesa yang menunggangi Candu ke arah barat.
Jiraiya terus saja menyabet leher mayat hidup yang terus berdatangan.
Mahesa yang telah tiba di perahu kecil melihat Luoyi dan Karina berada dalam ancaman pedang dua pria gagah.
"Kalau kau menyerang, nyawa mereka pasti hilang. Ajak teman mu ke Pulau Bon, kedua gadis ini, Alvina dan Mutiara menunggu kalian di pulau." Seru Lai Tek mengancam seraya menodong leher Karina.
Tuan Muda Bu yang menodongkan pedang kepada Luoyi dan rekannya yang berada di perahu itu mengancam Karina langsung di tarik oleh speedboat pasukan baju merah Bon Island.
__ADS_1
Bersambung ...