
Di ruang udara yang dingin bersuhu 25° celcius dari AC yang berada di ruangan tersebut di tambah hujan yang terus menerus turun dari pagi hingga malam itu, berkumpul lima orang pimpinan penjahat yang menamakan diri mereka P.B.I ( B.I.B).
Nama itu di ambil oleh ketua tertinggi mereka karena tujuan utama kelompok tersebut adalah mengganggu ketentraman Pulau Bon.
Tampak kelima orang pemimpin tertinggi sedang duduk mengelilingi meja besar sambil memperbincangkan hal yang mereka anggap sangat penting.
"Apa usul kalian? Silahkan." Seru Pattaya kepada empat rekannya.
"Menurutku, kita serang saja markas mereka dan kita ambil semua serum nya." Ucap pria berkumis tipis bernama Lai Kon.
"Tidak bisa, kalau menyerang begitu saja, kita akan mengorbankan banyak nyawa anak buah. Kita curi lebih baik." Jawab Karya mengusulkan.
"Heh, mencuri, kau kira semudah itu kita mencuri? Ribuan pihak pengamanan pemerintah berada di sana, kau tau? Lebih baik, serahkan pada ku untuk menyusup ke sana." Seru seorang pria brewokan bernama Kobi.
"Hal yang paling tepat menurut ku, kita cari bawahan yang hebat dan gesit, kita utus melakukan penyamaran untuk menyusup. Jika Kobi yang melakukan hal itu, mereka akan menangkapnya karena bukan kah kau seorang buronan Kobi?" Seru Kaja.
"Benar pendapat Kak Kaja. Setelah menyusupkan orang, kita tinggal menunggu hasil dan menyusun langkah selanjutnya dengan mudah." Sahut Edo yang membuat ketua mereka mengangguk angguk.
Pattaya menjawab dengan sedikit tersenyum,
"Bagus, usul kalian benar benar jitu. Tugas ini ku serahkan kepada Kaja dan Edo. Lai Kon dan Karya, kalian terus lakukan gangguan ke Pulau Bon. Kobi bertugas menjaga dan mengatur pulau."
"Siap Ketua, permisi." Seru mereka serentak sambil beranjak dari duduk nya.
.---***---. .---***---. .---***---.
"Baik lah, aku akan menyampaikan permintaan mu kepada ayah dan kakek. Kalau begitu, aku permisi dulu. kakek berdua dan nenek, permisi." Mahesa berkata sebelum menarik tali yang mengikat pinggang nya dengan kuat.
"Selamat jalan Mahesa. Semoga kakek bangga dengan mu." Seru Kakek Ong Ji Sa.
Berjalan lah Mahesa keluar melewati sungai tenang dengan tali masih terikat di pinggangnya kemudian menaiki lubang dimana air jatuh dari lubang besar berjarak puluhan meter untuk kemudian berjalan menyusuri batu gua licin di lorong yang membawanya ke pintu masuk gua tersebut.
Tak berselang berapa lama, Mahesa telah berjumpa kembali dengan Kek Hafiz, ayahnya dan Raja.
"Bagaimana? Mengapa kau lama sekali Mahesa?"
__ADS_1
Mahesa yang melihat hari telah hampir sore menjawab,
"Aku berjumpa dengan kakek Ong Ji Sa bersama kek Jin To dan Nek Ji Hwa yang telah menyelamatkan Putra."
"Ah,, benarkah Putra masih hidup? Dimana dia? Cepat tolong dia." Seru Raja panik saking gembiranya.
"Setengah tahun lagi dia akan selesai dan kembali bersama kita. Sekarang Putra sedang mewarisi ilmu kesaktian Ki Bara Naya sama Kek Ong Ji." Seru Mahesa tersenyum.
"Ah, betapa beruntung nya anak itu. Bahkan keluarga kami saja, hanya mampu mewarisi separuh kehebatan Kakek Pendekar." Seru Kek Hafiz sambil menarik napas panjang.
Mereka berempat pun kembali sambil bercakap cakap tentang pengalaman Mahesa berjumpa dengan keluarga kakek buyut nya.
Raja juga banyak menanyakan tentang Putra anak nya yang memang sangat di khawatirkan nya.
Sesampainya mereka di rumah, seluruh penghuni rumah sangat bahagia mendengar kabar tentang Putra yang masih hidup sampai sekarang.
Santi tak henti hentinya bersyukur kepada Tuhan, begitu pula Sari. Namun ada seorang yang sangat gembira hatinya secara diam diam, dia adalah Cindi Cantika yang menjadi calon tunangan Putra yang kini telah menjadi seorang pemuda yang sakti melebihi ekspektasi orang orang yang selama ini bersamanya.
.---***---. .---***---. .---***---.
"Lagi,,, lebih renggang lagi." Seru pria tua berwajah pucat dengan rambut, alis, kumis dan jenggot putih panjang hingga ke dada.
"Benar, kami saja sudah puluhan tahun melakukan jurus itu tetap tak bisa. Mungkin memang bukan Putra Kek Pewaris yang di ramalkan itu." Seru pria tampan yang duduk di sebelah wanita cantik yang menjadi sepupu sekaligus calon istrinya.
"Apakah tidak ada yang aku lewatkan Suhu?" Tanya Putra heran.
"Bagaimana perasaan mu tadi?" Tanya Kek Ong Ji Sa penasaran.
"Seakan ada tenaga dahsyat yang ingin meledak dalam tubuh ku Suhu, namun tak bisa keluar seperti tertahan sesuatu." Jawab Putra bingung.
"Coba periksa aliran ci nya, mungkin saja tersumbat." Perintah Kek Ong kepada cucu nya.
Mulai lah Putra di periksa seluruh tubuhnya oleh kedua muda mudi itu dengan menekan nekan aliran darahnya hingga gadis cantik manis tersebut menemukan sesuatu.
"Kek, sebelah sini."
__ADS_1
Segera Kek Ong memeriksa dan berseru kaget,
"Putra, apa yang ada di tubuh mu ini?"
"Dulu aku pernah keracunan Suhu, namun telah di obati oleh Paman Profesor dan temannya." Jawab Putra sambil duduk membetulkan pakaian nya.
"Kau harus di bersihkan dari sisa racun di tubuhmu. Agak nya itu yang menjadi penghalang jurus terakhir." Seru Kek Ong.
Mulai hari itu, kembali Putra tinggal di tempat itu setelah setengah tahun lalu Mahesa datang berkunjung ke situ.
Selama sebulan lebih Putra di bersihkan dari hawa hawa kimia beracun yang masih bersisa di badannya hingga hari itu, seluruh nya bersih tak bersisa sama sekali.
Sore itu, kembali Putra melatih jurus terakhir di dalam sungai tenang yang kini hanya sedikit air nya.
Saat jurus jurus awal di mainkan Putra, kedua cucu Kakek Ong masih bisa mengikuti gerakannya. Namun lama kelamaan, pandang mata mereka kabur menyaksikan kecepatan Putra yang kini sangat luar biasa.
Entah kemarin kemarin karena berada di ruang gua, atau racun yang masih ada di tubuhnya yang membuat Putra lambat dan masih kurang seperti sekarang.
Putra terus membuka jurus jurus yang sangat aneh dan jarang di lihat, apa lagi oleh manusia yang ada pada saat itu yang jarang sekali bertemu apa lagi menyaksikan pendekar sungguhan.
Hingga sampai jurus ke seratus 127 yang menjadi jurus terakhir, ketika Putra merenggangkan rongga perut dan dadanya, himpunan tenaga aneh berkumpul membuat sebuah tenaga besar yang berlawanan dengan pusaran tenaga di bagian luar sehingga saat sentakan dilakukannya,
"Dhhuuuaaarrr,,"
Sekeliling Putra berhamburan kekuatan dahsyat yang membuat dinding gua tersebut tergetar hebat.
"Kau berhasil nak, kau telah berhasil. Ku harap kelak akan ada seorang keturunan kami yang mampu menguasai ilmu dahsyat ini." Seru Ong Ji Sa yang nampak murung dengan sedikit air mata berkaca.
"Terimakasih banyak Guru, semua berkat kebaikanmu." Seru Putra yang langsung berlutut ke arah kakek tua itu.
"Sekarang, kalian keluar lah. Sampaikan salam ku kepada paman kalian. Katakan padanya, aku ingin sekali mencoba kesaktiannya jika ia berkunjung kemari."
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih kepada Guru dan anda berdua. Sebentar lagi aku akan kembali ke Tebing. Jika kalian ingin ikut, marilah sekalian siap siap." Seru Putra kepada dua orang manusia pucat itu.
"Tunggulah kami berbenah, tapi,, bagaimana dengan kakek?"
__ADS_1
"Sudahlah, semenjak kalian belum lahir aku sudah biasa mengurus diri sendiri." Jawab Kek Ong sambil berjalan ke arah gua tempat mereka tinggal selama ini.
Bersambung ...