
Ketika keributan terjadi di Pulau Bon akibat adanya siluman penyusup, Candu yang di tengah di landa berahi mencoba kawin dengan Rapit.
Naga pejantan itu tiba tiba saja menaiki Rapit yang masih sangat kurang pengalaman nya. Maka Rapit pun meliuk liuk berenang kian menjauh dari arah pantai dimana Tuan nya menyuruh mereka menunggu.
Setelah berenang sejauh dua kilometer, Akhirnya Rapit yang berjenis kelamin betina itu pasrah saja saat Candu melepaskan kasih sayang nya kepada Naga betina itu.
Hingga sampai subuh tiba, barulah mereka berdua selesai dengan aksinya. Tanpa tersangka sangka, di dalam perut Rapit sudah terpancar benih benih Candu yang kelak akan menjadi hewan hewan yang menggegerkan dunia.
Candu dan Rapit berputar putar di lautan lepas tersebut sambil bermesraan layaknya sepasang binatang atau reptil yang memiliki hubungan.
Sedikitpun tidak terpikir di benak hewan hewan tersebut bahwa dari semalam Jiraiya dan Mahesa sibuk memikirkan nasib mereka berdua.
.---***---. .---***---. .---***---.
Sesosok bayangan hitam melesat cepat ke arah para penjaga tiga buah jeruji besi petak persegi.
Kemana pun bayangan itu melesat, terlihat penjaga pingsan dengan tubuh lemas bergeletakan di atas tanah.
Jiraiya yang terbangun dari tidur sesaat nya menyaksikan hal itu dengan hati tegang menduga duga siapakah gerangan bayangan hitam itu.
Mungkin kah itu Mahesa yang berpakaian hitam tanpa sepasang pedang menyembul dari punggung nya? Atau kah ada orang lain yang memang memiliki kemampuan hebat seperti itu?.
Jiraiya melihat belasan penjaga sudah tergeletak di lantai ruang bawah tanah itu. Sosok bayangan hitam tadi segera mendekati jeruji besi dan mencoba membuka dengan kunci yang di ambil nya dari pinggang salah seorang penjaga.
Jiraiya terus memperhatikan dari jarak 6 meter dimana Luoyi kini telah bebas dan bertanya,
"Siapa kau? Jiko atau Mahesa?"
Karena perawakan nya memang agak sama, Luoyi mengira bahwa itu pastilah salah seorang dari kenalannya.
"Kalian tak perlu tau siapa aku, selamatkan yang lain, lekas pergi dari sini." Seru suara sedikit serak di balik topeng hitam tersebut.
Baru saja Luoyi menerima kunci, pria bertopeng itu segera melesat ke sudut ruangan untuk kemudian menghilang dalam keremangan cahaya obor yang berada di dekat kerangkeng.
Luoyi segera membuka kerangkeng yang berisikan dua orang gadis cantik yang tampak lemah, kemudian membuka kerangkeng terakhir dimana Karina telah menunggu nya.
Setelah mereka semua bebas, gerakan Jiraiya yang mendekati mereka secepat kilat membuat Luoyi dan Karina waspada.
"Jiraiya,"
"Jiko"
__ADS_1
Seruan Luoyi bersamaan dengan ketiga gadis cantik itu.
"Siapa pria bertopeng itu Yimoi?" Tanya Jiraiya.
"Aku tak tau Jiko, ku pikir kau atau ... Mahesa." Seru Luoyi dengan muka merah menyebut nama pria yang telah mencuri hatinya.
"Aku juga bingung, jika memang Mahesa, tak mungkin dia tetap memakai topeng di depan kalian semua yang memang telah mengenalnya." Seru Jiraiya.
"Mari kita keluar dulu dari sini, di luar baru kita bicara." Seruan Karina menyadarkan mereka bahwa keadaan mereka belum sepenuhnya aman.
"Lewat sini." Jiraiya berkata sambil berjalan di depan dengan hati hati.
Setelah mereka berada beberapa meter dari pintu yang menuju ke atas, seorang penjaga kerangkeng yang tadi pingsan kini bangun menekan tombol di dinding tengah hingga menghidupkan Alarm di seluruh pulau.
Begitu mendengar suara mengaung itu, Jiraiya melesat cepat ke arah pintu yang terdengar bunyi berdetak.
Ternyata pintu telah di kunci dari luar. Kini kekesalan Jiraiya di lampiaskan kepada penjaga yang kini hampir semua nya sadar memegang senjata mereka.
Segera Jiraiya mencabut sepasang pedang nya dan menyerang penjaga penjaga itu. Sebentar saja senjata mereka semuanya terpental bahkan ada yang patah dan terpotong.
"Suruh mereka membuka pintu, atau kalian semua akan ku bunuh." Ancaman Jiraiya membuat mereka semua gentar.
Belasan orang itu segera menuju ke pintu keluar meneriakkan kata kata aneh yang merupakan sandi khusus penjaga pulau.
Jiraiya yang melihat hal itu segera menerobos keluar pintu tersebut. Begitu kepalanya menyembul ke lantai rumah besar itu, serbuk halus di lemparkan ke arah mukanya sehingga Jiraiya pingsan terguling guling kembali ke dasar lantai ruang bawah tanah.
Ke empat gadis yang kini telah bebas segera menubruk Jiraiya dan membawanya ke tengah ruangan. Penjaga yang telah keluar semuanya segera menutup kembali pintu keluar yang menembus lantai rumah itu.
"Bagaimana ini?" Teriakan kepanikan terdengar hampir bersamaan dari mulut Karina dan Tiara yang sama sama menampung kepala Jiraiya di sebelah paha mereka.
"Tidak apa Kak, Jiko hanya terbius saja. Kita tunggu dan lihat saja bagaimana perkembangan nya." Seru Luoyi setelah memeriksa Jiraiya.
Mereka pun menunggu dekat kerangkeng yang telah terbuka. Hingga berjam jam lamanya mereka menunggu tak juga Jiraiya bangun dari pingsan sekaligus tidur lelap nya.
.---***---. .---***---. .---***---.
Saat pagi hari tiba, Mahesa yang bersembunyi di atas pohon besar itu segera turun menyelinap ketika melihat tidak ada penjaga di sekitar situ yang menjaga.
Sedikit pun dia tidak menyangka bahwa para penjaga di perketat di sekitar rumah Ketua Bu akibat ada dua orang penyusup yang di ketahui oleh anak buah pulau.
Karena matahari telah naik tinggi, Mahesa tidak bisa bergerak leluasa sebagaimana malam tadi. Perlahan lahan dia merangkak menyusuri lorong lorong hutan sambil terus memantau sekeliling nya.
__ADS_1
Mahesa yang terus berjalan berjumpa dengan pos penjagaan dimana terdapat lima orang penjaga yang sedang duduk dan tidur tiduran malas malasan di pos itu.
"Hei, Kak, benarkah besok acara akan di adakan? Kemarin aku dengar acaranya hari ini di laksanakan." Seru seorang penjaga muda sambil tidur tiduran.
"Banyak masalah terjadi kata Ketua. Makanya acara besar itu di tunda sehari. Sudahlah, kita hanya bisa istirahat sehari lagi, besok pasti kita akan sangat lelah. Tidurlah saja." Seru ketua jaga berkumis dan berjenggot lebat dan tipis.
Mendengar hal itu, Mahesa segera menarik diri ke dalam hutan menjauhi pos penjagaan tersebut.
Dia segera mengindap indap memasuki pinggiran hutan yang menembus ke belakang rumah Ketua Bu.
"Hei,, siapa kau?" Hardik seorang penjaga yang melihat bayangan Mahesa.
Secepat kilat Mahesa telah meluncur melumpuhkan seorang penjaga yang terdiam kaget sebelum rebah dalam keadaan pingsan.
Segera terdengar derap kaki banyak orang dan kini Mahesa telah terkepung beberapa orang yang terus bertambah memenuhi lapangan belakang pinggir hutan tersebut.
Segera Mahesa di serang banyak orang. Lai Tek tiba tiba datang membawa seorang gadis cantik yang tidak lain adalah Alvina dalam ancaman senjata tajam nya.
"Kalau kau masih melawan, nyawa gadis ini akan melayang." Seru Lai Tek yang membuat Mahesa menghentikan serangan nya sambil berseru,
"Dasar kalian orang orang licik."
Dengan mudah para prajurit BKG membawa Mahesa bersama Alvina yang kembali di giring ke ruang bawah tanah.
"Jika kalian menuruti kami, kalian akan selamat." Seru Lai Tek sambil melempar keduanya lewat pintu masuk yang mengarah ke bawah.
"Mahesa,," Seruan Luoyi yang telah berada di dekat nya.
Melihat kemesraan Luoyi dan Mahesa, Alvina berseru sedikit keras.
"Mahesa Tunangan ku."
Bagaikan di patuk ular, tangan Luoyi yang memegang lengan Mahesa segera di tarik nya.
Mahesa yang merasa serba salah, hanya mengucapkan kata,
"Maaf,"
Linangan air mata segera terlihat dari wajah Luoyi yang berpaling kembali berlari ke arah Kakak nya yang masih rebah pingsan.
Mahesa mengajak Alvina dengan isyarat matanya ke arah Jiraiya dan mendengar cerita Karina dan Tiara tentang kejadian yang mereka alami.
__ADS_1
Luoyi yang sesekali memandang ke arah Alvina dengan mata basah masih menangis sesenggukan. Gadis itu memang menuruni sifat ayah nya yang tak bisa menyembunyikan perasaan sedikit pun.
Bersambung ...