SEPASANG KSATRIA PEDANG

SEPASANG KSATRIA PEDANG
Nasehat Kemenangan


__ADS_3

"Kalian memang keras kepala, pergi mandi dan istirahat sana, cepat." Seru Satria dengan nada amarah yang terlontar dari kata katanya.


Mahesa masih menunduk ketika berjalan di ikuti Tiara di belakang nya yang menuju ke rumah belakang.


Saat itu, Satria berkata pelan.


"Aku ingin berbicara serius dengan kalian semua. Baik nya kita ke saung depan saja."


Mereka semua pergi ke saung depan. Yang tinggal di rumah hanyalah Bu Sari, Bu Lina dan Alifah.


Satria, Alif, Andi dan istrinya bersama Haji Ahmad dan Kek Hafiz duduk berhadap hadapan di balai besar dimana rapat sering di adakan oleh Haji Ahmad.


"Menurut Kakek dan Paman, bagaimana baik nya tentang masalah mereka? Aku khawatir jika dibiarkan, kelak akan menjadi masalah besar." Satria memulai percakapan serius itu.


Haji Ahmad dan Kek Hafiz saling bertatapan, kemudian terdengar suara Kek Hafiz,


"Dalam sejarah keluarga besar kita, memang hubungan di mulai dengan pernikahan Kakek buyut dengan dua orang wanita sehingga menjadikan keluarga besar kita bertahan hingga hari ini. Namun bagaimana dengan anak anak itu, aku percaya pada mereka, namun tetap tak yakin."


"Betul, bahkan Tengku Isa yang sangat arif bijaksana pun hanya mempunyai satu istri saja. Begitu juga dengan Kek Fatih dan lainnya." Seru Haji Ahmad.


"Menurut ku, mereka tak akan berhasil dengan hubungan seperti itu. Bayangkan saja istri istri kita sekarang, tidak ada wanita yang mau menerima di madu." Prof Andi ikut berpendapat yang langsung di bantah istrinya.


"Aku tidak yakin dengan keberhasilan mereka, namun banyak memang wanita yang kalau sudah cinta rela di madu. Bahkan aku sendiri jika Papa mau, rela di madu." Rani berkata dengan wajah serius.


"Bagaimana menurutmu Alif?" Tanya Satria.


"Menurut ku sama seperti pendapat mu Satria."


"Jelaskan." Jawab Satria sambil tersenyum.


"Mereka hanya anak anak yang ingin memegang lilin di malam hari. Meski kita memarahi mereka memegangnya, tetap saja lilin itu akan di pegang. Semakin kita larang, semakin mereka penasaran dan bahkan bisa saja membenci kita." Seru Alif yang langsung di sambung Satria.


"Menurut kami, kita biarkan saja mereka memegang lilin, konsekuensi nya hanya tangan yang terbakar. Namun pelajaran itu akan sangat bermakna buat mereka. Kelak, meski kita paksa memegang api di lilin manapun, mereka tak akan pernah mau lagi."


Semua kepala tampak mengangguk angguk.


"Meski begitu, sebelum kita membolehkan mereka begitu saja, baiknya kita lakukan pengujian dengan cinta mereka. Bagaimana?" Tanya Kek Hafiz.


"Setuju." Jawab mereka semua hampir serentak.


Setelah mendapatkan hasil musyawarah bersama, mereka semua kembali ke rumah dan Rani segera menceritakan rahasia itu kepada Alifah, Sari dan Lina yang tersenyum puas dengan keputusan yang menurut mereka amat sangat bijaksana itu.


.---***---. .---***---. .---***---.

__ADS_1


Sore itu, terlihat Jiraiya berdiri berdampingan dengan Gulikan, Ibu dan adiknya di depan makan Kakek Ang yang kini bertambah sebuah makam lagi.


"Kakek Guru, terimakasih atas semua kebaikan mu. Masalah yang terjadi kepada kami, dengan mudah kau selesaikan." Seru Jiraiya.


"Mari kita masuk." Gulikan mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah meninggalkan kuburan yang baru pagi tadi di buat.


"Ayah, ibu, aku harus pergi sekarang juga menyelesaikan masalah itu. Aku tak akan tenang jika belum meminta maaf kepada Karina dan mereka semua." Jiraiya berkata dengan wajah sedih.


"Pergilah Nak, sekalian nanti kau susul kami ke Kutai Barat, kami akan menunggu mu disana."


"Baik ayah. Aku pergi malam ini." Seru Jiraiya yang mengambil sepasang pedangnya dan berlalu pergi melangkah di iringi air mata adik kesayangannya.


Memang dalam dua hari ini Jiraiya sangat banyak berubah. Kemarin setelah pamit dari Kakek Gurunya, agak tengah malam dia kembali dan berbicara panjang lebar tentang pengalamannya.


Saat itu lah Kakek Sunh mengingatkan nya.


"Jangan terbawa cemburu. Jika memang wanita itu bukan milikmu, mengapa kau marah? Untuk apa memaksa sesuatu yang bukan milik mu? Relakan saja dia dengan yang lain baru kau akan merasa tenang. Satu hal lagi, mulai hari ini, jangan panggil Gulikan Guru lagi. Bagaimana pun, dia adalah ayah mu, meski hanya ayah tiri, dia sangat menyayangimu melebihi anak kandung nya sendiri. Ingat pesanku."


Bari saja menyelesaikan kata katanya, Kakek tua yang tampak mengerikan itu, menghembuskan napas terakhirnya dalam semedi.


Sambil berjalan malam itu, Jiraiya kembali terkenang ketika penyesalan besar menghampiri hatinya dulu yang bahkan ingin membunuh Gulikan saat mereka masih di Pulau Bon.


Berkat nasehat Kakek Sunh yang kini telah tiada, wajah Jiraiya kini seperti tak tersentuh oleh perasaan nya sendiri.


Sedang dia berjalan, enam orang berpapasan dengan nya.


"Hei, bukan kah dia keturunan Ong di Bon Island? Hei,, pemuda sombong,, dari mana kau? Berhenti." Seru seorang berbadan besar yang agaknya menjadi pemimpin teman temannya.


"Ternyata kalian. Mau apa menghentikan ku sobat?"


"Sobat sobat, sobat kepalamu. Kali ini kami harus menuntut balas atas tewas nya saudara Bu di Pulau Bon." Seru pimpinan kawanan itu sambil menyerang Jiraiya.


Dengan wajah tenang masih tersenyum, Jiraiya meladeni mereka menggunakan sepasang pedang nya.


Lima orang itu, secara bergantian terus menyerang dari depan belakang kanan dan kiri. Dengan mengerahkan kemampuan nya yang hebat, Jiraiya menangkis semua senjata mereka hingga suara berdentingan nyaring bergema di udara.


Di bawah bulan purnama yang indah dan terang itu, Jiraiya melawan dan balas menyerang tempat tempat yang tidak berbahaya sambil berkata,


"Untuk apa kalian mati matian membela orang jahat? Bukan aku yang menghabisi Ketua Bu, tapi kejahatannya lah yang membuat dia tewas."


"Jangan banyak omong, seraaanngg,,,"


"Traangg triiinngg,, Auh,, aduuuhhh,,"

__ADS_1


"Lebih baik kalian obati teman kalian itu, kalau kehabisan darah, bisa mati."


"Triinggg Trraaakk, taakk, traaak traak traaaakk, waduuuhh,," Lima senjata mereka patah di tambah lengan tiga orang di antara mereka terluka sayatan yang mengeluarkan banyak darah.


Jiraiya telah melompat jauh melarikan diri, karena terdapat teman yang luka luka, mereka tidak mengejar. Begitu melihat luka yang tidak berbahaya itu, kepala pimpinan komplotan itu memaki maki sambil membanting banting kaki nya ke tanah.


"Kurang ajar, anak itu membohongi ku, mengapa kalian tidak bilang kalau luka nya seperti ini? Dasar bodoh, sialan kalian."


Jiraiya yang telah jauh dan tau dirinya tak di kejar lagi, hanya tertawa kecil sambil berkata pada diri sendiri.


"Tidak ada yag gila, cinta tidak gila, manusia tidak gila, hanya orang gila yang menganggap sesuatu gila. Hahaha,,,"


Dengan langkah lebar, kembali Jiraiya berlari berloncatan di ikuti Rapit yang memang di pesannya agar melewati hutan menjaga jarak dengan nya.


Beberapa waktu kemudian, Jiraiya tiba di sebuah pantai yang terlihat banyak di kunjungi orang. Dia melihat sepasang kekasih sedang bermesraan dekat dengan pinggir pantai di atas batu besar bersusun.


"Hei kalian, jam segini sedang apa di sini?" Seru Jiraiya usil.


"Bukan urusan mu." Jawab pria hitam yang terlihat rapi dan necis.


"Hei, gadis manis, kenapa kau mau dengan pria seburik dia?"


"Kau siapa? Dasar gila." Seru gadis yang masih enak enakan dalam pelukan pasangannya.


"Kalian yang gila malah aku kalian bilang gila. Hahaha,," Seru Jiraiya sambil duduk di atas batu besar beberapa meter dari mereka.


"Kau mau di hajar ya?" Seru pria hitam yang bangun dari duduk nya.


"Aku cuma ingin bilang. Kalau kalian sepasang suami istri, lebih baik kalian bermesraan di rumah saja. Kalau kalian sepasang kekasih, lebih baik lepaskan pelet yang kau pakai untuk mempengaruhi gadis itu, sayang dia."


"Kurang ajar." Pria hitam itu naik pitam mendengar ejekan Jiraiya.


"Suuiiitt,, Rapit, kesini lah." Seru Jiraiya tanpa memperdulikan pria yang berjalan ke arahnya dengan tangan di kepal.


Tak lama kemudian, Seekor ular naga besar tiba dari arah laut ke tempat itu. Melihat monster besar berwarna putih tersebut, pria hitam yang berencana memukul Jiraiya lari tunggang langgang di iringi tawa Jiraiya.


"Hahaha, kau lihat? Pria itu meninggalkan mu sendiri. Jika saja ular ini bukan teman ku, tentu kau sudah menjadi santapannya. Hahahaha." Seru Jiraiya yang menunggang Rapit menuju ke lautan lepas sambil masih tertawa tawa.


Gadis manis tadi hanya berdiri dalam keadaan pucat. Tak lama kemudian, pria hitam itu kembali dan merayu si gadis yang marah akibat pacarnya tak setia.


Karena keusilannya, Jiraiya telah membuat dua hati yang saling pura pura jatuh cinta berpisah. Ada ada saja ulahnya. Hahaha.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2