
Hari itu, di sebuah lahan kosong yang luasnya mencapai 500 hektare di Kalimanatan Timur, di bangun tempat tempat khusus oleh tiga orang pengusaha kaya raya.
Mereka terdiri dari seorang pria muda yang berasal dari Tiongkok bernama Sung Ji Hun yang mewakili ayahnya yang bernama Sung Ai Min. Seorang Detektif berusia 50 tahun lebih bernama Steve Patterson dan seorang pengusaha muda dari Nusantara bernama Raffi Setiawan putra CEO sebuah perusahaan ternama yang di pimpin oleh ayahnya bernama Bobby Setiawan.
Tempat yang di bangun dengan pagar tinggi berduri tersebut rencana nya akan di pakai untuk tempat riset ilmiah dan penelitian dari para Profesor ternama yang berasal dari berbagai Negara.
Sekitar sebulan lebih tempat itu di bangun atas ijin dari pemerintah setempat yang sangat mendukung kegiatan besar tersebut ada di Nusantara.
Beberapa rumah lengkap dengan sarana dan pra sarana nya juga di bangun untuk keperluan orang orang yang akan tinggal di sana dalam tenggang waktu dua sampai tiga tahun.
Rumah pertama di tempati oleh Prof Toni Hawk yang telah berada di situ bersama istri dan putra kembar nya yang baru saja selesai mengambil gelar Doktor.
Rumah kedua di tempati oleh Prof Andi bersama istrinya Rani. Rumah ketiga di tempati oleh Prof Mike bersama istri dan tiga orang anak nya. Rumah ke empat di tempati oleh Prof Chow bersama istri dan seorang anak nya yang masih kecil.
Di depan ke empat rumah itu terdapat sebuah ruangan besar yang akan menjadi tempat mereka bekerja. Di bagian belakang bangunan induk tersebut terdapat gudang bahan bahan dan komponen serta zat kimia yang di perlukan dalam pekerjaan mereka.
Di samping kiri bangunan mengarah para Profesor itu terdapat rumah yang di tempati oleh Prof Wang bersama putrinya. Di samping nya terdapat rumah yang di tinggali oleh Profesor Albert dan keluarganya.
Di sebelah rumah Prof Albert terdapat dua buah rumah singgah yang masing masing di tempati oleh Detektif Steve dan Tuan Muda Sung yang kadang kadang saja ke situ.
Tak jauh dari situ, Raffi Setiawan yang juga menjadi salah satu donatur mendapat kan rumah yang sama seperti yang di tempati mereka.
Setelah semua perlengkapan di bangun, mulai lah mereka semua merencanakan proses pekerjaan dan menghitung semua alat dan bahan yang di perlukan sematang matang nya.
.---***---. .---***---. .---***---.
"Jiraiya, sebentar lagi larut malam. Kita harus bergerak cepat." Seru Mahesa berbisik di telinga teman nya.
"Ya, kalau kita bergerak hati hati dan cepat, tentu rencana penyelidikan ini akan berhasil."
Setelah memberikan arahan kepada Candu dan Rapit yang akan menunggu mereka di laut bagian belakang pulau yang gelap dan tersembunyi, kedua pemuda itu pun bergerak seperti bayangan sepasang siluman.
Karena kedua nya selalu memakai pakaian hitam dengan rambut hitam pula, maka bayangan mereka sedikitpun tak terlihat penjaga yang berjaga di pos pos penjagaan pinggir pantai.
__ADS_1
"Mahesa, aku memutar ke Utara, kau ke selatan." Seru Jiraiya yang lebih hafal dengan keadaan pulau itu.
Mahesa hanya mengangguk tanpa peduli apakah anggukan nya akan terlihat atau tidak. Segera kedua pemuda itu berpisah sambil sesekali mengendap endap.
Mahesa segera berputar ke arah samping kanan dengan gerakan sangat cepat melewati penjaga yang hilir mudik.
Tak lama dia telah tiba di belakang sebuah bangunan sedang di tengah pulau dimana masih terdapat keramaian para murid perguruan BKG yang mempersiapkan acara besar yang akan di selenggarakan tak lama lagi.
Segera Mahesa menyelinap ke belakang bangunan besar dimana terdapat sebuah kamar mewah dan terdengar suara orang berbicara dari dalam.
"Ayah, kenapa gadis gadis rewel itu tidak di bunuh saja?"
"Tidak, aku akan menjadikan ke empat gadis itu sebagai hadiah bagi pemenang yang dapat bertahan paling akhir dalam laga TOMITU nanti." Seru suara yang lebih kasar dan berwibawa.
Mahesa yang mendengar hal itu, memanjat melalui rak pot untuk dapat melihat siapa yang mengeluarkan suara.
"Gruuukk, praaakkkhh,," Suara pot bunga jatuh di susul teriakan dari dalam.
"Penyusup, ada penyusup."
Mahesa dengan kecepatan kilat telah berada di hutan belakang menuju ke arah tempat dimana dia mulai menyelidik bersama Jiraiya.
Tak lama kemudian, Jiraiya telah tiba pula di situ.
"Apa yang terjadi?" Tanya Jiraiya dengan muka tegang.
"Tidak apa apa, aku mendengar mereka bercakap dan ingin melihat mukanya. Malah pot jatuh tersenggol kaki."
"Mari kita bicara di tempat lain." Seru Jiraiya yang langsung melesat cepat ke depan di ikuti Mahesa yang berlarian menuju ke tebing belakang Pulau Bon.
Kini kedua nya telah berada di tepi pantai, dari jauh terdengar suara suara penghuni pulau yang mencari cari penyusup.
Dengan suara suara aneh, lengkingan teriakan dan lain nya, Jiraiya dan Mahesa memanggil binatang tunggangan masing masing.
__ADS_1
Meski lama menunggu, Candu dan Rapit tak kunjung datang juga.
"Dimana mereka?" Tanya Jiraiya yang makin khawatir kepada keadaan mereka juga keselamatan Rapit dan Candu.
"Apa mungkin penduduk pulau menangkap mereka?" Mahesa bertanya menenangkan.
"Tidak mungkin, jika mereka tertangkap, tentu timbul suara perlawanan mereka." Bantah Jiraiya.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Mahesa.
"Kita harus melakukan pancingan, aku akan menghindari mereka melakukan pembakaran hutan di sebelah sana. Kau juga."
"Baik, aku mengerti. Setelah itu?" Mahesa kembali bertanya.
"Kita harus menyelinap dan bersembunyi di antara mereka ke tengah pulau."
"Baiklah, mari beraksi." Baru habis suara Mahesa, dia telah mencelat jauh dari situ.
Jiraiya yang masih pusing memikirkan Rapit dan Candu segera melaksanakan rencana dadakan mereka.
Tak berapa lama kemudian, terlihat api besar di beberapa titik hutan yang beberapa hari lalu baru di tebang dan di bersihkan oleh murid Pulau Bon.
Dedaunan serta semak kering itu sebentar saja membuat api membumbung tinggi. Jiraiya telah berputar kembali dari samping menghindari para pasukan pulau yang kini terfokus ke arah api.
Mereka mencoba memadamkan api agar tak menjalar ke hutan lainnya hingga ke tengah pulau.
Akhirnya, dengan rencana jitu tersebut. Mahesa dan Jiraiya dapat bersembunyi dari kejaran dan pencarian pasukan penjaga pulau.
Mahesa yang belum begitu mengenal keadaan pulau, memilih bersembunyi di pohon besar tak jauh dari bangunan terbesar dengan menutup dirinya menggunakan dedaunan pohon tersebut.
Sedangkan Jiraiya berhasil masuk ke rumah yang menembus ke ruang bawah tanah dimana para gadis yang di sayang nya di sekap dalam kerangkeng kerangkeng besi buatan di ruang gelap tersebut.
Di dinding yang agak cekung tertutup sinaran obor obor yang terpasang dalam ruang bawah tanah yang berada tepat di bawah rumah Ketua Bu itu, Jiraiya bersembunyi sambil memperhatikan belasan penjaga yang ada di situ.
__ADS_1
Bersambung ...