SEPASANG KSATRIA PEDANG

SEPASANG KSATRIA PEDANG
Mewarisi Kesaktian Dewa


__ADS_3

Saat itu, Putra mendengar cerita yang sangat panjang tentang ketiga manusia aneh itu dan leluhur mereka yang dulu terpaksa tinggal di dalam ruang gelap tanpa sinar matahari yang di tuturkan oleh Kakek Ong Ji Sa.


Dahulu kala, mereka merupakan keturunan terakhir raja yang sangat hebat dan sakti yang di musuhi oleh pemerintahan yang telah mulai berkuasa saat itu.


Kakek buyut mereka merupakan keturunan pertama dari Ong Barya yang menjagoi seluruh daratan Nusantara.


Ketika sampai kepada keturunan ketiga dari Ong Barya, keluarga mereka menjadi buruan pemimpin penjahat ternama bernama Yudha yang mempunyai cucu bernama Aji Saka.


Hingga sampai kepada putra Aji Saka bernama Kunto Aji masih juga menjadi musuh mereka.


Paman Ong Ji Sa bernama Ong Mi Sa atau yang lebih di kenal dengan nama Teuku Muhammad Isa atau Teuku Isa Langsa memutuskan melawan untuk mengakhiri dendam turun temurun yang selalu memakan banyak korban itu.


Namun Teuku Isa Langsa yang ketika tuanya dikenal dengan nama Kek Mahesa mengalami kekalahan yang membuat seluruh keluarga Ong Ji Sa hampir musnah.


Kakek tertua yang menjadi kakek nya Kek Mahesa memutuskan untuk bersumpah menyembunyikan diri selama lamanya di tempat itu.


Hingga kini kedua cucu nya bertahan dan akan melanjutkan sumpah leluhur di tempat terpencil itu.


"Bagaimana kalian bisa mempertahankan keturunan di tempat ini? Bukan kah semua nya di sini adalah keluarga?" Tanya Putra heran dan kaget juga mendengar nama Kunto Aji di sebut sebut.


"Kami menikahkan sepupu dengan sepupu Nak. Cucuku yang pria ini anak dari putra ku yang pertama. Cucu perempuan ku merupakan anak dari putra ku yang kedua." Jawab kakek Ong Ji Sa tenang.


"Kriiiuuuukkkk,,," Suara perut Putra membuat ketiga orang aneh itu tertawa.


"Hwa, ambilkan makanan kemari." Seru Kek Ong Ji Sa yang langsung di lakukan oleh cucu perempuannya.


Setelah makanan tiba, mereka berempat kembali melanjutkan percakapan yang hangat.


"Bagaimana kalian sekarang dapat mempertahankan keturunan?" Tanya Putra sambil makan makanan yang terbuat dari bubuk lumut di campur tepung yang telah lama tersimpan.


"Kedua cucuku ini akan menikah secara sederhana dan putra putri mereka akan melanjutkan keturunan kami." Jawab sang kakek.


"Bukan kah tidak boleh menikah antara,,, maaf Kek, dalam agama ku, tak boleh menikah antara sepupu."


"Dalam agama kami boleh Nak," Jawab Kakek tua itu sambil tersenyum.


"Apa agama kalian?" Tanya Putra penasaran.


"Islam."


"Aku juga Muslim Kek. Mengapa boleh?"


"Dalam Islam, boleh menikah antara anak mu dan anak adik atau abang kandung mu. Namun tentu tidak bagus adanya. Tapi keadaan kami darurat Nak. Aku telah di sumpah tak boleh keluar dari sini."


"Siapa yang membuat anda bersumpah?"

__ADS_1


"Kakek ku. Tidak ada keturunan kami yang boleh keluar selama kejahatan keturunan Mo masih merajalela."


"Siapa keturunan Mo itu Kek?" Tanya Putra heran.


"Keturunan terakhir yang kami ketahui adalah Kunto Aji."


"Ah,,, aku,, keturunan Kunto Aji,, Kek." Jawab Putra gagap yang membuat ketiga orang itu mencabut pedang tua mereka mengancam Putra.


"Benarkah kata kata mu anak muda?"


"Benar Kek. Aku Putra, anaknya Raja yang menjadi keturunan terakhir kakek ku Kunto Aji." Jawab Putra.


"Bersiaplah kau untuk mati." Seru Kakek Ong sambil melayangkan pedang nya secepat kilat.


Dengan kecepatan penuh, Putra melesat ke belakang sambil berkata,


"Tahan,"


"Tak perlu banyak omong," Seru pemuda tampan berkulit pucat yang ingin menyerang Putra dengan pedangnya.


"Apa salah ku? Jelaskan."


"Kau manusia jahat cucu Kunto Aji."


Ketiga penghuni gua bawah tanah itu segera berdiam melongo sambil bersiap dengan pedang di tangan masing masing.


"Dengarkan dulu cerita ku sebelum kalian terbaru nafsu." Ucap Putra agak keras.


Perlahan, amarah ketiga orang itu mulai mencair dan mereka bertiga pun duduk dengan pedang masih di tangan.


"Ceritakan sekarang juga."


"Aku adalah Putra Rajasa anak tunggal Raja yang menikah dengan ibu yang juga adik Guru ku bernama Satria. Guru dan istrinya merupakan cicit Ong Mi Sa."


"Benarkah kata katamu?" Tanya Kek Ong.


"Dengar dan nilai sendiri. Kakak ayah ku menikah dengan Prof Andi yang menjadi paman Guru ku Satria. Semenjak Pulau Bana di pimpin oleh ayah ku, tak pernah lagi ada kejahatan sekalipun. Bahkan kami bahu membahu melawan kejahatan." Jelas Putra dengan tenang.


"Apakah kata kata mu bisa di pegang anak muda?"


"Sumpah aneh kalian sudah tidak berlaku lagi selama ini. Kalau benar aku dan ayah keturunan penjahat Mo, maka kami sudah membatalkan sumpah leluhur kalian Kek. Silahkan keluar dan pergi ke Tebing Maut dimana kau bisa berjumpa dengan kedua Guru ku yang maha sakti."


"Siapa Guru mu anak muda?"


"Satria,,"

__ADS_1


"Seorang lagi siapa?"


"Aku menyebutnya Kek Hafiz yang merupakan cucu kandung kakek Ong Mi Sa atau Kek Mahesa." Jawab Putra yang memang pernah mendengar riwayat keluarga besar Guru Gurunya baik dari mereka maupun dari ibu atau Prof Andi yang di panggil nya Papa Andi.


"Sekarang aku yakin padamu Nak. Maafkan kami." Seru Kek Ong Ji Sa perlahan sambil berlinang air mata.


"Sudah lah, tak perlu di sesali. Seorang manusia bijak, tak akan di landa kesedihan mengingat masa lalu dan ketakutan membayangkan masa depan." Seru Putra dengan nada indah.


"Dari mana kau mendengar itu?"


"Guruku Satria adalah murid langsung dari Kek Mahesa Kek." Seru Putra.


Dengan tiba tiba Kek Ong Ji Sa memeluk Putra sambil mengatakan kata maaf berkali-kali.


Mulai hari itu, Kek Ong Ji Sa memberi izin kepada kedua cucunya untuk keluar dari situ dan dia juga berkata kepada Putra,


"Aku hanya berharap dan memohon kepadamu agar kau mau tinggal di sini mempelajari ilmu leluhur kami yang tidak sanggup di warisi oleh kedua cucuku ini."


"Aku bersedia Guru." Jawab Putra sambil membungkuk mencium lutut dan tangan kakek tua itu.


Mulai hari itu, Putra mempelajari ilmu ilmu dahsyat dan mukjizat dari kitab dan petunjuk Kakek Ong Ji Sa. Kedua cucu Kek Ong pun enggan keluar dari situ dan ikut berlatih pula dengan Putra selama bertahun tahun.


Tinggal lah mereka berempat di sana dengan bahan makanan seadanya. Tanpa disadarinya, Putra telah mewarisi ilmu kesaktian dewa yang murni sebagaimana pernah dikuasai dulu oleh putra putra Ong Barya atau Ki Bara Naya.


.---***---. .---***---. .---***---.


Di sebuah rumah yang berada di dasar Tebing Maut, terlihat beberapa orang yang sedang duduk bercakap cakap secara kekeluargaan.


Raja dan istrinya sedang berkunjung ke Tebing Maut untuk ke sekian kalinya dan duduk membicarakan nasib putranya yang hingga kini entah bagaimana nasibnya.


"Satria, mungkinkah Putra hanyut ke daerah terlarang?" Tanya Kek Hafiz yang juga duduk bersama keluarga Satria dan Raja di sana.


"Aku juga berpikir begitu Kek. Namun untuk menempuh jalan itu, kita telah berjanji memegang sumpah leluhur." Jawab Satria.


"Mudah mudahan saja Putra selamat di daerah terlarang." Seru Kek Hafiz mengerutkan keningnya.


"Daerah terlarang apa Kek?" Tanya Raja bertanya.


"Tidak apa apa Raja. Kau tinggallah beberapa lama disini. Kami akan mengusahakan mencari kemungkinan terakhir Putra selamat atau tidak." Jawab Kek Hafiz.


"Kami memohon bantuan Kakek dan Kak Satria, untuk itu aku dan suamiku mengucapkan terimakasih sebesar besarnya." Seru Santi yang menitikkan air mata.


"Benar Kak, sudah 3 tahun lebih kami menanti. Kami sekarang hanya pasrah saja, yang kami inginkan adalah kejelasan tentang anak kami itu. Entah dia masih hidup atau tidak, kami sudah ikhlas." Seru Raja seraya isak tangis seorang ayah yang sangat mencintai putra nya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2