SEPASANG KSATRIA PEDANG

SEPASANG KSATRIA PEDANG
Harapan Yang Terkabul


__ADS_3

Selama empat tahun ini, para ilmuan hebat yang di akui di Negara nya masing masing telah berhasil membuat sebuah penemuan yang menggegerkan dunia.


Sebuah serum bernama Serum Medula Spinalis (S.M.S) berhasil di ciptakan oleh mereka dengan memakai bahan bahan yang ada yang sebagian di dapat kan sebagian kecil nya dari sepasang Naga aneh dua tahun yang lalu atas bantuan Satria, Mahesa dan Jiraiya secara rahasia.


S.M.S adalah sebuah serum yang merangsang pertumbuhan serabut saraf yang dilindungi oleh tulang, cakram tulang rawan, ligamen dan otot otot yang terdiri dari 33 ruas yang di sebut dengan Vertebra.


Serum mukjizat itu mampu membuat ruas otot Vertebra bertambah dua hingga tiga kali lipat sehingga menambah pula pertumbuhan saraf yang mampu membuat seorang manusia memiliki ketahanan tubuh berpuluh kali lipat.


Selain itu, Serum Medula Spinalis dapat meningkat kan gerak refleks pada manusia jauh melebihi kemampuan manusia normal.


Dengan menyuntikkan serum itu ke tubuh, seorang manusia dapat memiliki daya dan kekuatan abnormal yang membuat banyak manusia bisa berumur lebih panjang menurut kadar kebiasaan manusia pada umumnya.


Atas temuan menakjubkan itu, Prof Toni Hawk mendapatkan penghargaan tertinggi di seluruh dunia sebagai Maha Profesor di seluruh dunia.


Prof Andi, Prof Chow, Prof Wang yang meninggal setelah uji coba, Prof Albert dan Prof Mike juga mendapat kan penghargaan tertinggi di Negara nya masing masing dan juga di beberapa Negara lainnya.


Pemerintah Nusantara juga mendapat penghormatan besar dari dunia dan organisasi yang tersebar di seluruh Negara negara besar.


Kini, setelah S.M.S di patenkan di Nusantara dan seluruh Negara dunia, serum itu di jual dengan harga yang tinggi hingga sementara hanya orang kaya saja yang mampu membeli dan memakainya.


Negara negara besar membeli dengan uang negara untuk di pakai kepada militer dan pejabat pejabat penting sehingga pemerintahan semakin lama semakin kuat.


Begitulah keadaan dunia pada saat itu. Aneh nya, meski para profesor hebat itu yang pertama menemukan serum yang sangat luar biasa tersebut, tak satupun dari mereka yang mau menggunakan serum itu.


Padahal uji coba membuktikan khasiat yang sangat manjur dan luar biasa kepada para penerima Serum M.S itu.


Di antara kelurga mereka yang menerima serum mukjizat itu adalah Black dan White bersaudara, putri Prof Andi bersama suami dan dua orang kerabat suaminya, Tuan Muda Sung, Tuan Muda Setiawan dan Raja adik ipar Prof Andi.


Begitulah keadaan mereka yang kelak sangat berpengaruh bagi keturunan keturunan mereka di masa mendatang. (Baca Cerita THE BLACK MAN dan JODOH MANUSIA HITAM).


.---***---. .---***---. .---***---.


Pagi itu, Satria, Raja, Kek Hafiz telah bersiap siap menuju ke ujung sungai dengan memakai perlengkapan yang mereka perlukan dan baju yang ringkas.


"Sari, tolong panggilkan Mahesa. Kami sudah siap." Seru Satria sedikit berteriak ke arah dalam rumah.


Tak lama kemudian, keluarlah Sari dan Santi di susul Mahesa yang berjalan keluar bersama Cindi.


Raja sekilas melihat Cindi putri Satria dengan mata berkilat aneh. Tak ada yang melihat hal itu kecuali Cindi Cantika yang merasa agak risih dengan kilatan mata aneh dari ayah Putra yang menjadi cinta sejatinya.

__ADS_1


Mereka berempat pun bergegas menuju ke ujung sungai dengan agak cepat. Jika saja Raja tak ikut, tentu perjalan Kek Hafiz dan Satria serta Mahesa dapat di lakukan lebih cepat.


Sesampainya mereka ke ujung sungai yang mengalir seperti hilang di hisap dinding Tebing Maut, Satria berkata.


"Mahesa, apa kau sudah siap?"


"Siap ayah. Doakan saja aku selamat dan berhasil." Jawab Mahesa sambil tersenyum tenang.


Setelah mengikat tali bergulung tebal di pinggangnya, Mahesa segera menceburkan diri ke sungai yang menarik badan nya masuk ke lubang sebesar sumur memanjang ke sisi kiri dan kanan hingga dia terlempar ke bagian dalam gedung.


Hanya siku kirinya yang lecet akibat tergores batu tajam di pinggiran pintu tebing tersebut. Mahesa yang melihat dirinya jatuh di alur sebelah dalam berteriak memanggil nama Putra dengan mengerahkan tenaga yang tersalur melalui suaranya.


Melihat aliran sungai yang menurun ke bawah, Mahesa segera berseluncur melalui aliran air yang menurun memasuki ruang yang lebih dalam.


Sambil terguling dan terbalik balik, akhirnya Mahesa tercebur ke arah sungai tenang yang mengalir perlahan di tempat yang datar.


"Putraaaa,,, dimana kauuu,,??? Aku Mahesa datang mencari muuuu." Teriakan keras Mahesa mengeluarkan tenaga dahsyat sampai menggetarkan dinding gua.


Kembali sunyi senyap, yang ada hanya kelelawar dan beberapa burung malam yang bersembunyi di tempat itu.


Mahesa berenang perlahan sambil melihat ke sana kemari. Meski tempat itu teramat sangat gelap, namun mata Mahesa yang terlatih bertahun tahun di gua gunung kidul dapat melihat sekelilingnya dengan jelas.


"Maafkan aku para leluhur. Aku Mahesa Putra Satria cucu dari Kakek Isa keturunan langsung Ki Bara Naya datang berkunjung."


Seruan Mahesa yang sengaja mengeluarkan kekuatan tenaga suaranya yang paling dahsyat hingga membuat batu batu atas gua pecah runtuh sebagian dalam bentuk yang kecil kecil memancing muncul nya empat bayangan.


"Putra, kau,, masih hidup?" Teriak Mahesa tanpa kekuatan sakti suaranya.


"Menepi lah Kak," Jawab Putra dengan suara lembut dan kaku.


"Sebentar." Seru Mahesa sambil mengayuh cepat ke arah pinggir dimana Putra berada bersama tiga orang aneh lainnya.


Mahesa pun di tarik oleh Putra dan Kakek Ong dengan cepat ke arah gua besar itu.


"Mari, duduk lah." Seru Kek Ong sambil duduk di atas lantai hangat itu.


"Putra, kau selamat, syukurlah. Kau di tolong mereka? Siapa mereka?" Tanya Mahesa senang dengan wajah berseri.


"Beliau adalah kakek mu Kak, beliau Kek Ong Ji Sa yang masih keponakan Kek Mahesa."

__ADS_1


"Ah, benarkah? Maaf Kakek, aku berlaku kurang hormat." Seru Mahesa mencium tangan dan lutut Kek Ong Ji.


"Siapa yang menunggu mu di luar Nak?" Tanya kakek itu tenang.


"Ayah, kakek dan Paman Raja." Jawab Mahesa ceria.


"Mereka ini siapa Kek?" Tanya Mahesa.


"Menurut keturunan, mereka ini adalah Kakek dan Nenek mu Nak meski usia mereka mungkin sebaya atau berada di bawah mu." Jawab Kek Ong.


Mulai lah mereka bercerita panjang lebar tentang keturunan dan pengalaman masing masing. Mahesa di jamu dengan makanan istimewa dan minuman hangat berkhasiat oleh mereka.


Hingga sejam kemudian, Mahesa selesai bercakap dengan Kek Ong dan sepasang "kakek nenek" yang masih sangat muda.


"Putra, kau di tunggu ayah ibu mu dan ... Adik ku di luar." Seru Mahesa sedikit malu menunduk.


"Kak, aku memang berencana kembali ke Tebing Maut malah bersama mereka berdua. Namun aku harus mempelajari ilmu dari Guru ku ini setengah tahun lagi. Apa saja yang berubah selama ini Kak?" Seru Putra tenang.


"Banyak yang telah terjadi Putra, para profesor telah berhasil dengan projek mereka. Pulau Bana tempat tinggal mu menjadi pulau nomor satu yang paling banyak mendapat penghargaan dari pemerintah. Aku pun kini telah menikah dengan,,,"


"Pasti Kak Luoyi dan Kak Vina, benar Kak?" Putra terbawa kegembiraan Mahesa.


"Ya, setahun lalu kami menikah. Yang lain masih sama kecuali Candu dan Rapit yang telah membangun keluarga di tempat jauh yang tidak kami ketahui dimana."


"Candu dan ... Rapit Naga Kak Jiraiya?" Tanya Putra.


"Ya, mungkin sekarang mereka telah memiliki banyak keturunan." Jawab Mahesa menerawang ke dinding gua di depan nya sambil terdiam agak lama.


"Tak salah aku percaya kepada mu Nak Putra. Ternyata memang kau keturunan keluarga Mo yang telah mengakhiri kutukan itu." Kek Ong Ji Sa berseru tiba tiba.


"Kutukan? Keluarga Mo?" Tanya Mahesa bingung.


"Ya Mahesa, setau ku, keturunan terakhir keluarga Mo adalah Kunto Aji putra Aji Saka."


"Oh, bukan hanya Putra yang akan menjadi adik ipar ku Kek, benarkan Putra? Hahaha, namun cucu Kunto Aji yang seorang lagi malah menjadi istri saudara kita keturunan Ong Kek Bai bernama Ong Ji Raiya." Jelas Mahesa dengan nada bangga.


"Ah,, benarkah Nak,, aku sangat bersyukur, terimakasih Tuhan." Seru kakek tua berambut panjang dengan sepanjang alis, janggut dan kumis yang telah putih keperakan di timpa cahaya lampion dari sudut sudut gua.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2