
Beberapa orang yang melihat Ketua Bu dan dua bawahannya yang sanggup melewati bara api dengan beberapa loncatan indah, mampu menempelkan bendera dengan melompat ke atas di susul lemparan bendera yang tersangkut di besi kait runcing itu dan mampu melubangi besi baja tebal tersebut, mengundurkan diri sebelum mengikuti seleksi tersebut.
Puluhan orang yang mencoba gagal dalam seleksi tahap terakhir yang memang sangat berat itu.
Banyak ahli ahli silat tinggi dan para petarung yang menjagoi di daerahnya masing masing yang ikut gagal, sampai tiba giliran si gemuk pendek berbadan kekar mencoba.
Dengan cara kayang di atas api bergantian menapak dengan kedua tangan dan kakinya, rintangan pertama dapat di lewati.
Tahap kedua pun di lewatinya dengan cara menusuk bendera kecil itu di ujung golok nya dan melontarkan ke atas dengan tepat.
Pada tantangan ketiga, hampir saja ia gagal, namun berkat kecerdikannya yang memakai pisau baja kecil yang berada di gagang golok nya dia mampu menembus lempengan baja setebal se inci tersebut.
Tepuk tangan orang orang yang kagum kepada nya mengiringi langkah si gendut pendek yang kembali ke tempatnya dengan busung dada.
Di belakang nya, terdapat pula 7 orang lainnya yang sukses melakukan hal tersebut termasuk dua orang temannya yang semalam mendapat kamar bersama Jiraiya dan Mahesa.
Kini tiba lah giliran Jiraiya yang berjalan dan melompat api sambil berlari mengambil ancang ancang sekali lompatan.
Bendera Mongol yang di pilihnya pun mampu di gantung di besi berkait yang ada di atas kepala nya berjarak 10 meter itu.
Tiba saat terkahir, Jiraiya segera menusuk lubang besi baja itu dengan telunjuk sehingga berbekas menyaingi bekas aksi Ketua Bu. Kembali tepuk sorai penonton yang makin penasaran memperhatikan hal itu dengan seksama sambil mengira ngira, siapa gerangan adanya kakek itu.
Setelah melewati seleksi tahap akhir selama sejam itu, hanya 51 orang yang lulus seleksi dan kini, nama nama mereka segera di undi.
"Yang pertama akan bertarung adalah Raiyen dan Pokbank. Silahkan Tuan Tuan." Moderator segera duduk di iringi oleh dua orang berbeda Negara yang naik ke atas Ring luas itu.
Setelah melakukan pertarungan selama 9 menit lebih, Raiyen keluar sebagai juara. Pokbank yang mendapat sedikit luka segera turun kembali ke kursinya tadi.
"Tuan Raiyen, silahkan beristirahat di tempat anda. Yang kedua adalah Bunggalo melawan Arkansan." Kembali Moderator berkata.
Setelah seleksi yang sangat panjang, keluar lah nama 26 orang yang menjadi pemenang seleksi tahap pertandingan pertama termasuk Ketua Bu, Tuan Muda Bu, Lai Tek, Jiraiya dan ketiga teman sekamar Mahesa dan Jiraiya.
"Dua puluh enam orang ini akan kita saksikan bertanding kembali setelah makan minum ringan. Kita Break sekitar 10 menit saja." Moderator yang segera berlalu ke kamar mandi untuk membuang hajat nya.
"Kini kita lanjutkan kembali." Seru MC dengan wajah gembira.
Kembali pertarungan tingkat tinggi mereka laksanakan, banyak petarung menjadi harapan seluruh hadirin sebagai juara favorit di situ.
Pandang mata hadirin silau oleh kelebatan cahaya senjata yang berkilauan dikala mereka bertarung memperebutkan gelar memasuki tahap selanjutnya.
Setelah semua pertarungan selesai di selenggarakan, seluruh hadirin kembali ke gubuk bambu darurat karena acara pertandingan akan di lanjutkan tepat pukul 7 malam.
__ADS_1
Jiraiya dan Mahesa ikut kembali ke bilik bambu dimana mereka mandi dan makan serta menunaikan hajat mereka di tempat yang telah disiapkan.
"Hei Mahesa, kenapa kau tidak ikut bertanding?" Tanya Jiraiya saat di kamar.
"Aku ingin membaca keadaan dulu." Jawab Mahesa tenang.
"Ya sudah lah, mari kita istirahat." Ajak Jiraiya yang langsung merebahkan tubuhnya dan terlelap tidur.
Mahesa hanya duduk bersemedi memusatkan tenaga dan pikirannya menjadi lebih rileks di dekat tubuh Jiraiya yang rebah sambil bermimpi indah tentang Tiara dan Karina.
Sekitar dua jam kemudian, Jiraiya dan Mahesa sudah bangun dan bersiap menuju ke gedung besar.
"Di laga tanding tadi kau beruntung tidak mendapat lawan yang menyusahkan." Seru Mahesa pelan sambil berjalan.
"Aku ingin sekali menemui lawan yang tak terkalahkan disini."
"Hahaha, dasar kau, kena batunya baru tau."
"Sssttt,, kita sudah sampai." Seru Jiraiya yang kini menuju ke tempat duduknya.
.---\*\*\*---. .---\*\*\*---. .---\*\*\*---.
"Entah lah, mungkin mereka takut kita menjadi beban saja." Kata Alvina dengan nada ceria.
"Aku sangat ingin ke sana, tapi bagaimana menyeberangi lautan luas ini? Perahu tidak ada, rakit pun tak ada." Seru Karina.
"Kalau Kakak ingin sekali ke sana, pergi saja bersama Candu,," Seru Luoyi nakal seperti main main.
"Aku tak bisa mengendalikan hewan itu."
"Candu mengerti perkataan kita Kak, kau tinggal bilang saja, kemari." Seru Luoyi menarik tangan Karina saat hari sudah menjelang malam.
"Candu, tolong kau bawa kami keliling pulau tiga kali saja ya?" Seru Luoyi sambil menaiki tubuh Candu.
Binatang itu mengeluarkan desis lalu mengepakkan sayap nya mengelilingi pulau tiga kali.
"Wah, benar, aku akan ke sana dengan menyamar. Terimakasih Yimoi." Seru Karina yang segera menaiki Candu kembali dan terbang ke arah pulau Racha Yai mencari perlengkapan samaran seperti Mahesa dan Jiraiya.
Hanya sebentar saja, Karina telah tiba ke Pulau Bon dalam tampilan seorang seorang pemuda tampan berkumis tipis dengan sedikit jenggot di dagu dan pelipisnya.
Malam itu gelap gulita saat Karina meloncat dari belakang pulau menuju ke tengah Pulau Bon setelah berpesan kepada Candu untuk kembali menjaga Luoyi, Tiara dan Alvina.
__ADS_1
"Hei berhenti, siapa kau?" Hardik penjaga pulau di hutan belakang yang sedang meronda.
"Aku seorang tamu yang terlambat dalam perjalanan. Antar aku ke arena pertarungan."
"Ah, maafkan kami yang tidak mengenal Tuan pendekar." Seru penjaga tersebut yang langsung berjalan ke tengah pulau melewati jalan setapak hutan lebat itu.
Di ring tengah sedang terjadi pertarungan hebat, dan ini menjadi pertarungan terakhir malam ini.
Jiraiya dalam penyamarannya mendapat lawan seorang lelaki kekar hitam dan tinggi bernama Thanawat.
Pria besar itu menyerang dengan ganas menggunakan senjata khas nya yaitu sebilah pedang pendek bergagang panjang.
Antara gagang dan mata pedang hampir sama panjang nya. Jiraiya mengelak dari sabetan ke arah leher dengan menarik kepala nya ke belakang,
"Wwuuuutthh,," Pedang aneh itu lewat beberapa centi di depan lehernya. Dengan menggunakan sepasang pedang nya, Jiraiya kembali membalas serangan dengan cepat hingga beberapa orang bangun dari duduknya berseru kagum melihat ada orang tua yang memiliki kecepatan seperti itu.
Seratus jurus telah terlewati, Jiraiya yang sengaja tidak mengerahkan seluruh kemampuan nya tidak segera mendesak lawan karena menjaga agar mereka semua tidak curiga kepadanya.
Saat itulah seorang pemuda tampan bertubuh ramping tanpa senjata di tangan masuk untuk kemudian duduk di tempatnya Jiraiya duduk dimana Mahesa memperhatikan pemuda yang baru masuk itu dengan seksama.
"Hhaaaaiiiitt,,"
Serangan Jiraiya yang kini di kenal semua orang di situ dengan nama Kakek Gu membalas serangan dahsyat Thanawat dengan ganas sekali.
Beberapa gebrakan kemudian, pedang khas Thailand di tangan Thanawat terlempar ke bawah ring berbarengan tendangan kaki Kakek Gu mengenai dada pria besar itu dan pedang di tangan Jiraiya telah menodong di leher Thanawat yang rebah telentang di atas ring.
"Prookk,,, proookk,, prokhh,," Suara tepukan penontong mengiringi kemenangan Jiraiya.
"Terimakasih kepada kedua petarung yang telah menyuguhkan pertandingan yang begitu hebat, Kakek Gu berhasil memasuki 7 besar petarung yang lolos ke babak selanjutnya. Besok kita lanjutkan pertarungan sekalian menentukan pemenang. Sekarang kita membuka kesempatan terakhir bagi siapa saja yang ingin memasuki pertandingan besok, silahkan melewati tiga tahap seleksi." Seru Moderator dengan wajah tersenyum lebar.
Mahesa bangun dari kursinya bersama pemuda tampan yang baru tiba. Mereka berdua segera menuju ke meja pendaftaran.
"Kakek Pu silahkan mencoba." Seru Moderator kepada Kakek yang berjalan melakukan 9 macam tantangan seleksi dan berhasil melewatinya.
"Tuan Kardi, silahkan melewati seleksi." Kembali Moderator berkata kepada pemuda tampan yang tidak lain adalah Karina.
Akhirnya Karina oun dapat melewati sembilan macam tantangan dengan lumayan mudah.
"Siapa lagi yang ingin mencoba? Kalau tidak ada, kita tutup acara untuk malam ini." Seru Mpderator berkata kepada seluruh hadirin yang masih tertib melihat ke sana sini.
Bersambung ...
__ADS_1