SEPASANG KSATRIA PEDANG

SEPASANG KSATRIA PEDANG
Perhelatan Akbar (Besar)


__ADS_3

Setelah menyatukan hati mereka, Jiraiya bersama Tiara dan Karina serta Mahesa bersama Luoyi dan Alvina di bawa memasuki ruang bawah tanah besar dimana Topeng Hitam selama ini tinggal.


Begitu mereka mentok di ujung lorong, terdapat sebuah pintu yang begitu di buka, bagian atasnya menembus bangunan yang ada di tengah hutan bagian belakang rumah Ketua Bu.


Saat mereka keluar, senja hampir berganti malam.


"Sebenarnya siapa kau sobat?" Tanya Jiraiya.


"Aku adalah penghuni pulau ini sementara sebelum kau menggantikan aku memimpin pulau." Terdengar Topeng Hitam berseru.


"Aku tak akan pernah melupakan mu sampai kapan pun." Seru Jiraiya yang di anggukkan Mahesa dalam keremangan itu.


"Semoga kita dapat berjumpa lagi kelak." Topeng Hitam menutup pintu tersebut dan menguncinya dari dalam.


Setelah menunggu beberapa jam, hari telah gelap gulita. Segera mereka semua pergi menuju ke belakang pulau menyusuri hutan gelap itu.


Lampu mercu suar yang sesekali di layangkan ke arah mereka, dapat di hindari oleh Jiraiya dan kawan kawannya.


Sesampainya mereka di pinggir pantai tebing, Jiraiya dan Mahesa segera melengking kecil menyerupai suara binatang dan tak lama kemudian, tampak lah Candu dan Rapit yang memang telah kembali ke tempat itu.


"Jiraiya, kau bawa mereka ke pulau kosong di selatan. Aku akan menunggu di sini." Seru Mahesa yang memerintahkan Alvina, Karina dan Tiara naik ke punggung Candu.


"Mahesa, Kau bersama Candu, biar Alvina di sini. Badan mereka kecil kecil," Seru Jiraiya yang mengajak mereka semua pergi sekalian saja.


Berangkatlah mereka berenam menuju ke pulau kecil bagian selatan. Candu dan Rapit membelok ke arah kiri Pulau Bon setelah berenang lurus beberapa ratus meter.


Tak ada satu pun yang tahu bahwa mereka berhasil melarikan diri hingga keesokan pagi nya, beberapa anak buah pulau bersama Tuan Muda Bu dan Lai Tek menuruni tangga di ruang bawah rumah tersebut dan mendapatkan ruangan yang sudah kosong itu .


Setelah mencari ke segala sudut, Lai Tek dan Bu Sam Khi segera melapor kepada Ketua Bu yang membuat darah Ketua Bu naik hingga ke kepala.


"Sudah lah, apa boleh buat, mari kita sambut para tamu yang telah tiba." Seru Ketua Bu menelan kedongkolannya.

__ADS_1


Dari pagi hingga malam hari, ramai lah pengunjung di pulau itu dengan menggunakan berbagai macam perahu, mereka terdiri dari orang orang dunia persilatan atau ahli ahli beladiri dari seluruh penjuru dunia yang datang untuk mengadu kemampuan.


Semua tamu tamu itu di persilahkan bermalam di pondok darurat yang banyak di buat oleh pihak pasukan pulau.


Berbagai macam bentuk manusia manusia aneh dan sakti berkumpul di situ. Memang, sudah lama sekali Pulau Bon tidak menyelenggarakan hal itu.


Mungkin masalah yang terjadi selama ini membuat pihak pulau terkendala dalam mengadakan acara perhelatan akbar itu.


Di antara banyak nya tamu, terdapat dua orang tua yang sebenarnya adalah Jiraiya dan Mahesa yang menyamar.


Mereka berdua seharian tadi sibuk singgah ke pulau Racha Yai mencari perlengkapan menyamar yang kini telah mereka pakai.


Jiraiya memakai pakaian yang mencolok, yaitu baju hitam celana putih. Sedangkan Mahesa sebaliknya, baju putih celana hitam.


Posisi pedang mereka tetap seperti biasa, Jiraiya berada di kiri kanan pinggang nya, sedangkan sepasang pedang Mahesa berada di punggung nya.


Mereka mendapatkan sebuah pondok kecil yang di tempati berlima. Seorang bajak laut bersenjata gada besar dengan sebelah mata di tutupi penutup warna hitam, seorang pria putih kurus panjang bersenjata ruyung tiga ruas, pria kekar pendek bersenjata sepasang golok, dan dua kakek aneh bersenjata sepasang pedang yang tidak lain adalah Jiraiya dan Mahesa.


"Benar, kalian sungguh mencari mati, aturan kan kalian bisa hidup dua tiga hari lagi. Hahahaha," Seru pria kepala bajak laut sambil tertawa di iringi dua kawannya.


"Kami berdua bukan mau bertanding, tapi kami akan merebut Pulau Bon." Jiraiya yang berkata dengan suara dibuat buat, membuat mereka bertiga tercengang.


"Ah, kalian bisa saja Kek, mematahkan lidi saja kalian tidak akan sanggup. Hahaha,," Kembali pria pendek itu mengejek mereka.


"Jangan kan lidi, golok mu sekalian dengan kepala mu itu pun sanggup ku patahkan, Hahaha,," Balas Jiraiya dengan gelak tawa seperti gaya si pendek gembul itu.


"Nih, kalau kau tidak sanggup, leher mu akan ku pancung dengan golok ini." Seru pria kekar pendek mengacungkan ujung golok ke arah Jiraiya sambil memegang sebelah golok lagi dengan tangan nya.


"Sini," Ucap Jiraiya yang menarik mulus golok yang sengaja di pegang kuat gagang nya oleh si pendek tersebut.


Tampak muka si pendek tegap itu sedikit pucat merasakan tenaga tarikan dahsyat dari tangan Jiraiya.

__ADS_1


"Biar aku wakil kan saja kepada wakil ku ke sebelas." Seru Jiraiya yang memberikan golok kepada Mahesa.


Mahesa yang mengerti maksud Jiraiya, segera mematahkan golok kuat itu dengan jari jari tangan kirinya saja.


"kretakkk,, krreeethhaakkkh,, trangg,,, traang,,"


Pucat lah wajah mereka bertiga yang berdiri terdiam serba salah melihat kejadian tersebut.


"Kalau tidak mau wakil ku ini mematahkan leher kalian seperti itu, cepat tidur." Seru Jiraiya dengan suara berat yang menyeramkan.


"Tidak apa Kakek Sakti, kami akan tidur di lantai atau di luar saja, silahkan Kakek berdua istirahat dengan nyaman."


Jiraiya dan Mahesa yang melangkah ke dipan besar itu tertawa dalam hatinya. Tanpa memperdulikan apa apa lagi, kedua Kakek sakti itu segera tidur pada pandangan ke tiga orang yang akhirnya tidur di luar gubuk tersebut.


Pagi berikut nya, di mulai lah acara yang telah di nanti nantikan oleh ratusan orang peserta yang telah di data oleh panitia petugas yang terdiri dari murid murid perguruan BUKHONGGONG (B.K.G).


Tampak berduyun-duyun orang berjalan dengan membawa senjata yang aneh ke arah gedung besar yang luas nya puluhan hektar tersebut.


Gedung itu sudah nampak tua, hanya pada beberapa bagian saja ada yang baru. Mungkin tempat tempat lapuk yang di ganti sebagian kecil saja agar dapat di gunakan.


Setelah sebagian besar tamu berkumpul, seorang anak buah pulau segera berbicara menggunakan mikrofon berdiri di atas panggung kecil yang berada di sudut panggung sebelah timur.


"Kita sambut, Ketua Bu, pemimpin Bon Island yang jaya." Seru MC mempersilahkan.


"Selamat pagi rekan rekan dan semua hadirin, tujuan dan maksud kami mengundang kalian adalah untuk maksud mengadakan pemilihan pemimpin Ksatria di seluruh penjuru dunia dan pelosok negeri yang akan membawa kita semua menuju kejayaan abadi."


"Hidup Ketua Bu," Teriakan saling bersahutan memenuhi ruangan tersebut.


"Baik lah, untuk menghemat waktu, kita akan mulai seleksi tahap awal yang kali ini sedikit berbeda dari tahun tahun sebelumnya." Seru Moderator yang segera menyerahkan mic kepada Lai Tek untuk mengumumkan peraturan penyeleksian pertama.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2