
Hari itu, terlihat kesibukan yang luar biasa di sebuah areal luas yang dulunya dimiliki oleh mendiang Gubernur Kalimantan Timur bernama Thomas Anggara.
Tanah luas itu kini dimiliki sepenuhnya oleh tiga orang. Pertama adalah adik kandung Pak Thomas bernama Prof Andi Anggara. Kedua oleh seorang wanita yang tidak lain adalah istri pendekar siluman super sakti bernama Tari Anggara atau Sari.
Yang terakhir adalah Bu Tisa yang bernama Cut Ratisa Hafiz yang kini tinggal di Tebing Maut daerah Provinsi Aceh.
Tempat yang dulunya kosong itu kini telah menjadi sebuah areal yang di jaga ketat oleh pihak Pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan bawahan Mr Sung dan Mr Setiawan.
Di dalam pagar berduri, terlihat banyak orang berseliweran ke sana sini. Di samping para bawahan yang bekerja di sana, terlihat pula para profesor yang sedang menuju ke gudang besar.
Hari itu persiapan akhir di laksanakan. Dalam beberapa bulan ini tempat itu di bangun dengan cepat. Kemarin proses finishing di lakukan dan hari ini persiapan barang dan bahan dilaksanakan.
Di luar pagar duri melingkar tersebut, beberapa ratus meter dari tempat itu terlihat banyak orang yang menjadi mata mata dengan pakaian hitam dan senjata tajam di tangan mereka.
"Bagaimana hasil penyelidikan kalian?" Tanya seorang cacat yang menjadi ketua tingkat dua bernama Kaja.
"Pekerjaan mereka akan di mulai hari ini Bos." Seru seorang bawahan berpakaian ninja.
"Apakah kalian telah mengetahui apa yang akan mereka lakukan?" Tanya Ketua tingkat tiga bernama Edo yang juga cacat telinganya.
"Belum ada kepastian apa yang akan mereka teliti Bos."
"Baik lah, kalian terus melakukan penyelidikan. Nanti malam kami akan kembali. Mari Edo kita laporkan kepada ketua pulau." Seru Kaja yang berlari menyusuri hutan itu bersama Edo dan tiga bawahannya.
.---***---. .---***---. .---***---.
Di dalam sebuah ruangan besar dimana para profesor pilihan yang hebat hebat akan melakukan penelitian besar, terlihat sebelas orang sedang duduk di meja Syura atau meja tempat mereka membuat kesepakatan atas segala sesuatu.
"Prof Toni, mengapa Candu dan Rapit tidak boleh kita ajak kemari segera?" Tanya Prof Andi.
"Kalau bisa, penelitian kita tentang Candu dan Rapit, jangan sampai di ketahui oleh pihak penjaga. Jika hal itu di salah gunakan, pasti akan menjadi boomerang bagi kita." Seru Toni Hawk yang memiliki sinar mata terang meski wajah nya sedikit keriput.
"Apakah pengusiran mata-mata perlu dilakukan bersama pemerintah?" Tanya Prof Chow dengan suara pelan.
__ADS_1
"Baik nya, kita lakukan malam ini saja secara pribadi. Biar Mahesa, Ardian, Jiraiya dan kedua putra Profesor Toni yang melakukan penyisiran di hutan Utara dan Timur." Seru Satria yang di anggukkan oleh Prof Andi dan Prof Toni.
"Bagaimana persiapan kalian Mahesa?" Tanya Prof Mike yang dari tadi diam saja.
"Malam ini Jiraiya dan Ardian akan tiba membawa Candu dan Rapit. Mereka akan menunggu kita hingga tengah malam di tebing hutan sebelah barat. Kami bertiga akan menyusul ke sana pukul 10.00 malam nanti." Jawab Mahesa yang lalu permisi untuk mempersiapkan alat alat penyisiran mata-mata yang akan mereka lakukan nanti malam.
"Baik lah, semua rencana kita sudah selesai. Terimakasih atas kehadiran kalian semua." Seru Prof Toni yang menjadi ketua dalam riset penelitian mereka itu.
"Aku akan kembali bersama istriku ke Amerika selama tiga hari. Permasalahan disini ku serahkan sepenuhnya kepada kalian semua dan Andi, tanggung jawab penuh berada padamu."
"Baik Kak, hati hatilah di jalan." Jawab Prof Andi yang keluar bersama mereka menuju ke rumah tinggal masing masing.
.---***---. .---***---. .---***---.
"Ardian, kita memutar mengambil jalur laut." Seru Jiraiya yang baru selesai berpamitan kepada kedua istrinya.
"Baik Kak. Aku tidak mengenal daerah sini. Semua keputusan ada di tangan mu." Jawab pria muda tampan berpakaian serba hitam dengan topeng indah menutupi wajahnya.
Mulai lah mereka pergi melewati sungai menunggang dua ekor naga besar itu. Jiraiya menunggang Rapit, Ardian menunggang Candu yang ikut berenang di samping Rapit.
Dua jam kemudian, pukul setengah 10 malam mereka berdua tiba disana bersama Candu dan Rapit. Mahesa segera menyambut mereka berdua dan mempersilahkan mereka masuk ke tenda darurat yang baru saja di pasang bersama dua pemuda asing putra dari Profesor Toni Hawk.
"Bagaimana perjalanan kalian? Apakah ada hambatan?" Tanya Mahesa sesampainya mereka dalam tenda.
"Tidak, kami menyusuri lautan sebelah selatan. Ada beberapa perahu besar di sana." Jawab Jiraiya yang duduk berhadapan dengan putra gurunya itu.
"Sepertinya mereka orang orang dari perbatasan Mongol." Seru Ardian sembari membuka topeng nya.
"Mau apa mereka kemari?" Tanya Black Hawk dengan alis berkerut.
"Tentu saja atas permintaan Pataya, orang kepercayaan ayah,,, ehh,, maksud ku bawahan Ketua Pulau Bon yang lama.
"Kita harus lebih berhati hati melakukan penyisiran malam ini. Agaknya musuh yang mengintai memang sangat banyak." Seru Mahesa sambil merebahkan badannya.
__ADS_1
"Istirahat lah dulu." White Hawk yang pendiam itu pun mempersilahkan mereka untuk rebah meluruskan badan.
Sekitar dua jam lama nya mereka tertidur, hingga terdengar suara Mahesa berkata,
"Mari kita mulai penyelidikan sekarang."
Hanya anggukan mereka saja yang terasa dalam kegelapan malam itu. Mahesa, Jiraiya, Ardian, Black dan White Hawk segera keluar dari tenda dan melihat tenda kecil itu untuk kemudian di ikatkan ke punggung Candu.
Kelima pemuda tampan tersebut segera pergi menyusuri hutan meninggalkan Candu dan Rapit di tempat itu.
Mahesa berjalan di depan Jiraiya di ikuti oleh Ardian dan kedua pria berwajah asing itu. Dengan kecepatan kilat mereka bergerak cepat di dalam hutan lebat itu sampai sampai si kembar yang bersama mereka tertinggal beberapa puluh meter di belakang.
Tak lama kemudian, kelima orang tersebut melihat pergerakan dari hutan yang ada di depan mereka. Dengan cekatan, Mahesa dan Jiraiya serta Ardian segera melumpuhkan beberapa orang yang paling dekat lewat dengan mereka.
Tak berselang lama, tempat itu segera di kurung oleh belasan komplotan pengintai.
"Siapa kalian?" Tanya seorang yang sepertinya menjadi pemimpin regu tersebut.
"Bukankah kami yang seharusnya menanyakan kalian siapa dan mau apa mengintai tempat itu." Hardik Mahesa dengan sikap kereng yang di buat buat.
"Seraaaaanngggg,,," Seru seorang pengintai di ikuti serangan belasan teman nya menyerbu tempat kelima pemuda itu beradu punggung.
Senjata ketiga pemuda sakti tersebut adalah pedang dan sebatang tongkat yang kini di pegang oleh Ardian yang telah memakai topengnya kembali.
Hanya Black Hawk dan Toni Hawk saja yang memakai senjata berbentuk tiga buah cakar di tangan mereka yang di genggam terhubung besi yang ada di lengan mereka berdua.
Dalam hati Jiraiya, mereka mencari mati agaknya dengan memakai cakar sepanjang dua jengkal itu sebagai pelindung pedang dan golok ampuh dari penjahat.
Segera kelima orang itu melawan dan menangkis serangan senjata senjata belasan orang tersebut sambil berusaha melindungi Black dan White.
Terjadilah perkelahian yang rumit antara mereka melawan para anak buah pengintai gelap itu.
"Sisakan pemimpin nya, jangan bunuh mereka." Teriak Mahesa sambil memukul jatuh beberapa orang.
__ADS_1
"Biar aku yang maju." Seru Jiraiya sambil memisahkan dirinya dari kepungan menyerbu ke arah para penyerang.
Bersambung ...