
"Andi, mengapa kau selalu termenung?" Tanya Profesor Hawk di dalam sebuah ruangan besar.
"Ah, tidak ada Kak, aku hanya khawatir kepada putri ku." Seru Andi menjawab pertanyaan Toni Hawk.
"Bersabar lah Andi, semua akan baik baik saja, semoga." Seru Prof Hawk.
.---***---. .---***---. .---***---.
Kala itu, rencana Projek yang dinamakan NGM telah tersebar berita nya ke seluruh pelosok Nusantara akibat dari liputan media yang di imbau kan oleh pihak pemerintah yang merasa bangga bahwa di salah satu tempat di Provinsi Nusantara di adakan penelitian besar yang di pimpin Profesor kenamaan Toni Hawk.
Tak terkecuali Pulau Bon yang menerima berita itu dari bawahannya yang menjadi pasukan penduduk Pulau Merundung atau yang lebih di kenal dengan Pasukan Pulau Merdu.
Siang itu, Ketua Bu yang menjadi Pimpinan di Bon Island melakukan rapat khusus mendadak bersama para bawahannya yang di pimpin oleh Lai Tek dan Bu Sam Khi.
"Ketua, menurut ku benar seperti yang di katakan adik Bu, kita kirim saja 50 orang kita bergabung bersama bawahan Kaja dan Edo. Tujuh puluh orang itu sudah lebih dari cukup untuk memata-matai kegiatan mereka." Seru Lai Tek semangat.
"Siapa yang akan memimpin mereka?" Tanya Ketua yang berwajah tua itu dengan lengan baju panjang sebelah kiri bergantungan di tiup angin.
"Aku yang akan memimpin mereka ayah." Seru Tuan Muda Bu yang bangun dari duduknya.
"Tenaga kalian berdua sangat ku butuhkan di sini besok." Seru Ketua Bu sembari menggelengkan kepalanya.
"Biar aku menyelesaikan tugas di sini dulu ayah, pasukan bisa segera kita kirim dibawah pimpinan Lie Bhok yang akan di bantu oleh Kaja Dan Edo."
"Baiklah, laksanakan seperti katamu itu." Seru Ketua Bu seraya mengangguk-angguk.
Tuan Muda Bu segera menyiapkan murid BKG yang cocok untuk tugas tersebut di bantu Lai Tek dalam melakukan persiapan untuk sore nanti segera berangkat ke Pulau Merdu.
Di bagian bawah tanah pulau itu terjadi percakapan yang sangat menegangkan antara dua orang pria muda yang tampan bersama empat orang gadis cantik jelita.
"Yimoi, sudah lah, tak usah menangis lagi." Seru Jiraiya yang telah siuman dari pingsan nya setengah jam yang lalu.
"Semua ini salah mu Jiko, kalau saja kau tak menjodohkan aku dengan dia, tentu aku tak akan mengharap apa apa." Luoyi berkata sambil menambah gas pada suara tangis nya.
"Sekarang kita semua harus terbuka demi kebaikan kita semua." Seru Mahesa yang tampak lebih dewasa setelah mengalami masalah itu.
"Aku dan Jiraiya dari dulu telah di rencanakan bertunangan dengan Vina dan Tiara. Jujur, aku sendiri mencintai Vina dari dulu, entah apa tanggapan nya aku pun tidak tau."
"Aku sangat senang menjadi istri mu Mahesa." Seru Vina seperti air dingin menyiram kepala Mahesa.
"Dengar lah Vina, saat melakukan perantauan, aku berjumpa dengan Luoyi. Pertama kali melihatnya, aku kagum dan suka padanya, entah ini cinta atau bukan, yang pasti, aku akan sangat senang bersamanya selamanya."
__ADS_1
"Apa kau sudah tak suka lagi padaku?" Tanya Vina meneteskan air mata sambil menunduk.
"Cinta ku pada mu tak akan pudar. Sebagaimana dulu, cinta ku yang sekarang tetap seperti itu padamu." Jawab Mahesa.
"Lalu siapa yang kau pilih antara Vina dan adikku Mahesa?" Seru Jiraiya memandang tajam.
"Aku tak tau Jiraiya." Jawab Mahesa bingung.
"Kau sendiri Jiko, bagaimana perasaan mu kepada Kak Tiara dan Kak Karina?" Tanya Luoyi sambil mewek mewek menangis perlahan.
"Seperti juga Mahesa, aku dulu pernah diberitahu Guru tentang maksud Om Andi menjodohkan ku dengan Tiara. Namun aku belum pernah bertunangan dengan nya."
Mendengar jawaban Jiraiya, Tiara menundukkan muka nya sambil berkata dengan nada duka,
"Memang kau lebih pantas dengan Karina, aku hanya lah wanita lemah penyakitan." Seruan Tiara bagaikan halilintar menyambar kepala Jiraiya.
"Bukan begitu Tiara, aku,,, aku, juga sama,,, seperti Mahesa."
"Maksud mu?" Tanya Karina yang baru saja lega hatinya sedikit.
"Meski belum di ikat perjodohan, aku sangat mencintai Tiara sampai sampai,, hampir selalu aku memimpikan nya sebelum bertemu kau Karina." Jawab Jiraiya sedikit tersendat.
"Kak Karina bagaimana Jiko?" Tanya Luoyi yang kini berhenti menangis.
"Hahaha, ternyata kau juga sama seperti ku Jiraiya." Seru Mahesa yang berhenti tertawa dalam sekejap melihat pandang mata melotot dari ke empat gadis itu.
"Entah lah, aku tak tau harus bagaimana." Jawab Jiraiya menunduk.
Suasana hening beberapa lama nya. Mereka semua di aduk perasaan dan pikiran masing masing hingga Tiara bertanya,
"Jadi,, bagaimana dengan hubungan kita semua sekarang?"
"Mereka harus memilih salah satu di antara kita." Seru Luoyi tersenyum lucu menatap wajah mereka semua satu persatu.
"Menurutku, lebih baik hubungan yang ruwet ini kita akhiri saja. Aku akan berbicara jujur kepada keluarga kita tentang hal ini agar tidak ada perpecahan antara kita." Seru Mahesa dengan muka sedih.
Luoyi dan Alvina juga berubah sedih muka nya di susul Tiara dan Karina juga Jiraiya.
"Benar kata Mahesa. Aku pun pasti tidak akan bisa dan tak kan sanggup memilih antara kalian. Biarlah rasa ini kita simpan sampai mati." Seru Jiraiya membenarkan usul mahesa.
"Bodoh, benar benar bodoh kalian semua, kalau memang cinta, menikah saja. Apa salah nya mempunyai dua istri asal sanggup berlaku adil kepada keduanya.?" Seruan dari sudut ruangan mengagetkan mereka.
__ADS_1
"Siapa kau?" Bentak Mahesa yang telah mencabut sepasang pedang nya bersama Jiraiya.
"Dia,, dia Si Topeng Hitam." Luoyi menunjuk sambil berkata ke arah pria berbaju ninja dengan topeng hitam di wajah nya.
"Tak usah menyerang, aku bukan musuh kalian, bukan juga musuh Pulau Bon. Aku hanya mengusulkan saja, bagusnya begitu." Seru suara pemuda yang berada di balik topeng tersebut.
"Siapa kau?" Tanya Jiraiya mengancam.
"Adik mu telah mengatakan kan bahwa aku Si Topeng Hitam?" Jawab pria bertopeng itu.
"Benar kah kau bukan musuh?" Tanya Jiraiya curiga.
Dengan secepat kilat, Topeng Hitam itu meluncur ke arah Karina yang mencoba mengelak namun dapat di cengkeram juga tengkuk nya.
"Maafkan aku. Mudah melumpuhkan kalian bukan? Aku bukan musuh kalian." Seru Si Topeng Hitam yang melepaskan Karina dan meloncat kembali ke sudut ruangan remang itu.
"Benar sekali usul mu, Adik Yi, maukah kau menjadi madu ku? bersama sama merawat Mahesa dan anak anak kita kelak?" Seru Alvina yang kini menggandeng tangan Luoyi.
"Benarkah kau rela Kak? Kalau kau rela, aku juga jauh lebih ikhlas berbagi suami dengan orang sebaik engkau." Jawab Luoyi tersenyum.
"Bagaimana dengan kau? Siapa nama mu? Karian?" Seru si Topeng Hitam itu.
"Kardian nama ayah ku, aku Karina. Kalau aku tak yakin Kak Tiara mau membagi mu Jiraiya, lebih baik kau menikah saja dengan nya. Aku bisa pergi dari kehidupan kalian." Jawab Karina sambil menyembunyikan duka hatinya yang terpancar melalui wajah manis nya.
"Aku yang tidak pantas mengganggu hubungan kalian. Maaf, aku yang akan pergi."
"Bagaimana kau akan pergi wanita lemah?" Seru Topeng Hitam sengaja.
"Jangan menghina Tiara." Ancam Jiraiya.
"Karina dan Tiara itu adalah wanita lemah, bodoh, kaku, canggung dan menjijikkan ku." Seru Topeng Hitam yang membuat Jiraiya melesat cepat menyerang nya.
Segera terlihat pertarungan hebat antara keduanya. Sambil menghindar dan balas menyerang, Si Topeng Hitam berkata,
"Lihat lah pemuda ini, dia sangat mencintai kalian berdua, apakah kalian rela menghancurkan hatinya?" Seru Topeng Hitam sambil mengelak ke sana sini meladeni serangan mematikan Jiraiya.
"Jiraiya, dia bukan musuh," Mahesa mengingatkan.
Jiraiya segera meloncat ke belakang sambil menatap kedua wajah gadis manis itu yang mengalirkan air mata memandang nya.
"Kami rela menjadi istri mu. Bahkan jika kau ingin menikahi wanita lainnya sekalipun." Seru Tiara bersamaan dengan Karina yang menubruk Jiraiya dan menangis di dadanya.
__ADS_1
Bersambung ...