
Sore hari di sebuah hutan daerah Mongol Utara, terlihat sepasang manusia bersama seekor ular putih yang tubuhnya hampir sebesar ujung pohon kelapa besar.
Rapit meliuk liuk melewati hutan yang menembus ke rumah Gulikan.
"Ayaaaahh,, Ibuuuu,,," Luoyi berlari ke arah sepasang suami istri yang sudah tampak tua yang duduk di pondok kecil bagian samping rumah terpencil itu.
"Anak Ji, Yi Mei, kalian kembali?" Seru wanita bernama Nyonya Mei itu sambil berdiri menanti pelukan dari putrinya.
"Ibu, kenapa menangis? Bukan kah kami kembali dengan selamat, harus nya kalian senang dong." Ucap Luoyi yang maju menubruk ibu dan ayah nya.
"Kakek Ang,, Kek Ang Nak,, Huhuhu,,," Nyonya Mei tak dapat menahan keharuan hatinya.
"Kakek Ang kenapa Bu?" Seru Jiraiya yang telah memberi isyarat kepada Candu untuk bermain di hutan di belakang mereka.
"Kakek Ang telah meninggal seminggu lalu Nak Ji. Mari ku antar." Seru Gulikan yang juga menitikkan air mata kesedihannya.
Mereka berempat pun segera melangkah ke bagian belakang rumah, Jiraiya dan Luoyi melihat dengan air mata mengalir sebuah kuburan yang berada di samping pondok kecil dimana terdapat asap dari dalam.
"Kakeeeek,," Luoyi berkata sambil jatuh berlutut di samping makam baru tersebut di ikuti oleh Jiraiya yang mengalirkan air mata tanpa suara.
Setelah keharuan hati mereka mereda, Gulikan berkata,
"Kalian masuklah dulu Nak, mandi mandi dan makan, setelah itu ada hal yang ingin di sampaikan Kakek Guru kepadamu."
"Baik Guru," Seru Jiraiya sambil bangun mengusap air matanya menuju ke pintu belakang rumah mereka.
Ketika hari berganti malam, Gulikan mengajak istri dan dua kedua anak nya menuju ke gubuk belakang yang berada di samping kuburan Kakek Ang.
"Kakek Guru, kami pulang, datang menghadap. Terima lah hormat kami." Seru Jiraiya yang berlutut di depan seorang pria yang sudah sangat tua namun cacat di wajah dan bertubuh tidak lumrah manusia.
"Kakek, mereka telah aku beritahu sedikit. Silahkan Kakek." Seru Gulikan yang duduk penuh rasa hormat.
"Dengar lah berita dan pesan terakhir dari ku ini." Seru suara parau yang dialeknya agak aneh dari pria yang tampak sangat tua itu.
Mulai lah orang tua yang di sebut Kakek oleh Gulikan itu bercerita bahwa dahulu, Kakek buyut Jiraiya mempunyai istri yang sudah mengandung, ketika anak itu lahir ternyata cacat di sebagian tubuhnya. Namun Kakek buyut Jiraiya sangat menyayangi anak tersebut dan memberikan ilmu yang tinggi bersama dengan putra kandung kakek buyut Jiraiya.
"Aku lah anak itu, aku dan adik Bai tinggal bersama dengan ayah dan ibu di Pulau Bon sampai saat dimana aku pergi berkelana dan akhirnya memiliki putra yang ku beri nama Gumokan yaitu ayah Gulikan."
Pulau Bon atas perintah ayah tiri Kakek cacat itu di berikan kepada mereka berdua. Namun dia tak ingin memimpin pulau dan memberikan tampuk pimpinan kepada Ong Kek Bai adiknya.
"Mulai saat itu Ong Kek Bai memimpin pulau sampai ke cucunya yaitu Ong Kek Saiya ayah mu." Tutup Kakek tua itu sambil memandang lembut kepada mereka.
"Mengapa Kakek Guru dan ayah menyembunyikan hal itu dari kami?" Tanya Jiraiya penasaran.
"Ayah mu Gulikan baru tau bahwa aku ini Kakek nya. Aku sengaja menyembunyikan hal itu agar bahaya tidak menyerang keluarga ku." Seru Kakek tua tersebut yang sebenarnya bernama bernama Ong Tek Sunh. (Baca Cerita BOCAH AJAIB).
"Mengapa hal itu Kakek Guru ceritakan kepada kami?" Tanya Luoyi tiba tiba.
"Aku ingin kalian menyambung kekerabatan yang telah putus dengan keturunan Ong Kek Barya di Nusantara untuk menggenapi Ramalan Kakek kita itu. Dan kau Jiraiya, jangan biarkan siapa pun mengobrak abrik Pulau Bon yang dulu hampir di hancurkan oleh ayah mu Kek Saiya dan Gulikan."
__ADS_1
"Kami akan ingat Kek." Seru Jiraiya.
"Siapakah keturunan Ong Barya dari Nusantara?" Tanya Luoyi khawatir.
"Semua yang datang kemarin dulu kemari bersama kalian, mereka merupakan sebagian keturunan Ong Barya yang di sebut Bara Naya."
"Ah,, Terimakasih Kakek Guru." Luoyi berseru gembira mendengar Mahesa adalah keturunan Ki Bara Naya.
"Sudah lah, kalian istirahat lah. Aku ingin istirahat juga besok selamanya di samping Kakek kalian."
"Permisi Kek." Seru Gulikan yang mengajak putra putrinya keluar besama istrinya setelah menutup pintu gubuk tersebut.
.---***---. .---***---. .---***---.
Setelah semalaman melakukan perjalanan jauh yang sangat melelahkan, Mahesa dan dua orang gadis bersamanya tiba di Kutai Barat dimana secara kebetulan orang tua mereka bertiga sedang berada di sana.
"Assalamualaikum." Seru Mahesa lantang.
"Wa alaikum salam." Jawab Bu Lina dan Bu Alifah yang sedang duduk di teras depan bersama Bu Sari.
"Mahesa,"
"Pipin,,"
"Tiara,," Seru mereka hampir bersamaan.
"Jiraiya?" Tanya ibunya.
"Dia tidak kesini bu?"
"Tidak, masuklah, ayah kalian sedang khawatir. Oooomm,, Om Andi,, mereka sudah kembali," Seru Bu Alifah sembari masuk ke dalam.
Tak lama kemudian, keluarlah Prof Andi dan istrinya bersama Sinta, Satria dan Kek Hafiz.
"Mahesa, Jiraiya mana?" Tanya Satria.
"Kami juga bingung ayah. Tadinya dia menuju ke arah sini, kami pikir dia sudah tiba duluan sama adiknya." Jawab Mahesa.
Setelah mereka duduk, Mahesa segera menceritakan pengalaman nya selama merantau dimana dia membasmi sarang penculik para gadis dan bertemu dengan Gulikan sampai mau di jodohkan dengan putrinya.
Mahesa juga menceritakan keseruannya bersama Jiraiya membasmi penduduk Pulau Phuket yang telah berubah menjadi mayat hidup yang sangat kuat dan cepat. Tentang pengalaman nya di Pulau Bon pun tak lupa dia ceritakan.
Satria dan Prof Andi hanya mendengarkan saja bersama ibu ibu yang juga mendengarkan dengan penuh kengerian hati.
"Setelah bertemu dengan Karina, dia mengatakan bahwa Jiraiya telah salah paham padanya. Yang di peluknya adalah adiknya bernama Ardian. Di situlah kami berpisah ayah." Tutup Mahesa menanti tanggapan ayah dan semua yang mendengar.
"Ardian, Karina,, mungkin kah mereka,," Seru Kek Hafiz pelan.
"Maksud Kakek?" Tanya Mahesa.
__ADS_1
"Entah lah, nama mereka seperti ... Sudahlah, lupakan saja."
"Jelaskan saja Kek, jangan buat kami penasaran." Seru Sari yang di anggukkan oleh Satria suaminya.
"Mungkin saja mereka adalah cucu keponakan istri ku, nama nama mereka hampir mirip dengan nama keturunan Guru ku." Seru Kek Hafiz ragu.
"Kalau memang begitu, pasti nanti kita akan mengetahui nya, semoga saja." Jawab Satria yang tampak tenang dengan wajah tampan berhias rambut perak panjang melewati bahunya.
"Ayah, Ibu,, kami mau mengaku," Cetus Tiara yang dari tadi diam saja.
"Mengaku apa Nak?"
"Aku cinta Jiraiya ayah, aku harap ayah dan ibu tidak keberatan."
"Kami tau kau cinta Jiraiya, bahkan kami berencana mengikat kalian dengan pertunangan, Tapi,,, gadis bernama Karina itu,,"
"Kami memang telah membuat kesepakatan ayah. Jiraiya, aku dan Karina akan hidup bersama dalam satu pernikahan."
Mendengar kata kata Tiara, berdetak hati Satria, Kek Hafiz terutama Andi dan Istrinya.
"Kalian belum matang berpikir Nak, pikirkan lah dulu sebab akibat nya. Jangan hanya mengambil keputusan yang akan kalian sesali." Seru Prof Andi yang tampak semakin tua dengan kerut merut di wajahnya.
"Kami telah berpikir ayah, bahkan Alvina,,,"
"Ya, kami juga memutuskan ingin menikah kelak dengan Mahesa bersama Luoyi."
"Apa,,?" Seru Haji Ahmad yang baru tiba.
Mahesa hanya menundukkan muka nya sambil menahan rona merah pada wajahnya karena malu.
"Kalian masih anak anak, kalian belum tau bagaimana nama nya cinta, rumah tangga, tanggung jawab, cemburu dan lain sebagainya sehingga memikirkan yang mudah mudah saja." Suara Haji Ahmad tampak sedikit gusar.
"Kami memang masih bodoh Kek, tapi demi mempersatukan keluarga besar kakek buyut, kami rela dan senang sekali hidup bersama."
"Tidak ada wanita yang ingin berbagi suami di dunia ini Nak," Seru Lina menasehati anak nya.
"Vina telah mengambil keputusan Bu, jika tidak menikah dengan cara seperti itu, Vina akan menuruti permintaan kakek, ibu dan semuanya. Selamanya Vina tidak akan menikah."
"Vin,,, sadarkah dengan ucapan mu itu?"
"Ya ayah, meski kalian menganggap kami masih anak anak, tapi apapun itu, kami yang menjalani nya. Kami tak ingin durhaka kepada orang tua, biarlah Vina melajang seumur hidup, begitu juga Luoyi dan ... Mahesa."
Setelah menyelesaikan kata katanya, Alvina masuk ke dalam secara sopan meski tampak raut muka nya sedih penasaran.
"Mahesa, apa ini?" Tanya Satria ketus.
"Entah lah ayah, aku hanya jujur kepada mereka bahwa aku memang mencintai mereka berdua, sudah ku katakan bahwa hubungan ini tak akan berhasil dan aku mengusulkan agar perasaan ini di bunuh saja. Mereka tetap keras kepala. Lebih baik tidak pernah menikah daripada harus menanggung amarah ayah, ibu, paman dan Kakek." Jawab Mahesa tegas dan jelas dengan suara pelan dan lembut.
Bersambung ...
__ADS_1