
Terlihat dua kakek tua bermata tajam berbadan tegap yang memakai baju dan celana tipis duduk bersebelahan dengan beberapa orang yang berada di tengah antara mereka dengan Ketua Bu.
"Seleksi pertama adalah mengangkat batu besar di ujung, selanjutnya mengangkat kayu hingga berdiri tegak, kemudian menjatuhkan nya tanpa menghancurkan kayu kecil yang mengganjal di ujung bawah kayu besar dan panjang itu. Yang terakhir adalah, mampu melompat setinggi 6 meter di atas ring mengambil seutas baja kuat sebesar kelingking dan mematahkan nya dengan jari. Semua nya boleh mencoba." Seru Lai Tek yang segera menyerahkan mic kepada MC atau Moderator.
"Baiklah, silahkan siapa yang ingin maju?" Seru MC sambil melihat ke sana sini.
Beberapa saat kemudian, terlihat seorang kakek bangun dengan sepasang pedang tergantung di pinggang nya.
Jiraiya yang melihat tidak ada orang yang bangun setelah beberapa lama, bangun berjalan menuju ke samping ring tempat pertandingan dimana alat alat uji coba berada.
Sesampainya di situ, Kakek tua yang berjalan tertatih-tatih ditertawakan oleh seluruh penonton yang hadir kecuali tiga orang yang duduk tak jauh dari Mahesa dalam penyamarannya.
Jiraiya yang berbentuk seorang kakek tua itu segera berjalan ke ujung dimana batu besar berada.
Dengan meregangkan kaki nya, Jiraiya mengangkat batu itu dan menahan dengan sebelah tangan nya. Setelah beberapa menit, baru Jiraiya menurunkan batu itu.
Para hadirin yang tertawa tadi kini banyak yang tercengang melihat kehebatan kakek tua pendiam itu.
Apa lagi saat sang kakek yang berjalan menuju ke batang pohon besar yang rebah melintang dan mengangkat nya sambil memutar-mutar di atas kepala beberapa kali untuk kemudian kembali meletakkan kayu itu tanpa suara sedikit pun.
Dengan langkah pelan Jiraiya berjalan ke arah ring dan melompat ke tengah di sambung lompatan tinggi ke atas mengambil tiga batang besi sepanjang tiga jengkal.
Saat dia turun mendarat, dua potong besi patah telah terlempar di bawah ring, sedangkan dua batang lainnya yang masih utuh kembali di lemparkan ke atas dan mendarat seperti semula.
__ADS_1
Pecah lah riuh tepuk tangan para hadirin yang hadir menggema di seluruh ruangan. Jiraiya segera meloncat turun kembali ke bangkunya setelah di data oleh MC.
"Pembukaan telah di lakukan oleh Kakek Gu. Siapa lagi yang ingin mencoba, silahkan antri segera." Seruan Moderator membuat orang orang membuat antrian panjang.
Ratusan orang mengantri untuk dapat melakukan seleksi tahap pertama. Sekitar 700 orang yang mengantri, hanya seratus lima puluh lima orang yang lulus di antara semua yang ikut.
"Baik, untuk sementara kita tutup tahap seleksi pertama. Bagi yang ingin ikut, nanti akan kami buka kembali seleksi tahap awal. Kini kita masuki ke seleksi berikutnya." Seru MC yang menyerahkan Mic kepada Tuan Muda Bu.
"Baik lah, Seleksi tahap kedua ada tiga macam pula. Pertama memecahkan kelereng dengan telunjuk dan ibu jari. Kedua melompati ke empat sudut ring secara berturut-turut dan terakhir berjalan di atas ke empat tali ring dari sudut pertama hingga mencapai titik semula. Terimakasih."
"Terimakasih atas arahannya Tuan Muda Bu, baik lah, 155 orang yang tadi lulus seleksi segera merapat ke ring dan melakukan seleksi tahap kedua. Silahkan." Seru MC yang telah mengambil Mikrofon dari Tuan Muda dengan sangat sopan.
Segera para pengikut audisi lomba tersebut mengikuti instruksi Moderator dengan teratur dan tertib.
Mahesa dalam pakaian seorang kakek masih tampak tenang duduk di bangku nya sambil melihat audisi dan seleksi yang di lakukan oleh petarung petarung hebat tersebut.
"Seratus dua orang yang lulus silahkan kembali, karena waktu makan siang tiba, kita istirahat untuk makan siang bersama. Di sudut sebelah depan pintu itu telah tersedia hidangan, kami minta para orang gagah mengantri dengan tertib." Seruan MC sebelum meletakkan Mic nya terdengar.
.---***---. .---***---. .---***---.
Pagi itu, Prof Andi membawa Rani istrinya ke rumah mereka di Silim meninggalkan nya bersama sang mertua.
Meski Rani meminta ikut, Andi berkeras bahwa Rani harus menjaga ibu di rumah. Apalagi jika tiba tiba Tiara pulang melihat ayah ibunya tak ada.
__ADS_1
Mendengar alasan suaminya, Rani pun rela tinggal di rumah bersama ibunya dan Santi yang tiba siang hari di situ.
Prof Andi segera menuju ke Pulau Bana dimana Raja menunggunya. Sesampainya di sana, Andi dan Raja segera mempersiapkan barisan pasukan B.I.S.A untuk mengatur strategi penyerangan ke arah Pulau Bon dalam misi penyelamatan mereka terhadap Putri Prof Andi hingga sore hari tiba.
Mari kita melihat kembali keadaan Bon Island dimana para petarung yang lulus seleksi telah selesai makan siang dan tepat pukul 01.30, mereka semua kembali memasuki gedung besar yang sanggup menampung dua ribu orang tersebut.
"Baiklah para hadirin sekalian, penyeleksian tahap terakhir akan kita mulai. Harap 102 orang petarung bersiap siap mendengar arahan dari Ketua Bu selaku Pimpinan Bon Island."
Seruan Moderator bergema seraya berjalan meyerahkan Mikrofon kepada seorang pria tua berlengan tunggal dengan pandang mata mencorong menatap ke segala arah dalam ruangan besar tersebut.
Tepuk tangan riuh rendah bergema di seluruh ruangan besar itu sampai Ketua Bu mengangkat tangan kanannya yang memegang Mic.
"Saudara ku sealiran semuanya, telah lama aku memimpikan hal ini terlaksana. Namun karena terus menerus masalah melanda, maka acara besar ini baru dapat kami adakan tahun ini. Siapa saja dari orang gagah yang mampu mengalahkan seluruh petarung dalam laga tanding yang adil, maka dia di anggap sebagai satu satunya lelaki terkemuka di seluruh penjuru dunia dan akan mendapat penghargaan dari kami berupa tongkat TOMITU dan sejumlah uang tunai. Bukan hanya itu, seluruh ahli beladiri dunia pun harus mentaati peraturan nya."
Kembali tepuk tangan riuh rendah bergaung di seluruh ruangan hingga menembus keluar.
"Mahesa, apa rencana kita selanjutnya?" Bisik Jiraiya kepada kakek tua di sebelahnya.
"Kita ikuti saja perkembangan nya. Langkah terakhir kita lakukan jika semua rencana berjalan buruk." Jawab Mahesa yang di anggukkan oleh Jiraiya.
"Seleksi tahap terakhir merupakan seleksi yang paling berat. Dari seluruh pasukan pulau ini, hanya kami berempat saja yang mampu melewatinya. Tahap ini terbagi kepada tiga bagian. Pertama, petarung harus dapat melewati bara api sepanjang 10 meter, baik dengan berjalan atau melompatinya. Bagi yang tidak bisa mencapai garis hijau itu, di anggap gagal. Kedua, para peserta harus menggantungkan bendera negera nya di besi atas sana, terserah dengan cara apa, yang pasti tidak ada yang boleh memakai alat bantuan lain kecuali senjata masing masing. Terakhir, petarung yang berhasil melubangi baja setebal satu inci ini dengan tangan atau senjatanya, di anggap lulus dan akan di undi untuk mengadu kepandaian beladiri sepasang demi sepasang hingga juara yang bertahan paling akhir, di anggap sebagai pemenang jika tidak ada lagi penantang lainnya." Seru Ketua Bu sambil tersenyum ramah.
"Terimakasih kepada ketua. Untuk memulai babak seleksi ini, kita persilahkan Ketua Bu, Twako Lai Tek dan Tuan Muda mencoba lebih dulu." Ucap Moderator yang menuruti permintaan tuan rumah.
__ADS_1
Bersambung ...