
Hari hampir sore ketika Satria dan keluarganya bersama Raja dan istrinya tiba di Tebing Maut.
Kek Hafiz menyambut mereka dengan kisah aneh yang menyedihkan tentang diri Putra anak lelaki Raja bersama Santi yang tertimpa longsoran batu besar.
Sambil menangis Santi meminta Kek Hafiz menceritakan sedetil detilnya tentang kejadian hari itu.
Mendengar cerita yang menyayat hati kedua nya, mereka segera di ajak ke air terjun yang semakin lama semakin besar akibat hujan deras yang terjadi setiap tahunnya dalam musin penghujan.
"Kek, apakah tidak ada sedikitpun warna darah di sini saat kejadian itu terjadi?" Satria yang kini berdiri di batu besar yang datar bertanya.
"Itulah yang membuat ku heran. Tidak ada darah, jejak, apapun sama sekali. bahkan setelah aku melemparkan batu batu besar itu saat mencari, tak ada sedikitpun bekas bahwa di sini terdapat seseorang." Jawab Kek Hafiz dengan alis berkerut.
"Apakah kejadian yang menimpaku dulu terjadi kepada Putra?" Seru Satria yang kini tampak sudah mulai agak setengah tua.
"Mungkin saja. Atau di dalam air ini ada ikan besar yang ...," Seru Kek Hafiz tak melanjutkan kata katanya.
"Kejadian yang mana Kak?" Tanya Raja di sela sela tangis kesedihannya.
"Ketika usiaku 16 san dulu, aku tertimpa oleh mesin dahsyat milik ayah mu hingga membuat ku berpindah ke masa lalu dimana aku berguru kepada seorang sakti legenda pendekar zaman dulu sekitar 600 atau 800 tahun yang lalu." Jawab Satria mengenang masa mudanya dulu.
"Sudah lah, mari kita kembali, kita bicarakan hal ini di rumah." Seru Kek Hafiz sambil melangkah pelan.
Satria melihat kerutan duka pada wajah Kek Hafiz yang tak pernah di lihatnya sebelum kejadian itu.
"Kek, semua adalah kehendak Tuhan. Bukan kesalahan siapa siapa dalam kecelakaan ini." Seru Satria menenangkan hati kakeknya.
Mereka semua pun melangkah menuju ke rumah Satria di iringi tangis Raja dan Santi yang perlahan lahan mulai mereda.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Putra? Benarkah dia dimakan ikan besar? Atau kembali ke masa lalu? Atau mungkin juga tewas. Jika tewas bagaimana dengan mayatnya?.
Untuk mengetahuinya, kita harus mengikuti kejadian waktu seminggu lebih yang lalu.
Kala bebatuan besar kecil jatuh di atas kepalanya, Putra yang mendengar suara berisik di atas segera melihat dan saat itulah Kek Hafiz bersuara memperingatkan nya.
Putra yang memang telah mendapat latihan segera membuang badannya ke dalam air sungai yang berpusaran akibat aliran deras air terjun.
"Bhhuuaaarrr,," Batu besar menghantam permukaan batu besar yang di duduki Putra tadi.
__ADS_1
Putra yang menyelam ke dalam air juga ikut tertimpa patahan batu besar di dalam air. Namun hal itu tidak membuat kepalanya hancur lantaran batu itu sudah patah dan tenaga hantaman terhalang oleh permukaan air sungai.
Putra pingsan dan tenggelam beberapa saat hingga terbawa arus deras ke alur sungai menembus ke ruang bawah tebing dimana dulu Gurunya pernah terperangkap. (Baca Cerita SIHIR SATRIA PEDANG NAGA).
Jika saja pemuda belasan tahun itu masih terperangkap pusaran sungai atau tersangkut di bebatuan dasar sungai, dapat di pastikan Putra tak akan selamat.
Namun karena dia di dorong aliran sungai yang sangat cepat, segera dia terdampar di sebuah gua luas penuh lumut dalam keadaan pingsan.
Selama dua hari dua malam Putra berada dalam posisi seperti itu hingga dia terjaga dimalam hari.
"Ah,,, aduh,," Tangan nya memegang luka kecil akibat benturan di bawah air terjun kemarin dulu.
Ketika dia terbangun, dia melihat ruang gelap yang tak mungkin dapat di lihat mata biasa. Namun Putra dapat jelas melihat tempat itu sampai sampai jangkrik yang berjalan pun dapat di lihatnya.
Putra berjalan ke arah aliran air yang terpancar dari atas kepalanya sebelah kanan. Di lihatnya lubang sebesar mulut sumur yang agak mendatar itu hanya merupakan aliran air yang deras.
Dia memalingkan muka nya ke arah kiri di mana terdapat ruang seperti kamar dan ada kotak berlumut yang tergeletak di atas lantai.
Dengan cekatan Putra melompati aliran air yang jatuh dari atas kepala. Dengan langkah perlahan dan hati hati, Putra melangkah menuju ke arah kamar dimana dia mendapatkan sebuah batu terpahat berlubang kecil di tengah nya sebesar mata pedang.
Putra mengangkat kotak dimana terdapat tulisan aneh di belakang nya yang sedikit di mengerti nya.
Setelah memeriksa ruangan tersebut dan tak menemukan apa apa yang berharga, Putra kembali ke tempatnya terdampar tadi.
Saat dia meloncat, kakinya terpeleset lumut pinggiran aliran air di gua tersebut hingga membuat Putra tergelincir terperosok mengikuti arah air,
"Byyuuuurrrh,,," Tubuh nya terhempas dengan keras ke sungai gelap yang mengalir tenang.
Ternyata, puluhan meter dari tempat Gurunya dulu terdampar, ada sebuah sungai yang mengalir di dalam ruang terowongan yang lumayan besar.
Sedikitpun Putra tak mengetahui bahwa ruangan dimana dia berada dari tadi sangat gelap gulita karena matanya yang mampu menyesuaikan diri dalam kegelapan tersebut.
Perlahan remaja itu berenang dengan lemah mengikuti aliran sungai yang tenang. Dari tempatnya berenang, Putra melihat cahaya api kecil yang menyilaukan matanya.
Segera dia mengayuh tubuhnya ke arah situ. Putra kaget saat melihat kelebatan cepat sekali ke ruangan sebelahnya. Dia menggoyangkan kepala nya sambil berenang dengan kencang sambil terbesit di hatinya, apakah aku salah lihat?
Tak lama kemudian, Putra sampai disitu. Telinganya yang terlatih menangkap suara orang berbisik bisik.
__ADS_1
Dengan sisa tenaga nya Putra menaiki pinggiran batu pintu gua dan berkata lirih,
"Toloongg,,"
Secepat kilat dua bayangan berkelebat ke arahnya,
"Siapa kau?" Seru suara seorang pria tua menodongkan pedang ke arah belakang leher Putra.
"Aku,, tertimpa,, kece,, lakaan," Jawab Putra yang langsung terkulai pingsan.
"Cepat, tolong dia," Perintah pria tua itu kepada dua cucunya dengan kata kata yang agak kaku.
Putra segera di bawa masuk ke ruang dalam gua dimana badannya merasakan kehangatan alam yang wajar hingga napas yang tadinya memburu kini mulai tenang.
"Ambilkan bubuk lumut hitam." Seru kakek tua berambut putih panjang dengan jenggot, kumis dan alis yang juga panjang sampai ke dada.
Cucu nya yang perempuan segera melesat dengan cepat. Gadis berbaju hitam kasar itu mengambil sebotol bubuk hitam dari dalam gudang yang amat sangat luas.
Setelah beberapa saat kepalanya selesai di obati, Putra terlihat makin pulas dan tidur di ruangan itu hingga beberapa hari kemudian keadaan putra tampak membaik meski selama itu dia belum pernah bangun sedikit pun.
Malam itu Putra siuman dan membuka matanya yang silau terkena cahaya lapion yang berada di sudut sudut gua.
"Duduk lah anak muda, siapa kau?" Tanya kakek tua itu sedikit ramah.
"Aku Putra, kemarin aku tertimpa batu tebing dan hanyut ke mari." Jawab Putra sambil duduk perlahan.
"Apa? Kemarin? Kau sudah pingsan di sini selama hampir seminggu." Kata kakek tua itu dengan bahasa yang agak kaku.
"Apa? Benarkah kakek tua? Kalian siapa?" Tanya Putra dengan kening berkerut.
"Aku keturunan kelima penghuni dunia bawah ini. Di ruangan sana terdapat kuburan leluhur kami." Jawab sang kakek yang bernama Ong Ji Sa.
"Mereka?" Kembali Putra bertanya.
"Mereka adalah cucu cucu ku. Lima tahun lalu ayah ibu mereka telah meninggal dunia."
"Bagaimana kalian bertiga dapat bertahan di ruangan tanpa kehidupan ini?" Tanya Putra.
__ADS_1
Bersambung ...