SEPASANG KSATRIA PEDANG

SEPASANG KSATRIA PEDANG
Kembalinya Sang Pemimpin


__ADS_3

Setelah Satria dan anak istrinya pergi ke Kalimantan Timur di Markas Penelitian Baru, Kek Hafiz kembali pula untuk mendidik Putra anaknya Raja dan Santi yang di titipkan kepada Satria di Tebing Maut.


Pagi itu, Kek Hafiz sedang melakukan kegiatannya melatih Putra di bawah siraman air terjun di Tebing Maut.


"Putra, pusatkan konsentrasi seperti yang di ajarkan guru mu. Ambil nafas dalam dalam penuhi dada dan tekan ke pusar. Diamkan selama lima detik kemudian buang melalui mulut. Begitu seterusnya." Suara Kek Hafiz pelan namun mampu menembus suara berisiknya air terjun yang jatuh menimpa kepala Putra.


Putra yang sedang duduk di atas batu dimana terdapat cap bekas lekuk lengkung duduk nya Jiraiya segera mengikuti arahan Kek Hafiz.


"Pusatkan pikiran bahwa yang menimpa kepala dan tubuh mu hanya lah kapas yang sangat lembut dan ringan." Sambung Kek Hafiz sambil duduk dalam jarak puluhan meter dari Putra.


Setelah mengikuti arahan Kakek tua itu, Putra mampu menahan hantaman air yang sangat berat ke kepala nya tanpa rintih kesakitan.


Sudah 6 jam dia di latih Kek Hafiz dengan cara seperti itu. Putra yang berusia belasan tahun itu masih dapat bertahan di bawah latihan berat yang di ajarkan Satria melalui bimbingan Kek Hafiz kini.


"Aku akan kembali, kau teruskan latihan mu seperti ini." Seru Kek Hafiz sambil berjalan biasa saja namun tubuhnya seperti terbang meluncur ke rumah Satria yang memang di buat sangat besar sekali.


Putra yang mendengar Kek Hafiz pergi, membuka matanya. Dia tertarik melihat keindahan alam sekitar meski hampir tiap hari dia memandang hal itu.


Tepat pada saat itu, terjadi gempa bumi dahsyat yang membuat hati Putra terkaget berdentum dengan kacau.


Pantang bagi Putra melarikan diri dari perintah ayah, ibu dan kedua gurunya. Maka Putra tak sadari bahwa ada seonggok batu besar yang menimpa kepalanya secara kuat.


Kala itu, Kek Hafiz yang berlari dari rumah menuju ke tempat itu dengan muka panik tiba dan berseru kencang,


"Putra, selamatkan dirimu,," Kek Hafiz terpaksa membuang tubuhnya ke belakang akibat hantaman batu besar yang mengenai kepala Putra yang telah berpindah dari duduknya di atas batu.


"Bhhuuuuuaaaarrrrr,,," Suara hantaman keras dan besar menggema dalam ruangan luas Tebing Maut mengagetkan mereka semua.


"Putraaa,,, Putraa,, dimana kau Nak?" Kek Hafiz sibuk mendekati reruntuhan batu batuan yang berhamburan di sekitar alur kepala sungai yang membesar itu.


Batu batu di angkat dan dilemparkan ke sana ke mari olehnya. Kek Hafiz seperti orang gila berteriak sambil menangis melihat ke sekeliling nya.


Tak lama kemudian, Bik Mi dan Suaminya tiba di sana hanya untuk mendengar berita yang sangat menyedihkan mereka.


.---***---. .---***---. .---***---.


Sehari semalam Satria bersama putranya dan dua pemuda lainnya mencari ke sana ke mari dengan bergerak sangat kencang.


Hampir ratusan mil jauhnya mereka melingkari markas para profesor yang di jaga ketat, Mereka belum juga mendapat kan tanda tanda dimana adanya Candu dan Rapit.


Hati mereka benar benar terpukul hingga para pendekar sakti itu terpaksa kembali ke rumah singgah Prof Andi dan Prof Toni dengan tangan kosong.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah kalian menemukan mereka?" Tanya Prof Andi yang duduk bersama keluarga Raja.


Satria hanya menggeleng kepala beberapa kali dengan wajah murung dan muram.


"Tidak biasanya hewan hewan itu seperti ini. Bahkan bisa di bilang tidak pernah." Jiraiya berkata.


"Insting hewan jauh lebih tajam dari manusia. Mungkin mereka merasa ada ancaman buat mereka makanya melarikan diri." Prof Toni berkata.


"Bagaimana keputusan akhir riset penelitian kita?" Tanya Andi kepada mereka.


"Riset tak bisa di hentikan. Kita lanjutkan penelitian dengan bahan seadanya. Pihak penyokong pun belum tau apa tujuan riset ini, makanya posisi kita aman." Kata Prof Toni.


"Kalau begitu, Aku akan kembali ke Pulau Bon bersama Andrian." Seru Jiraiya dengan hati risau dan keruh.


"Marilah, kami juga akan ke Kutai Barat, lalu pulang ke Aceh." Satria berkata.


"Bersiaplah Mahesa, kita akan kembali sore nanti ke sana." Jiraiya berkata kepada Mahesa di iringi anggukan Mahesa yang berlalu pergi keluar dari situ menemui ibunya.


Saat sore hari tiba, berjalan lah delapan orang menyusuri jalan hutan sekitar Kalimantan Timur menuju ke arah Utara.


Satria bersama istri, putra dan putrinya di temani oleh Jiraiya dan Ardian serta sepasang suami istri adik ipar Prof Andi menyusuri hutan hingga mereka tiba di area hutan lebat dimana bulan yang bersinar di langit tak terlihat jelas cahayanya dari situ.


"Kita berhenti di sini dulu." Seru Satria sambil duduk di akar kayu besar.


"Tunggu saja Jiraiya, ada yang sedang menuju kemari." Jawab Satria tenang.


Tak lama kemudian, tibalah dua sosok makhluk besar yang mengerikan,


"Candu, Rapit?" Seru Mahesa dan Jiraiya hampir berbarengan.


Naga besar itu segera menghadap di depan Satria sambil melekatkan kepalanya ke atas tanah di turut Rapit. Hanya tatapan mata Satria saja yang berbicara melalui tatapan mata Candu.


Setelah agak lama dalam posisi seperti itu, Satria berseru tenang,


"Bangun lah."


Di ikuti gerakan langkah Candu dan Rapit yang bangun seperti biasa.


"Duduk," Kali ini Satria memerintahkan mereka semua untuk duduk.


"Jiraiya. Candu dan Rapit sengaja melarikan diri dari kalian kemarin lusa. Mereka takut calon bayi mereka dalam bahaya." Seru Satria dalam gelap malam itu.

__ADS_1


"Apa? Benarkah Guru? Rapit dan Candu menjadi pasangan?" Seru Jiraiya senang seperti anak kecil mendapatkan permen.


"Ya Jiraiya, kita menjadi besan. Hahaha," Gelak tawa pecah di hutan lebat itu.


"Ah, aku baru ingat, Kek Toni kemarin dulu mengatakan bahwa Candu dan Rapit sebaiknya ku jaga baik baik, karena kita tak bisa percaya penuh kepada pemerintah." Seru Mahesa.


"Sudah lah, begini saja. Jiraiya, mulai sekarang, biarkan saja Rapit dan Candu mencari jalan nya sendiri. Aku pun tak ingin mengekang kebahagiaan mereka lagi. Bagaimana?" Seru Satria dengan suara menahan sedu sedan yang ingin keluar dari dadanya.


"Aku setuju Guru. Selama ini, mereka hanya menjadi hewan yang ku manfaat kan saja. Baik lah." Seru Jiraiya yang lalu melanjutkan mengeluarkan suara desis dan suara aneh lainnya berbicara dengan Candu dan Rapit.


Mereka semua hanya bengong mendengar,


"Ssstt,, ssstt,, ngguuukkk,, ngggkk,,, pssstt,, psssk,," Selama hampir setengah jam.


Satria pun ikut berkata setelah Jiraiya selesai,


"Candu, Rapit, kami merasa berterimakasih sekali kepada kalian. Hutang budi kami tak akan pernah mampu kami balas. Semoga kalian baik baik saja di alam luas. Usahakan jangan berurusan dnegan manusia. Pergilah,, kami pun akan kembali."


Setelah mengeluarkan suara sekaligus air mata kesedihannya, Satria mengajak semua pergi melangkah menyusuri hutan meninggalkan Candu dan Rapit yang mengeluarkan air mata ke arah Kutai Barat.


Jika sebelumnya mereka berjalan dalam keadaan khawatir, kini mereka berjalan dengan tenang dan ... Sedih.


Setelah menempuh waktu berhari hari, mereka tiba di rumah Haji Ahmad. Setibanya mereka di sana, kabar buruk segera menyambut mereka semua.


"Kek Hafiz memberi kabar minggu lalu, Putra hilang dalam kecelakaan di sungai. Kau dan Raja segera di suruh kembali." Ucapan Haji ahmad di sambut dengan murung oleh keluarga Raja dan Satria.


Bahkan tiga wanita cantik berbeda usia itu tak henti hentinya menangis.


"Sudah lah, buat apa kalian menangis? Toh kita juga belum tau kepastian keadaan Putra." Seru Satria.


"Kak, mari kita kembali dengan kendaraan agar lebih cepat." Raja yang panik menawarkan solusi.


"Baik lah Paman, kami harus kembali sekarang juga. Terimakasih kebaikan dan info nya." Satria segera mengajak keluarganya bersama Raja dan Santi menuju ke kota untuk kemudian langsung berangkat ke Aceh dengan pesawat terbang.


Jiraiya pun kembali bersama keluarganya yang terdiri dari dua orang istrinya yang cantik jelita bersama pria bertopeng yang tidak lain adalah adik iparnya ke Pulau Bon.


Kisah keturunan Jiraiya, Tiara, Karina dan Ardian, tidak akan banyak di sebutkan di kisah kisah sambungan selanjutnya cerita ini.


Karena ada sebuah serial yang telah kami siapkan namun belum kami tuliskan di Noveltoon Berjudul PENDEKAR PEWARIS PULAU BON.


Jangan lupa ya di nantikan, meski agak lama mohon di maklumi ya Guys.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2