
Di atas ring luas berukuran 6x6 meter di dalam gedung besar yang berada di tengah Pulau Bon, tampak dua pasang manusia sedang melakukan pertarungan mati matian dengan menggunakan senjata di tangan mereka masing masing.
Di sebelah kiri, terdapat seorang wanita yang menyamar sebagai laki laki melawan seorang lelaki muda yang menyamar sebagai orang tua.
Di sebelah kanan ring terlihat sosok yang menakutkan seluruh hadirin dengan sepak terjangnya yang mengerikan, dia adalah Pria berbaju hitam bertopeng yang memegang sebatang tongkat dan sebuah pedang.
Lawan nya merupakan seorang pemuda tampan yang menyamar menjadi seorang Kakek bernama Kakek Pu.
Kakek Pu atau Mahesa dalam samarannya sangat heran sekali melihat Topeng Hitam yang pernah menolong nya di ruang bawah tanah kemarin dulu sangat hebat ilmu bela dirinya.
Dia yang selama ini belum pernah menemukan tandingan sekali pun selain Jiraiya tentunya merasa adrenalin nya memuncak dan terus membalas sekuatnya.
Di bandingkan pertarungan Jiraiya, perkelahian Mahesa tampak lebih seru dan mati matian.
Setelah ratusan jurus berjalan, pertarungan mereka bukannya malah melemah, namun menjadi semakin menegangkan.
Di lain pihak, Jiraiya yang mengetahui bahwa lawannya adalah Karina hanya mengelak dan menangkis saja.
Di lain pihak, Karina yang bertarung mati matian ingin menguji Jiraiya. Memang ilmu beladiri Karina sangat dahsyat. Jika tak ada pertarungan manusia bertopeng dan Kakek Pu atau Mahesa di samping mereka, tentu pertarungan itu akan menjadi tontonan yang sangat menarik.
Namun kini, Mahesa yang merasa penasaran atas kehebatan Pria bertopeng itu, semakin membuka semua jurus jurus yang di pelajari dari Kek Hafiz dan ayahnya dulu. Sehingga kilatan sepasang pedang nya yang berwarna merah dan biru itu seakan memenuhi tempat tersebut.
Suatu ketika, tanpa sengaja serangan pedang kanan Mahesa menyerempet wajah pria bertopeng itu dan sedikit menyabet dadanya hingga baju bagian atas terbuka dan membuat topeng nya terbelah dua.
"Adik Bu?" Teriakan kecil Tuan Muda Bu yang berdiri di samping ring terdengar sangat jelas. Semua orang memandang kaget kepada sosok pria bertopeng itu yang melarikan diri keluar dari arena untuk terus menuju ke belakang gedung besar menembus ke arah barat.
Meski Ketua Bu berteriak,
"Kejar dia,"
Tetap saja para penjaga pulau tak dapat mencegah dan menangkap nya. Siapa saja yang menghalangi jalannya tentu di terjang dan terkena pukulan hingga tersungkur jatuh.
Otomatis, perkelahian di atas ring terhenti tiba tiba. Pendekar Kardi atau Karina meloncat turun dengan gesit dan mengejar ke arah larinya Topeng Hitam.
"Hadirin sekalian, maaf atas insiden kecil yang terjadi barusan. Karena kini hanya tinggal dua petarung, maka mereka lah yang masuk ke babak final." Seru Moderator menenangkan suasana riuh rendah akibat kejadian pendek yang baru saja terjadi.
Saat itu, Mahesa dan Jiraiya yang masih berdiri di atas ring membuka samaran nya.
__ADS_1
"Ksatria Pedang?" Seruan seruan kaget mewarnai ruangan tersebut.
"Ketua Bu, aku Ong Jiraiya, menuntut hak ku atas pulau ini. Telah lama aku mendengar kejahatan mu dan penculikan gadis yang kau jual ke luar negeri."
"Seraaaang,,," Teriakan Ketua Bu menggerakkan seluruh penjaga dan pasukan pulau yang ada di situ.
Segera terjadi pertarungan yang dahsyat antara pasukan pulau melawan Mahesa dan Jiraiya.
Para orang gagah yang hadir kini terbagi dua kelompok. Sebagian memihak dua pendekar pedang itu, sebagian lagi memihak Ketua Bu.
Suara senjata beradu memekakkan telinga. Ketua Bu tampak ikut menyerang Jiraiya dan Mahesa yang kini di dampingi orang orang hebat yang menolong nya.
Teriakan teriakan kematian pun terdengar di sana sini. Sebagian pendekar yang memihak Jiraiya dan Mahesa mencoba memblokir pintu dan jendela sehingga para pasukan di luar sibuk mencari cari jalan masuk.
Ketua Bu yang di serang beberapa orang terlihat telah berdarah baju nya. Putra nya yang datang mendekat segera melindungi ayahnya bersama beberapa bawahan pulau dan Lai Tek.
"Habisi pemimpin nya lebih dulu." Teriakan terdengar di sela sela dentingan senjata mereka.
"Bunuh mereka semua," Lai Tek ikut berteriak memberi semangat para bawahannya yang terus menyerang membabi buta.
"Traangg,, triiingg,, trannggg,, triiinngg,," Suara beradunya pedang dan senjata senjata baja itu bergema memekakkan telinga.
Tewas lah Lai Tek yang begitu gigih dalam pertempuran itu. Melihat bawahan nya tewas bersimbah darah, Ketua Bu semakin beringas menyerang sampai beberapa senjata secara berbarengan mengakhiri hidup nya.
Di susul putranya yang tewas tak lama kemudian akibat terkena sabetan pedang Jiraiya. Mahesa yang melihat ketua pasukan pulau telah tewas berteriak kencang dengan mengerahkan kesaktian tenaga yang di kerahkan melalui suaranya.
"Berhentiii,, Ketua kalian sudah tewas,, menyerahlah,,," Secara serentak pasukan penjaga pulau yang di pimpin ketua ketua barisan berteriak untuk menghentikan pertarungan.
Senjata yang berada di tangan mereka pun di lepaskan dan jatuh berkerontangan di lantai itu.
Jiraiya berkata sambil berdiri di sudut ring dengan sepasang pedang penuh darah di tangannya.
"Kau Ong Ji Raiya, pewaris tunggal Pulau Bon. Bagi kalian yang ingin pergi, silahkan keluar pulau dengan selamat. Bagi yang ingin tinggal dengan damai, silahkan. Bagi yang masih merasa belum puas, kita selesaikan pertarungan di atas ring."
Karena semua diam tak berkutik, suara Jiraiya terdengar jelas hingga keluar. Terlihat para pasukan pulau berjalan keluar melalui pintu yang telah di buka.
Sebagian kecil tetap berada di tempatnya. Petarung yang tadinya menjadi lawan mereka pun segera berlari keluar dari pulau.
__ADS_1
"Adakah yang belum puas? Silahkan naik ke ring." Seruan Mahesa menggunakan Mikrofon menembus ke seluruh pelosok pulau dimana pos pos penjagaan di pasangkan speaker di seluruh pulau.
"Kami ingin menuntut kematian saudara kami." Seru sekelompok orang yang kini berada di atas ring.
"Silahkan," Ucap Jiraiya yang melompat ke lantai ring dari tiang di sudut ring tersebut.
"Sudahlah, kami tak akan menang melawan mu. Kelak kami akan datang kembali mencari mu." Seruan pemimpin kelompok tersebut terdengar.
Kelompok berjumlah 11 orang itu segera turun meloncat dari ring untuk berjalan keluar dari Pulau Bon dimana mayat mayat masih bergelimpangan di lantai bangunan besar tersebut.
.---\*\*\*---. .---\*\*\*---. .---\*\*\*---.
"Hei,, berhenti," Berkali kali Karina mengulang kata kata itu sambil berlari mengejar bayangan hitam yang lari menuju ke dalam bangunan di belakang tempat tinggal Ketua Bu.
"Haiiitt,, traangg,,, trriinngg,," Serangan pedang pria tampan berbaju hitam itu dapat di tangkis oleh Karina dengan cepat.
Karina mundur beberapa langkah akibat kalah mengadu tenaga dengan pria tersebut.
"Berhenti, jangan serang."
Mendengar seruan suara seorang gadis, Pria itu menghentikan serangan nya.
"Siapa kau?" Tanya lelaki yang tadinya memakai topeng.
"Aku Karina, kakak mu."
"Apa? Jangan main main." Seru pria sakti itu penasaran.
"Benar, kau adalah adik ku."
"Jelaskan," Seru pria itu sambil mundur beberapa langkah ke belakang dan duduk di lantai.
Sikapnya kini tidak mengancam seperti tadi. Baru saja Karina akan bicara, terdengar langkah kaki banyak orang di luar.
"Ikut aku, ayo." Seru pria tampan yang berlari ke ruang dalam dan memasuki tempat dimana Karina pernah keluar dari situ bersama teman teman nya beberapa hari yang lalu.
Setelah keduanya tiba di ruang bawah tanah dimana menjadi tempat tinggal pemuda itu, Karina duduk di sebuah batu.
__ADS_1
Bersambung ...