
Pada suatu pagi, telpon berdering berkali kali tanpa ada yang mengangkatnya di dalam ruangan besar itu.
"Mi, mereka kemana?" Tanya Profesor Toni kepada istrinya yang berkulit hitam manis mempesona.
"Sepertinya mereka semua pulang Pi, kemarin Miss Chow bilang mau pulang dulu sambil menunggu Profesor Andi." Jawab Belinda sambil memanaskan air.
Telepon kembali berdering,
"Black,,, tolong angkat telepon nya."
"Ok Mam,," Seru seorang pemuda tampan berkulit agak hitam.
Tak lama, pemuda yang di panggil Black tersebut segera menuju ke ruang besar yang berada di depan rumah nya.
"Halo,, ya, saya putra nya,,, ooo Profesor Andi,,, baik Prof, alamat nya? Desa Gesik, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Rumah Pak Kades,, Baik,, mari Prof." Telpon di tutup.
Sekembali nya pemuda bernama Black Hawk itu ke rumah nya, dia berkata,
"Siapa yang telepon Black?" Tanya Prof Toni.
"Profesor Andi, minggu depan, kita semua di undang ke Desa Gesik Kab Kutai Barat di Kalimantan untuk acara pesta pernikahan putri nya." Jawab Black Hawk sambil duduk di sofa bersama ayah ibunya.
"Ah, syukurlah putrinya selamat. Kita tunggu para Profesor lain kembali. Tiga hari lagi, kita semua ke sana." Seru Prof Toni yang tampak tampan meski sudah agak tua.
.---***---. .---***---. .---***---.
Di rumah Haji Ahmad yang kini memiliki pekarangan besar, telah hadir ramai sekali tamu yang berasal dari kerabat, keluarga dan teman dekat mereka.
Keluarga besar Haji Ahmad dan Satria berdiri menyambut para Profesor bersama Prof Andi yang menyapa mereka penuh kehangatan.
Para wanita nya sibuk di dalam mempersiapkan hari pernikahan yang akan di adakan besok pagi. Gulikan tampak duduk bersama Jiraiya dan Mahesa serta Ardian yang baru saja keluar bersama Luoyi dan Alvina.
Sebagian mereka duduk di saung saung yang memang banyak di bangun di sekitar rumah Haji Ahmad itu.
Di belakang rumah, terlihat dua makhluk yang mengerikan bertengger di atas pohon durian besar yang sedang lebat buahnya.
Makhluk besar yang patutnya sepasang Naga aneh itu, mengeluarkan suara suara kecil seperti sedang bercakap cakap bersama.
Para tamu yang memang berasal dari wilayah sekitar situ, tak lagi ngeri melihat Candu dan Rapit yang tidak memperdulikan orang orang yang lewat dan menatap mereka.
Namun orang luar yang tak pernah melihat kedua binatang aneh itu, kaget setengah mati. Termasuk keluar Prof Toni Hawk, Prof Mike dan Prof Chow.
"Hewan apakah itu?" Tanya Prof Chow dengan wajah kaget sedikit pucat.
__ADS_1
Prof Andi pun menjelaskan bahwa kedua hewan besar itu adalah piaraan keponakan nya Satria fan calon menantunya bernama Jiraiya.
Dia juga memperkenalkan Gulikan sebagai ayah sambung Jiraiya yang kini telah berdiri beramah tamah dengan para profesor profesor hebat itu.
"Mari silahkan masuk,, apakah Tuan Setiawan dan Tuan Sung tidak hadir?" Tanya Andi sambil mengiringi keluarga mereka ke dalam.
"Katanya, besok mereka akan datang, maklum lah, orang orang itu super sibuk. Mana ada waktu santai buat mereka, hahaha," Ucap Prof Toni kepada mereka di susul tawa mereka semua.
Keesokan hari nya, diadakan lah pernikahan antara Jiraiya dengan Tiara dan ... Karina dalam waktu bersamaan dan duduk di atas sebuah pelaminan.
Para tamu undangan banyak yang heran menyaksikan peristiwa itu. Namun melihat tiga orang mempelai itu kelihatan sangat bahagia, maka lama kelamaan, para tamu undangan pun terbiasa.
Setelah resepsi selesai di adakan, mulai lah mereka kembali satu persatu pulang ke tempatnya masing masing.
Yang tersisa di situ hanya keluarga Satria, Keluarga Prof Andi, keluarga Gulikan, dan keluarga Prof Toni.
Malam itu, Prof Toni duduk bersama kedua putra kembarnya bernama Black Hawk dan White Hawk. Sesuai nama mereka, Black Hawk berwajah tampan berkulit agak gelap sedangkan White Hawk berkulit putih, namun tak kalah tampan nya dari adik kembarnya sendiri.
Di ruang depan duduk pula Satria, Kek Hafiz dan Haji Ahmad beserta Gulikan.
""Papi, di sekitar tempat kerja mu yang baru, aku melihat banyak orang seperti memata-matai tempat itu." Seru Dr White dengan wajah serius.
"Mereka adalah bawahan mendiang Ketua Bu dari Pulau Bon." Jawab Ardian yang baru tiba di situ bersama Mahesa.
"Bukan kah Ketua Bu sudah tewas bersama putra dan keponakannya?" Tanya Mahesa mengerutkan kening nya.
"Benar, mungkin kini mereka bekerja dibawah perintah Pataya serta Kaja dan Edo." Jawab ardian.
"Para Profesor semua bekerja saja dengan tenang, biar nanti Mahesa dan Ardian yang akan membereskan masalah itu." Seru Satria tenang.
"Bolehkah kami ikut mereka Paman?" Seru Black Hawk.
"Bagaimana Mahesa? Ardian?" Tanya Satria.
"Boleh saja, tapi pasti berbahaya sekali bagi Doktor berdua." Jawab Mahesa dengan ramah dan sopan.
"Hahaha, tak usah pedulikan mereka berdua. Mereka lulusan karate dan taekwondo terbaik se Amerika." Seru Profesor Toni Hawk sambil tertawa.
"Maaf," Jawab Mahesa sedikit tertunduk.
Tiba tiba terdengar teriakan keras dari dalam.
"Tolooonggg,,," Teriakan berkali kali itu membuat seisi rumah kaget setengah mati.
__ADS_1
Mereka semua segera bergegas ke dalam untuk melihat keadaan. Sesampainya mereka ke dalam tepat di depan kamar Jiraiya, semua nya merasa kecewa melihat ternyata ada seekor cacing besar sebesar ulat sawah sedang menggeliat geliat di dalam kamar membuat Karina dan Tiara khususnya berteriak geli meloncat loncat di atas dipan.
"Mahesa, nih,, tolong kau bawa keluar, aneh, masak ada cacing sebesar ini." Seru Jiraiya yang telah menangkap cacing itu dan menyerahkannya kepada Mahesa.
Mahesa yang mengambil cacing tersebut segera menuju keluar lewat belakang dengan cacing aneh itu di tangan nya.
"Hei Candu, ni makan lah." Seru Mahesa sambil melempar cacing itu ke arah Candu.
Dengan sigap Candu menangkap dengan mulutnya dan memberikan kepada Rapit yang langsung memakan binatang kecil itu dengan lahap.
Mahesa pun kembali lagi ke ruang depan dimana ayah nya bersama Prof Andi, Prof Toni dan anak anak nya berada bersama yang lainnya. Sambil berjalan ke situ Mahesa mendengar kata kata Prof Toni sedang berkata,
"Projek kali ini harus kita rencanakan sebesar besar nya dengan memakai kedua bahan dasar penelitian tadi."
"Apakah hal itu tidak membahayakan bagi mereka berdua?" Seru Prof Andi yang di anggukkan oleh Satria
"Tentu saja tidak, karena yang kita ambil dari mereka adalah sedikit darah dan sel atau apapun yang bisa menjadi pembelajaran dalam penelitian kita nanti, bagaimana?" Seru Prof Toni Hawk sambil tersenyum.
"Kalau memang begitu, tinggal menunggu persetujuan mereka berdua saja." Seru Prof Andi.
"Candu tidak pernah terluka sedikitpun dari dulu, bahkan kulitnya mampu menahan peluru senjata. Bagaimana kalian bisa mengambil sampel darinya?" Tanya Satria dengan alis berkerut.
"Caranya nanti kita pikirkan. Yang terpenting adalah persetujuan Mahesa, Jiraiya dan terutama kau Satria." Prof Toni berkata.
Satria melihat ke arah Mahesa seolah seolah mengharapkan Mahesa yang menjawab pertanyaan tersebut.
"Kalau menurut ku pribadi, selama tak ada bahayanya bagi Candu, aku setuju saja. Ayah juga mungkin sependapat dengan ku."
"Benar, asal kan Candu selamat, apalagi kalau ternyata benar bisa membawa dampak yang baik bagi manusia dan dunia seperti kata Profesor, kami pasti sangat setuju." Sambung Satria melengkapi perkataan putra nya.
Terlihat rasa senang di wajah Prof Toni dan Prof Andi yang mendengar gagasan mereka di setujui oleh Satria dan Mahesa.
"Kalau begitu sekarang tinggal memanggil Jiraiya," Kata Prof Toni.
"Ada apa mencari ku Profesor?" Seru Jiraiya yang berjalan dan duduk di dekat Satria.
"Kebetulan sekali kau datang Nak, begini. Kami berencana membuat terobosan baru dengan menggunakan sampel dari Candu dan Rapit. Kami ingin menanyakan pendapat dan persetujuan mu." Seru Prof Andi dengan wajah serius dan tegang.
"Apakah hal itu tidak membahayakan mereka?"
"Sama sekali tidak. Bahkan kalian semua bisa ikut saat proses pengambilan di lakukan." Seru Prof Toni tersenyum.
"Kalau Guru dan Mahesa setuju, aku pun begitu." Seru Jiraiya disambut tawa bahagia oleh semua yang hadir di sana termasuk Kek Hafiz.
__ADS_1
Bersambung ...