
Kepakan sayap di udara terdengar saat Candu yang di tunggangi Mahesa mendarat di Kota Phuket.
"Jiraiya, Karina dan Yimoi serta Alvina dan Tiara di culik Pasukan Pulau Bon." Seru Mahesa sambil mulai mencincang kepala mayat mayat hidup yang terus berdatangan itu.
"Kita harus menyelamatkan mereka." Seru Jiraiya dalam kekalutan pertarungan itu.
"Kita habiskan dulu mayat mayat hidup ini. Mereka sengaja memancing kita ke sana. Haaiiittt,,, mereka akan baik baik saja sampai kita tiba di sana." Seru Mahesa yang beradu punggung dengan Jiraiya melawan serangan serangan dari manusia yang terkena virus rabies campuran tersebut.
Hingga hari mulai subuh, tampak mayat mayat hidup itu berlari ke arah gorong gorong dan basemen bawah tanah sembunyi saat matahari mulai keluar.
Jiraiya dan Mahesa segera mengajak pasukan penyelidik ke gedung terbesar di situ dimana mereka istirahat, mandi dan makan persediaan makanan yang banyak terdapat di situ.
"Tuan Jiraiya, Tuan Mahesa, bagaimana sekarang? Kami ditugaskan untuk melakukan penyelidikan dan pemerintah nantinya akan menghancurkan seluruh tempat ini." Seru pasukan jaga yang kini berjumlah 40 orang lebih.
"Menurut ku, jika tempat ini di hancurkan, akan sangat banyak kerugiannya. Lagipula, imbas nya akan terasa kepada penduduk sekeliling pulau ini." Jawab Mahesa tenang pagi itu.
"Lalu bagaimana baiknya?" Kembali komandan itu bertanya.
"Baiknya, kirim orang orang hebat kemari untuk memusnahkan mereka semua tanpa harus mengorbankan aset, bangunan dan lainnya hingga kelak tempat ini bisa kembali di bangun." Jiraiya menambahkan.
Mulai hari itu, laporan di berikan kepada pemerintah dunia yang kini berpusat di Bangkok Thailand menunggu hasil penyelidikan pasukan khusus yang mereka kirim.
Dalam laporan itu disebutkan pula bahwa mayat mayat hidup ini masih bisa hidup jika tidak terpisah kepala sama badannya.
Kemungkinan zombi aneh yang cekatan itu bisa mencapai luar Phuket jika terlalu lama di biarkan.
Mendengar laporan mereka, segera di utus 300 orang berpakaian khusus lengkap dengan senjata tajam seperti pedang membantu Jiraiya dan Mahesa menyusuri lorong lorong bawah tanah.
Selama hampir dua minggu mereka melakukan pembantaian manusia yang tak bisa di selamatkan itu hingga tak ada lagi mereka jumpai mayat hidup itu satupun, barulah mayat mayat itu dikumpul kan oleh pasukan ke tempat pembakaran pabrik besar dimana semua mayat disatukan untuk di bakar.
Saat hal itu dilakukan, Mahesa dan Jiraiya telah berlalu pergi meninggalkan Phuket menuju ke sekitar Pulau Bon dan menunggu malam untuk memasuki pulau tersebut melakukan penyelidikan.
Saat itu, Pulau Bon sedang melakukan persiapan besar menyambut para tamu yang satu persatu mulai datang karena acara yang akan di adakan di Pulau Bon itu.
.---***---. .---***---. .---***---.
Profesor Andi yang merasa berduka kini mulai mengumpulkan Profesor lainnya yang dulu pernah melakukan riset ilmiah bersama nya untuk kembali mengerjakan projek besar.
__ADS_1
Saat empat sahabatnya sudah berkumpul di ruang tamu rumah nya, Prof Andi berseru,
"Mike, Wang, Albert, Chow, aku mendengar bahwa kejadian di Phuket di akibatkan oleh Serum buatan kita yang belum sempurna. Menurut ku, kita harus kembali membuat eksperimen dan riset untuk menemukan obat dari Virus rabies yang telah bermutasi itu."
"Kalau aku setuju saja Andi, kita berlima telah menjadi sahabat akrab, terus terang saja, usaha ku sedikit menurun sehingga keperluan dana yang pastinya besar tentu tak akan cukup." Prof Mike berkata.
"Kita cari saja donatur lain." Kata Prof Wang serius.
"Aku mengenal teman dari Amerika yang bisa membantu kita melakukan projek itu." Seru Albert dengan wajah senang.
"Aku juga sudah menemukan donatur yang mau mendanai kegiatan riset kita." Seru Prof Andi.
"Baiklah, kalau begitu 3 hari ini aku akan menghubungi kalian kembali." Seru Prof Andi di anggukkan oleh Prof Albert, Mike, dan Wang.
Mereka pun berpisah dan kembali ke rumah masing masing. Prof Andi segera menuju ke Pulau Bana menemui Raja untuk membicarakan hal itu.
Sesampainya dia di sana, Andi segera berbincang dengan seorang CEO sebuah perusahaan ternama yang mengatakan mau mendanai mereka yang ingin membuat percobaan ilmiah sebagaimana yang di sampaikan Raja.
Keesokan harinya, Andi kembali ke rumah untuk mengatakan kepada sang istri tentang kerjasamanya bersama para ilmuan lain yang telah di bicarakan kemarin.
Setelah tiga hari para Profesor itu saling mencari ke sana sini. Menghubungi sana sini, mereka semua bertemu kembali di sebuah restoran yang menjadi langganan Prof Andi.
Setelah puluhan menit menunggu, akhirnya prof Mike dan Prof Chow tiba di tempat itu bersama seorang pria Asia tampan yang masih muda.
"Silahkan duduk Prof, duduk Tuan." Seru Andi menyambut ramah.
"Perkenalkan, ini Tuan Muda Sung." Seru Prof Chow dengan wajah tersenyum.
"Silahkan Tuan Muda," Sapa Andi sembari menjabat tangan pria tampan bermata sipit itu.
"Panggil saja Sung," Sahut pemuda itu ramah.
"Beliau ini adalah putra tunggal Tuan Sung Ai Min di Hongkong. Beliau yang akan membantu mendanai riset kita."
"Wah, sungguh beruntung mempunyai orang seperti mereka. Aku juga mendapat seorang donatur untuk projek besar ini." Andi menjelaskan sambil tertawa senang meski kadang kadang tampak murung sesekali.
Tak lama mereka saling mengobrol, Kembali datang dua orang lainnya, Prof Albert bersama seorang yang sudah tampak tua berpakaian jas putih rapi memakai kacamata hitam dan membawa sebuah koper.
__ADS_1
"Hei, apa kabar kalian semua? Apakah ada yang kami lewatkan?" Tanya Albert sambil bersalaman dengan mereka satu persatu.
Andi saat itu mengerutkan alisnya melihat ke arah pria tua yang datang bersama Albert sambil mengingat ingat.
"Kenalkan, ini Tuan Sung yang akan menjadi donatur kita. Seorang donatur lainnya tidak bisa hadir." Kata Andi yang masih melirik ke arah pria tua seperti di kenalnya.
"Perkenalkan, ini Professor terhebat di Amerika. Profesor Hawk," Seru Albert yang membuat Andi berdiri.
"Kak Toni,, apa kabar?" Tanya Andi yang langsung memeluk Prof yang di bawa Albert tersebut.
"Baik Andi, aku turut berduka atas Kakak mu. Saat itu aku sedang melakukan riset jauh di Nevada sehingga tak tau kalian tertimpa musibah." Seru pria tua bernama Toni Hawk tersebut.
"Sudah lah Kak, semua memang sudah begitu. Mari silahkan duduk." Andi mempersilahkan mereka berdua duduk di tempat yang sudah di persiapkan.
"Bagaimana kalian bisa kenal?" Tanya Albert yang masih bingung melihat kedekatan mereka tadi.
"Al, Andi ini adik mendiang sahabat ku di asrama dulu. Kami tiga sekawan bersama Detektif Steve Patterson." Jawab Prof Toni Hawk.
"Tuan Sung, kenalkan, beliau lah yang akan memimpin Projek kita nanti. Namanya Profesor Toni Hawk." Seru Andi yang sebelumnya di angkat sebagai pemimpin riset mereka oleh teman temannya.
"Maaf Profesor. Aku sudah mengenal nama beliau yang pernah menjadi rekan ayah ku." Seru pria termuda di antara mereka itu.
"Ya, dulu kami pernah seangkatan di Babel." Sahut Prof Toni Hawk.
"Bagaimana? Kalian setuju kan jika Kak Toni memimpin kita?" Tanya Andi kepada mereka semua.
"Siapa yang tidak kenal Tuan Hawk. Kami malah merasa beruntung bisa bekerja sama dengan ilmuan nomor satu di dunia." Seru Mike tulus.
"Ah, sudahlah, tak perlu memuji nama kosong belaka. Jika aku mau menjadi pemimpin, kalian akan menuruti peraturan ku?" Tanya Prof Hawk.
"Ya,"
"Tentu saja."
"Pasti,"
Seruan Para Profesor itu terdengar hampir bersamaan.
__ADS_1
"Peraturan pertama, mulai sekarang, kita semua adalah pemimpin dan pekerja." Seru Prof Hawk yang di angguk kan oleh mereka semua penuh rasa kagum.
Bersambung ...