
Selama beberapa bulan ini, banyak orang yang menggabungkan diri ke Pulau Bana seiring nama Pasukan B.I.S.A yang terus melejit karena sering membantu pemerintah menanggulangi bencana dan kejahatan.
Tak hanya sampai di situ sepak terjang mereka, bahkan para pejabat korup di Kota Silim telah mendapat ganjaran nya akibat keganasan Pasukan Pulau Bana di bawah kepemimpinan Raja.
"Cukup latihan hari ini. Lakukan penjagaan seperti biasa. Hari ini aku akan keluar pulau beberapa hari, kalian semua menjadi penanggung jawab atas keselamatan penduduk pulau." Seruan Raja terdengar tegas dan lantang menunjukkan kedisiplinan diri yang kuat.
Sesampainya ketua Pulau Bana itu ke rumah induk, dia segera menemui istrinya yang sedang membantu para wanita beres beres di dapur.
"Sayang,, bersiaplah. Hari ini kita akan pergi ke Kalimantan."
"Ada apa kau mengajak ku ke Kalimantan? Tumben, biasanya meski ku ajak ke Kutai Barat kau tak pernah mau." Jawab Santi heran.
"Bersiaplah cepat, hari ini kan hari ulang tahun mu. Aku ingin membuat surprise buat istri ku tercinta. Muaacchhh." Seru Raja sambil mengecup pipi istrinya dengan mesra.
"Ah kau ini, malu lah sama mereka." Seru Santi dengan wajah sedikit memerah memandang ke arah gadis dan wanita yang berada di dapur luas itu.
"Sudah, cepatlah."
"Baik suami kuuuu." Seru Santi sambil menyerahkan centong kepada salah seorang gadis yang tersenyum manis kepada Raja.
Setelah selesai berbenah, mereka berdua pun berangkat menuju Kota Silim mengajak ibu Raja turut serta.
Setibanya Raja dan Santi, ibu Raja ternyata sedikit kurang enak badan sehingga dengan terpaksa, Raja dan Santi hanya pergi berdua saja ke Kaltim.
.---***---. .---***---. .---***---.
Di dalam hutan yang berada di Kalimantan Timur, terlihat pemandangan yang sungguh sangat mengerikan pandang mata biasa.
Lima orang pemuda terlihat sedang menyerang mati matian para penguntit ilegal yang kini hanya tersisa dua orang yang masih melawan di tambah ketua regu mereka yang kini jatuh bangun melawan Jiraiya.
Tak berapa lama kemudian, mereka rebah tak dapat bangun lagi karena sebagian luka di tubuh mereka membuat para pengintai itu tak mampu dan tak mau melawan lagi.
"Apa maksud kalian mengintai tempat ini?" Tanya Jiraiya kepada komandan musuh yang tampak sangat ketakutan.
"Kami hanya menerima perintah dari bos saja." Jawab ketua regu tersebut yang bertekad tak akan menceritakan apapun kepada siapa pun.
__ADS_1
Jiraiya mengambil inisiatif di tengah keheningan tersebut dengan menotok tiga jalan darah pimpinan yang terduduk diam hingga dia mengeliat kelabakan akibat rasa sakit yang di derita.
Karena tak mampu menahan rasa sakit yang amat dahsyat itu, akhirnya sang pemimpin tersebut berteriak kencang,
"Maafkan aku,,, toloooonngg,, hentikaaannn,, aku,,, mengaku,,,,"
Mendengar hal itu, Jiraiya kembali menotok tiga kali di tiga tempat yang berbeda.
"Katakan, apa maksud kalian?" Kembali Jiraiya bertanya.
"Kami,, di suruh mengawasi penelitian di sini hingga selesai. Kemudian,,, kami akan,, me,, rampas hasil nya,,," Seru ketua kelompok tersebut terbata bata.
"Mulai malam ini, kalian jangan pernah lagi terlihat di daerah sini. Atau nyawa kalian tak akan selamat jika kami melihat kalian lagi." Seru Mahesa yang menyabetkan pedang naga nya secepat kilat ke arah telinga pemimpin tersebut.
Jiraiya yang berada dekat, segera menghentikan pendarahan pada telinga kiri pemimpin yang meraung raung kesakitan setengah mati.
Dengan di bantu para bawahan nya berjumlah belasan orang, pemimpin regu tersebut lari tertatih-tatih menjauhi tempat dimana kelima pemuda sakti tadi berada.
Mahesa terus mengajak ke empat teman nya itu mengitari sekeliling markas penelitian hingga subuh tiba.
Lain hal nya dengan pemimpin regu terakhir yang berada di sebelah selatan markas penelitian, dia sendiri di penggal lehernya oleh Mahesa karena pemimpin tersebut merupakan seorang yang kuping dan lengannya cacat bekas peringatan Mahesa dulu nya.
Setelah semua musuh yang menjadi mata mata pergi dengan susah payah, Black Hawk bertanya,
"Mengapa pemimpin lainnya kau biarkan bebas sedangkan yang tadi kau bunuh?"
"Pemimpin kelompok tadi adalah bekas para penculik gadis yang telah ku peringatkan dan ku ancam, bahkan banyak di antara anak buah kelompok tadi yang memang bekas para penjahat yang seharusnya sudah bertobat. Mungkin ancaman ku dulu mereka anggap sebagai main main saja makanya sampai cacat sekalipun, mereka tetap melakukan kejahatan. Biarlah seorang tadi menjadi peringatan terakhir bagi mereka." Tutup Mahesa yang merasa sedih.
Sambil berjalan menyusuri hutan ke arah Candu dan Rapit berada, Ardian yang masih memakai topengnya bertanya,
"Kenapa kau menanyakan hal itu Tuan ... Hawk?"
"Panggil saja Black, memang itulah nama ku. Aku hanya heran saja, dari pertama kita melakukan perkelahian, selalu Mahesa yang melarang kita membunuh, kenapa dia kini membunuh? Kalau itu alasannya, aku pun maklum." Seru Black Hawk di iringi anggukan kepala White dan Ardian.
"Sebentar lagi kita tiba setelah melewati sungai kecil itu. Cepat lah, hari sudah hampir pagi. Aku rasa, tidak ada lagi seorang pun kelompok mata mata yang berani berada di dekat sini." Seru Jiraiya.
__ADS_1
"Pagi nanti, aku harus mengawasi sekeliling dari atas bersama Candu." Mahesa berkata kepada mereka sambil mempercepat langkah nya.
Setibanya mereka berlima di tempat awal tadi, mereka semua kaget ketika melihat Candu dan Rapit sudah tidak berada lagi di situ.
"Candu mana?" Seru Mahesa khawatir sambil mencelat ke sana sini.
"Rapit juga tidak ada. Mungkin mereka telah di bawa pulang. Mari." Seru Jiraiya sambil berlari ke arah kiri dimana markas penelitian berada.
Sesampainya kelima pemuda itu ke gerbang bangunan besar, para penjaga membiarkan mereka lewat karena mengenal kedua putra Toni Hawk yang malam tadi keluar bersama Mahesa.
Setelah mereka berada di depan rumah Prof Andi, mereka segera masuk ke dalam.
"Ayah, apakah Candu dan Rapit dibawa kemari?" Tanya Mahesa sesampainya di rumah baru Prof Andi yang dibangun bersama gudang pusat penelitian.
"Tidak, bukankah Candu, Rapit bersama kalian?" Sahut Satria dengan kaget.
"Ah,, kemana mereka? Apakah mereka di bawa oleh mata mata itu?" Gumam Jiraiya yang masih terdengar oleh semua yang ada di sana.
Apakah kalian tidak mendengar gelagat dari Candu dan Rapit?" Tanya Satria sambil bangun dari duduk nya.
"Tidak ada suara ayah, meski Rapit bisa di bius atau di tangkap dengan jaring, Candu pasti tak semudah itu mereka tangkap." Jawab Mahesa dengan kening berkerut.
"Kita harus cari mereka," Seru Jiraiya yang langsung di jawab oleh Satria,
"Benar, mari kita cari. Kalian di sini saja." Seru Satria kepada yang lain lalu meloncat jauh ke arah Mahesa dan Jiraiya yang telah hilang di situ.
Tak lama kemudian, dua orang datang ke rumah Prof Andi yang berada di markas tersebut.
"Hei,,, Raja, Santi, bagaimana kabar kalian? Masuklah." Seru Prof Andi.
Profesor yang biasa tabah itu pun segera menceritakan masalah yang terjadi pada mereka serta rencana mereka dalam riset penelitian yang akan di gagas namun kini mengalami jalan buntu.
"Wah,, lalu apa rencana selanjutnya?" Tanya Raja kepada Kakak iparnya yang jauh lebih tua darinya.
"Entah lah, kita tunggu keputusan Profesor Toni Hawk bagaimana baiknya." Seru Prof Andi sambil menjamu adik ipar bersama istrinya.
__ADS_1
Bersambung ...