
Di dalam sebuah ruang bawah tanah yang luas, duduk sepasang manusia yang baru saja tiba di sana.
Seorang pria tampan berbaju hitam duduk di lantai yang kering bersama seorang pria lainnya yang tiba tiba membuka rambut palsu, kumis dan jenggot tipis nya.
"Cepat katakan, apa maksud mu mengatakan aku adik mu?" Seru pria yang kaget juga melihat pria itu merupakan wanita muda yang sangat cantik jelita dan manis.
"Aku pergi dari dusun untuk mencari mu. Kau adik ku Ardian."
"Tidak, nama ku Bu Su. Aku putra bungsu ketua pulau ini." Jawab pemuda tampan yang kekar itu.
"Dengar lah dik. 14 tahun lalu, dusun kita di serang sekelompok orang yang mengaku dari luar Nusantara. Ibu tewas bersama banyak penduduk dusun. Ayah bertarung mati matian dengan mereka membawa aku dan kau. Karena penyerang yang banyak dan hebat hebat, ayah terluka dan kau berhasil di rampas. Ayah melarikan ku jauh ke Timur hingga kami di tolong sebuah keluarga. Setelah ayah pulih dari luka luka nya beberapa hari kemudian, kami kembali ke dusun dan mencari ... mayat mu. Namun sampai lama tak pernah kami jumpai. Dari dulu aku selalu ingin mencari mu, namun ayah melarang. Berbahaya, banyak orang orang hebat di luaran sana, begitu kata ayah. Beberapa bulan yang lalu, ayah meninggal dunia. Setelah mengurus jenazah ayah, aku mencari kemana mana tanpa tujuan pasti. Yang aku ingat adalah, adik ku mempunyai dua tanda hitam. Satu di dada kanan nya sebesar ujung jari, satunya lagi di pinggang sebelah kiri yang agak memanjang."
Mendengar cerita itu, mulai lah air mata berderai dari sepasang mata pemuda yang kini baru di ketahui bernama Ardian.
"Aku bukan anak nya? Dia yang membunuh ibu? Keparat, aku akan mengadu nyawa dengannya." Seru Ardian dengan air mata mengalir dari matanya yang merah menahan amarah dan kesedihan mendalam sambil bangun hendak keluar.
"Ketua Bu pasti sudah di bereskan oleh mereka."
Mendengar kata kata Karina, Ardian tertahan langkah nya.
"Mereka siapa?" Tanya nya.
"Sepasang kakek tua itu adalah Jiraiya dan Mahesa."
"Ah,, pantas saja,"
"Coba ku lihat pinggang mu, ah,, dada mu berdarah." Seru Karina yang tampak khawatir dan segera merobek bajunya di bawah pinggang untuk mengelap luka pemuda tampan itu.
"Tak apa apa Kak, hanya luka goresan kecil saja." Ardian berkata sambil merobek sedikit baju bagian pinggang kirinya.
Melihat hal itu, Karina tak dapat menahan rasa haru di hatinya. Segera dia menubruk dan memeluk sang adik yang telah lama sekali berpisah dengan nya.
Tepat saat itu, Jiraiya dan Mahesa yang telah mengatur agar pasukan bawahan pulau yang tinggal untuk mengurus semua mayat di ruangan besar, tiba dari tempat dimana mereka pernah keluar.
"Dasar,, kau,, wanita murahan,, kau selama ini menipuku?" Seru Jiraiya yang menyerang Karina dan Ardian yang kaget melepaskan pelukan mereka.
"Hei,, Jiraiya, tunggu,, aku bisa,, menjelaskan,, semua nya." Seru Karina yang mengelak bersama Ardian ke sana kemari sambil menenangkan Jiraiya.
Mahesa yang juga melihat adegan itu hanya diam bengong terlongong memandang dua orang yang sibuk mengelak dari serangan sepasang pedang nya.
__ADS_1
"Dasar kau lelaki bodoh, main marah marah saja. Dengarkan akuuuu,," Karina berseru sambil menangis melihat pancaran sinar dendam di mata Jiraiya.
"Mahesa, ayo pergi." Seru Jiraiya yang tiba tiba mencelat keluar dari pintu di atas nya dan lari sekencang kencangnya ke arah belakang bangunan kecil itu untuk segera menjauh bersama Luoyi dan Rapit.
"Mahesa, tunggu." Seru Karina menghentikan langkah pemuda yang ingin mengejar sahabat nya itu.
"Dia adalah adik kandung ku yang dulu hilang bernama Ardian yang di culik oleh Ketua Bu keparat itu."
"Dia telah tewas di bawah bacokan senjata para pendekar. Aku akan mengejar dan berusaha menjelaskan kepada Jiraiya." Seru Mahesa yang melompat pergi dari situ.
"Apakah Kakak sangat mencintai nya?" Tanya Ardian yang kini telah hilang tangisan dari wajahnya.
"Ya dik, aku bahkan rela diduakan atau di tiga kan nya sekalipun. Aku tak akan pernah menikah jika dia kenapa napa." Seru Karina yang menghapus beberapa butir air mata yang meloncat keluar dari balik pelupuk matanya yang indah.
.---\*\*\*---. .---\*\*\*---. .---\*\*\*---.
"Canduuu,,, suuiiiiiittt,,," Suara panggilan Mahesa di tebing kecil pantai belakang Pulau Bon bergema.
Tak lama kemudian, tiba lah Candu di situ.
"Candu, kita ke pulau kecil kemarin." Seru Mahesa yang telah berada di punggung Candu.
Sesampainya Mahesa di sana, dia hanya menjumpai Tiara dan Alvina.
"Baru saja dia ke arah sana." Seru Alvina menunjuk ke arah Nusantara.
"Ayo cepat naik, Kita pulang." Ucap Mahesa sambil menyediakan tempat duduk bagi mereka berdua.
Candu yang di paksa terbang oleh Mahesa, mengejar cepat ke arah perginya Jiraiya, namun meski puluhan menit telah terbang, tetap saja mereka tak dapat menyusul Jiraiya.
Candu yang tampak lelah akhirnya mengambil jalur laut membawa mereka bertiga ke Nusantara.
Sebenarnya Jiraiya kemana? Apa benar Rapit berenang secepat itu? Sampai sampai Candu yang terbang sangat cepat tak dapat menemui nya.
Sebenar nya Jiraiya memang benar menuju ke arah Nusantara. Namun setelah agak jauh, dia berputar ke arah belakang pulau kecil itu dan terus menuju Pulau Racha Yai dimana mereka berdua duduk di sebuah pantai yang tampak kosong.
"Jiko,, kau kenapa? Ceritakan padaku. Apa yang terjadi padamu Jiko?" Seru Luoyi yang ikut sedih melihat tangisan Jiraiya yang mengguguk.
"Aku bodoh Yimoi, aku,, aku mencin,, tainya."
__ADS_1
"Apa maksud mu Koko?"
"Huuuu huhuuu,, mhh sskk,, skskk,," Suara tangisan Jiraiya makin menjadi jadi.
"Jiko, ceritakan padaku, kau kenapa? Siapa yang membuat mu begini?"
Setelah menunggu beberapa saat, tangisan Jiraiya agak mereda meski pun air matanya terus menerus mengalir.
"Karina mempunyai hubungan dengan manusia topeng itu. Aku melihat mereka sedang berpelukan mesra Yimoi."
"Apa? Tak mungkin Jiko."
"Kau tak percaya aku kakak mu? Kau lebih percaya wanita jahat itu? Aku melihatnya sendiri Yimoi." Teriakan Jiraiya membuat beberapa ekor monyet liar di belakang mereka lari ke hutan.
"Kalau memang begitu, aku sendiri yang akan memberi hajaran kepada Kak Karina." Seru Luoyi dengan amarah sambil menggenggam tangan di depan hidung mereka berdua.
"Hahahaha, Yimoi, kau sungguh naif sekali. Bagaimana kau akan menghajarnya? Baru dua jurus saja kau sudah pasti keok. Hahaha." Jiraiya yang melihat sikap adik nya, geli sendiri hingga membuatnya tak dapat menahan tawa.
"Apa kau sudah gila Koko? Tadi menangis, sekarang tertawa tawa." Seru Luoyi mengerut kan alisnya.
"Sudah lah Yimoi, aku memang gila. Cinta itu gila, dunia ini gila dan semua nya akan menjadi gila. Marilah kita kembali ke Mongol, aku ingin sekali berjumpa dengan ibu dan semuanya." Seru Jiraiya yang bangun memanggil Rapit di pinggir pantai.
Mereka berdua oun menunggang rapit yang berenang di lautan itu menuju ke daratan dimana mereka pulang ke arah Mongol melalui Thailand.
Benarkah apa yang di katakan Jiraiya bahwa Cinta gila? Hidup ini gila? Semua orang akan menjadi gila?.
Sebenarnya persepsi seperti itu benar namun kurang tepat. Gila adalah sesuatu yang tidak lumrah di lakukan yang secara konsisten terus dilakukan tanpa keseimbangan.
Seorang manusia yang terus menerus mengejar harta tanpa keseimbangan dalam memakai nya di sebut Gila Harta.
Ada pula yang hidup nya terus menerus memikirkan, mengejar dan bergelimang dengan wanita di sebut, Gila wanita.
Ada pula orang yang terus menerus melakukan hal hal bodoh tanpa pertimbangan yang seimbang dalam hidup nya di sebut Orang Gila.
Gila itu bermacam macam. Bukan sesuatu nya yang gila, namun orang yang melakukan, mendapat dan berselimut sesuatu itu yang gila.
Bukan lah cinta yang gila, melainkan orang yang telah dibutakan cinta yang seperti gila. Seperti juga kita, Jiraiya merasa semua adalah gila karena cinta dan semua yang dirasakannya tidak seimbang dan tidak seperti yang diharapkan nya.
Beruntung lah orang yang mampu memilah mana keinginan dan mana kebutuhannya. Hanya dengan mencari kebutuhan kita saja kita akan mengalami kehidupan yang sarat penuh dengan makna.
__ADS_1
Jika keinginan dan kemauan atau ambisi kita kedepankan, kekecewaan akan timbul dan dari situ, akan berkembang menjadi GILA atau paling tidak menganggap semuanya GILA.
Bersambung ...