
Sekarang aku berada di atas kendaraan yang dimiliki kak adhit.
Baru kali ini kak adhit memboncengku dengan motor kepunyaannya.
Begitu nyaman, apalagi aku dan kak adhit terasa berdekatan karena di atas satu kendaraan.
Panas kini tak lagi ku rasakan, yang ku rasakan hanyalah rasa deguban jantung yang sangat kencang, dag dig dug seperti ada yang menabuhnya. sedikit kegugupan ku rasakan ke ulu hati sampai-sampai aku tak merasakan kalau aku masih punya sebuah organ dimana di situ di letakkan sebuah jantung dan hati.
Seakan darahku memompa keluar jalurnya, keringat dingin sedikit singgah di kulitku.
OMG!!.. aku tak bisa berpikir lagi.
Senyuman di bibirku semakin lama semakin melebar saja bagaikan virus. Perasaan ini benar- benar tak dapat ku kendalikan, bagai tersambat sengatan ku menjadi gila sesaat.
****
Begitu cepat rasanya, waktu terasa singkat ku rasakan bersama kak adhit, OMG… kenapa secepat ini waktu dan perjalanan pulang kami berakhir,, sungguh !!
Dalam benakku ingin sekali waktu berhenti sehari saja agar aku bisa menghabiskan waktu dengan kak Adhit seperti ini.
__ADS_1
Rasanya aku ingin lebih lama lagi bersamanya Tuhan…
“al, al…… udah nyampek rumah nih,, kamu nggak mau turun ta? Apa kamu mau ikut aku pulang ke rumah aku??” terdengar ucapan kak adhit padaku yang sedang melamun.
“ah, iya kak,, apa?” terheran ku sahut ucapannya.
“udah nyampek depan rumah tuan putri yang cantik,,,” ucap kak adhit sambil tersenyum melihatku.
“maap… hehee, makasih ya kak udah mau anterin aku pulang,” ucapku tersipu malu dan pipiku memerah.
Saat ku langkahkan kaki ini menuju sebuah bangunan sederhana yang ku punya tiba-tiba kak adhit memenggilku.
“al, aku boleh nggak minta nomer handphone kamu yang baru?” tanya kak adhit.
“085730219321, udah ta kak?” ucapku.
“he’em,, makasih ya al,” jawab kak adhit.
****
__ADS_1
Akupun melangkah kan lagi kaki mungil ini tuk meneruskan langkah yang sedikit tertunda, ruangan demi ruangan tlah ku masuki perlahan, jauh dari pendengaran suara motor kak adhit pun berlalu dan menghilang pergi.
Tapi sungguh, dalam pikiran ini bayang kak adhit tak bisa hilang, apalagi setelah kejadian barusan yang ku alami bersamanya.
Mungkin akan jadi moment yang tak terlupakan untuk ku.
Seenggaknya yang ku punya sekarang, hari ini… ah, rasanya aku ingin sekali meneruskan perasaan yang ku miliki dan ingin sekali rasanya aku menikmati apa yang telah ku rasakan dalam hati aku tentang kak adhit.
####
Di luar sana, jagad raya masih memilki cahaya, berwarna kuning, terasa panas, mungkin semacam sinar ultra yang sedang menghangatkan bumi dari kelembaban.
Tapi… aku hanyalah makhluk bumi yang berukuran kecil yang pastinya tak sanggup menerima pantulan cahaya itu, terlalu membakar pada kulitku.
“Huft, badan ku udah bau matahari… kayaknya aku membutuhkan air, mandy lebih tepatnya.” Ucapku yang merasa gerah.
Ternyata jam di dinding mempunyai kehidupan, mereka selalu berdetak, tak henti-henti dan mungkin tak lelah-lelahnya.
Huft,, tak pernah beristirahat… padahal aku selalu merasa lelah, capek, kadang ingin sekali tak melakukan sesuatu hal seharian.
__ADS_1
Tapi kenapa pemikiran ku tak pernah lelah-lelahnya dan tak henti-hentinya memikirkan kak Adhit, sosok pemuda dalam kehidupanku.
****