
“Mbak, saya mau cari informasi tentang jatuhnya pesawat??” tanya temanku.
“Iya, apa ada kerabat anda yang naik pesawat ini tadi pagi?” tanya informant bandara tersebut.
“Iya mbk,, namanya Adhit pradigda” sahutku.
“Sebentar ya mbk sabar…” jawabnya.
“Sabar ya al, kamu sabar…” ucap temanku.
“Iya mbak, dalam daftar ini Adhit pradigda merupakan salah satu dari korban kecelakaan pesawat.”
Dari ucapan yang keluar dari bibir yang entah harus aku percayai atau ah, aku tak bisa lagi menopang tubuhku dan tak bisa mempercayai semua ini.
__ADS_1
Mungkin beberapa saat, tubuh ini lunglai… terjatuh dan tak berdaya. Saat itu seperti sudah tak ada gunanya lagi aku menggunakan tubuh ini. Jasad yang selama ini menemaniku… kini tak bisa lagi ku pergunakan secara maksimal, karena kak Adhit !!!
Air mataku mengalir dengan sendirinya tanpa mengeluarkan suara isakan maupun tangis jeritan, masih ku tak mempercayai ku harus berbuat apa. Hatiku terasa mati, tak ada detak jantung yang ku rasakan. Sepertinya air mataku tlah mengering seperti sungai yang kehabisan air di musim kemarau.
****
Dua jam tlah berlalu, dengan rasa tak berdaya ini aku menunggu jasad kak Adhit yang telah di evakuasi tiba di bandara, dengan ketidak percayaan aku menunggu dan terus menunggu…
“Kak Adhit,, kakak nggak mungkin ninggalin aku kan, kak… please bangun, kakak tau nggak sebenernya aku tu sayang, cinta ma kakak. Aku tau koq, nggak seharusnya cewek duluan yang bilang kayak gitu. Tapi keadaan yang memaksa aku kayak gini.” Ucapku di depan jasad kak adhit yang mungkin sudah terbujur kaku tak bernyawa.
“Nggak… itu semua nggak bener, ini kak Adhit, dia sekarang bersama aku dan ampek kapan pun dia bakal tetep bersama aku.”yakinku.
“Udah al, udah… jenazah Adhit harus di kebumikan, orang tuanya meminta supaya jenazahnya di kuburkan di luar pulau di tempat orang tuanya berada sekarang, udah al,,,”ucap temanku.
__ADS_1
“Kamu nggak ngerti, kak Adhit tu hanya pura-pura, aku tau dia lagi ngerjain aku. Kamu jahat banget bilang kayak gitu.”bentakku.
“al, sadar…”bentak temanku.
“Lho0 pak, mau di bawa kemana kak adhit, ke rumah sakit terdekat kan??” ucapku kepada petugas yang sedang mengangkat kak adhit.
Tapi… bibir mereka terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata sedikitpun, entah mereka seakan tak mendengarkan ucapanku sedikitpun dan mereka terus saja membawa kak adhit bersama mereka. Aku tak tau lagi apa yang harus ku lakukan, aku hanya bisa menangis melihat apa yang mereka lakukan.
Perlahan demi perlahan kak Adhit meninggalkanku, dia naik pesawat bersama sebuah peti yang seakan menemaninya pergi.
Astaga… kak adhit, aku benar-benar ingin dia kembali padaku. Bukan malah sebaliknya, naik pesawat kembali dan tak mengucapkan sepatah katapun padaku yang menangis dan berteriak,, aku tak mengerti, seolah-olah dia tak memperdulikanku lagi.
Kenapa??,,
__ADS_1
Apa yang sebenarnya yang terjadi pada kak adhit, apa mungkin itu semua benar bahwa kak adhit bener-bener ninggalin aku dan dunia ini !!
Saat itu juga, aku tak sadarkan diri. Entah aku tak ingin lagi membuka mata ini, mungkin aku ingin menemani kak adhit saja.