
Saat kita berdua akan beranjak memulangkan anggota tubuh ini masing-masing ke sebuah kediaman yang kita miliki, terasa begitu berat untukku, entah kenapa… ingin aku menemani kak adhit seharian, biar aku bisa melihatnya, memandangnya sepuas hati sebelum dia berangkat.
Tapi satu hal, kenapa sampai sekarang aku tak bisa dan tak sanggup buat ungkapin perasaan yang ku miliki. kenapa ?? apa belum saatnya, atau… aku harus benar-benar menunggu sampai dia kembali dan setelah itu ku ungkapin perasaanku ke dia.
“kak, kak Adhit tambah cakep… apalagi kalau pakek baju wisuda kayak gini” ucapku pada kak Adhit.
“Apa’an sih al, dari tadi koq kayaknya kamu perhatiin aku terus. Udah pulang sana, nanti ayah kamu cariin kamu lho0.” ucapnya.
“Iih… gue er, PD banget sih, siapa juga yang lagi merhatiin kak adhit. Aku lho0 Cuma liatin kak adhit doank !!” ucapku mengelak.
“Iya, mungkin aku aja kali ya yang ngerasa dari tadi di perhatiin ma kamu. Huft dasar putri cantik, bikin hati aku goyah.” Ucapnya.
__ADS_1
“hah !!!” hentakku merasa kaget mendengar ucapan kak adhit, apa benar ?? duuhhh jadi pengen banget ngungkapin perasaan ku sekarang,tapi tetep aja,, mulut aku serasa terkunci rapat. Seperti berada dalam jeruji besi dan tak sanggup keluar. OMG…!!
“Udaaahhh cepetan pulang putri cantik… jangan malah ngelamun disini, nanti kesambet gimana… hayo0??” goda kak Adhit.
“Iya, iya, iya, bawel !!!” ucapku kesal sambil tersenyum.
Perlahan… aku berusaha menelusuri jalan, mencoba meninggalkan kak adhit meskipun terasa berat kaki ini untuk melangkah. Entah kenapa secara perlahan pula, air mata serasa menetes di pipi ini… Tuhan,, apa yang sedang aku rasakan saat ini ?? apa Tuhan, apa !!!
2 hari begitu cepat berlalu, ku lihat jam di dinding masih menunjukkan angka yang sama dengan kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi atau mungkin masih terlihat sama dengan hari yang lalu, bulan lalu, tahun yang lalu, bahkan di masa yang lalu dalam kehidupan sebelum aku benar-benar ada di dunia ini.
Aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan saat ini, sejenak aku terduduk di atas sofa,, dengan arah pandangan ke sebuah benda mungil elektronik yang ku miliki.
__ADS_1
Aku benar-benar berharap kak adhit mengirimkan sebuah pesan singkat di dalamnya meskipun dalam kesibukan yang ia miliki dan ia lakukan saat ini.
“putri cantik… koq melmun ma handphone di atas sofa se??” entahlah… mungkin halusinasiku kini kambuh, karena entah dari mana aku mendengar suara bas kak adhit menggema di telingaku.
Dalam keputus asaan, aku tak mau menengokkan kepala ini walau sejenak memastikan. Karena aku benar-benar yakin kalau ini hanyalah halusinasi atau sekedar fatamorgana yang ku miliki, ach ku tak peduli setan bicara apa padaku. Emang dasar udah dari sananya setan sukanya gangguin. Tak akan ku terpengaruh, tak akan dan tak akan pernah !!!
“huft, dasar nenek sihir,, di panggil ngak mau jawab. Malah lebih di cuekin, wah,wah,wah lagi smsan ma pacarnya ya non??” ucapnya lagi.
Lagi-lagi suara itu terdengar di telingaku yang kedua kali tapi dengan kalimat yang berbeda. OMG… apa aku sekarang benar-benar kangen dengan sosok kak adhit, sampai-sampai suara basnya terngiang di telingaku. Huft,, mungkin sebaiknya aku menutup telinga ini, agar suara itu tak masuk lagi serta tak akan mempengaruhi pikiranku.
“iih… al, sayang… ini aku datang bawa es krim,” ucap kak adhit sambil mencubit kedua pipiku.
__ADS_1