Sesosok Pemuda Dalam Kehidupan "AL"

Sesosok Pemuda Dalam Kehidupan "AL"
Beradu Hati


__ADS_3

Di bulan Februari ini, mungkin bagi ku bulan yang penuh dengan derita yang sangat menyiksaku. Tiap malam, dan setiap mimpi dalam tidur gelapku bayangan kak adhit selalu hadir, selalu muncul seperti menghantui pemikiran ini.


Tak henti-hentinya pula fatamorgana ini mulai kambuh, setiap saat, setiap ku buka mata ini tuk memandang dunia yang begitu kejam bagiku. Tapi sedikitpun tak bisa ku memberikan rasa benci pada sosok pemuda yang bernama Adhit Pradigda. Entah kenapa !!!


****


14 Februari…


Sosok pemuda itu datang menghampiriku, memeluk erat tubuh ini, entah itu hanyalah fatamorganaku atau kah kenyataan. Sungguh aku tak bisa merasakan antara keduanya, mati rasa antara hal yang konkrit ataukah abstrak. Otakku benar-benar kosong !!!


Kampus yang kurasakan keramaianya, canda tawa mereka yang sedang berperan menjadi penghuni dan aku juga sedang ikut perperan menjadi salah satu dari mereka namun, kenapa ?? bibir ini seakan tak bisa menggoreskan senyum sedikitpun kepada siapapun yang melihat.

__ADS_1


“al… aku minta maaf,, aku sekarang disini, aku nggak tau.. tapi sebuah pemikiran mendorongku untuk pergi ke luar pulau menemui orang tua ku, aku ingin berpamitan kepada mereka sebelum aku brangkat ke luar negeri, kamu ngerti kan al.” ucap kak adhit.


Namun aku hanya bisa menangis dalam pelukan erat tanganya, aku sungguh tak bisa berkata apa-apa. Yang kurasakan sekarang seakan jiwa ini bangkit, terasa untuk kembali. Seperti bunga yang layu, segar kembali karena tersiram air, pasti akan terasa segar sesaat.


“al, mungkin ini kesempatan buat aku. Satu dari seribu pilihan aku ingin wujudin cita-cita aku al, karena itu aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.” Ucapnya sambil menangis.


Sesaat ku pandang matanya yang sedang menangis, dengan segores siratan senyum pada bibirku tapi kenyataan yang ada hatiku benar-benar berontak ingin berteriak menahan kak adhit pergi,, namun aku sungguh tak tega mendengar keinginan yang selama ini ia harapkan tuk datang padanya. Aku masih punya hati, punya perasaan, mungkin ini semua sudah kehendak Tuhan, untuk menjadikan ka adhit menjadi orang-orang yang benar-benar sukses nantinya.


“he’em” jawabku.


####

__ADS_1


Ketika siang berganti malam dam malam kini berganti pagi, mungkin esok akan ada kehidupan baru bagi kak adhit, cara yang baru serta mungkin kesuksesan akan menuju padanya.


Jam 10 nanti aku harus menghadiri acara wisuda kak adhit, karena mungkin aku tlah berjanji padanya. Dan aku akan berjanji pada diri aku sendiri, aku tak akan pernah mengeluarkan air mataku di acara wisuda yang selama ini tlah di tunggu oleh kak adhit.


Dalam keramaian, ku lihat senyum tergores di bibir kak Adhit yang begitu ku kagumi, sungguh indah Tuhan menciptakan. Itu memang benar, ucapan kak adhit selalu benar, benar dan benar.


Sesaat kami berdua berpose untuk mengabadikan gambar yang mungkin suatu saat bisa ku lihat saat aku merindukan sosok kak Adhit yang berada jauh dariku, mungkin bukan dalam kesempatan ini aku bisa memiliki dia, tapi aku yakin suatu saat aku pasti mendapatkannya, aku akan menanti kepulanganya.


Meskipun nantinya yang akan ku rasakan adalah kehampaan tanpa ada seseorang yang mengisi hatiku saat kak Adhit jauh dari ku bahkan dari negeri ini.


Ach, entah bagaimana nantinya yang bakal aku rasakan, sungguh ku tak mau membayangkannya sekarang !!!

__ADS_1


__ADS_2