
Jauh disana, dan jauh dari kediamanku ada sebuah toko, sebuah bangunan yang berdiri dengan di sertai di dalamnya benda-benda atau barang-barang yang kadang sangat di butuhkan oleh setiap makhluk.
Terutama aku,, es krim, coklat, seolah itu semua tak bisa lepas dariku atau mungkin aku yang tak bisa lepas dari mereka semua, heheehee
“Buukkk, beli es krimnya…??” ucapku.
“Iya, kamu mau beli berapa al, tiap hujan pasti kamu ada dan beli es krim disini. Dari kecil nggak pernah berubah” ucap penjual toko.
“Aach, ibuk bisa aja,, habisnya suka banget ma es krim” jawabku.
Entah kenapa,, aku ingin sekali berlari dan berhujan-hujanan ke desa sebelah.
****
Menghilangkan rasa penat yang ku rasakan di rumah, tanpa sengaja langkah kaki ini sampai pada kediaman kak adhit yang kini tak berpenghuni. Mekipun aku tau baru tadi pagi ai berangkat tapi rasa rindu dan gelisah ada pada diriku tentangnya.
__ADS_1
Aku terus saja berjalan, searah dengan langkah ke depan, mata ini ku arahkan pada setiap rumah-rumah yang ada di desa tersebut. Dari arah kiri jalan, aku mendengar ada seorang yang sedang memanggilku, aku pun menghampirinya. Ternyata dia teman SMA ku dulu, yang ku lihat dia sedang bermandikan air hujan.
“aal, mampir yuk ke rumahku.” Ucapnya.
“Iya… aku sedang basah kuyup,” jawabku.
“Gpp, aku juga basah kuyup koq… aku punya coklat buat kamu.” Ucapnya.
Segera saja aku mengikutinya pulang ke rumah, karena coklat yang menjadi alasan ku mau mengikuti langkahnya. Dalam rumahnya, ada seorang bibi-bibi tua yang sedang menikmati pekerjaannya, yaitu menyulam sebuah sapu tangan kecil yang luchu.
“Kasihan ya al, orang yang terkana kecelakaan pesawat jatuh itu,, gara-gara cuaca buruk, pesawatnya jadi jatuh.” Ucap temanku.
“Maksudnya, aku nggak gitu ngerti,, pesawat apa yang jatuh… ehmm padahal pagi hari tadi cerah tapi tiba-tiba ja cuaca jadi buruk. Tau gitu kan seharusnya pesawatnya nggak usa berangkat.” Ucapku.
“Pesawat yang landas dari bandara depan, yang berangkatnya tadi jam 09.00 yang arahnya mau ke luar negeri kalau nggak salah” ucapnya.
__ADS_1
“Pesawat kak adhit?” ucapku.
****
Entah dari mana pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam pemikiranku, apa benar itu pesawat yang di tumpangi kak adhit… ?? aku benar-benar tak mengerti, bingung, dan tiba-tiba tubuhku terasa lemas, lemas dan begitu lemas tak kuat menerima berita itu.
Segenggam coklat yang terpegang pun jatuh dan tercecer di atas lantai, segera saja aku berteriak memanggil kak adhit, lalu aku berlari sekuat mungkin, lari dan terus saja berlari menerjang derasnya hujan di luar sana…
“al, kamu mau kemana al…??” tanya temanku.
“Aku ingin ketemu kak adhit, nggak mungkin pesawatnya yang kecelakaan, nggak mungkin.” Ucapku.
Saat aku terus saja berlari, ia mengikuti ku kemana arahku berlari. ia benar-benar peduli padaku, saat itu yang sedang terfikir olehku adalah bagaimana keadaan kak adhit.
“Iya al, aku anter ke bandara ya… kita cari info” ucapnya.
__ADS_1
Segera saja kita berdua menuju ke bandara untuk mencari informasi tentang jatuhnya pesawat tersebut, aku benar-benar ingin memastikan kalau itu bukan pesawat yang di tumpang kak adhit. meskipun hatiku merasa tak yakin atas keadaanku sendiri, terasa begitu putus asa atau… entahlah,, tak bisa lagi aku berpura-pura.