
Friska benar-benar terkejut mendengar ucapan pria itu mereka sekarang berada di sebuah rumah mewah.
Kalau dilihat dari penampilan pria ini tidak menjanjikan karena apapun yang dikenakannya sangat berbeda jauh yang dilihatnya sekarang.
''Maaf, sebenarnya aku adalah seorang pebisnis namun tidak tahu kenapa tiba-tiba aku suka menggunakan pakaian seperti ini,'' kekeh Riko.
''Kau membohongi aku selama ini, Riko?" tanya Friska dingin.
''Tidak, untuk apa aku membohongi wanita sepertimu Friska.'' Friska tertegun mendengar ucapan pria itu bahkan pandangan mereka berdua saling adu.
''Apa kedua orang tuamu tinggal di sini?" alih Friska.
''Tidak, saat ini mereka berada di luar negeri Friska kau tidak perlu khawatir.'' Friska merasa tenang sedikit untuk sementara ini dia bisa berlindung di tempat inilah namun bukan untuk selamanya.
''Besok aku akan pergi dari sini, maaf sudah merepotkan kamu selama ini Riko,'' lirihnya.
''Ayolah, jangan seperti itu Friska kita sudah lama saling mengenal bukan?" ucap Riko sambel bercanda untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka berdua.
''Tapi aku sudah membuatmu selama ini terlibat dalam kehidupan pribadiku Riko.'' Pria itu langsung memberikan minuman kepada Friska dia tidak mau menjawab pertanyaan wanita itu.
__ADS_1
''Minum! Kau pasti membutuhkannya saat ini,'' kekeh Riko.
Friska menghembuskan nafasnya dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk saat ini dia benar-benar bingung.
Pikirannya tertuju kepada Frans luar sana pasti berkeliaran untuk mencari keberadaannya.
''Apa yang kau pikirkan? Apakah suami bodoh mu itu?" tanya Riko tidak suka.
''Dia masih suamiku Riko, apapun masalah kami dia tetap adalah suamiku sekaligus ayah dari.'' Friska mengusap perut ya itu hingga membuat pria di hadapannya itu terkejut mendengar fakta Friska.
''Kau hamil?" tanya Riko tidak percaya.
''Kau mau bercerai dengannya atau tidak?" Hanya ini jalan yang bisa dia lakukan agar sepenuhnya memiliki Friska.
Riko benar-benar berambisi memiliki seorang Friska karena ada daya tarik dari wanita yang sudah membuatnya selama ini kepikiran.
''Kami mana bisa bercerai dalam keadaan seperti ini Riko, pelan-pelan Mas Frans akan mengetahui kondisi aku,'' ucapnya sedih.
''Kita tinggal di luar negeri jangan di sini Friska.'' Friska terkejut bukan main dia mana mungkin pergi meninggalkan kota ini.
__ADS_1
''Aku tidak bisa Riko,'' ucapnya dengan cepat.
''Lebih baik untuk sementara ini kau istirahat kita akan bicara lagi.'' Pria itu memilih berdiri dan tidak mau mengganggu Friska.
''Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang?" batinnya.
Riko marah besar di kamarnya mendengar yang terjadi kepada Friska. Niatnya yang ingin memiliki Friska sepenuhnya tersendat karena kehadiran anak.
''Aku tidak akan pernah bisa memilikinya kalau seperti ini,'' kesalnya.
''Tuan, pengacara sudah datang.'' Seorang pelayan tiba-tiba masuk ke dalam dengan wajah yang ketakutan karena melihat kamar yang berantakan.
''Bawa dia ke ruang kerjaku!" perintah Riko.
''Baik Tuan,'' ucapnya.
Riko merasa lebih baik langsung menuju ke ruang kerja dengan keadaan yang sudah lebih tenang. Sebentar dia memperhatikan Friska masih betah duduk ruang tengah sambil menangis.
''Wanita ini kenapa menjadi lemah sekali?" kesalnya.
__ADS_1
Setibanya di ruang kerja Riko langsung menatap pengacaranya itu dingin karena masalah ini harus secepatnya selesai.