SEWA ISTRI

SEWA ISTRI
Sudah Kenyang


__ADS_3

Friska benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi melihat Riko terus mendekati kepadanya.


Sontak dia memejamkan kedua bola mata untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


''Kau kenapa sayang menutup mata?" tanya Riko berpura-pura tidak mengerti.


''Apa?'' balas Friska namun tidak mau membuka kedua bola matanya.


''Ayo kita obati kaki mu.'' Riko langsung menggendong Friska membawanya kamar mandi.


''Kau mau apa hubby?" tanya Friska gugup.


''Sepertinya aku tidak harus mengatakannya lagi sementara kau sudah pernah mengalami ini juga kan.'' Kini kedua bola mata mereka saling beradu pandang.


Friska langsung menundukkan wajahnya ini untuk kedua kalinya dia pernah bersama dengan lelaki melakukan hubungan itu.


''Ya, kamu adalah yang keduanya hubby,'' lirihnya.


''Hei aku tidak termasuk untuk membuatmu mengingat dahulu sekarang saatnya kita bahagia di sini.'' Riko langsung mencairkan suasana memasukkan Friska masuk ke dalam bathup.


''Hubby?!" pekiknya.


''Kita mandi bersama Friska, sudah lama aku tidak pernah melakukan seperti ini,'' kekeh ya.


''Dulu juga tidak pernah ya?" tanya Friska berpura-pura tidak tahu.


''Kamu seorang yang pernah melakukan seperti ini sayang.'' Friska terkejut bukan main mendengarnya padahal Riko bisa seperti ini bersama dengan Emma.


''Jangan berbohong hubby, pria tidak akan pernah tahan kalau sudah melihat wanita seperti ini,'' ujarnya.


''Nyatanya aku bisa menahannya namun tidak untukmu.'' Riko memainkan mata sebelah kanannya menggoda Friska.


''Maaf,'' lirihnya.


''Untuk apa?" tanya Riko.


''Kau tidak mendapatkannya.'' Riko malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Friska.


''Kita sudah hidup di zaman modern untuk apalagi memikirkan itu sayang, status kita sekarang sudah berbeda ketika bertemu.'' Friska menundukkan wajahnya tidak berani menatap Riko.


''Ya kau benar Riko tapi tetap saja ada yang tidak.'' Riko tidak mau mendengar ucapan Friska kembali mereka menyatukan dua buah ceri itu.


Friska terbelalak bahkan dia tidak menyangka Riko sekarang melakukan itu tanpa seijin ya.


''Jangan banyak bicara lagi kalau tidak aku akan marah dan menghukum mu,'' kekeh Riko.


''Ya,'' angguk Friska.


Riko membantu Friska lalu mereka berdua keluar dari sana dengan wajah yang terlihat lebih segar daripada sebelumnya.


''Tunggu di sini ya aku akan mengambil makanan.'' Friska mengangguk dia benar-benar bodoh sekali bersama dengan Riko jam segini malah mandi.


''Aku masuk angin dan laper lagi,'' kesalnya.


Siapapun yang melihat mereka berdua seperti itu akan ditertawakan. Friska memilih naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat lagi sembari menunggu Riko.


Pintu terbuka Friska langsung duduk ketika melihat Riko membawa berbagai jenis makanan di atas troli.


''Sayang, ayo kita makan!" Friska terkejut bukan main bagaimana mungkin makanan ini langsung ada di jam seperti ini.


''Kau yang memasaknya?" tanya Friska tidak percaya.


''Itu sekarang tidak penting, kita dua harus mengisi perut agar bisa kembali melakukan itu,'' goda Riko.


Friska menahan malu wajahnya memerah menahan kekesalan terhadap Riko.


Rasa lapar yang sudah menyerang perutnya Friska tidak peduli lagi dia langsung mengambil beberapa makanan.


Riko tersenyum lebar melihat porsi makan Friska naik dua kali lipat daripada sebelumnya.


''Pelan-pelan makan ya sayang,'' ucap Riko karena melihat Friska memakannya sudah sampai belepotan.


''Maaf aku tidak sengaja melakukannya,'' ucapnya malu.


''Semua makanan ini untukmu kalau boleh memakannya sepuasmu,'' ucap Riko sambil memasukkan udang bakar ke dalam piring Friska.


''Kenapa udangnya hangat sekali hubby?" tanya Friska heran.


''Aku juga tidak tahu kenapa makanan ini bisa semuanya hangat?" ucapnya.

__ADS_1


''Kau memasak tadi sebentar?" tanya Friska sambil mengunyah.


''Tidak, tidak mungkin aku melakukan ini secepat kilat sayang.'' Friska juga heran namun itu bukan masalah untuknya dia kembali memasukkan makanan itu ke dalam mulut.


Sementara itu di lantai bawah ini di tempatnya adalah dapur pelayan sibuk memasak karena Riko begitu mendadak menyuruh mereka untuk memasak.


''Ayo cepat masaknya jangan sampai tuan datang dengan tangan kosong!" seru kepala pelayan.


''Ya madam.'' Semuanya bergerak kali ini mereka harus lembur kebaikan sang majikan.


Mereka bahkan senang karena mendapatkan kabar majikan telah sarapan dalam kamar. Otomatis tidak lama mereka akan mendapatkan generasi penerus keluarga ini.


Setelah menghabiskan makanan hampir semuanya Friska merasa tidak kuat lagi untuk bergerak.


''Aku kekenyangan hubby,'' ucapnya malu.


''Baguslah, biar tambah berat badanmu,'' kekeh ya.


''Kalau aku nanti jelek bagaimana kau pasti tidak akan menyukaiku.'' Friska memayunkan buah ceri itu sampai membuat Riko gemas melihatnya.


''Mau jelek atau tidak aku tetap akan selalu mencintaimu sayang,'' bisik Riko.


Friska merasa bahagia sekali akhirnya ada pria yang benar-benar tulusnya tidak seperti Frans tega melakukan itu kepadanya.


''Aku berharap mas Frans sadar apa yang dia dilakukan dahulu,'' batin ya.


''Kau sedang melamun apa?" tegur Riko.


''Aku mau tidur tapi jangan diganggu ya,'' ucapnya waspada.


''Memangnya kalau diganggu kenapa?" tanya Riko sambil menggoda Friska supaya dia mau kembali melakukan hubungan itu menjelang pagi hari.


''Hubby,'' rengeknya.


''Ya ya, aku mengerti ya udah sana tidur, aku temani atau tidak?" tawar Riko.


''Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Friska heran.


''Aku udah tidak bisa lagi tidur lebih baik mengerjakan pekerjaan kantor sebelum melanjutkan perjalanan kita sayang,'' ucap Riko.


''Aku sendiri saja hubby, kau boleh bekerja.'' Friska merasa lebih baik kalau Riko saat ini menjauh dari ya.


''Ya,'' angguk Friska.


''Baiklah, kalau butuh sesuatu panggil saja aku, tekan ada tombol ini nanti aku akan tahu.'' Friska langsung mengangguk mengerti bagaimana pun juga saat ini dia benar-benar ingin beristirahat total.


Riko tidak lupa memberikan sentuhan hangat ke kening Friska meninggalkan kamar itu.


Friska memastikan pria itu sudah keluar dari kamar karena dari tadi jantungnya berdebar kencang. Ada yang membuatnya merasa aneh dalam kamar ini tiba-tiba suasananya berbeda.


''Kog aku merasakan ada yang berbeda daripada sebelumnya tapi apa?" gumamnya pelan.


Friska menoleh ke sekelilingnya kamar ini tiba-tiba wangi pandangannya langsung tertuju kepada tempat tidur yang sudah berganti seprai.


''Oh My God?! Siapa yang melakukan ini?" pekiknya.


Friska merasa ketakutan semua yang dia tinggal sebentar tiba-tiba sudah bersih dan berubah menjadi lebih baik.


Tidak sengaja dia telah menekan tombol berwarna kuning tiba-tiba pintu terbuka menampilkan beberapa pelayan langsung mendekat kepadanya.


''Ada yang bisa saya bantu nona?" ucapnya.


''Kalian datang dari mana?" tanya Friska semakin terkejut.


''Nona memanggil kami.'' Friska geleng-geleng kepala karena dia tidak merasa memanggil seorang masuk ke dalam kamar ini.


''Aku butuh penjelasan mengenai ini semuanya?" tunjuk Friska.


''Nona tidak perlu khawatir karena kami yang melakukannya sesuai dengan express.'' Friska membuka mulutnya mendengar ucapan pelayan itu.


''Orang kaya memang beda melakukan hal-hal yang begitu di luar nalar,'' ucapnya dalam hati.


Friska kembali menyuruh mereka untuk keluar karena dia ingin istirahat dan menenangkan pikiran.


''Aku harap setelah mentari nanti tiba tidak ada yang menggangguku,'' ucapnya pelan.


Namun dibalik itu semuanya ternyata Riko memperhatikannya dari balik kamera pengawas. Pria itu tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan istrinya itu yang sungguh menggemaskan.


''Aku sudah menduga kau akan terkejut sayang,'' kekeh ya.

__ADS_1


Menunggu beberapa jam lagi mentari akan tiba, Riko memilih untuk melihat pergerakan perusahaannya yang ditinggal beberapa minggu ini.


Pria itu tersenyum ternyata mami yang menghandle perusahaan selama dia melakukan honeymoon.


''Mami memang wanita yang hebat,'' kekeh ya.


Riko tidak jadi bekerja dia langsung menuju ke kamar untuk istirahat bersama dengan Friska.


Wanita itu bahkan sudah terlelap dalam tidurnya hanya beberapa menit yang lalu.


''Dia bahkan tidur sangat menggemaskan,'' ucap Riko lalu pelan-pelan masuk ke dalam selimut.


''Aku mencintaimu sayang,'' bisiknya lalu membawa Friska masuk ke dalam pelukannya.


Friska terbangun karena merasakan perutnya berat dan sulit untuk bernafas.


''Aduh siapa yang menimpaku?" keluhnya.


''Aku?" Suara berat membuat terkejut kedua bola matanya langsung terbuka lebar melihat sosok pria yang baru saja jadi suaminya itu seorang tersenyum sekarang.


''Hubby?!" pekiknya.


Friska tiba-tiba mendorong Riko sampai jatuh ke bawah tempat tidur hingga pria itu meringis kesakitan.


''Kau keterlaluan sekali sayang, pinggangku sakit?" keluhnya.


''Maaf, kau yang membuatku terkejut makanya aku refleks mendorongmu,'' ucapnya.


Friska menolong Riko kembali naik atas tempat tidur mereka berdua saling bertatap satu sama lain.


''Apa yang kau pikirkan?" tanya Riko karena tiba-tiba saja Friska menatapnya dengan tatapan yang berbeda.


''Tidak ada,'' jawabnya singkat.


''Yakin?" tanya Riko sekali lagi.


''Ya,'' angguk Friska.


Mereka berdua memutuskan untuk menuju kemeja makan kembali ingin mengisi perut yang sudah kosong.


Kepala pelayan langsung bergegas untuk menyuruh bawahannya mempersiapkan semua makanan yang mereka masak tadi pagi.


''Ayo tuan dan nona sebentar lagi akan tiba di sini,' serunya.


Friska dan Riko bergandengan tangan menuju meja makan sambil tersenyum hangat. Sepasang pengantin itu benar-benar bahagia sekali menikmati honeymoon.


''Ayo kita makan sayang!"ucap Riko.


''Makanan ini terlalu banyak sekali hubby,'' ucapnya.


''Kalau tidak habis jangan makan semua,'' balas Riko.


''Nanti jadi sayang sekali dibuang hubby,'' lirihnya.


Riko dapat melihat raut wajah Friska sedih melihat makanan di atas meja terlalu banyak.


''Kalian memasak jangan lagi seperti ini mengerti!" perintah Riko.


''Baik tuan,'' jawab mereka semuanya dengan serempak.


Friska bahagia sekali mendengar dia menghabiskan beberapa menu yang tersaji di atas meja.


Riko tidak menikmati makanannya namun hanya melihat Friska dia sudah kenyang.


''Kau tidak makan hubby?" tanya Friska heran.


''Nanti, setelah ini aku akan memakanmu.'' Tidak tahu lagi bagaimana wajah Friska sudah merah bagaikan kepiting rebus.


Dia begitu manis sekali karena banyak orang di sekeliling mereka berdua.


''Hubby, mereka mendengarnya,'' bisik ya.


''Kalian mendengar apa yang kukatakan tadi?" tanya Riko.


''Tidak tuan,'' jawab mereka semuanya.


''Astaga, mereka kompak dan menurut,'' ucap Friska terkejut bukan main.


''Makan hubby!" pekik Friska.

__ADS_1


''Baiklah aku akan memakannya karena kau yang mengatakan sayang.'' Friska benar-benar geleng-geleng kepala melihat kelakuan Riko berbeda jauh sebelumnya ketika mereka kenalan pertama kalinya.


__ADS_2