
Riko tidak sabaran mau mendengar penjelasan pengacaranya itu. Bagaimanapun juga Friska harus menjadi istrinya apapun yang terjadi.
Biar orang-orang tidak menyukai tindakannya saat ini karena merebut istri orang yang masuk berstatus.
''Apa solusinya agar aku bisa memilikinya?" tanya Riko serius.
''Tuan dapat memilikinya detik ini juga tapi karena adanya anak yang menghubungkan antara mereka berdua untuk sementara ini sudah di baik di tunda.'' Riko sudah menduga hal ini namun dia tetap bersikeras agar Friska tetap menjadi miliknya seorang.
''Aku tidak mau tahu kau harus melakukan cara untuk membuat mereka berdua pisah,'' seru Riko.
''Hanya ada satu cara jangan sampai suami nona Friska mengetahui kondisinya saat ini tuan.'' Riko tiba-tiba memiliki ide untuk sementara ini dia akan menjadi ayah dari buah hati Friska.
''Lakukan perceraian itu tanpa sepengetahuan Friska, kau mengerti!" lanjut Riko.
''Baik tuan, saya akan memberitahukan secepatnya kepada anda.'' Setelah itu pengacara langsung mengundurkan diri.
Riko kembali ke ruang tengah untuk memastikan keadaan Friska yang ditinggal seorang diri di sana.
''Friska, sedang apa kau di sini?" tanya Riko terkejut wanita itu berdiri di depan pintu ruang kerja ya.
''Aku mau bicara denganmu,'' balasnya.
''Ayo, masuklah ke dalam!" Riko dengan senang hati mempersilahkan Friska mengunjungi ruang kerjanya untuk pertama kali.
Friska terkejut melihat isi ruangan itu yang besar dan luas bahkan banyak penghargaan yang terpanjang di sana.
''Pria bukanlah orang sembarangan aku tahu dari semua ini dia memiliki kekuasaan yang tidak kecil,'' batin Friska.
''Apa yang ingin kau bicarakan Friska?" tanya Riko sambil menghilangkan rasa canggung diantara mereka.
''Riko, aku menerima tawaran mau tinggal di luar negeri,'' ucapnya dingin.
''Benarkah? Aku tidak salah mendengarnya kan?" tanya Riko begitu senang.
''Ya, aku tidak mau mas Frans mengetahui kondisi ku saat ini Riko,'' lirihnya.
''Baik, besok kita akan keluar negeri sementara ini lebih baik kau istirahat.'' Friska mengangguk mengerti dia keluar dari sana dengan wajah yang sendu.
''Apa keputusan sudah benar atau tidak ya?" batin Friska sambil menuju ke kamarnya.
''Nona, kalau membutuhkan sesuatu kami berada di luar,'' ucap pelayan itu mengingatkan Friska.
''Ya Mbak,'' jawab Friska datar.
Sendirian di dalam kamar itu membuatnya terasa dingin dan sepi. Biasanya dia ditemani sosok pria yang membuatnya tenang tiap malam namun sekarang semuanya tidak ada.
__ADS_1
''Apa salahku mas sampai kau ingin melakukan untuk kepadaku?" ucapnya sesenggukan.
Friska memilih menumpahkan semua tangisannya di kamar itu sendirian tanpa ada yang menemaninya.
Namun dibalik itu semuanya Riko memperhatikannya dari balik kamera pengawas sengaja dibuat untuk memantau pergerakan Friska.
''Aku tahu ini sulit untukmu Friska, percayalah untuk sekarang ini kalau akan berubah menjadi wanita yang cantik,'' batin Riko lalu dia ikut istirahat.
Di luar sana Frans hampir gila tidak menemukan keberadaan Friska. Dia benar-benar kesal apalagi teman yang hendak membeli Friska udah marah karena transaksi gagal.
''Di mana kau Friska? Seandainya saja kau mau mendengar yang kukatakan semua ini tidak akan terjadi,'' kesalnya.
Frans sampai detik ini tidak menyadari perbuatannya kepada Friska terus menyalahkan wanita itu.
Hingga mentari pagi hari telah menyambut mereka semuanya, Friska lari menuju ke kamar mandi karena merasa perutnya tidak enak.
Berulang kali dia muntah mengeluarkan cairan yang begitu banyak. Lelah dan tidak memiliki energi membuatnya lemas sulit untuk berdiri.
''Oh perutku sakit sekali,'' rintih ya.
Pintu terbuka siapa lagi yang masuk kalau bukan Riko memastikan keadaan Friska. Namun pria itu sama sekali tidak menangkap keberadaan Friska.
''Friska, di mana kau?" panggil Riko cemas.
''Friska?!" pekiknya.
''Riko, perutku sakit sekali,'' ucapnya sambil menahan.
''Tenanglah aku akan membawamu ke rumah sakit,'' ucap Riko sama dengan dia juga panik melihat keadaan Friska.
Friska sangat sulit untuk menahan perutnya yang terus sakit. Walaupun dia sudah diberikan minyak mengurangi rasa sakit tetap saja.
''Friska, kau ber merah?!" teriak Riko tidak sengaja melihat kedua kaki Friska sudah berganti warna kulit.
''Apa? Riko aku tidak mau kehilangan baby?" tangisnya.
''Kau tenanglah sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit,'' ucap Riko sambil memeluk Friska.
Friska semakin merasakan kesakitan yang luar biasa dalam perutnya. Sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit dengan selamat.
''Kalian periksa dia cepat!" ucap pria itu tergesa-gesa memasuki rumah sakit.
''Baik tuan,'' jawab dokter itu dengan cepat.
Friska akhirnya memasuki ruang operasi dia benar-benar ketakutan apalagi kehilangan buah hati membuatnya semakin terluka.
__ADS_1
''Aku mohon tolong selamatkan baby ku,'' teriak Friska.
''Ya Nona, kami akan berusaha keras untuk menyelamatkan kalian berdua.'' Friska merasa senang sedikit mendengar ucapan doctor.
''Dok, seseorang ini bicara dengan anda sekarang ini?" lapor perawat.
''Siapa? Bukankah dia tidak tahu kalau aku sangat ini sedang sibuk?" pekiknya.
''Tuan Riko dok.'' Kedua bola mata itu menyebar mendengar ucapan asisten.
''Mau apa dia menemui ku disaat yang penting ini?" pekiknya.
Setelah memastikan keadaan Friska sudah siap untuk dioperasi dokter itu keluar sebentar.
''Maaf sudah mengganggumu,'' ucap Riko merasa bersalah.
''Ada apa? Kau tidak tahu saat ini aku sedang mempersiapkan operasi untuk istrimu,'' ucapnya ketus.
''Ada yang ingin kau minta darimu sebelum melakukan pengobatan kepada Friska!" Dokter itu terkejut dia benar-benar tidak menyukai transaksi seperti ini.
''Apa itu tuan?" tanya dokter itu ketakutan.
''Buat istriku mengalami kehilangan untuk selamanya.'' Kedua bola mata dokter itu lebar mendengar permintaan pasiennya yang tidak cocok untuk dilakukan.
''Maaf tuan kami tidak bisa melakukan itu sebelum memiliki persetujuan langsung dari direktur,'' tolaknya dingin.
''Aku adalah direktur rumah sakit ini jadi jangan pernah membantah perintah ku.'' Dokter itu tertegun mendengar permintaan Riko.
''Tapi tuan kami belum pernah melakukan itu kepada seorang pasien apalagi saat ini dia adalah istrimu,'' tolaknya lagi.
''Aku mempercayai mu kepadanya, tolong kerjasama lakukan keinginanku ini.'' Dokter itu mengangguk mengerti lalu membalik masuk ke dalam.
Riko telah memiliki kesempatan untuk membuat Friska tidak akan pernah berpaling kepadanya lagi.
Di dalam sana Friska berjuang untuk menyelamatkan baby dari hasil pernikahannya dengan Frans.
''Kita lakukan operasi ini jangan sampai hari sesuatu yang buruk terjadi.'' Semuanya serentak mengatakan ia untuk membuat pemilik rumah sakit bahagia.
''Baik dok,'' ucap mereka semuanya.
Friska dapat mendengar apa yang mereka katakan walaupun kesadarannya sudah mulai hilang.
''Mas Frans,'' lirihnya lalu memejamkan kedua bola mata.
Tidak tahu apa yang dilakukan oleh perawat dan dokter kesadaran nya langsung hilang membuatnya sudah masuk ke dalam mimpi.
__ADS_1