
Riko sama sekali tidak menyangka kalau Friska mengetahui dialah pria yang hendak menyewa dia kemarin. Perasaannya begitu sakit sekali karena dipermainkan oleh para pria.
"Bagaimana bisa kalian melakukan itu kepada aku Riko? Kau berpura-pura mendekati ku hanya ini?" tuduh Friska.
"Bukan seperti itu, aku akan menjelaskan semuanya kepada-mu." Friska sama sekali tidak mau mendengar penjelasan Riko.
Cukup yang tadi dia dengar sudah membuktikan kalau Riko sama dengan Frans.
"Tinggal kan aku Riko, berikan aku waktu untuk sementara ini," ujarnya.
"Friska," lirihnya.
Wanita itu langsung berbalik tidak mau melihat wajah tampan Riko. Perasaannya begitu kecewa sekali harus mengetahui fakta demi fakta terjadi kepadanya.
"Mas Frans, kau semua penyebabnya andai aku dan Riko tidak pernah dipertemukan ini semuanya tidak akan terjadi," tangisnya.
Di luar Riko menyesali perbuatannya barusan telah mengakui apa yang telah terjadi sebelumnya.
Dari ujung lorong terlihat mami datang dengan langkah yang tergesa-gesa.
Riko begitu malas melihat kedatangan orang tuanya itu udah tahu apa yang akan dilakukan kepada Friska.
"Riko, kenapa kau diluar?" tanya mami pelan.
Riko menatap secara intens mami ya itu tiba-tiba menjadi lembut Kepadanya.
"Mami, tadi naik apa ke sini?" tanya Riko heran.
"Diantar supir, memangnya kau pernah melihat mami tiap ke mana sendirian?" Riko geleng-geleng kepala karena yang dikatakan mami benar.
"Bagaimana keadaan ya?" tanya mami sambil berdehem.
"Friska?" tanya Riko sampai tercengang.
"Siapa lagi kau rawat di dalam sana kalau bukan wanita itu?" ketus ya.
"Friska sudah sadar dari koma namun yang dia tidak mau menemui ku," ucap Riko sedih.
"Kenapa? Bukannya kalian saling mencintai?" sindir mami.
Riko mengusap wajahnya yang terlihat kusut beberapa hari ini memang dia kurang tidur.
"Mami, Friska marah kepadaku karena dulu aku pernah menyewa dia dari mantan suaminya yang saat ini menjadi buronan," lirihnya.
"Jadi, dia juga pernah menikah?" tanya mami terkejut.
"Ya, suaminya itu bodoh sekali mami," tambah Riko.
"Dan kau masih menampungnya?" Riko mengangguk benar-benar menyukai wanita yang saat ini sedang bersamanya.
"Kenapa kau tidak dari dulu membawanya kepada mami bodoh." Ibu dan anak itu saling aduh mulut karena kebodohan Riko.
"Mami, tidak semudah itu membawa Friska karena dia wanita yang berbeda dari orang-orang di luar sana," keluh Riko.
"Sama saja bodoh, sekarang kau harus memperbaiki hubungan dengan Friska." Riko terkejut secepat ini mami menyuruhnya untuk kembali bersama Friska.
"Jadi mami sudah merestui hubungan kami?" tanya Riko sambil menatap manik mata mami yang terlihat sendu.
"Ya, setelah ku pikir-pikir ada baiknya kalian berdua menjalin hubungan terlebih dahulu," ucapnya namun tidak mau melihat wajah putra ya itu saat ini sedang senang.
Riko langsung berhambur memeluk mami tidak sia-sia dia membawa Friska masuk ke dalam lingkaran keluarganya yang rumit.
"Bantu Riko meyakinkan Friska mami," pintanya.
"Apa spesialnya wanita itu sampai kau tergila-gila dengannya, mami sungguh heran melihat putra aku yang satu ini benar-benar sudah jatuh cinta." Mami menarik kuping Riko hingga membuat pria tampan itu kesakitan.
"Mami, jangan ditarik kencang nanti putus," rengeknya.
"Biarin, biar sekalian kau tidak memiliki telinga anak bodoh." Mereka berdua tertawa terbahak-bahak di luar itu namun tidak menyadari Friska memperhatikan dari balik jendela.
Friska bersandar di balik pintu sambil memejamkan kedua bola mata.
''Aku mau pulang,'' ucapnya sedih.
Cukup lama Riko sedang menunggu kepastian Friska akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam setelah mendapatkan izin ibu ya sendiri.
''Kali ini aku dan Friska akan bersatu,'' ucapnya penuh dengan percaya diri.
Pintu terbuka secara perlahan kedua bola mata itu menyapu seluruh isi ruangan.
Bola mata itu menangkap sosok wanita sedang meringkuk namun tiba-tiba terdengar suara tangisan dibalik selimut itu.
''Friska ada apa?" tanya Riko panik melihat keadaan Friska saat ini.
''Aku mau pulang,'' lirihnya.
''Baik, untuk saat ini dokter masih belum memberikan izin meninggalkan rumah sakit. Tunggulah sebentar lagi beristirahat lebih baik untuk meringankan sakit yang ada di tubuh kamu Friska,'' tambah Riko.
Friska berbalik menatap wajah pria itu yang tulus merawatnya berbeda dengan Frans, tidak peduli justru menyuruhnya untuk melayani seorang pria yang tidak dikenal.
''Kau kenapa memilihku Riko?" tanya Friska.
''Aku menyukaimu Friska, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama,'' ucapnya dengan mantap.
__ADS_1
''Tapi aku tidak mencintaimu karena masih berstatus istri orang.'' Riko tertawa kecil mendengar ucapan Friska.
''Kau yakin kalian masih berstatus suami istri?" tanya Riko.
''Ya, emangnya kenapa?" tanya Friska menjadi bingung dengan obrolan mereka ini.
''Frans, itu adalah nama suamimu bukan? Dia sudah menandatangani kalau kalian sekarang sudah tidak suami istri lagi.'' Kedua bola mata Friska terbuka melebar secepat itu mantan suaminya menandatangani perceraian.
''Dia benar-benar menandatangani surat itu ya,'' lirihnya.
''Ya, sekarang ada yang ingin mau katakan kepadamu Friska.'' Mata yang sudah penuh dengan air langsung tumpah.
''Apa itu?" tanya Friska pelan.
''Kau mau menjalani kehidupan baru bersamaku?" ucapnya.
''Secepat itu Riko? Bahkan tinta yang ditandatangani mas Frans belum juga kering?" lirihnya.
''Aku tidak peduli dengan itu yang penting kita berdua bersama Friska.'' Riko memegang kedua tangan Friska sampai menatap wanita pujaan ya itu.
''Berikan aku waktu Riko, untuk saat ini aku masih belum bisa berpikir dengan jernih.'' Riko mengangguk mengerti dia paham betul mengenai fisik Friska.
''Mami dari tadi menunggu di luar dan banyak bertanya mengenai tentangmu,'' tambah Riko.
''Apa yang kalian bicarakan?" tanya Friska berpura-pura tidak tahu.
''Mami sudah merestui hubungan kita Friska, karena itu aku berani menyatakan itu kepadamu.'' Friska diam sambil menundukkan kepalanya.
''Apa benar seperti itu?" tanyanya lagi.
''Ya, mami meminta kita berdua datang ke rumahnya setelah kondisimu pulih.'' Friska mengangguk mengerti dia harus mempersiapkan mental untuk menghadapi mami Riko yang bener-bener galak.
''Riko, kecelakaan ini bagaimana buntutnya?" tanya Friska baru menyadari hal itu.
''Emma melakukan semua ini Friska, aku tidak menyangka hindu yang mampu ingin membuatmu hilang selamanya.'' Friska menutup mulutnya tidak percaya.
''Jadi?" tanya Friska lagi.
''Dia sudah menggantikan posisi mu Friska, dia sudah di bawah ke tempat tanah keluarganya.'' Friska benar-benar merasa bersalah padahal dia baru mengenal Emma.
''Aku mau melihatnya Riko,'' ucap Friska.
''Tidak boleh, kau tidak tahu bagaimana dengan keluarganya kalau mengetahui kedatangan mu di sana Friska,'' tolak Riko.
''Tapi aku ingin melihat sekali sebel meninggalkan negara ini Riko,'' ucapnya memohon.
''Baiklah, nanti sore kita pergi ke sana.'' Friska merasa lebih tenang dan dia harus mempersiapkan mental untuk menemui keluarga Emma.
''Kau semakin ingin menemuinya Friska?" tanya Riko merasa tidak yakin.
''Ya,'' angguknya.
''Baiklah, aku akan berada di belakangmu selalu.'' Mereka berdua tidak lama kemudian akhirnya mereka tiba di kediaman Emma.
Masih banyak pengunjung yang melihat Emma untuk terakhir kalinya.
Pengunjung melihat kedatangan Riko bersama dengan sosok wanita yang sama sekali mereka tidak kenal.
Kabar udah sampai ke telinga kedua orang tua Emma lalu mereka keluar untuk menemui Riko.
Sebagai mantan mertua, ibu Emma masih belum terima kalau menantunya cepat ini mencari pengganti putrinya.
''Beraninya kau datang ke sini sambil membawa wanita asing?" bentak ibu Emma.
''Mah, bukan keinginanku datang ke sini tapi dia,'' tunjuk Riko kepada Friska.
''Mau apa kau ke sini? Saya tidak mengenal mu lebih baik keluar?" ujarnya.
''Saya memang tidak mengenal Emma tapi kami bertemu beberapa kali. Nyonya, mungkin anda mendapatkan sesuatu kalau semua yang terjadi ini adalah atas perbuatan Emma.'' Ibu Emma terkejut mendengar ucapan Friska.
''Apa yang kau katakan?" sentaknya tidak terima.
''Emma berusaha untuk menabrak ku tapi apa yang terjadi di sendiri yang membuatnya menjadi seperti ini Nyonya. Korban di sini adalah saya tapi karena keadaan sudah seperti ini saya sudah memaafkan Emma.'' Pengunjung menjadi riuh mendengar pengakuan Friska.
''Aku tidak menyangka kalau Emma mampu melakukan itu kepada seorang wanita yang baru saja dikenalnya,'' bisik pengunjung tersebut.
''Jangan menuduh kamu di aku bawa pihak berwajib karena sudah fitnah Emma,'' bentaknya.
''Saya tidak menuduh kalau tidak percaya kalian bisa melihat berita sekarang.'' Friska lalu meninggalkan tempat itu setelah mengatakan yang sebenarnya.
Perasaan yang sangat ini begitu tenang satu persatu masalah akhirnya diselesaikan dengan baik.
Ibu Emma penasaran dengan video yang dikatakan Friska kedua bola matanya melebar melihat aksi Emma yang sungguh mengerikan.
''Tidak mungkin? Semua itu adalah bohong?" teriaknya.
Pengunjung yang bersimpati kepada Emma tiba-tiba langsung membubarkan diri karena mereka salah datang ke tempat seorang yang tidak layak untuk dikunjungi.
''Aku benar-benar kecewa dan kesal ternyata Emma tidak secantik wajahnya dengan perilakunya.'' Ibu Emma terus berteriak agar pengunjung tidak membubarkan diri.
''Kalian mau ke mana? Acara belum selesai sebentar lagi Emma akan dimakamkan?" teriaknya.
''Kau tidak apa-apa Friska?" tanya Riko memastikan keadaan Friska.
__ADS_1
''Ya, hanya sedikit pusing karena terlalu banyak berdiri.'' Riko dengan cepat langsung membawa Friska masuk ke dalam gendongannya.
''Aku akan membawamu ke mobil,'' kekeh Riko.
''Apa yang kau lakukan semua orang melihat kita?!" pekik Friska.
''Aku tidak peduli biarkan mereka melihat karena kau adalah calon istriku sekarang,'' bisiknya.
Wajah Friska benar-benar terlihat memerah karena mendapatkan godaan dari Riko.
Mereka berdua langsung bergegas menuju ke rumah karena Friska sama sekali tidak mau lagi kembali ke rumah sakit itu.
''Kau sudah siap atau belum?" tanya Riko setelah memastikan Friska siap menghadapi mami.
''Ya,'' jawabnya.
Riko membawa Friska masuk ke dalam sambil bergandengan tangan. Begitu banyak pelayan melihat aksi sepasang kekasih itu mereka menyukainya.
''Tuan kali ini pasti akan bahagia karena sudah menemukan cinta sejati,'' ucap pelayan.
''Kenapa tidak dari dulu tuan menemukan nona baru semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi,'' lirihnya.
Obrolan mereka akhirnya berhenti karena majikan turun dengan styles yang begitu modis.
''Kalian sudah sampai rupanya,'' ucap mami dan menatap Friska dari atau sampai ke bawah.
''Kami baru dari tempat Emma mami, setelah itu langsung menuju ke sini.'' Mami sedikit terkejut mendengar ucapan Riko namun perasaannya berusaha untuk tetap tenang.
''Duduklah! Saat ini kita butuh untuk bicara secara serius,'' ucap mami.
''Ya Nyonya,'' angguk Friska.
''Mami mau mengatakan apa?" tanya Riko.
''Kalian kapan akan menikah?" tanya mami langsung ke point.
Friska langsung menaikkan kepalanya melihat ibu dan anak untuk secara serius.
''Apa maksudnya Riko?" tanya Friska panik.
''Friska, apalagi yang akan kita tunggu bagaimana minggu depan kita menikah?" usul Riko.
''Tapi aku-'' Mami dengan cepat langsung memotong ucapan Friska.
''Jangan menolak nak, mami minta maaf sudah membuatmu tidak nyaman selama di sini. Selama ini kedua bola mata ku telah gelap melihat semua orang-orang di sekitarku termaksud Riko,'' lirihnya.
''Ibu tidak salah jangan mengatakan itu,'' ucap Friska sambil menggenggam tangan mami.
''Kau pasti banyak menderita selama berada di sini, kalau saja Emma tidak melakukan itu mungkin mami tidak akan pernah sadar.'' Riko membawa mami masuk ke dalam pelukannya.
''Mam, sudahlah jangan merasa bersalah seperti itu karena semuanya sudah berlalu. Bagaimana kalau kita bersamaan kembali ke tanah air sekaligus mempersiapkan pernikahan?" usul Riko.
''Ya, Mami sangat setuju dengan itu bagaimana denganmu nak?" tanya mami kepada Friska.
Friska bingung harus menjawab apa dengan situasi saat ini yang membuatnya semakin rumit.
''Baiklah, Friska setuju.'' Riko begitu bahagia sekali akhirnya keluarga yang dia impikan segera terwujud.
Setelah meninggalkan kenangan yang buruk di negeri kincir angin itu, Friska mengambil beberapa pelajaran yang belum pernah dia terima.
''Selamat tinggal Emma, aku tahu kau adalah wanita yang baik hanya saja lingkungan membuatmu menjadi seperti wanita jahat,'' batin Friska sampai melihat langit yang mendung.
''Ayo masuk ke dalam Friska, nanti hujan kau kena dan sakit,'' ucap Riko begitu posesif terhadap Friska.
''Ya,'' angguknya.
Akhirnya mereka kembali ke tanah air dengan selamat setelah itu Riko mengumumkan pernikahan mereka.
Frans melihat berita itu yang trending dimana-mana membuatnya menjadi panas dingin.
''Friska menikahi pria kaya nomor satu di negeri ini? Bagaimana mungkin dia bisa mengenal Riko?" batinnya.
Padahal dahulu Riko dia kenal di sebuah ketuk untuk melakukan transaksi menyewa istrinya namun tiba-tiba menjadi terwujud.
''Aku harus kembali menemui Riko, bagaimana mungkin dia mau menikahi Friska,'' ucapnya lalu bergegas menuju ke kediaman Riko.
Sementara itu di manson Riko begitu sibuk untuk mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan yang sebentar lagi akan digelar.
Mereka bahkan tidak menyadari kedatangan Frans menyelinap masuk ke dalam. Pria itu benar-benar kagum melihat listing rumah Riko bagaikan istana.
''Di mana Friska ya?" batinnya.
''Mas, boleh antar ini ke kamar nona Friska?" ucapnya.
''Ya tentu,'' jawab Frans dengan senang hati menerima benda itu.
Pakaian sepasang untuk dikenakannya malam ini karena tamu banyak diundang. Frans benar-benar tidak percaya kalau Friska akan menikah dengan Riko.
''Kamar Friska ternyata di sini,'' lirihnya pelan.
''Apa yang kau lakukan di depan kamar calon istriku?" Frans ketakutan melihat wajah Riko tidak menyukai kehadirannya di sana.
''Maaf tuan, tadi seorang pelayan menyuruhku mengantar pakaian ini kepada nona Friska,'' ucapnya gugup.
__ADS_1