
Friska terlena dia memejamkan mata menahan diri agar tidak berteriak kencang. Riko tersenyum lebar melihat Friska pasrah tapi sebagai pria yang bertanggungjawab mana mau mempertontonkan mereka berdua di umum.
Riko membawanya masuk ke dalam kamar mereka tidak jauh dari kolam. Penyatuan itu tidak terlepas hingga Friska tidak sadar saat ini mereka sudah dalam kamar.
"Sayang," panggil Riko setelah melepaskan itu.
"Sejak kapan kita di sini?" tanya Friska heran.
"Kau terlalu keenakan ya sampai tidak sadar kita sudah sampai di kamar?" kekeh Riko.
Wajah Friska benar-benar memerah tidak bisa dibohongi lagi kalau ia menyukai sisi kelembutan Riko.
"Hubby kalau kau ingin lakukan lah," ucap Friska pelan.
"Benarkah? Kau tidak marah kan?" seru Riko.
"Ya, aku sudah menjadi istri dan kau adalah suamiku," lirihnya.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu sayang," bisik Riko pelan.
Friska mengangguk mengerti dia kembali memejamkan mata menahan setiap jari Riko. Pria itu benar-benar sudah tidak sabar lagi menahan gejolak dalam batinnya sudah lama tidak pernah dia salurkan.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya pelan," bisik Riko lagi.
Friska tidak menjawab ia sudah berdebar kencang menunggu hal selanjutnya.
Perlahan namun pasti mereka sudah mandi keringat bersamaan bawah selimut tebal. Friska benar-benar tidak bisa menahan dirinya karena permainan Riko.
"Riko jangan dorong kuat, aku masih sakit," lenguh ya.
"Maaf kau sungguh menggoda sayang, ntah aku bisa berhenti atau tidak kalau kita sudah seperti ini," kekeh Riko.
Friska memukul pundak Riko karena pria itu sudah tidak terkendali lagi.
"Baik sayang," balas Riko.
Riko benar-benar bahagia malam itu berhasil membawa Friska ke dunia yang berbeda.
Malam yang begitu panjang sampai mereka berdua melupakan makan malam. Padahal pelayan sudah lama menunggu di meja makan namun yang mempunyai pulau tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Kita tunggu sebentar lagi teman-teman, tuan dan nyonya mungkin ketiduran," ucap kepala pelayan.
"Ya Bu kami mengerti kog," jawab mereka sambil tertawa kikuk.
__ADS_1
Orang lalu datang ke pulau ini mereka sudah tahu soal majikan, malah mereka bahagia bisa masih melayani majikan ya.
Tengah malam Friska terbangun karena merasakan perutnya yang lapar karena tidak mengisi selama sampai di pulau ini.
Ia merasakan sekujur tubuhnya sakit luar biasa karena kelakuan Riko tidak ada hantunya terus meminta jatah kepadanya.
"Jam berapa ini?" gumam ya pelan.
Kedua bola matanya tertuju ke melihat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Friska melihat pria di sampingnya itu terlalu dalam tidurnya. Merasa tidak ada yang bersalah sedikitpun sudah membuatmu sangat sulit untuk berjalan.
"Enaknya aja bantu aku jalan dia tidak mau," ringis ya.
Ternyata pergerakan Friska membuat tidur Riko terganggu, dia membuka kedua bola matanya terkejut melihat Friska hendak menuju ke kamar mandi tapi cara jalannya lambat lucu.
"Kenapa jalan mu seperti itu sayang?" tanya Riko merasa tidak malu dia berdiri tepat di hadapan Friska dalam keadaan yang polos.
"Kenapa kau tidak mengenakan pakaian mu?!" teriak Friska kuat sambil menutup kedua bola matanya terkejut melihat benda panjang yang baru bangun dari tidurnya padahal tidak ada disentuh.
"Itu sekarang tidak penting aku bertanya kau kenapa jalan seperti itu?" tanyanya lagi sambil mendekati Friska terus mundur karena tidak sanggup melihat benda panjang itu.
__ADS_1