
Friska tidak menyadari apa yang terjadi dengan dirinya saat ini setelah selesai melakukan operasi. Keesokan harinya dia sadar merasakan sekujur tubuh rumah sakit karena bekas yang sudah dilakukan oleh para dokter kepadanya.
''Apa yang terjadi?" gumamnya pelan setelah sinar matahari mengenai wajah ya.
''Kau sudah bangun ya?" Suara yang dikenalnya menghampiri dirinya.
Friska berusaha untuk duduk bangun dicegah Riko sambil menebarkan senyumannya yang hangat.
''Sarapan ya, satu malam perutmu kosong!" ucap Riko.
Friska menurut aja belum tahu ada yang terjadi dengan dirinya namun dua sendok masuk nasi ke dalam mulutnya dia menyadari perutnya tiba-tiba nyeri.
''Perutku kenapa datar Riko?" tanyanya.
''Friska, aku harus mengatakan sesuatu kepadamu kalau semalam dokter tidak bisa menyelamatkan bayi mu,'' ujar Riko.
''Apa?!" pekik Friska.
Wanita itu menangisi dirinya sendiri tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik dan benar.
Seorang anak yang bernama itu dunia ini menjadi korban karena kedua orang tuanya yang tidak baik.
''Maafkan aku Friska, dokter sudah berusaha keras melakukan penyelamatan namun takdir berkata lain.'' Friska semakin menangis kencang menutupi dirinya sendiri menggunakan kedua tangannya.
''Aku wanita bodoh Riko, mas Frans pasti akan marah dasar kepadaku.'' Riko kesal mendengar nama pria itu lagi disebut Friska.
''Dia sudah pergi jauh dari tempat ini Friska, jangan lagi memikirkan pria yang tidak bertanggung jawab itu lagi,'' ucap Riko.
''Dari mana kau tahu Riko?" tanya Friska heran.
Pria itu mengambil ponselnya menunjukkan rekam jejak Frans udah dibawa oleh teman sendiri karena tidak bisa memenuhi permintaan mereka.
''Tidak mungkin?!" ucap Friska tidak percaya suaminya itu menggantikan dia.
''Kau jangan lagi memikirkan pria itu Friska, sekarang mari kita buka lembaran baru.'' Friska geleng-geleng kepala masih belum bisa memutuskan yang dikatakan Riko.
''Biarkan aku sendiri Riko, sepertinya aku membutuhkan waktu sementara ini,'' lirihnya.
''Baik, tapi kau habiskan dulu sarapan ini ya!" Friska mengangguk lalu pria itu keluar dengan wajah yang tidak bersahabat..
Friska mengusap perutnya yang sudah rata karena kelakuan Frans kemarin malam.
''Semua ini karena kau mas, andaikan saja rumah tangga kita baik semua ini tidak akan pernah terjadi,'' tangisnya.
Friska memandang wajahnya sendiri yang kurus bahkan tidak kena urus semenjak dia mengetahui kelakuan Frans.
Di luar sana Riko gelisah tidak tenang memikirkan Friska masih betah sendirian di dalam merawat inap.
''Apa aku masuk saja ya? Tapi bagaimana nanti dia marah?" gumamnya.
''Pak, apa yang anda lakukan di sini?" tegur seorang perawat karena kedua bola matanya sakit melihat Riko mondar-mandir di hadapan ya.
''Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi,'' ucap Riko datar.
Riko kembali duduk dia benar-benar kesulitan untuk masuk ke dalam. Kesalahan yang terbesar saat ini adalah sudah membuat Friska sakit menghilangkan buah hatinya.
''Maafkan aku Friska, semua indah kulakukan demi kebaikanmu,'' ucapnya pelan.
Pintu terbuka Friska keluar dengan wajah yang datar bahkan tatapannya kosong. Riko terkejut bukan main karena Friska sama sekali tidak menatapnya di sana.
''Kau mau ke mana Friska?" tanya Riko.
Wanita itu tetap terus menyusuri lorong rumah sakit tidak peduli dengan panggilan Riko.
Friska memilih duduk di taman menghirup udara karena perasaannya sesak sendirian berada dalam ruangan.
Banyak pasien yang duduk bersama dengan anggota keluarga membuatnya iri. Dahulu dia bersama Frans tiap kali ada sesuatu yang mendesak namun sekarang tidak.
''Ternyata kau disini,'' ucap Riko sambil mengatur pernafasan.
''Ada apa?" tanya Friska dingin.
''Ayo kembali masuk ke dalam cuaca di siang hari seperti ini tidak cocok untukmu!" rayu Riko.
''Bawa aku pergi jauh dari tempat ini Riko, boleh?" pinta Friska tiba-tiba.
''Apa! Oh tentu boleh,'' ucapnya senang bukan main.
Friska berdiri meninggalkan pria itu lagi tanpa mengatakan apapun.
''Kau harus banyak sabar mulai sekarang Riko, wanita ini benar-benar membuatku pusing,'' keluhnya.
Friska menghabiskan sarapannya yang tertunda di hadapan Riko, pria itu terkejut melihat porsi makanan Friska dua kali lipat dari tadi sebelumnya.
''Kau mau tambah aku akan memesannya lagi,'' ucap Riko.
''Tidak, makanan ini sudah cukup untuk ku,'' jawabnya.
''Nanti sore kita akan kembali,'' lanjut Riko.
''Ya,'' jawabnya lagi.
''Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya ya pasca operasi?" batin Riko.
Tiba-tiba pintu terbuka beberapa dokter dan perawat masuk ke dalam untuk memeriksa kondisi kesehatan Friska.
Riko sedikit merasakan lega ada hendak mau menolong dia menghadapi perubahan terhadap Friska.
__ADS_1
''Selamat pagi tuan, nona,'' sapa mereka semua.
''Ya pagi, kalian mau memeriksanya?" tanya Riko berpura-pura.
''Ya Tuan, kamu harus memeriksa kondisi kesehatan Nona.'' Riko mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa Friska.
Friska terlihat tenang dan tidak ada merasa kesakitan sedikitpun ketika obat masuk ke dalam tubuhnya.
Riko yang merasa kesakitan melihat para medis melakukan itu kepada Friska.
''Aku benar-benar merasakan kesalahan yang fatal sudah membuatnya seperti ini,'' jerit Riko dalam hati.
''Apa yang dialaminya sekarang?" tanya Riko menghilangkan kecanggungan dalam ruangan itu.
''Tidak ada tuan, semuanya baik untuk saat ini nona membutuhkan istirahat.'' Riko merasakan lega ternyata tidak ada yang salah dengan Friska.
''Nona sore ini tidak bisa kembali ke rumah tuan, kami akan mami melakukan pemeriksaan terakhir untuk ya,'' tambah dokter.
''Lakukan!" ujar Riko.
''Baik Tuan.'' Friska tetap dalam pendiriannya sama sekali tidak bergeming dokter terus melakukan pemeriksaan terhadap dirinya.
''Friska, apa ada yang sakit?" tanya Riko.
''Tidak ada,'' jawabnya singkat.
''Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak enak katakan saja,'' lanjut Riko.
''Aku mau pulang sekarang.'' Semuanya terkejut mendengar ucapan Friska.
''Kalian bereskan semua dokumennya!" perintah Riko.
''Baik Tuan,'' jawab dokter dengan cepat.
Sekarang hanya mereka berdua di ruangan itu tanpa ada yang mengeluarkan suara. Riko kembali fokus kepada ponselnya untuk memeriksa perusahaan yang saat ini sedang bermasalah karena tidak kehadirannya.
''Kita ke perusahaan ku sebentar ya sebelum ke rumah,'' ucap Riko.
''Ya,'' angguk Friska.
Setelah semuanya selesai, Friska baru bisa dinyatakan kembali ke rumah.
Wanita itu tidak percaya ternyata mobil yang dia naiki ternyata mewah yang hanya ada beberapa di dunia ini.
''Ayo masuk!" ajak Riko.
''Mobil siapa ini, Riko?" tanya Friska heran.
''Kita, kau bebas menggunakannya kapanpun kau inginkan.'' Kedua bola mata Friska terbuka lebar mendengar ucapan Riko.
''Ya, kalau tidak percaya ayo masuk aja nanti di dalam semuanya akan terjawab.'' Friska menurut apa yang dikatakan Riko.
Dia benar-benar tidak menyangka bisa naik mobil seperti ini padahal dulu hanya impian dan angan-angan aja sekarang terwujud.
''Nyaman sekali,'' ucapnya tidak sadar.
''Kau mau aku pindahkan mobile ini atas namamu?" Friska terbelalak mendengarnya untuk menaiki syukur bagaimana mungkin menjadi atas namanya.
''Aku tidak bisa menerimanya Riko,'' tolak Friska halus.
''Kenapa?" tanya Riko berusaha untuk terus melakukan komunikasi kepada Friska supaya wanita itu tidak diam.
''Ini terlalu mewah untuk digunakan, alangkah baiknya benda seperti ini di sumbangkan kepada yang membutuhkan.'' Friska menutup mulutnya karena terlalu banyak bicara.
''Baik, besok kita akan melakukan lelang kepada mobil ini dan memberikan kepada orang yang tidak mampu.''Friska terkejut tidak percaya yang dikatakan Riko segera dilakukannya.
''Kau tidak salah kan Riko, aku tadi melakukan itu hanya bercanda?" bohong Friska.
''Aku serius Friska, kau jangan terlalu terkejut seperti itu karena aku juga sudah terbiasa melakukan amal,'' kekeh ya.
Friska menjadi diambil benar-benar bodoh mengatakan itu kepada pria seperti Riko.
''Maaf,'' lirihnya.
''Ya, kalau tidak perlu mengatakan kata itu Friska. Ayo kita turun sudah sampai.'' Friska semakin terkejut ternyata perusahaan yang mereka tuju adalah tempat dia dulu berdagang dan diperlakukan tidak baik.
''Tempat ini?!" ucapnya tidak percaya.
''Kau masih mengingatnya?" tanya Riko sambil menarik tangan Friska.
''Ya, kau yang menyelamatkanku,'' lirihnya.
''Karena aku tidak menyukai ada yang menyakiti perempuan.'' Friska bener benar terharu mendengar ucapan pria seperti Riko.
Mereka berdua memasuki perasaan bergandengan tangan banyak karyawan yang terkejut melihat kehadiran Friska.
Mereka sangat meyakini Friska bukankah wanita yang baik untuk Riko.
''Siapa wanita yang bersama Tuan Muda?" Perkataan mereka semuanya didengar Friska namun Riko berusaha untuk menutup telinga Friska.
''Jangan dengar apa yang mereka katakan, ayo masuk ke dalam!" Mereka berdua memasuki lift khusus di dalam sana Friska sedikit tenang bisa melewati karyawan yang tidak menyukainya.
''Perusahaan ini milikmu ya Riko?" tanya Friska hati-hati.
''Ya, aku adalah pemegang saham tertinggi di sini.'' Friska terkejut bukan main dia langsung melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah.
''Jangan terlalu dekat Riko, aku tidak mau orang-orang berpikiran yang tidak-tidak kepada kita,'' ujarnya.
__ADS_1
''Untuk apa kau peduli mengenai mereka Friska? Mereka bahkan belum tentu mau peduli denganmu?" ucap Riko berusaha untuk meyakinkan Friska.
''Tapi aku tidak sebanding dengan mu Riko,'' lirihnya.
''Ayo kita masuk ke dalam kau udah terlalu banyak berdiri tidak baik untuk kesehatan mu baru saja pulih.'' Friska semakin tidak yakin memasuki ruangan Riko di sana ada lima orang sekretarisnya yang begitu cantik.
''Aku benar-benar tidak yakin dengan ini semua, kau benar-benar memalukan Friska,'' gerutunya.
Riko menyuruh kepada sekretarisnya untuk membuat teh kepada Friska.
''Baik Tuan,'' jawab sekretaris itu tidak suka.
''Ayo kita masuk ke dalam!" Kembali Riko menarik tangan Friska masuk ke dalam hingga membuat lima orang sekretarisnya itu menjadi panas dingin.
''Akan kau berikan pelajaran kepada wanita kampung itu telah berani merebut tuan Riko,'' kesalnya.
Sekretaris memasukkan terlalu banyak garam karena kecewa melihat wanita yang tidak berkelas bisa bergandeng tangan dengan Riko.
''Apa yang kau lakukan?" tanya temennya itu tidak sengaja melihat terlalu banyak garam dimasukkan dalam gelas itu.
''Kau jangan menghentikan ku, makan kuberikan pelajaran kepada wanita itu.'' Sekretaris itu yang tidak disebutkan namanya tertawa keluar dari dapur mini.
Beberapa kali pintu diketuk akarnya terbuka dengan sendiri ya. Riko mengunci dari dalam karena tidak mau mengganggu privasinya bersama dengan Friska.
''Maaf tuan, lama karena klien tiba-tiba menghubungi saya tadi di luar,'' ucapnya sambil melirik Friska diam.
''Keluar, aku tidak mau diganggu!" Sekretaris itu keluar dengan senyumannya yang tidak enak untuk dilihat.
''Rasakan! Kau akan merasakan minumanku.'' Sekretaris itu keluar terbahak-bahak sebentar lagi Friska akan merasakan sakit perut.
''Ayo minum nanti dingin,'' ucap Riko.
''Ya,'' angguk Friska.
Friska perlahan mulai memasukkan teh itu ke dalam mulutnya namun tiba-tiba wajahnya langsung berubah.
''Teh apa ini? Kenapa asin sekali?" batin Friska.
''Kenapa?" tanya Riko heran tidak sengaja menangkap wajah Friska yang aneh.
''Tidak ada, teh ini enak,'' ujarnya.
''Masa? Aku juga mau ingin mencobanya?" Belum juga sampai di tangan Friska langsung meraih teh itu.
''Jangan ambil kalau ingin minta sama sekretaris mu itu,'' kekeh ya untuk mengurangi kecurigaan Riko kapanpun akan dia sadari.
''Tapi aku mau mencoba minuman mu,'' lanjut Riko mengambil langsung dari tangan Friska.
''Jangan di minum!" Terlanjur sudah Riko sudah menghabiskan minuman itu.
''Apa-apaan ini?" Wajahnya langsung berubah merah tidak bisa ter katakan lagi.
''Sudah kukatakan jangan minum,'' lirih Friska.
''Bagaimana bisa kau mengatakan minuman ini enak sementara rasanya asin?" kata Riko tidak terima.
''Maaf, aku tidak mau kau marah, mungkin sekretaris mu salah memasukkan gula. Riko jangan marah dia ya,'' mohon Friska.
''Aku tidak bisa diam Friska, dia sengaja melakukan itu karena aku tahu bagaimana sifat ya,'' tambah Riko terus berusaha untuk diri memberikan pelajaran kepada sekretaris nya itu.
''Riko, kalau kamu lakukan itu aku akan pergi dari sini.'' Langkah pria itu berhenti tepat di depan pintu, sedikit lagi pintu itu akan terbuka lebar.
''Aku hanya tidak mau kau mengalami masalah Friska,'' lirihnya.
''Aku tidak apa-apa Riko, sekarang kembalilah duduk!" Riko mengangguk mengerti namun bukan berarti dia mengampuni sekretarisnya itu.
Mereka berdua kembali mengobrol sambil bekerja namun tiba-tiba perut Riko sakit.
''Oh, Friska bisa ambilkan obat di atas lemari itu?" ucap Riko.
''Kau kenapa?" tanya Friska panik.
''Sepertinya aku mengalami sakit perut karena minuman tadi,'' ujarnya.
''Astaga, sebentar aku akan ambilkan.'' Friska mengambil obat sementara Riko sudah marah sebentar lagi dia kan memberikan pelajaran kepada sekertaris itu.
''Aku tidak akan mengampuninya,'' kesal ya.
Friska kembali membawa obat yang diinginkan Riko sambil membawa minuman.
''Minumlah Rik!" Riko senang sekali dengan kondisinya saat ini Friska benar-benar perhatian kepadanya.
''Friska, ternyata kamu khawatir kan aku ya,'' kekeh ya.
''Jangan banyak bicara Riko, minum obat dulu!" Friska sama sekali tidak peduli terus memaksa Riko meminum beberapa obat yang sudah dia buka.
''Baik, aku akan meminum karena kau yang memaksa.'' Friska tidak peduli dengan gombalan Riko yang penting kesehatannya nomor satu.
Kalau bukan karena dia semua ini tidak akan terjadi bahkan sekretaris itu tidak akan berani melakukan itu kepada Riko.
''Bagaimana?" tanya Friska tidak bisa tenang.
''Udah lebih baik karena kau yang memberikan obatnya.'' Wajah Friska bersemu merah dia benar-benar malu Riko terus gombal dia.
Riko tidak kembali ke bangku kebesarannya namun dia memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas pundak Friska.
''Hanya sebentar boleh aku seperti ini?" pinta Riko sambil memejamkan kedua bola mata ya.
__ADS_1