
Riko benar-benar meninggalkan kediaman orang tuanya itu dengan perasaan yang begitu hancur hanya karena seorang wanita.
Bahkan perlakuan orang tuanya itu membuat wajah ya jelek di hadapan mantan istrinya itu.
''Riko tunggu sebentar jangan pergi seperti itu dengarkan dulu perkataan Mami mu,'' tahan Friska.
''Apa yang perlu didengar dari mereka Friska? Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana dengan kondisi keluargaku sekarang ini,'' jawab Riko marah.
''Setidaknya kau harus bertahan dulu agar mengetahui apa yang terjadi?" Riko tidak habis pikir dengan Friska ternyata berpihak kepada keluarganya bukan dia.
''Kau saja yang bergabung dengan mereka Friska kalau aku tidak akan pernah,'' ketusnya.
Tapi tolong dengarkan beliau sekali Riko, tidak ada orang tua yang mau melakukan itu kepada anaknya sendiri. Kalau bukan ada asap mana mungkin beliau tega melakukan itu kepadamu!" tambah Friska.
''Aku tidak peduli dengan mereka lagi Friska, sekarang lebih baik kita meninggalkan negara ini.'' Kedua bola mata Friska terbuka lebar baru saja mereka mendarat di sini terbang lagi.
''Aku tidak mau sebelum kau kembali ke sana Riko,'' tolak ya.
''Friska kau tidak mau mendengar ucapan ku?" tantang Riko.
''Ya, setidaknya mendengarkan ucapan orang tua itu penting Riko bukan meninggalkannya di sana sendirian.'' Riko merasa tidak tenang lalu mereka kembali masuk ke dalam mobil untuk mengajukan perjalanan kembali ke sana.
''Baiklah akan kulakukan seperti yang kau katakan.'' Friska tersenyum lebar walaupun perasaannya sakit dengan kelakuan kedua wanita itu kepadanya tapi setidaknya mempersatukan mereka lebih baik.
''Karena aku adalah orang luar jadi tidak masalah setidaknya ini bisa membalas budi Riko,'' gumamnya pelan.
Kedatangan mereka berdua kembali menarik perhatian mami dan Emma yang masih bercerita di ruang tengah.
''Mereka datang lagi mami,'' seru Emma.
''Kenapa Riko membawa wanita kampungan itu?" kesalnya.
Pintu terbuka lebar Riko semakin mempererat genggaman tangannya kepada Friska. Dia benar-benar menunjukkan kalau hubungannya dengan Friska ada yang tidak boleh di putuskan.
''Aku kembali ke sini karena calon istriku,'' ucapnya sambel naik ke atas.
''Tunggu! Kalian tidak boleh masuk ke dalam rumah ini tanpa persetujuan mami,'' cegah ya.
''Kalau begitu kami akan tinggal di rumah barat,'' ujar Riko.
''Kenapa kalau melakukan ini kepada mami, Riko?" tanyanya penasaran.
''Usir menantu mami itu karena aku tidak menyukainya.'' Emma benar-benar marah mendengar ucapan Riko.
''Riko apa-apaan kau mengusirku?!" pekik Emma.
''Kita tidak ada lagi hubungan Emma setidaknya hargai calon istriku di sini!" Friska tertegun mendengar semua pertengkaran ini.
''Riko, kumohon tenanglah!" bisik Friska.
''Jadi kau lebih memilih membela wanita ini ketimbang aku Riko?" tanya Emma tidak setuju.
''Ya, pergi dari sini atau kami yang akan pergi.'' Emma melihat mantan ibu mertuanya itu tidak ada respon hingga membuatnya benar-benar kecewa.
''Aku makan kembali lagi ke sini mami,'' ucapnya lalu menatap tajam Friska sebelum meninggalkan tempat itu.
Kini mereka bertiga berada dalam ruangan itu dengan suasana yang tidak menyenangkan.
Friska dari tadi menunduk tidak berani menatap wajah ibu Riko yang terlihat begitu galak.
''Sejak kapan kalian menjalin hubungan ini?" tanyanya tidak suka.
''Sudah satu tahun mami,'' jawab Riko.
Friska terkejut padahal mereka baru saja berkenalan dan tinggal beberapa hari yang lalu.
''Apa ada rencana kalian selanjutnya?" tanya mami ketus.
''Ya kami akan melangsungkan pernikahan secepatnya.'' Friska semakin tidak suka dengan obrolan ini akhirnya dia membuka suara.
''Maaf, sepertinya ada di sini kesalahpahaman kumohon jangan diteruskan.'' Orang tua Riko semakin curiga kalau hubungan putranya ini tidak benar.
''Apa yang kau katakan barusan?" tanyanya.
''Friska, jangan bicara biarkan aku yang melakukannya,'' desak Riko.
''Riko mending berkata jujur kepada nya kalau tidak aku akan pergi jauh untuk selamanya.'' Orang tua Riko merasa tertantang melihat ketegasan Friska.
''Kalian ternyata berbohong kenapa Riko? Bukankah mami sudah katakan jangan melakukan ini lagi?" lirihnya.
''Aku tidak menyukai wanita itu mam, kenapa selalu membawanya ke sini?" kesalnya.
''Jadi kau mau mami mengusirnya dari lingkungan kita?" tanya mami.
__ADS_1
''Dia wanita hanya memanfaatkan pria yang ber duit mami, tidakkah masa laluku sudah membuat kita menderita selama ini?" mami menjadi sedih memikirkan itu padahal dia dari dulu sangat menyukai Emma menjadi istri Riko.
''Mami tidak tahu apa yang harus katakan lagi semua ini adalah kesalahanku.'' Mami tiba-tiba menangis membuat Friska menjadi terkejut.
Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan sekarang untuk menenangkan ibu Riko.
''Emma adalah wanita yang berambisi yang tidak akan pernah puas apa yang dimiliki ya mami, setidaknya harga yang sekarang kulakukan ini,'' tambah Riko.
''Tapi mami benar-benar menyukainya Riko bukan wanita ini,'' tunjuknya kepada Friska.
''Nyonya, saya juga tidak menyukai putra anda.'' Ibu dan anak itu terkejut mendengar pengakuan Friska.
''Apa yang dia katakan barusan Riko?" tanya mami terkejut.
''Friska jangan bicara seperti itu di hadapan mami,'' tekan Riko.
''Kalau beliau tidak menyukaiku tentunya aku lebih tidak menyukainya,'' tantang Friska.
''Berani yang kau bicara seperti itu kepadaku?!" sentak mami Riko.
''Dan mami juga sudah merendahkan aku, di mana letak kesalahanku sampai kalian tidak menyukai keberadaan ku di sini? Aku datang ke sini hanya untuk menemani Riko bukan menjadi calon istrinya? Kalian semua memang keterlaluan hanya memandang penampilan, melupakan kalau kalian tidak pernah sama sepertiku.'' Setelah mengatakan itu Friska benar-benar meninggalkan kediaman Riko.
''Friska tunggu!" panggil Riko khawatir mengenai keselamatan wanita itu di luar sana.
''Biarkan dia sendirian di luar sana Riko,'' tahan mami Riko.
''Friska wanita baik-baik mami dia adalah tanggung jawab ku.'' Riko keluar menyusul Friska yang sudah jauh dari dia.
Mami Riko tergeletak di bangku panjang itu dia benar-benar telah diberikan pelajaran oleh teman putranya.
''Apa aku salah mengatakan itu kepadanya? Wanita itu memang tidak berkelas?" keluhnya.
Di jalan raya yang cukup padat Friska terus berlari sambil menangis karena mendapatkan perlakuan yang tidak baik.
''Tidak mas Frans mereka semua sama saja,'' tangisnya.
''Friska jangan pergi tunggu dulu ada yang ingin kukatakan kepadamu?!" panggil Riko berusaha untuk terus mengejar Friska.
''Kalian semuanya keterlaluan Riko, aku ingin kembali ke tanah air,'' ucapnya setelah tidak bisa berlari karena Riko sudah menangkapnya.
''Ya, kita akan kembali ke tanah air secepatnya,'' ucap Riko sambil membawa Friska masuk ke dalam pelukannya.
Mereka berdua tidak sengaja dilihat oleh Emma dari jarak jauh.
Mobil itu melaju begitu kencang hingga membuat wanita itu tidak menyadari kalau di depannya udah datang mobil besar dengan muatan yang banyak.
''Kena kau Friska, Riko hanya milikku seorang,'' tawanya sambil terus menginjak pedal gas.
Friska tiba-tiba melihat mobil mengarah kepadanya terkejut bukan main langsung mendorong Riko.
''Riko?!" teriaknya begitu kencang.
Suara dentuman yang begitu kuat sampai menarik perhatian orang orang di sana.
''Friska?" panggil Riko terkejut bukan main.
Mobil yang dikendarai Emma sudah tidak tertolong lagi bahkan dia hampir nyaris tidak dikenal.
''Tolong ada seorang wanita di sini yang terjepit,'' teriak pengunjung.
Riko berlari menuju ke arah suara itu terkejut melihat Friska sudah tidak sadarkan diri di sana.
''Friska? Apa yang kau lakukan tadi?" tangisnya.
Beberapa mobil ambulan datang menolong mereka semuanya lah tidak terkecuali dengan Emma sudah nyatakan tidak bernyawa lagi di tempat kejadian.
Riko membawa Friska ke rumah sakit dalam perasaannya yang begitu hancur. Kalau bukan dia, mungkin dia yang akan menjadi korban Emma.
''Friska mohon jangan tinggalkan aku,'' tangisnya.
''Tuan, biarkan kami memeriksanya dulu!" Riko mempersilahkan sebelum mereka tiba di rumah sakit.
Kabar itu sampai ke telinga mami yang saat ini sedang berbaring di tempat tidur memikirkan ucapan Friska.
''Apa kalian bilang? Emma mengalami kecelakaan dan Friska wanita yang di bawa Riko kecelakaan juga?" tanyanya tidak percaya.
''Ya Nyonya, sekarang Tuan berada di rumah sakit.'' Mami langsung bergegas menuju ke sana karena perasaannya benar-benar khawatir terhadap Riko.
Di rumah sakit Riko tidak memperdulikan luka yang mengenainya. Pikirannya tertuju kepada Friska saat ini masih belum sadarkan diri.
Dari ujung lorong mami tergesa-gesa menuju ke arah ya namun tidak melupakan penampilannya yang modis.
''Riko, kau tidak apa-apa kan?" tanyanya begitu panik.
__ADS_1
''Friska tidak apa-apa mam.'' Seketika wajah mami berubah tidak suka mendengar nama Friska.
''Apa yang terjadi kenapa kau bisa luka separah ini?" tanya mami mengalihkan obrolan.
''Emma melakukan ini semuanya kepada kami mami. Dia sudah dibawa ke rumahnya dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa.'' Mami terkejut bukan main dia tidak menyangka mantan menantunya itu benar-benar tega melakukan ini semuanya hanya untuk mendapat kepuasan.
Dokter keluar wajah yang terlihat lelah karena sudah beberapa jam yang lalu Friska sudah diperiksa dan dirawat namun belum juga menunjukkan kesadaran.
''Tuan Riko?" panggil doctor.
''Ya saya, bagaimana dengan kondisinya dok?" tanya Riko begitu panik.
''Nona Friska mengalami koma karena benturan yang diterima cukup keras.'' Riko terkejut dia tidak sanggup mendengar kabar ini.
''Friska, dia harus sembuh bagaimanapun juga kalian harus membuatnya sadar,'' teriak Riko.
''Kami akan berusaha keras Tuan, mohon doanya.'' Dokter itu kembali masuk ke dalam untuk merawat Friska.
Riko terjatuh ke lantai dia tidak bisa membayangkan apa yang dialami Friska di dalam sana.
''Untuk apa kau pikirkan dia Riko, tidakkah kau merasa senang dua wanita sekaligus mengalami hal itu,'' cebik mami.
''Mami sungguh keterlaluan sekali, kalau bukan Friska mungkin aku yang akan berada di dalam sana.'' Mami kembali terkejut melihat tidak percaya yang dikatakan Riko.
''Semua ini adalah akal akal wanita itu Riko, lihatlah sekarang Emma menjadi korban,'' bela mami kepada mantan menantunya itu.
''Mami pergi dari sini atau aku akan memanggil satpam!" Riko benar-benar tidak menyangka dengan mami ya ini tidak bisa membedakan di mana wanita yang baik dan tidak baik.
''Mami jual tidak sudi berada di sini apalagi melihat wanita itu.'' Sifat arogan yang sudah tertanam dalam dirinya membuat mami melupakan dia siapa sebenarnya.
Riko frustasi memikirkan Friska kembali berjuang di dalam sana padahal dia baru keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.
''Maafkan aku Friska,'' lirihnya.
Di dalam ruang operasi Friska merasakan dirinya di tempat alam yang lain. Begitu banyak bunga berwarna warni membuatnya betah tinggal di sana.
''Apa yang kau lakukan disini nak?" tanya seseorang yang berpakaian putih.
''Paman, bukankah tempat ini indah sekali aku sangat menyukainya,'' ucap Friska.
''Tempatmu bukan di sini pulanglah karena orang-orang yang kau cintai sekarang menunggumu.'' Alis Friska naik tidak mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki tua itu.
''Paman, kau di mana?" panggil Friska sambil sekelilingnya semakin lama terlihat pudar.
Tiba-tiba monitor kembali menyala para medis merasakan lega. Friska saat ini dinyatakan sudah tidak koma lagi sampai berita ini ke telinga Riko.
''Aku sudah tidak sabar lagi melihatmu di dalam sana Friska,'' lirihnya.
Dokter sudah selesai memeriksa Friska mereka sudah memindahkannya rawat inap. Riko masuk ke dalam menggunakan pakaian lengkap itu adalah saran dokter.
Pria itu melihat Friska sudah lebih baik daripada sebelumnya, ada perasaannya yang membuat hatinya tenang dan teduh.
Riko benar-benar puas melihat wajah Friska karena ini sangat jarang untuk dilakukannya.
''Friska bangunlah aku ada di sini,'' bisiknya pelan.
Namun tidak ada pergerakan sedikitpun tapi tidak membuat Riko merasa kecewa. Pria itu tidur di sana melupakan yang dikatakan dokter hanya berkunjung sepuluh menit saja.
Keesokan harinya Riko lebih bersemangat untuk menjaga Friska bahkan dia banyak membeli bunga mengelilingi ruangan itu.
''Wangi kan Friska, ayolah bangun kau tidak akan pernah melihat bunga sebanyak ini di sekelilingmu,'' kekeh Riko. Namun tidak ada sama sekali pergerakan hingga membuat Riko mengalami sedikit kecewa.
Pria itu memilih untuk duduk pinggiran tempat tidur tangan itu mengusap dengan lembut kepala Friska.
''Kau tahu tidak, pertemuan sudah kebenaran sudah lama dilakukan hanya saja kau tidak menyadari Friska,'' bisik Riko.
Riko adalah pria yang selama ini berusaha untuk menyewa Friska untuk menjadikannya istri namun tersendat karena beberapa halangan selalu membuatnya kesal.
Untuk terakhir kalinya ini dia benar-benar kalah karena seorang pria yang lebih tajir setelah membelinya dengan harga yang fantastis.
Riko mengambil jalan pintas untuk menolong Friska dari genggaman tangan mantan suami ya itu.
"Kau sekarang berada dalam genggamanku Friska, kita berdua kan bahagia untuk selamanya. Kau adalah istri sewaanku yang tidak akan pernah diberi oleh orang-orang di luar sana kecuali aku,'' tambah Riko.
Riko tidak menyadari kalau Friska sudah bangun beberapa jam yang lalu hanya saja dia tidak mau untuk bicara sementara ini.
Friska terkejut bukan main mendengar pengakuan pria yang selama ini menolongnya ternyata adalah orang yang hendak membeli ya.
Air matanya tiba-tiba keluar membuat Riko terkejut sambil berdiri.
''Kau sudah bangun Friska?" tanya Riko memastikan semua itu tidak benar.
''Aku sudah mendengar semua yang kau katakan Riko,'' ucap Friska lalu dia berusaha untuk bangun sambil menahan tubuhnya yang masih sakit bekas kejadian kemarin yang menimpanya.
__ADS_1