
Friska mulai berteman dengan Riko bahkan mereka berdua tidak ada rasa canggung lagi untuk mengobrol.
''Suamimu bekerja di mana, Friska?" tanya Riko.
''Perusahaan Mark, Rik,'' jawab Friska.
''Wah masuk ke sana begitu sulit ternyata suamimu bisa menembus ke sana ya?" puji Riko.
''Ya, saya bersyukur Riko suamiku diterima bekerja di sana,'' tambah Friska.
''Kamu juga bekerja ya?" Friska mengangguk dia tidak mau memberitahukan di mana bekerja.
''Di mana?" tanya Riko penasaran.
''Di perusahaan koran Riko.'' Friska terpaksa berbohong karena tidak mau mempermalukan Frans bekerja di perusahaan ternama di negara itu.
''Oh, kalian memang luar biasa bekerja di negeri orang lain Friska.'' Friska tidak menjawab namun melirik jangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore.
''Rik, aku duluan ya.'' Friska langsung berdiri otomatis Riko juga berdiri.
''Boleh bantu aku Friska?" Friska langsung menoleh dia mengerti ya maksud perkataan Riko.
''Baik!'' Friska kembali membawa kurus roda Riko tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
''Kamu bawa kendaraan Friska?" tanya Riko bermaksud untuk membalas kebaikan Friska.
''Rumahku tidak jauh dari sini Riko, lebih baik aku jalan kaki,'' tolak ya dengan halus.
__ADS_1
''Ayolah! Anggap aku membalas budi baikmu karena sudah membantuku.'' Friska mengangguk dia langsung masuk ke dalam mobil Riko.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suara hingga akhirnya sampai di rumah Friska.
''Ini rumahmu ya?" tanya Riko.
''Ya Riko,'' jawab Friska gugup.
Friska canggung karena rumah mereka terlihat kecil.
''Baiklah, senang berkenalan denganmu Friska.'' Friska tersenyum tipis lalu mereka berpisah di sana.
Tanpa mereka sadari Frans memperhatikan Friska telah diantar oleh pria asing.
''Siapa yang mengantar mu?" Friska terkejut lalu menoleh ke belakang.
Frans langsung melepaskan pelukan Friska karena pertanyaannya tidak dijawab.
''Siapa pia yang mengantarmu tadi Friska?" tanya Frans kesal.
''Oh dia Riko, kami ketemu di taman dia mengalami kesulitan masuk ke dalam mobil ya Frans,'' jawab Friska jujur.
''Bohong, dia selingkuhmu yang baru kan?" tuduh Frans.
Friska tidak mengerti maksud perkataan Frans, sejak kapan di berselingkuh? Untuk berinteraksi kepada orang-orang saja tidak pernah.
''Mas, aku tidak berselingkuh dia baru ku kenal tadi di taman,'' ujar Friska tidak terima.
__ADS_1
''Alah mana ada maling yang bohong,'' kesal Frans.
''Mas?!" pekik Friska.
Frans langsung melotot untuk pertama kalinya Friska membentak dirinya.
''Beraninya kau Friska! Dari siapa kau belajar membentak seperti itu?" tanya Frans langsung menarik lengan Friska kuat.
''Mas sakit,'' rintih Friska sambil menahan sakit.
''Jawab aku Friska?" sentak Frans.
''Aku hanya refleks saja Mas, aku minta maaf,'' ucapnya gugup.
Frans langsung mendorong Friska hampir saja mengenai siku meja tamu.
Friska tidak menyangka kalau Frans tega melakukan ini kepadanya.
''Mas. Kenapa baru baru ini kamu banyak berubah?" tanya Friska sedih.
''Berubah? Kau yang berubah Friska? Selama kita tinggal disini perhatianmu mulai tidak ada kepadaku?'' Friska heran justru sebaliknya Frans lah seperti itu.
''Apa tidak salah yang kau katakan itu Mas? Semenjak aku mengalami keguguran kau bahkan tidak mau lagi tinggal bersama denganku?" tangis Friska.
''Aku tidak mau membahas itu lagi.'' Frans langsung meninggalkan apartemen mereka dengan perasaan yang kesal terhadap Friska.
''Wanita itu benar-benar keras kepala,'' gerutunya.
__ADS_1