
Friska tiba-tiba terkejut melihat Riko tiba-tiba saja menjadi manja kepada ya.
''Riko nanti ada yang melihat kita seperti ini,'' tolak Friska.
''Hanya sebentar.'' Pria itu tidak peduli turut melakukannya.
''Perasaaan apa ini?" batin Friska dalam hatimu.
''Kau tidak keberatan kalau aku seperti ini kan?" tanya Riko berapa detak membuka obrolan.
''Ya,'' jawab Friska pelan.
''Kenapa nyaman sekali seperti ini ya?'' kekeh ya.
''Kau belum pernah seperti ini Riko?" Tiba-tiba saja Friska menutup mulutnya karena melontarkan pertanyaan itu.
''Pernah, tapi hanya kamu.'' Friska mana percaya apa yang dikatakan Riko.
''Riko, kau tidak memiliki pacar ya? Maaf aku menanya seperti itu?" Riko tiba-tiba langsung membuka kedua bola matanya.
''Ada, mantan istri udah pergi meninggalkan aku ketika masih mulai merintis usaha ini Friska.'' Friska tertegun melihat tidak percaya kalau Riko pernah menikah.
''Anak?" tanya Friska lagi.
''Kami tidak pernah memiliki anak Friska, mantan istri aku dulu seorang model yang cukup terkenal. Ambisi untuk memiliki digelar membuatnya sampai terlena hingga melupakan aku.'' Friska mencari merasa bersalah sudah menanyakan itu kepada Riko lagi.
''Jadi, apa kalian berdua bercerai?" Riko merasa tertarik dengan pembahasan yang dimulai Friska.
''Ya, tapi sampai sekarang aku tidak menandatangani ya.'' Alis Friska tiba-tiba naik dan hampir menyatu.
''Kenapa?" tanya Friska heran.
''Aku masih memiliki hubungan dengannya Friska.'' Ada kesal di wajah wanita itu padahal dia tadi sempat tenang.
''Oh,'' ucapnya.
''Sudah sore sebaiknya kita kembali ke rumah kesehatanmu masih perlu diperiksa.'' Friska mengangguk mengerti dia banyak diam karena pikirannya kacau.
"Sepertinya aku harus melepaskan diri dari Riko, bagaimana nanti istrinya tiba-tiba datang?" gumamnya pelan.
''Apa yang kau pikirkan Friska?" tanya Riko tiba-tiba menangkap wajah wanita yang di sebelahnya itu berubah dingin.
''Aku boleh bekerja Riko? Di rumah sungguh membosankan?" keluhnya.
''Tentu, kau boleh menjadi sekretaris pribadiku,'' ucapnya.
''Lalu bagaimana dengan sekretaris mu?'' tanya Friska terkejut.
''Aku sudah memecat ya, wanita seperti itu tidak pernah bisa bekerja dengan baik Friska.'' Friska benar-benar tidak percaya cepat ini Riko langsung memberikan pelajaran.
Mereka berdua akhirnya tiba di rumah itu lagi dia merasa tidak tenang dan nyaman.
''Riko kalau boleh aku tidur di bawah bersama dengan pelayan ya,'' ucapnya.
''Kenapa?" tanya Riko heran.
''Aku ingin tidur di situ sepertinya nyaman,'' alasan Friska.
''Tidak boleh, sekarang ayo kita naik ke atas kamarmu ada di sana.'' Riko mengerti apa yang dikatakan Friska karena tidak nyaman dengan obrolan mereka tadi di perusahaan.
''Riko, kau terlalu memperlakukan ku khusus, aku merasa tidak enak dengan pelayan lain disini,'' keluh ya.
''Jangan seperti itu Friska, sekarang kita istirahat nanti dokter akan datang untuk memeriksa mu untuk terakhir kalinya.'' Setelah mengatakan itu Riko meninggalkan Friska karena tidak mau wanitanya disamakan dengan pelayan.
Friska benar-benar tidak enak hati harus tinggal di sini berbeda dengan pelayan lainnya.
''Aku harus memiliki alasan agar bisa memiliki jarak dengan Riko.'' Friska membersihkan tubuhnya sebelumnya kedatangan dokter.
Di halaman belakang rumah Riko memanggil seluruh pelayan untuk memberikan pesan kepada mereka seluruhnya.
''Kalian jangan pernah sekali sekali memperlakukan Friska sama seperti kalian, dia sebentar lagi akan menjadi nyonya di rumah ini kalian mengerti!" serunya.
__ADS_1
''Baik Tuan, kami semuanya mengerti,'' jawab mereka semuanya serempak.
Riko meninggalkan tempat itu dengan wajah yang terlihat berseri-seri. Pelayan saling menatap satu sama lain mereka heran dengan perlakuan khusus Riko kepada Friska.
''Sepertinya kita memang harus tunduk untuk Nyonya kedua di rumah ini,'' gerutu pelayan lainnya.
Pada akhirnya dokter datang dengan tepat waktu langsung naik ke atas karena sudah di persilahkan lebih dahulu.
"Selamat malam Nona,'' sapa dokter itu dengan sopan.
''Malam,'' sahut Friska.
''Periksa dia jangan ada yang sampai terlewatkan!" ulti Riko.
''Baik Tuan,'' jawabnya cepat.
Friska benar-benar tidak nyaman dengan pemeriksaan kali ini karena dia harus diperiksa secara keseluruhan.
''Apa ini tidak terlalu berlebihan Riko?" tanya Friska.
''Jangan membantah Friska, ikuti saja apa yang dikatakan dokter.'' Friska memilih diam diam akhirnya merasa senang dokter menyatakan dia sudah baik.
''Tidak ada yang serius dengan nona tuan, untuk sekarang ini dan selamanya sudah bisa kembali bekerja,'' ucapnya.
''Kau sudah mendengar ya kan Rik, besok aku sudah bisa bekerja.'' Riko masih tidak terima kalau Friska bekerja secepat ini.
''Kau boleh keluar!" usir Riko.
''Baik tuan,'' jawab dokter itu dengan cepat.
Riko duduk di pinggiran tempat tidur menatap wajah Friska yang terlihat udah segar.
''Bisa mulai minggu depan kau bekerja karena besok kita harus ke luar negeri.'' Kedua bola mata Friska terbelalak mendengar ucapan Riko.
''Ngapain keluar negeri Rik? Aku tidak jadi pergi ke sana karena di sini sudah nyaman?" tolaknya.
''Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu di sana Friska, jangan menolakku ya?" pinta Riko.
''Apa yang kau pikirkan Friska? Kau menyerah aku adalah pria seperti suamimu dulu ya? Dengar, aku bukan pria seperti itu?" kekeh ya.
''Maaf, aku hanya tidak terbiasa masih dengan situasi saat ini Rik.'' Friska menundukkan wajahnya tidak berani menatap Riko.
''Ya aku mengerti apa yang kau pikirkan sekarang Friska. Ayo sekarang lebih baik kita tidur karena begadang kesehatan akan menjadi rumit buruk.'' Friska mengangguk mengerti lalu mereka berdua berpisah di sana.
Riko sudah mengurus membuat apa yang akan diperlukan ketika mereka berada di luar negeri.
Semuanya sudah lengkap tinggal menunggu seseorang sebentar lagi akan tiba.
''Kita akan bertemu setelah sekian lama,'' lirihnya pelan.
Friska benar-benar tidak bisa ke memejamkan kedua bola mata ya karena kepikiran mengenai perjalanan mereka esok.
Sampai pukul tiga dini hari tetap saja mata itu tidak mau tidur, Friska benar-benar lelah dia menuju keluar untuk menghirup udara.
''Apa yang kau pikirkan Friska? Pria sekarang yang di hadapanmu ini sudah menolongmu kenapa masih gelisah?" kesalnya.
Dari ujung ternyata Riko juga tidak bisa tidur dia tidak sengaja melihat lampu kamar Friska menyala.
''Kenapa kami berdua bisa selalu sama ya?" kekeh ya.
Mentari pagi hari udah menyambut mereka berdua namun wajah keduanya terlihat tidak segar.
''Friska, apa kau sudah siap?" panggil Riko.
''Ya,'' sahut Friska.
Riko tidak banyak bertanya mengenai kenapa wajah Friska terlihat bantal karena dia juga mengalaminya.
Mereka berdua banyak diam di dalam mobil memikirkan perasaan mereka berdua yang aneh.
Friska merasakan angin yang begitu sejuk mengenai wajahnya tiba-tiba tanpa sadar dia sudah tidur.
__ADS_1
Riko melihatnya tertawa kecil bagaimana mungkin seorang wanita seperti Friska di mana pun bisa memejamkan kedua bola mata ya.
Perlahan Riko meletakkan kepala Friska di pundaknya agar tidak terganggu dalam perjalanan.
Hanya setengah mereka berdua langsung tiba di bandara beberapa orang di sana menyambut kedatangannya.
''Friska, bangun kita sudah sampai!" ujar Riko.
''Apa? Astaga maaf aku tidak sengaja tidur Rik?" ucapnya begitu panik.
''Tidak apa-apa, aku juga tidur di dalam mobil.'' Friska terkejut namun Riko cepat-cepat langsung membuatnya sadar karena sebentar lagi mereka akan terbang.
''Ayo, kita sudah telat.'' Friska mengangguk mengerti lalu mereka berdua masuk ke dalam dikawal oleh beberapa body guard.
Dari jarak jauh ternyata mereka berdua sedang dipantau oleh seseorang dengan mengenakan pakaian serba hitam.
Frans ternyata bisa melepaskan diri dari temennya yang sudah membawanya masuk ke sebuah klub hitam.
''Friska, enak sekali depan sekarang bisa bersama dengan orang kaya,'' kesal Frans.
Mereka berdua tetap masuk ke dalam sambil bergandengan tangan sampai ke dalam.
''Duduklah perjalanan kita cukup panjang.'' Friska mengangguk mengerti lalu mereka berdua bisa kembali beristirahat di dalam pesawat.
Selama beberapa jam mengudara akhirnya tiba di sebuah negara yang penuh dengan kincir angin.
Friska benar-benar kagum mengenai negara ini yang indah dan bersih.
''Rumahku ada di sebelah sana ayo kita masuk!" ajak Riko.
''Ya,'' angguk Friska.
Pintu terbuka lebar menyambut mereka berdua bahkan beberapa pelayan juga hadir di sana.
Friska semakin terkejut melihat beberapa orang yang tidak dikenalnya sudah duduk di sana dengan style yang begitu menawan.
''Apa mereka semua keluarga Riko ya?" gumam Friska.
''Hai Rik, lama sudah tidak bertemu?" Seorang wanita muda langsung memeluk pria itu di hadapan Friska.
Dari penampilannya terlihat jelas cantik tinggi dan langsing siapa dari kalau bukan mantan istri Riko.
''Kenapa kau berada di sini?" tanya Riko tidak suka dengan kehadiran mantannya itu di rumah pribadi ya.
''Mami yang mengundang ku ke sini Rik, jangan salahkan aku.'' Wanita itu bernama Emma mengalihkan pandangannya kepada Friska yang berpakaian tidak modis seperti dirinya.
''Ayo masuk Friska!" ajak Riko.
''Riko sepertinya aku tidak bisa gabung disini,'' tolak Friska.
''Ya, kau benar sekali karena tidak cocok bergabung dengan kami penampilanmu saja sudah terlihat tidak setara,'' cibir Emma.
''Diam kau Emma! Jangan menghina calon istriku!" Kedua bola mata Friska dan Emma terkejut mendengar pengakuan Riko.
''Siapa kau bilang calon istrimu, Riko?" tanya seorang wanita tua tapi masih kelihatan cantik.
''Mami?" lirih Riko.
''Riko, aku takut,'' bisik Friska.
''Tetap berada di belakangku Friska jangan keluar dari balik punggungku!" ucap Riko.
''Siapa wanita yang kau bawa itu Riko?" tanya ya.
''Mami, aku datang ke sini hanya memperkenalkan kalau Friska adalah calon masa depanku.'' Mami tidak setuju mendengar yang dikatakan Riko langsung memberikan pelajaran kepada putranya itu.
Semua sentuhan yang cukup membuatnya meringis kesakitan mendarat di pipi kanannya.
''Ada Emma yang lebih cantik kenapa kau harus memilih dia? Bagaimana dengan generasi penerus kita kalau bibit ya seperti dia Riko?" sentaknya.
''Riko, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Friska begitu panik.
__ADS_1
''Ya, aku tidak apa Friska. Mami teruslah membela mantan menantu mu itu.'' Setelah mengatakan itu Riko tidak peduli langsung keluar dari rumah mewah itu dengan perasaan yang begitu kecewa.