
Friska benar-benar malu sekali melihat kelakuan Riko membuatnya semakin mau di hadapan para pelayan. Acara sarapan pagi akhirnya berakhir dengan nikmat walaupun suasana terlihat canggung.
"Ayo kita ke pantai sayang," ajak Riko.
"Ngapain ke sana?" tanya Friska takut.
"Memandang wajahmu sayang." Friska memukul pundak Riko pria itu terus menggodanya.
"Aku mau ke taman hubby, pantai lain waktu saja," ucapnya.
"Yakin? Nanti kamu menyesal sayang," goda Riko.
"Jauh ya?" tanya Friska.
"Tidak, kita menggunakan motor." Friska melihatnya lalu tersenyum.
"Aku pikir jalan kaki, bisa-bisanya kedua kakiku tidak bisa jalan," kekeh ya.
"Kau kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Riko setelah hidupkan motor tersebut.
"Tidak, aku suka pantai," bohong ya.
"Tadi kenapa menolak?" tanya Riko lalu mereka jalan santai.
"Aku juga tidak tahu." Riko ingin sekali memakan Friska detik ini juga.
Pemandangan pagi itu sangat mendukung karena cuaca sangat mendukung.
"Indah sekali," seru Friska.
__ADS_1
"Kau suka?" tanya Riko sambil memandangi wajah Friska yang berbinar.
"Ya suka, terima kasih sudah membawaku ke sini," ucap Friska.
"Apa aku akan dapatkan hadiah nanti?" Friska seketika langsung cemberut dia tahu apa yang diinginkan suami barunya itu.
"Ya nanti setelah aku menikmati pantai." Riko benar-benar bahagia dan bersemangat.
Mereka berdua terus menyusuri pantai sambil bercerita tentang pernikahan mereka akan datang.
"Sayang kita memiliki anak nanti berapa?" tanya Riko.
"Kog langsung bahas anak sih hubby?" Wajah Friska benar-benar memerah tidak kuat menahan malu.
"Aku ingin kita memiliki anak sepuluh sayang." Friska langsung tersedak.
Riko tertawa terbahak-bahak melihat wajah istrinya itu memerah.
"Kalau bisa sekaligus itu lebih baik sayang," bisik Riko.
"Riko?!" teriak Friska dan mereka berdua saling berkejaran di pinggir pantai.
Sampai akhirnya mereka kembali dengan wajah yang penuh keringat.
"Ampun sayang aku tak akan mengulanginya lagi," ucap Riko.
"Aku tidak peduli, sini kah Riko akan kuberikan kau pelajaran." Riko mengambil kesempatan membawa Friska jatuh ke kolam.
"Maaf sayang habisnya panas," tawa Riko.
__ADS_1
"Riko kau keterlaluan!" Riko dengan cepat membawa Friska masuk ke dalam pelukannya.
"Aku sudah sabar dari tadi sayang, kau jangan banyak bergerak nanti adikku bangun," bisik Riko.
"Adik? Kau memiliki adik mengapa tidak beri tahukan aku?" Riko semakin tertawa terbahak-bahak istrinya ini polos.
"Bukan itu sayang tapi ini." Friska merasakan benda keras panjang dan padat ia pegang.
Sontak wajah terlihat tegang karena malu apalagi mereka di tempat terbuka.
"Riko! Apa yang kau lakukan?!" pekik ya.
"Jangan banyak bergerak sayang nanti dia bangun, kau mau tidurkan dia sekarang?" goda Riko.
"Rasakan ini Riko kau memang suami yang keterlaluan." Pada akhirnya Riko membuat Friska tidak bisa bergerak dia menguncinya sambil menyatukan dua buah ceri merah itu.
Aktifitas mereka bahkan di abadikan oleh sekretaris ya sendiri untuk dijadikan wallpaper ponsel bos ya.
"Mantap tuan pasti akan menyukai ini," ucapnya sambil menatap ponsel itu.
Friska tidak bisa diam terus meminta Riko hentikan kebiasaan ya ini.
"Aku tidak bisa bernafas," ucapnya gondok.
"Maaf aku tidak bisa menahannya sayang," bisik Riko.
Friska diam dia bandingkan Frans tidak seperti Riko yang begitu mahir membuatnya melayang sampai ke udara.
"Kalau sudah seperti ini aku mana tahan," teriaknya kencang.
__ADS_1