
Waktu terus berputar pukul sebelas malam Friska sudah bisa beristirahat sambil meminum kopi.
Dia melihat kendaraan yang begitu padat dari atas, udara yang dingin membuatnya harus memakai pakaian yang tebal.
''Mas Frans sekarang berada di mana ya? Dari tadi dihubungi tidak diangkat?" keluh ya.
''Hai Friska?" Friska terbelalak melihat Riko sampai sekarang belum pulang pada sudah larut malam.
''Riko, kamu masih di sini?" tanya Friska.
''Seperti yang kau lihat Friska. Aku bosan di rumah mending di sini menghabiskan waktu bersamamu.'' Friska langsung menatap lurus ke depan tidak mau ada sesuatu terhadap dirinya kepada Riko.
''Paman dan tante masih di bawah kah?" tanya ya.
''Mereka sudah kembali lebih awal karena besok ayah mau keluar kota.'' Friska mengangguk mengerti lalu mereka berdua melihat kota yang dipenuhi dengan lampu yang berwarna-warni.
Ponsel Friska tiba-tiba berdering, senyuman wanita itu langsung mengembang melihat nama yang dari tadi menghubunginya.
''Mas, kamu sekarang berada di mana?" tanya Friska cemas.
''Bukan urusanmu Friska, besok sediakan pakaianku semuanya aku mau kembali ke tanah air.'' Friska terkejut bukan main mendengar ucapan Frans.
''Ngapain Mas kembali ke tanah air?" tanya Friska gugup.
__ADS_1
Frans langsung mematikan ponsel ya tidak mau mendengar pertanyaan Friska lagi.
''Ada apa, Friska?" tanya Riko penasaran.
''Mas Frans mau kembali ke tanah air besok Riko,'' ucapnya cemas.
''Memang ya kenapa kalau suamimu kembali ke sana?" Friska nyari saja bercerita kepada Riko tentang masa lalu mereka di sana kalau nyawa mereka terancam karena perbuatan Frans.
''Tidak ada Riko, aku hanya senang saja akhirnya bisa kembali ke tanah air,'' bohong Friska.
Tidak ada lagi obrolan akhirnya Riko izin pamit kepada Friska.
Friska kembali menghubungi Frans setelah mengantar Riko sampai masuk ke dalam mobil ya.
''Kita besok pulang ke sana Friska, pria itu sekarang berada di sekeliling kita.'' Friska terkejut bukan main rasanya dia ingin secepatnya melarikan diri.
''Mas serius Dio berada di negara ini?" tanya Friska.
''Ya, makanya cepat bereskan pakaian kita jangan sampai Dio menangkap kita Friska!" Friska mengangguk mengerti lalu keluar dari restoran tanpa sepengetahuan sang manajer.
Friska lari se kencang mungkin agar sempat memberesi pakaian mereka.
''Kenapa hidupku menjadi seperti ini? Apa yang salah dengan kami?" tangisnya sambil terus berlari kencang mungkin.
__ADS_1
Setibanya di rumah Friska sudah melihat Frans dalam keadaan yang lusuh.
''Kau sudah datang Friska?" ucapnya datar.
''Mas, apa yang terjadi denganmu?" tanya Friska sambil memegang wajah Frans yang terlihat luka.
''Wanita itu ternyata penipu,'' ucapnya tidak sadar.
''Wanita siapa Mas?" tanya Friska penasaran.
''Akan aku balas wanita itu karena sudah menjerumuskan ku masuk ke dalam kandang Dio.'' Friska langsung menutup mulutnya tidak percaya Frans kena jebak.
''Jadi, Mas bagaimana bisa kabur dari sana?" tanya Friska ingin tahu yang terjadi sebenarnya.
Frans tidak menjawab dia langsung masuk ke dalam untuk membersihkan tubuhnya sebelum mereka kembali ke tanah air.
''Friska bereskan semua pakaianku!" perintah ya.
''Ya Mas,'' sahut Friska langsung menuju ke kamar melakukan perintah Frans.
Di dalam kamar mandi Frans merasa menjadi pria bodoh karena terlena kepada seorang wanita cantik.
''Awas kau Lady, akan ku buat perhitungan kalau kita bertemu suatu saat,'' geramnya.
__ADS_1