SEWA ISTRI

SEWA ISTRI
Honeymoon


__ADS_3

Friska begitu gugup merasakan sentuhan tangan Riko yang mengenai kulitnya.


Bahkan tangan pria dewasa itu sudah mulai berkelana ke mana-mana membuatnya semakin merinding.


''Rik boleh berikan aku waktu?" pinta Friska.


''Sampai kapan aku menunggu Friska?" tanya Riko sudah tidak sabar lagi untuk melakukan hubungan itu.


''Aku makan memberitahukan kepadamu secepatnya.'' Riko mengangguk mengerti lalu dia berdiri bergegas menuju ke kamar mandi.


Friska benar-benar terkejut melihat perubahan Riko karena menolaknya untuk melakukan untuk pertama kali bagi mereka berdua.


''Sepertinya dia memang marah,'' batin ya.


Friska memilih mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum Riko keluaran dari kamar mandi.


Nama tiba-tiba saja pria itu keluar menggunakan handuk karena baru saja mandi. Kedua bola matanya terbelalak melihat pemandangan itu yang sangat indah.


Friska tidak tahu kalau Riko sudah berada di belakangnya dari tadi dia sibuk mengganti pakaian.


''Friska, di mana pakaian kau buat?'' Friska terkejut bukan main langsung berbalik menutupi dirinya sendiri menggunakan kedua tangan.


''Apa yang kau lakukan disini, Riko?!" pekiknya.


''Aku dari tadi memanggilmu untuk mengambil pakaian ternyata kau disini,'' bohong Riko.


''Ya, maaf aku akan mengambil pakaianmu.'' Namun Riko dengan cepat langsung menghentikan tangan Friska agar dia menatap wajahnya saat ini.


''Tunggu sebentar ada yang ingin aku katakan kepadamu!" Friska merasakan debar jantungnya berdetak begitu kencang.


''Apa yang ingin kau katakan Riko?" tanya Friska begitu panik.


''Jangan memanggilku dengan nama itu lagi tapi hubby ya,'' minta Riko.


''Ya, hubby.'' Riko tersenyum puas lalu keluar dari sana menunggu pakaiannya disediakan.


Friska sampai terkejut mendengar permintaan aneh Riko dia berpikiran tidak tidak atau yang akan dikatakan pria itu.


Tidak lama kemudian Friska keluar dengan membawa pakaian dan celana.


''Maaf ya aku sulit untuk menentukan pakaian yang kau pakai malam ini.'' Riko dengan senang hati menerimanya langsung memakai.


''Kau tidak perlu merasa bersalah apapun yang kau berikan akan ku pakai.'' Friska tersenyum hangat mendengar ucapan Riko.


''Mami pasti menunggu kita di bawah, aku ingin menemuinya Riko,'' ucap Friska.


''Mami pergi bersama dengan teman-temannya untuk menikmati acara khusus mereka sayang. Kalau tidak perlu mengkhawatirkan mami,'' seru Riko.


''Kenapa?" tanya Friska heran.


''Mami hidupnya dari dulu kenal dengan fasilitas yang sudah kuberikan dari dulu Friska. Setelah acara kita selesai mami kembali melakukan pesta di tempat teman-temannya.'' Friska tidak menyangka dengan gaya hidup mertuanya itu yang begitu hai don't.


''Ya aku mengerti,'' ucap Friska pelan.


''Jadi, bagaimana dengan obrolan kita Friska?" tanya Riko sengaja memancing Friska.


''Yang mana?" tanya Friska tidak mengerti yang dikatakan Riko.


''Ayo kita tidur, bakso kita akan melaksanakan perjalanan jauh.'' Riko justru memilih naik ke atas tempat tidur.


''Ke mana?" tanya Friska penasaran.


''Mami menyuruh kita melakukan honeymoon di pulau pribadi kami. Jaraknya dari sini tidak terlalu jauh jadi santai saja.'' Friska tercengang padahal dia sama sekali benar-benar belum siap dengan hal itu.


''Kau menerimanya?" tanya Friska begitu penasaran.


''Ya, aku tidak mau mengecewakan mami sayang.'' Friska menjadi merasa bersalah membuat suaminya harus berbohong kepada mami.


Friska memberikan jarak kepada Riko bahkan dia membelakanginya karena ketakutan untuk malam pertama mereka.


''Kenapa jauh seperti itu sayang, ayo mendekatlah ke sini!" Kembali tangan Riko menyentuh punggung Friska.


''Aku nyaman seperti ini Rik.'' Riko tidak putus asa dia juga mendekatkan diri kepada Friska.


Friska menjadi ketakutan merasakan sentuhan itu kembali kepadanya membuat bolu bulu halus nya merinding.


''Ya Tuhan jangan sampai pria ini memintanya kepadaku,'' lirihnya pelan.


''Kau tidak apa-apa kan Friska?" tanya Riko karena merasakan tubuhnya bergetar.


''Ya Rik aku tidak apa-apa,'' jawabnya.


''Ayo lebih baik kita tidur karena besok melakukan perjalanan cukup panjang.'' Riko memeluknya dari belakang namun pelan-pelan Friska sudah mulai merasa terbiasa.


Keesokan harinya mami kembali dengan wajah yang terlihat capek karena melakukan pesta sampai pagi.


Dia melihat menantu dan putranya itu sudah siap-siap anak menuju ke pulau pribadi mereka.


''Mami, kami pergi!" ucap Riko.


''Kalau sudah sampai di sana kabarin mami ya!" ucapnya sambel tersenyum melihat pasangan pengantin baru itu.


''Ya mami,'' angguk Friska.


Mami mengantar mereka berdua walaupun kepalanya masih pusing tidak tidur satu malam ini. Setelah kepergian Friska dan Riko baru pun mami masuk ke dalam.


''Enak sekali akhirnya aku bebas biarlah mereka melakukan acaranya di pulau itu,'' kekeh mami lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Friska dan Riko tidak lama kemudian mereka sampai di pulau pribadi itu. Kedua bola mata Friska kagum melihat isi pulau yang begitu rapi bahkan tertata dengan baik.


''Ayo, kita masuk ke dalam!" ajak Riko.


''Tempat ini punya siapa Rik?" Pria itu menatap tajam Friska karena masih menyebut namanya bukan hubby.


''Hubby!'' ralat Riko.


''Maaf aku belum terbiasa memanggilmu namamu seperti itu,'' lirihnya.

__ADS_1


''Kau akan ku hukum karena tidak mematuhi apa yang kukatakan Friska.'' Riko melepaskan semua bawaannya langsung menggendong Friska.


''Hubby, apa yang kau lakukan turunkan aku?!" pekik Friska.


''Kau benar-benar tidak mau patuh kepada ku ya, hari ini kau akan ku hukum.'' Riko terus membawa Friska masuk ke dalam tidak peduli pengurus pulau melihat mereka berdua seperti itu.


''Ampun, aku tidak sengaja mengatakan itu tadi, Hubby mereka melihat kita,'' ucap Friska begitu malunya dia digendong sampai masuk ke dalam kamar.


''Aku tidak peduli karena kita harus melakukan sesuatu di sini sayang.'' Riko membawa Friska menuju ke kolam pribadinya.


''Apa yang ingin kau lakukan hubby?" tanya Friska takut.


''Apa memangnya ingin ku lakukan? Aku hanya ingin menatap wajah istriku ini memangnya tidak bisa?" tanya Riko sambil menggoda Friska.


Friska manahan malu karena sudah ketahuan terlalu memberikan jarak kepada mereka berdua.


''Aku pamit mau menyusun pakaian hubby,'' alasan Friska.


''Biarkan mereka yang melakukan itu sekarang temani aku.'' Riko membawanya keluar dari mana mereka pergi ke puncak.


''Tempat apa ini?" tanya Friska kagum melihat isi pulau yang benar-benar indah.


''Buat anak,'' goda Riko.


''Riko?!" teriak Friska sambil memukul pundak Riko.


Pria dewasa itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah kekesalan Friska.


''Apa kau tidak pernah melihat orang melakukan itu tempat terbuka sayang?" tanya Riko lagi.


''Aku tidak mau membahas hal seperti itu hubby, sudah siang aku mau kembali,'' alasannya.


''Tidak boleh sebelum kita melakukan itu sayang,'' tambah Riko.


Friska mencari cara untuk lolos dari Riko tiba-tiba dia melihat kelinci sedang bermain-main tepat di belakang Riko.


''Hewan apa itu hubby?" tanya Friska sambil menunjuk.


''Apa?" Tiba-tiba Friska sudah tidak ada lagi di hadapannya sudah berlari ke kencang mungkin kembali ke vila.


Riko menjadi tertawa terbahak-bahak melihat perlakuan Friska yang menggemaskan.


''Aku juga tidak tahu apakah bisa melakukan itu kepadamu Friska sementara masalah kita berdua masih belum selesai,'' batin Riko.


Friska duluan sampai dia langsung mengunci kamera agar Riko tidak masuk ke dalam.


''Riko benar-benar pria yang begitu nekat mau melakukan itu kepadaku,'' kesalnya.


''Sayang, buka pintunya?" panggil Riko.


''Dia sudah di luar? Bukankah jarak antara kami begitu jauh?!" pekik Friska.


''Sayang kenapa belum membuka pintu ya?" panggil Riko lagi.


''Ya sebentar.'' Friska was-was dia tidak mau melihat Riko karena masih kesal dengan pria itu.


''Kenapa kau tinggalkan aku sendirian?" keluh Riko.


Riko benar-benar tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Friska.


''Kau lupa kalau tempat ini adalah milikku jadi jalan pintas otomatis aku tahu dong,'' kekehnya.


''Jangan pernah melakukan itu lagi,'' ucap Friska.


''Aku hanya bercanda tidak serius kau saja yang terlalu berlebihan meninggalkanku sendirian di sana.'' Riko langsung keluar dari kamar dengan wajah yang terlihat kesal.


''Dia marah?" batin Friska.


Makan siang terlewatkan begitu saja Friska sudah lama menunggu Riko kembali ke vila namun pria itu sama sekali tidak mau menunjukkan batang hidungnya.


''Di mana dia?" ucapnya sambil mengelilingi tempat itu yang begitu luas.


''Nona sedang apa di sini?" tanya seorang pelayan sedang membawa makanan.


''Mbak tadi melihat hubby?'' tanya Friska.


''Hubby?" Pelayan itu tidak sadar apa yang dikatakan Friska adalah panggilan khusus untuk Riko.


''Maksudku Riko, dari tadi aku tidak melihatnya?" tambah Friska.


''Tuan sedang melakukan olahraga di ujung sana Nona,'' tunjuknya.


''Oh seperti itulah.'' Friska merasa bodoh sudah berulang kali dia melewati tempat ini namun tidak menyadari Riko berada di dalam sana.


Pelan-pelan Friska membuka pintu dia disuguhi oleh pemandangan yang begitu indah.


Pertama kalinya dia melihat tubuh Riko penuh dengan keringat membanjirinya.


''Astaga apa yang kau pikirkan Friska? Dia itu kan memang pria yang berotot?" kekehnya.


''Sedang apa kau di sana?" Riko ternyata dari tadi sudah menyadari keberadaan Friska.


''Maaf, aku tidak sengaja membuka tempat ini ternyata kau berada di sini,'' bohong Friska.


''Kau mau berolahraga?" tawar Riko.


''Apah aku melakukan itu?" Riko tidak menjawabnya justru memasukkan Friska.


''Ganti bajumu dan kau bebas memilih yang mana kau gunakan.'' Setelah mengatakan itu Riko kembali melakukan olahraga mengencangkan otot-otot tubuhnya yang sudah lama tidak di asah.


Friska ragu-ragu untuk mengganti pakaiannya dia hanya ingin memastikan Riko saja malah justru diajaknya berolahraga.


Tidak lama kemudian Friska kembali menggunakan pakaian olahraga yang couple dengan Riko.


''Kau kenapa mengenakan pakaian itu?" protes Riko.


''Aku tadi hanya melihat ini aja di sana,'' jawabnya gugup.

__ADS_1


''Buka!" ucap Riko.


''Apa? Aku tidak bisa melakukannya?" Friska langsung mundur beberapa langkah.


''Bukan bajumu yang dibuka tapi kaus kaki mu.'' Friska benar-benar begitu malu sekali dia merasa bodoh.


''Ya,'' angguk Friska pelan.


Riko dari tadi menahan tawa yang dikeluarkannya di depan Friska.


''Apa yang lucu?" kesal Friska tidak terima ditertawakan seperti itu.


''Kau kenapa menjadi seperti ini Friska?" kekehnya.


''Apa?" bentaknya tiba-tiba di hadapan Riko.


''Kau membentak ku?" tanya Riko tidak percaya.


''Maaf, aku tidak sengaja melakukan itu.'' Friska langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.


''Baiklah sebagai ganti hukuman kau harus olahraga menggunakan semua ini.'' Friska terbelalak mana mungkin dia bisa menggunakan berbagai macam alat olahraga yang diyakini sangat berat.


''Aku tidak bisa melakukannya hubby yang lain aja ya,'' minta Friska.


''Baik, kalau begitu kita berenang.'' Friska semakin melotot tidak yakin bisa berenang bersama dengan Riko.


''Aku juga tidak bisa berenang hubby,'' jawabnya lagi.


''Kau tidak bisa berenang?" Riko tidak percaya yang dikatakan Friska.


''Ya, aku tidak berbohong hubby,'' lirihnya.


''Kalau begitu kita tetap ke kolam.'' Friska benar-benar ketakutan namun dia tetap mengikuti Riko.


''Aku harus melakukan apa pria ini benar-benar marah kepadaku,'' keluhnya.


Friska melihat kolam yang begitu bersih dan jernih.


''Ayo kita bukan di sini!" Friska terkejut padahal dia sangat menyukai tempat ini.


''Kita mau ke mana?" tanya Friska dari tadi dia terus ditarik.


''Itu, kita berdua ke box itu.'' Friska terbelalak untuk apa mereka di sana.


''Apa yang kau lakukan? Tempatnya begitu kecil?!" pekik Friska.


''Ya, tempatnya adalah khusus untuk merendam untuk dua orang.'' Friska baru menyadari apa yang akan dilakukan Riko.


''Habis ini dia berenang,'' keluhnya lagi.


''Ganti pakaianmu sayang,'' goda Riko.


''Aku tidak bisa melakukannya hubby,'' rengek Friska.


''Bisa, kita berdua sudah menjadi suami istri sayang apalagi yang kau takutkan?" ucap Riko.


Friska melihat pakaian yang di tangannya benar-benar membuat kedua bola matanya sakit.


''Ini bukan pakaian tapi bahan yang belum selesai dijahit,'' keluh ya.


Riko menang banyak bisa membuat Friska tunduk kepadanya. Walaupun sempat kesal tapi dia membuatnya merasa sakit hati.


''Cantik sekali,'' ucap Riko tidak sengaja melihat penampilan Friska.


''Apa? Jangan menatapku seperti itu?" ujarnya.


''Aku hanya melihat istriku, memangnya tidak bisa?" kekeh Riko.


Friska memilih duduk di bawah agar bisa menutupi dirinya sendiri dari pandangan Riko.


''Kenapa duduk di sana? Ayo duduk di sampingku sayang?" rayu Riko karena di hadapan mereka berdua jelas sekali kaca yang begitu transparan membuat pemandangan itu kontras.


''Aku nyaman duduk di sini hubby,'' alasannya.


Riko tidak diam dia langsung menggendong Friska membawanya duduk di pangkuan.


''Hubby?!" pekik Friska sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Riko.


''Jangan melawan lagi Friska, cukup kau terlalu banyak bicara dan menolakku.'' Friska benar-benar tidak bisa bergerak karena sudah dikunci Riko.


''Hubby, aku tidak bisa bernafas?" ucapnya pelan.


''Mau aku bantu?" tawar Riko sambil mempererat pelukannya.


Friska geleng-geleng kepala tidak usah mengatakan apapun lagi perasaannya begitu sulit untuk dikuasai dengan situasi yang saat ini.


Riko tidak mau diam mulai mengambil kesempatan untuk membuat Friska agar jatuh ke dalam pelukannya.


''Friska boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Riko halus.


''Apa itu?" tanyanya gugup.


''Aku mau kita berdua menyatu di sini.'' Tidak tahu lagi bagaimana wajah Friska saat ini sudah merah tidak ter katakan lagi.


Riko benar-benar mampu membuat melayang ke udara walaupun hanya sentuhan itu.


''Hubby pelan-pelan aku sangat sulit untuk bernafas,'' ucap Friska setelah penyatuan itu lepas.


''Boleh kita lakukan sampai aku mengatakan sudah?" minta Riko lagi.


''Apa?'' Riko kembali melakukannya tidak peduli bagaimana wajah Friska bagaikan tomat yang sudah matang.


''Bagaimana ini? Pria ini pasti akan menuntut yang lebih?" ucap Friska dalam hati sambil memikirkan cara agar bisa lepas dari Riko.


Riko semakin sudah tidak terkendali membawa Friska menuju ke kolam karena di sini adalah puncaknya untuk melakukan honeymoon secara bebas.


''Kita lakukan di sini ya sayang,'' bisik Riko.

__ADS_1


''Tapi tempatnya terbuka hubby, bagaimana nanti ada yang melihat kita?" tanyanya panik.


''Tenanglah tidak akan ada yang berani mencoba untuk melihat kita di sini melakukannya sayang. Kau cukup hanya memejamkan kedua bola mata,'' bisik Riko sambil mengusap kepala Friska lembut sampai membuat wanitanya itu merasa sudah lebih baik.


__ADS_2