
Friska melihat kepergian Frans perasaannya begitu hancur karenamu tidak bisa dihentikannya karena pria itu sudah pergi jauh.
''Tega kau Mas,'' tangisnya.
Friska masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi menghilangkan penat. Masalah dalam rumah tangganya kembali muncul setelah sekian lama.
Ada perasaan tidak terima terhadap perubahan Frans semenjak mereka tinggal di negara ini.
''Andai saja dulu kami tidak memiliki masalah di tanah air semua ini tidak akan terjadi,'' ucapnya sesenggukan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, Friska sendirian mengopi sambil melihat langit yang terlihat mendung.
Ponselnya tiba-tiba bergetar terlihat nama seseorang di sana lalu Friska mengangkat.
''Ya Loida?" sahut Friska halus mungkin agar temannya itu tidak mendengar suaranya yang serak.
''Kamu bisa masuk tidak kerja malam ini Friska, si Tian tiba-tiba pulang kampung karena kedua orang tuanya baru saja berpulang,'' seru Loida.
''Ya, sebentar aku akan datang ke sana.'' Friska mematikan ponselnya langsung bergegas mengenakan pakaian kerja.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang mengganggu dia walaupun jalan kaki sendirian.
__ADS_1
''Friska?" panggil seseorang dari seberang.
''Riko, kamu di sini?" tanya Friska tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan pria itu.
''Ya, aku dan kedua orang tuaku sedang minum di sana,'' tunjuknya ke sebuah restoran.
''Itukan tempatku bekerja Riko,'' jawab Friska.
''Oh ya? Kamu di sana mau bekerja?" tanya Riko sambil melihat pakaian dinas Friska.
''Ya, temanku baru saja kembali ke tanah air malam ini aku harus menggantinya.'' Riko senang bukan main mendengar ucapan Friska.
''Ayo! Bukankah kau mau kesana kebetulan kedua orang tuaku belum menghabiskan kopi ya!" Friska mengangguk mengerti dia mengikuti Riko dari samping karena pengasuhnya telah mendorong dia dari belakang.
''Halo Paman, tante,'' sapa Friska.
''Hai, jadi kamu teman Riko?" tanya ayah Riko.
''Ya Paman,'' jawab Friska gugup.
Friska melirik ke arah Riko terlihat senyum-senyum namun dia langsung memalingkan wajahnya.
__ADS_1
''Kamu bekerja di sini ya nak?" tanya ibu Riko sambil melihat pakaian dinas Friska.
''Ya tante,'' angguk ya.
''Cantik kan ayah, Bu?" seru Riko.
''Kamu yang jelek.'' Spontan mereka tertawa di sana langsung mendapatkan perhatian para pengunjung.
Friska pamit harus kerja malam ini sementara keluarga Riko kembali menikmati kopi.
Riko dari tadi senyum-senyum sendiri melihat Friska melayani pelanggan begitu baik.
''Ayah, Bu, aku menginginkannya!" seru Riko.
''Tapi dia sudah berumah tangga nak, kamu tidak boleh menjadi perusak rumah tangga orang lain,'' ucap ibu Riko.
''Riko sudah mengetahui rumah tangganya Bu. Friska selama ini tidak ada mendapatkan perhatian dari suaminya.'' Kedua orang tua Riko menatap, ternyata putranya ini begitu menginginkan Friska sampai mengetahui hubungan pribadi wanita itu.
''Kalau kau menginginkan ya jangan sampai terlihat, ayah dan ibu tidak mau mendapatkan masalah lagi Riko.'' Riko begitu senang dia kali ini tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya.
''Aku akan berusaha sebaik mungkin ayah, Bu. Akan ku tunjukkan siapa diriku sebenarnya.'' Kedua orang tua Riko hanya menunggu saja mereka berharap kali ini Riko bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan mencintai sepenuh hati.
__ADS_1
Friska melewati meja Riko tidak lupa dia tersenyum lalu lewat untuk kembali ke belakang. Riko semakin bersemangat berbeda sebelumnya tidak ada kehidupan dalam dirinya selama ini pasca perceraiannya dengan sang mantan istri.