Siapakah Pria Misterius Yang Muncul Di Dalam Mimpiku

Siapakah Pria Misterius Yang Muncul Di Dalam Mimpiku
Episode 15


__ADS_3

Percakapan Ai mulai


"Assalammualaikum wr.wb. halo...bagaimana kabar kalian semua? Semoga sehat selalu Aamiin... Kalau ada yang kurang sehat semoga lekas sembuh Aamiin..."


"episode hari ini menceritakan saya yang selalu menahan amarah saya, kekesalan, emosi dan lainnya..." sedikit murung.


"kenapa?" menjawab pertanyaan pembaca.


"alasannya...karena saya tipekal orang yang tidak telalu mudah marah dan malah kearah menahan amarah..." berbicara sesantai mungkin.


"kalian pasti pernah mendengar...kata-kata seperti ini 'orang pemarah memang sangat berbahaya atau menakutkan ketika dia sudah sangat marah tapi... Orang pendiam akan lebih jauh menakutkan ketika dia marah terutama jika orang pendiam menahan amarahnya' pasti kalian pernah mendengarnya?"


"bahkan ada yang mengibaratkan jika orang pendiam sudah tidak bisa menahan amarahnya dia akan meledak seperti gunung berapi atau bom saking dia sudah melepas amarah yang dia pendam"


"bagaimanakah ceritanya? Silahkan langsung baca...selamat membaca"


Percakapan Ai selesai.


...Jangan di tahan terus! Terkadang kamu juga harus melepaskan emosimu, amarahmu, dan kekesalanmu...


Di sekolah, tepatnya jam pulang sekolah, terlihat Ai yang sudah selesai piket dan sedang membuang sampah dari kelasnya.


"......" Ai terdiam.


"(melihat ke arah tongkat kayu bekas gagang sapu)"


"tap...tap...tap" mendekati tongkat kayu.


"tap" berhenti.


"(mengambil tongkat kayu)"


"......." menatap tongkat kayu.


"ggggrrrkkkttt" mencengkram tonkat kayu dengan kuat.


"breeeaaakkkttt!!!" memukulkan tongkat kayu ke batu.


"tukkrr...trraakk..." suara potongan tongkat kayu.


"(melepaskan potongan tongkat kayu ke tanah)"


"....."


"tap...tap...tap" berjalan pergi dan pulang.


Ai berjalan pergi dari tempat dimana dia memukulkan tongkat kayu menjadi dua, tampa Ai sadari sedaring tadi ada yang melihat apa yang Ai lakukan.


"tap tap tap" seseorang berjalan ke arah tempat Ai barusan.


"(berhenti)"


"......" menatap tongkat kayu dan mengambil ke dua potongan.


"ini...tongkat kayu ini mungkin sedikit agak tipis jadi mudah patah tapi...tetap saja tidak akan semudah itu mematahkannya..."


"apakah kau semarah itu... Sahabatku?"


Malam hari tiba Ai memutuskan beristirahat dan tidur, dan tak lama dia masuk ke alam mimpi dan di dalam mimpi...


Hari yang mendung dengan suasana sedikit dingin dan tidak bersahabat, suasana di villa agak seram lebih tepatnya di ruang latihan bela diri Ai sedang berdiri diam sambil menunduk dan mengigat yang terjadi di sekolah.


"......" Ai menatap ke arah lantai.


"(mengepalkan tangan)"


"...." tatapan Ai berubah menjadi melotot.


"tidak di sangka kamu ada di sinih..." Akak yang baru sampai.


"Huh!?" tersadar kembali.


"(melihat ke arah Akak)"


"......." Ai terdiam.


"apa kamu kemari untuk latihan bela diri atau yang lainya?" berjalan ke arah Ai.


"......" Ai hanya diam.

__ADS_1


"Hah! Yaa...tunggu sebentar" Akak menyiapkan sesuatu.


"......" Ai masih tidak mau berbicara.


"nahh sudah selesai... Ai..."


"(melihat ke arah Akak)"


"Huh!!??"


Saat Ai melihat ke arah Akak, dia meyiapkan boneka target pukulan dan sebuah tongkat bisbol.


"(Akak menghampiri Ai)"


"ini...ambilah" memberi tongkat bisbol.


"untuk apa?"


"ambil saya..." memberikan.


"(Ai mengambil tongkat bisbol)"


"....." menatap tobgkat bisbol.


"apa lagi yang kau tunggu?"


"Huh?! apa?"


"pukul boneka targetnya..."


"....." Ai bingung.


"Jangan di tahan terus! Terkadang kamu juga harus melepaskan emosimu, amarahmu, dan kekesalanmu"


"Deg!" terkejut.


"apa kamu terkejut! Bagaimana saya mengetahui...kalau kamu sekarang sedang menahan emosi, amarah dan kekesalanmu?"


"......" Ai terdiam.


"Akak tau... Karena Akak bisa melihat dan merasakan kamu yang sedang marah..."


"......"


"......" menatap Akak.


"Disinih kamu bisa melampiaskan semua yang kamu tahan, sekarang lepaskan semuanya! Luapkan semua emosimu! Lampiaskan semua amarahmu! Kekesalanmu! Ke arah boneka target keluarkan semua yang kamu tahan...ingat kembali apa yang membuatmu kesal dan marah, ingat! Ingat!"


"(Ai yang mengigat apa yang nembuat dia kesal dan marah)"


"ingatlah Ai! Ingatlah!"


"Aaaaaaa..." berteriak.


"bugk!" memukul boneka target.


"....." Akak yang melihat Ai.


"(Ai yang terengah-engah)"


Boneka target yang Ai pukul dengan langsung penyok (boneka target terbuat dari kayu dan besi tipis) terlihat wajah Ai begitu amarah dan kesal mengigat apa yang terjadi padanya tadi di sekolah, Akak terus mengatakan kepada Ai untuk melampiaskan semua kekesalan, amarah dan emosi yang dia tahan, Ai meluapkan semua yang dia tahan, terus memukul boneka target sampai akhirnya (1 menit kemudian) boneka target pun sudah hancur dan tidak berbentuk lagi.


"(Ai yang terengah-engah)"


"kamu sudah melampiaskan semuanya?"


"....." Ai tidak terjawab.


"Ai..."


"(melihat ke arah Akak)"


"kalau kamu masih marah...kamu boleh melampiaskan lagi ke boneka target, tapi kalu kamu sudah selesai melampiaskan semuanya... Ambilah air di bak ini..." menyodorkan air yang di dalam bak kecil.


"....." menatap air di dalam bak.


"(menjatuhkan tongkat bisbol)"


Ai mendekati Akak dan mengambil air dari bak dengan ke dua tangan lalu membasuh wajahnya...

__ADS_1


"hahhh...hahhh...hahhh..." terengah-engah.


"(terduduk di lantai)"


"(Akak meletakan bak dan memberikan handuk kecil kepada Ai)"


"....." menerima handuk.


Akak mengajak Ai untuk duduk bersandar ke dingding, lalu Akak memberikan air minum kepada Ai, setelah meminum air keheningan diantara mereka muncul, selang beberapa menit Akak pun membuka pembicaraan...


"sudah merasa tenang?"


"hmm..." Ai menganguk.


"merasa lebih baik?"


"hmm..."


"maaf...terimakasih..."


"diantara sahabat tidak ada kata maaf dan terimakasih" menatap Ai.


"......" menatap Akak.


"mau menceritakan apa yang terjadi?"


"hmm..."


Ai menceritakan apa yang dia alami di sekolah, ia di bully seperti biasa oleh teman laki-laki (sekelasnya) dan seperti biasa Ai tidak terlalu mepedulikan dan tidak menangapi ocehan atau ejekan teman laki-lakinya bahkan sampai semua temqn sekelasnya mengujing-ujingkan dirinya Ai tetao diam tidak peduli.


"lalu apa yang membuatmu sangat marah seperti itu?"


"mereka membawa nama orang tua saya dalam mengejek saya dan ejekannya keterlaluan"


"......" Akak mulai merasa kesal.


"saya bisa tahan jika saya di ejek...tapi saya tidak bisa tahan jika orang tua saya yang di ejek terutama mamah saya yang sudah tenang di surga"


"(tongkat bisbol yang di genggam Akak patah manjadi dua karena Akak mencengramnya dengan kuat)"


"otomatis saya marah dan langsung menghadapi anak laki-laki itu, saya tidak peduli dia mau terus mencakar lengannya, banku, meja, tembok dan mengejar anak laki-laki itu tampa saya sadari banyak bekas cakaran saya di kelas"


"......" menatap jari-jari Ai.


"dan akhirnya guru datang, saya menceritakan apa yang terjadi, sedangkan anak laki-laki itu masih syok dan terkejut bahkan semua teman sekelas juga terkejut karena untuk pertama kalinya mereka melihat saya marah (karena saya tidak pernah marah).


"(Akak menenangkan dirinya)"


"jadi begitu..."


"emm..."


"yang terpenting sekarang semua yang kamu tahan sudah diluapkan...dan sudah merasa legakan?"


"emm...sudah merasa lega..."


"tapi apa tidak apa-apa? Meluapkan seperti itu?"


"tidak apa...jika ditahan terus pun malah akan membahayakan diri sendiri dan orang lain"


"emm..."


"baiklah...bagaimana kalau kita membuat es krim untuk makan cemilan..."


Ai dan Akak pergi dari ruang latihan dan pergi ke dapur untuk membuat es krim. Setelah membuat es krim mereka memakan es krim bersama sambil menonton anime movie detektif conan yang melawan kaito kid. Dan amarah Ai sudah hilang.


Pagi hari tiba Ai bangun dari mimpinya, setelah duduk dia mengigat apa yang terjadi kemarin di sekolah dan nasehat Akak saat di dalam mimpi...


"......" Ai terdiam.


Percakapan Ai mulai


"nahh...begitulah yang terjadi...Akak membantu saya untuk melepas semua tekanan, amarah, emosi, dan kekesalan saya dia pun mengigatkan saya akan nasehan dari semua guru saya, yang saya lupakan semenjak hari itu...saya sedikit bisa mengembalikan amarah saya...


"......" tersenyum.


"kalau kalian perna bertemu saya atau mendengar soal saya dari teman-teman, kakak kelas, adik kelas, guru-guru dan orang-orang di sekitar kalau saya itu jarang marah itu 'Benar' karena saya bisa sedikit mengendalikan emosi saya"


"baiklah...sekian dulu untuk hari ini...terimakasih sudah membaca... Sampai jumpa lagi dadahh..."

__ADS_1


"wasalammualaikum wr.wb."


__ADS_2