
Pagi itu Sheila sudah pergi ke kampus dan dia tengah berdiri bersama Marissa di taman kampus. Tiba-tiba seorang laki-laki mendekati dirinya.
"Sheila, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Bisakah kau ikut denganku?" Ucap pria itu.
"Kau bisa mengatakannya disini." Balas Sheila.
"Emmm... Baiklah, aku ingin kau mengajariku perhitungan matematika. Tentu saja jika itu tidak mengganggu dirimu. Ngomong-ngomong namaku Kenzo."
"Tidak masalah, kita bisa menentukan waktunya nanti." Balas Sheila.
"Te... Terima kasih." Balas Kenzo gugup.
Saat itu Sheila merasa seseorang tengah memandangnya dengan tatapan mematikan dari arah belakang. Tapi itu bukanlah tatapan dari para gadis yang menyukai Dafa. Sheila menatap ke arah belakang dan melihat Dafa tengah menatap kearah Kenzo dan juga dirinya, seolah mereka berdua telah melakukan suatu kejahatan.
'Kenapa dia terus menatapku? Aku tidak melakukan apapun bukan.' ucap Sheila dalam hati.
Kenzo lalu pergi, sementara Sheila dan Marissa kembali melanjutkan obrolan mereka dengan duduk di sebuah bangku.
Sheila dan Marissa kemudian masuk ke dalam kelas. Jam kuliah dimulai, Sheila mulai fokus. Hingga jam kuliah usai, Sheila lalu keluar kelas bersama dengan Marissa.
Kenzo datang menghampiri Sheila dan memberikannya sebotol minuman.
"Aku baru dari kantin kampus. Ini untukmu. Aku masih ada kelas, setelah itu kau bisa mengajariku bukan?" Ucap Kenzo.
"Tentu saja." Balas Sheila.
Kenzo lalu pergi, sementara Sheila dan Marissa beranjak menuju kantin.
Saat Sheila hendak membuka botol minuman yang diberikan Kenzo, dari arah belakang Dafa tiba-tiba merampas botol minuman itu dan menumpahkan seluruh isinya ke dalam tong sampah.
"Hei... Apa yang kau lakukan?" Teriak Sheila.
Dafa tidak mengatakan apapun dan terus saja menumpahkan minuman itu hingga tak tersisa.
"Ada apa dengannya?" Tanya Marissa.
"Sudahlah." Balas Sheila.
Sheila tak mau memperpanjang masalah dengan Dafa dan memutuskan untuk pergi membeli minuman yang lainnya. Tapi Dafa lebih dulu memberikan sebuah botol minuman padanya dengan menaruhnya di tangan Sheila.
'Apa-apaan ini? Apakah dia sedang bercanda? Kenapa dia mengambil botol minumanku tadi dan membuangnya kalau pada akhirnya dia memberikan ku minuman yang lain? Apakah minuman ini beracun? Tapi tidak mungkin kan? Lalu kenapa dia melakukan ini?' pikir Sheila.
"Hmmmm.... Terima kasih, aku rasa." Ucap Sheila.
__ADS_1
Dafa lalu melepaskan tangan Sheila kemudian pergi.
Setelah itu Sheila pergi ke perpustakaan untuk belajar matematika bersama Kenzo.
"Sekali lagi terima kasih Sheila!" Ucap Kenzo.
"Tidak masalah. Sekarang ayo belajar." Balas Sheila.
..PAIN! YOU MADE ME A YOU MADE A BELIEVER! BELIEVER!!!..
Seseorang memainkan musik dengan keras di dalam perpustakaan tapi tidak ada orang lain yang melakukan apapun.
'Apa itu? Biarkan aku melihat siapa orang bodoh itu.' pikir Sheila.
Sheila lantas mencari asal suara dan seperti yang dia pikirkan.
"DAFA!!! Apa yang kau lakukan?" Ucap Sheila.
Dafa tidak mendengarkan Sheila. Sheila pun mematikan musik Dafa.
"Kenapa kau mematikannya?" Ucap Dafa tampak marah.
"Kau tahu bahwa disini bukan tempat untuk ber'disko bukan?" Balas Sheila.
'Dia benar-benar sakit.' ucap Sheila dalam hati.
Sheila berbalik menatap Kenzo.
"Maafkan aku Kenzo, aku rasa hari ini kita tidak bisa belajar bersama." Ucap Sheila.
Sheila mulai mengambil barang-barangnya dan saat dia melihat ke arah Dafa, dia tengah menyeringai ke arah Kenzo.
'Eh, apakah dia marah pada Kenzo? Apa yang sudah Kenzo lakukan pada Dafa hingga membuatnya marah?' pikir Sheila.
Sheila lalu keluar dari perpustakaan.
Setelah jam perkuliahan selesai, Sheila dan marissa memutuskan untuk keluar bersama mereka berjalan di jalanan yang dekat dengan area tempat berbelanja, dan jalanan itu begitu ramai oleh orang-orang.
"Sheila, apa kau tahu setelah ujian nanti akan ada sebuah pesta di kampus semua orang akan menggunakan gaun yang sangat indah dan akan ada barangnya ke makanan ayo kita mencari gaun terbaik kita." Ucap Marissa.
Sheila tidak suka hal-hal seperti itu. Dia memang berasal dari keluarga kaya, tapi dia tidak hidup seperti seorang putri. Orang tua Sheila tidak pernah memberikan dia terlalu banyak hal. Sheila sendiri sudah terbiasa hidup seperti gadis normal lainnya dan bagi Sheila, semuanya akan lebih baik seperti ini. Jika saja Sheila hidup seperti seorang putri, maka dia tidak akan sama dengan dirinya seperti saat ini.
"Kau bisa membeli gaunnya, tapi aku tidak." Balas Sheila.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Di sana ada banyak yang menjualnya. Dan ada banyak gaun yang sangat indah, yang bahkan membuatku ingin berteriak histeris." Ucap Marissa.
Marissa terlihat seperti gadis kecil yang melihat gaun Tuan Putri. Terlihat jelas dari matanya yang berbinar. Sheila ingin membantu Marissa untuk memilih gaunnya karena dia tidak memerlukan gaun baru. Dia sudah mempunyai gaunnya sendiri yang diberikan seseorang sebagai hadiah di rumahnya. Sheila tidak pernah menggunakannya karena dia tidak menyukai hal yang berbau pesta.
"Aku sudah punya gaun di rumah, jadi ayo kita lihat gaun yang sempurna untukmu sekarang." Ucap Sheila.
"Baiklah." Balas Marissa.
Mereka berdua memilih sebuah gaun berwarna pink yang sangat indah gaun itu sangat cocok untuk marissa mereka lalu keluar dari dalam toko pakaian dan keduanya bertemu dengan beberapa gadis dari kampus mereka.
Salah satu dari mereka berkata kau, "kita tidak beruntung kita bertemu dengan wanita ****** ini!"
Sheila dan marissa pergi menjauh dari sana. Sheila tidak ingin membuang waktunya dengan para gadis itu. Tapi para gadis itu malah mengikuti mereka. Mereka menghentikan sheila dan marissa.
Salah satu dari mereka berkata, "karena kau adalah wanita ******. Kenapa kau tidak melakukan apa yang dilakukan oleh wanita ******?"
Setelah 2 detik, ada 4 orang pria yang mendekat ke arah mereka. Para wanita itu ingin membuat keempat pria itu mengganggu sheila dan marissa tapi mereka tidak tahu bahwa Sheila membunuh mereka dengan sekali sentuhan saja.
Para pria itu mendekat dan mencoba untuk menyentuh sheila tapis ayolah menendang mereka seperti dia tengah menendang sebuah bola.
"Ah kau, beraninya kau!" Teriak salah seorang pria.
Marissa yang berdiri dibelakang Sheila berteriak, "sekarang giliran kalian."
Para gadis itu tampak terkejut. Tapi mereka lebih terkejut lagi setelah melihat bagaimana bodohnya mereka ada banyak kamera di mana-mana dan satu menit kemudian seorang polisi datang dan membawa para gadis dan pria itu pergi.
'Sangat puas sekali.' ucap Sheila dalam hati.
Sheila melihat ke sekeliling dan dia mendapati sekelompok orang orang menatap ke arah mereka dan mereka bertepuk tangan. Sheila lalu menarik tangan marissa dan menyeret nya keluar dari dalam area berbelanja.
'Ya tuhan bahkan tidak bisa kah kami tenang bahkan saat tidak berada di kampus.' pikir Sheila.
Sheila lalu menemani marissa pulang ke rumahnya dan dia sendiri langsung kembali ke rumahnya. Itu sudah gelap dan tidak ada banyak orang di jalanan. Silat tiba di rumah setelah 5 menit saat dia masuk ke rumah, kakaknya langsung melompat ke arah Sheila, yang membuatnya hampir saja terjatuh.
"Sheila kau dari mana saja aku khawatir kepadamu." Ucap Sara, kakak Sheila.
"Aku ada sedikit masalah tadi. Maaf karena sudah membuatmu khawatir Kak." Balas Sheila.
"Kau tahu bahwa kakak sangat mengkhawatirkan dan menyayangimu bukan? Jangan pernah melakukan hal itu lagi dan jika kau terlambat teleponlah ke rumah." Ucap Sara.
"Baiklah Kak, maafkan aku." Balas Sheila.
Bersambung....
__ADS_1