
Di kediaman Sheila....
"Kak aku mau berangkat ke kampus dulu." Ucap Sheila.
"Baiklah sayang." Balas Sara, kakak Sheila.
Hari ini Sara tidak mengantar Sheila untuk pergi kuliah, dia ada pekerjaan penting yang harus dia urus. Jadi Sheila harus berangkat seorang diri.
Sheila memang tinggal bersama kakaknya dan seorang pelayan. Selama ini Shela belum pernah sama sekali melihat kedua orang tuanya. Sheila sebenarnya sangat merindukan kedua orangtuanya, tapi sampai saat ini, sekalipun dia tidak pernah bertemu mereka. Apalagi sampai memeluk mereka hanya sekedar merasakan bagaimana pelukan dari kedua orang tuanya itu. Tapi semua pengalaman itu membantu Sheila untuk menjadi pribadi yang jauh lebih kuat.
Saat Sheila tiba di gerbang kampus, sudah ada banyak mahasiswi di depan sana. Mereka menghalangi jalan untuk masuk. Saat Sheila hendak berjalan melewati gerbang, mereka membentuk sebuah dinding dengan tubuh mereka menghadang Sheila.
'Ada apa ini?' pikir Sheila.
"Kami tidak akan membiarkan mu masuk, sampai kami mematahkan semua tulang mu." Ucap salah seorang dari gadis itu.
'Dasar sekelompok gadis bodoh.' umpat Sheila dalam hati.
Sheila meras sudah begitu telat masuk kelas. Jadi Sheila memutuskan untuk mengakhiri semua drama yang dibuat para gadis itu lebih cepat. Sheila mendorong salah seorang gadis yang ada di hadapannya dengan begitu keras hingga mampu membuat mereka semua terjatuh. Sheila mengambil kesempatan dari hal itu dan langsung berlari kearah kelasnya.
Saat Sheila masuk ke dalam ruang tempat tes toefl akan dilakukan, Marissa yang juga ada di ruangan itu langsung menyapa nya.
"Hai Sheila...." Ucap Marissa dengan ceria.
Saat Marissa mengucapkan hal itu, seisi ruangan kelas melihat kearah Marissa lebih dulu, kemudian berbalik melihat kearah Sheila.
'Apa kami ini tampak seperti orang bodoh sampai dipandang seperti itu?' pikir Sheila.
Sheila lalu merapikan rambutnya. Dia berpikir bahwa rambutnya itu berantakan. Tapi semuanya baik-baik saja. Sheila lalu duduk diam dan melihat kearah kanan. Sheila lalu melihat ada sosok Dafa yang tengah belajar.
'Apa dia benar-benar menganggap serius taruhan itu?' pikir Sheila.
__ADS_1
Sheila berpikir, apa yang akan diminta Dafa untuk dia lakukan jika dia memang akan kalah darinya. Pikiran Sheila teralihkan saat seorang dosen masuk ke dalam ruangan itu.
Itu adalah dosen yang akan membimbing jalannya tes toefl.
Dosen itu tiba-tiba menuliskan sesuatu di papan tulis yang ada.
"Sebelum tes dimulai, ayo kita coba pecahkan jawaban dari pertanyaan ini." Ucap dosen itu. "Dafa kenapa kau tidak coba maju ke depan dan selesaikan pertanyaan ini." Ucap dosen itu.
"Tentu saja." Balas Dafa.
Dafa maju ke depan dan setelah beberapa saat ia langsung menyelesaikan pertanyaan itu dengan benar.
Para siswa lainnya mulai berkata,
"Kau sangat pintar Dafa."
"Tidak ada yang lebih baik dibanding Dafa."
"Dafa, menikahlah denganku meski aku ini seorang laki-laki "
"Sangat bagus Dafa, baiklah siapa selanjutnya yang bisa menyelesaikan pertanyaan ini?" Ucap dosen itu.
"Kenapa tidak kita biarkan Sheila yang maju dan mengerjakan soal yang itu. Lagi pula dia mahasiswa baru di sini. Ini adalah pertamanya masuk ke lab ini." Ucap Dafa.
'Yaah, yahh. Tentu saja. Kau tidak tahu bahwa kau sedang menggali kuburan mu sendiri.' ucap Sheila dalam hati.
Desain itu memberikan sahila pertanyaan yang sedikit rumit. Sheila mulai menulis di papan tulis sebelumnya dia melihat soal itu dan kemudian menyelesaikannya dengan mudah. Seluruh kelas termasuk dosen tampak terkejut.
"Sepanjang sejarah diriku menjadi dosen, aku tidak pernah melihat seorang mahasiswa yang begitu bertalenta seperti ini." Ucap dosen itu.
"Anda terlalu menguji saya pak." Balas Sheila.
__ADS_1
"Dia pasti curang, dasar curang." Ucap seorang gadis.
Sheila hendak mengatakan sesuatu, tapi dosen lebih dulu berucap.
"Aku yang membuat pertanyaan ini sendiri. Apakah kau meragukan profesionalitas ku?" Ucap dosen itu terlihat marah.
"Ti... Tidak Pak." Balas gadis itu.
Sheila melihat kearah Dafa. Dan Dafa juga tampak terkejut. Sheila memberikan tatapan arogan kepada Dafa.
'Lihatlah, aku lebih baik darimu bukan?' ucap Sheila dalam hati.
Dafa membalas tatapan Sheila dengan wajah yang menyebalkan.
'Hahahaha! Bersiaplah menjadi pelayan ku bajingand.' pikir Sheila.
Sheila kembali ke tempat duduknya dan berkata kepada Dafa, "kau terlalu menganggap aku remeh."
Kali ini Dafa tidak menampakkan wajahnya yang kesal, dia malah datang ke bangku Sheila yang membuat Sheila begitu terkejut.
Dafa memegang dagu Sheila dan berkata, "iya, aku memang menganggap mu lemah. Tapi ujiannya bukan hanya soal yang baru saja kau kerjakan tadi. Jadi bersiaplah, aku yang akan menang. Dan kau akan mengikuti semua yang aku mau." Ucap Dafa penuh percaya diri.
"Baiklah, tapi apakah kau harus menyentuh ku?" Ucap Sheila.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Sheila, Dafa menyadari bahwa seisi kelas termasuk dosen tengah memandang ke arah mereka. Sheila merasakan tatapan mematikan dari para gadis yang memuja Dafa di belakangnya.
"Hai kalian berdua, apa kalian pikir ini adalah tempat untuk bermesraan?" Ucap dosen.
Dafa dan Sheila berucap disaat yang bersamaan.
"Tapi..."
__ADS_1
"Tidak ada tapi, tapian... Keluar sana!!" Ucap dosen itu berteriak.
Bersambung.....