Siblings Love Story

Siblings Love Story
13. Perbedaan


__ADS_3

Keesokan paginya....


'Kenapa aku tidak bisa berhenti untuk memikirkan mimpi bodoh itu? Ya Tuhan, aku tahu aku tidak bisa menghentikan perasaanku kepada dirinya tapi...'


Amira terus memikirkan tentang Ariel. Dia merasa dirinya sedang berada dalam masalah sekarang.


Setelah selesai sarapan, Amira langsung pergi menjemput Cindy.


"Hai kelinciku." Ucap Cindy setelah keluar dari dalam rumahnya dengan penuh riang.


Tapi amira tidak merespon Cindy. Cindy pun mencubit pipi Amira dan berkata, "apa yang tengah kau pikirkan?"


"Eh, kapan kau keluar?" Tanya Amira kepada Cindy.


"Wow... Kau benar-benar melamun. Hmmmpphh... Ayo cepat kelinciku." Ucap Cindy kepada Amira dan duduk di dalam mobil.


Mereka berdua lalu tiba di kampus. Dan seperti yang terakhir kalinya dilakukan, Amira kembali memarkirkan mobilnya di belakang kampus.


Amira dan Cindy kemudian berjalan sembari mengobrol hingga menuju kelas mereka. Amira terus saja memikirkan tentang Ariel dan mimpinya yang semalam itu. Amira bahkan tidak memperhatikan jalannya dan menabrak Ariel yang ada di depannya.


"Hei, apakah kau baik-baik saja? Apa yang tengah kau pikirkan?" Tanya Ariel kepada Amira.


Setelah menyadari apa yang terjadi, Amira menutup wajahnya dan berkata, "aku mau pergi ke kelas."


Amira lalu berlari dengan cepat menuju kelasnya.


"Sesuatu yang aneh telah terjadi." Ucap Cindy.


Setelah beberapa saat saat, dosen masuk ke dalam kelas. Semua orang mulai terdiam. Dosen memanggil Amira, tapi Amira tidak mendengarkan dosen.


Ariel lalu mengguncang tubuh amira dan berkata, "dosen memanggilmu."


Amira berdiri dan meminta maaf kepada dosen karena tidak mendengarkan.


"Kemari lah dan berikan kertas ini kepada semua orang." Ucap dosen kepada Amira.


Amira mulai membaca kertas itu sebelum membagikan kepada semua temannya. Dan itu adalah kertas tentang camping. Amira menjadi begitu senang untuk segera pergi. Semua siswa lainnya juga begitu senang setelah membaca isi kertas itu.


"Jadi, kita semua akan pergi camping dan para mahasiswa akan mendapatkan tugas." Ucap dosen itu. " Akan ada empat tim dan setiap timnya terdiri atas 6 anggota. Hal lainnya akan diberikan oleh pelatih kalian nanti." Ucap dosen itu kepada semua orang.


"Wow itu terdengar menarik. Tidakkah kau berpikiran seperti itu Calvin?" Ucap Cindy kepada Calvin.


Calvin pun mengangguk dengan cepat.


"Satu hal lagi, aku akan memilih ketua dari empat kelompok itu. Kelompok pertama akan di ketuai oleh Roby Anggara. Kelompok kedua akan diketuai oleh Febby Adriana. Kelompok ketiga diketuai oleh Calvin, dan kelompok keempat diketuai oleh Amira. Sekarang kalian semua putuskan kelompok mana yang akan kalian pilih." Ucap dosen kepada para mahasiswa.


Kebanyakan mahasiswa ingin bergabung dengan kelompok Amira dan yang lainnya ingin bergabung dengan kelompok Calvin. Mereka semua gaduh akan hal itu, bahkan dosen tidak bisa menghentikan mereka. Amira menjadi marah dan menggebrak meja nya.

__ADS_1


"Diam lah..." Teriak Amira.


Semua dari mereka pun terdiam dan duduk di kursi mereka. Amira berdiri dan berjalan maju ke depan.


"Ketiga ketua kelompok, majulah." Ucap Amira.


Amira berkata kepada ketiga ketua kelompok untuk memilih anggota mereka. Dan mereka bertiga pun mulai memilih. Saat giliran Amira tiba, dia mulai melihat ke sekeliling.


Dia melihat ke arah Ariel yang tampak kesal. Amira pun tertawa kecil.


"Aku pilih Cindy." Ucap Amira.


Saat giliran Calvin tiba, dia memilih Ariel.


************


Di tempat lain, saat Sheila tiba di kampus bersama dengan Marissa, semua orang melihat ke arah dirinya.


Sheila memang sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi kali ini mereka melihat dirinya lebih aneh lagi. Sheila tidak sengaja mendengar beberapa orang berbisik.


"Dia membuat Ivana dan teman-temannya masuk ke dalam penjara..."


"Aku dengar bahwa Ivana meminta beberapa pria untuk memperkaos Sheila."


"Tapi para pria itu gagal karena Sheila menendang mereka seperti bola."


Sheila hendak menuju kelasnya saat Dafa berdiri dihadapannya.


'Oh tidak, apakah dia akan membully ku lagi, karena aku membuat gadis yang mengaguminya masuk penjara.' pikir Sheila.


"Apakah kau baik-baik saja? Mereka tidak menyentuh mu kan." Tanya Dafa.


'Eh, apa yang dia katakan? Apakah dia khawatir kepadaku? Tidak... tidak... Aku pasti berpikir berlebihan, bagaimana seorang pembully seperti dirinya khawatir kepada orang yang dibully?' pikir Sheila.


Sheila lalu berpikir bagaimana reaksi Dafa jika dia mengatakan bahwa para pria itu menyentuhnya.


'Hihihihi...! Kenapa tidak, aku coba saja untuk menggodanya.' pikir Sheila.


Sheila lalu menatap Dafa dan berkata, "mmmm.... Aku sedikit bingung awalnya. Jadi mereka menyentuh ku dan mencoba untuk membuka pakaian ku sedikit. Tapi ngomong-ngomong, aku berhasil melawan mereka setelah itu jadi..."


Sheila melihat kearah Dafa dengan wajahnya yang berpura-pura sedih. Tapi di luar dugaan, Sheila malah terlihat marah. Dafa lalu mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Dia berbalik dan Sheila tidak bisa mendengar ucapan Dafa dengan jelas dan menjauhkan ponselnya dari Sheila.


'Berani-beraninya mereka menyentuh wanitaku.' ucap Dafa dalam hati.


'Aku pasti salah lihat, dia tidak mungkin marah.' pikir Sheila.


"Ada apa kenapa kau bertanya?" Ucap Sheila.

__ADS_1


Dafa mendekat kearah Sheila, dia memegang dagu Sheila. Wajah mereka berdua sangat dekat, Sheila bahkan dapat merasakan napas Dafa.


"Tidak ada. Jangan berpikir jika aku melihat seseorang mengganggumu, aku akan menyelamatkanmu!" Ucap Dafa.


'Ehm! Dimana aku? Siapa aku? Apa yang aku lakukan? Pertama dia menanyakan apakah aku baik-baik saja dan kemudian dia mengatakan hal ini?' ucap Amira dalam hati.


Sheila melihat ke dalam mata Dafa dan berkata, "aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu."


"Hmmmpphhh!!! Bagus, ingat jangan pernah memikirkan hal seperti itu!" Balas Dafa.


"Bisakah kau melepaskan. Aku aku bisa merasakan semua wanita yang mengagumimu menatapku dengan tatapan mematikan." Ucap Sheila.


Dafa akhirnya melepaskan Sheila dan berjalan menjauh. Sheila pun pergi ke kelasnya bersama Marissa.


"Kenapa kau berbohong, ataukah kau ingin menggoda nya?" Tanya Marissa.


"Iya." Balas Sheila.


"Aku rasa dia marah setelah mendengarkan apa yang kau katakan tentang kejadian kemarin." Balas Marissa.


Sheila menepuk punggung Marissa dan berkata, "jangan bercanda. Itu pasti mustahil, aku rasa dia kecewa karena mereka semua tidak berhasil memperkaos aku."


"Aku rasa tidak." Ucap Marissa.


Mereka berdua lalu pergi ke kelas. Seperti biasanya semua orang menatap Sheila. Sheila lalu memilih untum duduk. Dia sedikit kelelahan karena tidak tidur dengan baik semalam. Sheila pun menaruh kepalanya di atas meja dan menutupi wajahnya dengan lengannya. Dia lalu menutup matanya.


'Plak! Plak!'


"Aduh...!"


Seseorang memukuli kepala Sheila. Sheila lalu melihat ke atas dengan matanya yang masih terasa mengantuk. Dia melihat Marissa dengan wajahnya yang menyeringai. Sheila mengangkat kepalanya dengan malas dan mengusap matanya.


"Bangunlah, dosen datang." Ucap Marissa.


Setelah Marissa selesai mengucapkan hal itu, dosen pun masuk ke dalam kelas. Sepanjang pembelajaran dimulai, Sheila harus menahan kantuknya.


Setelah kelas selesai, Sheila duduk di taman. Marissa tiba-tiba berlari ke arahnya.


"Sheila..." Teriak Marissa dengan napas yang ngos-ngosan. "Orang yang mengganggumu kemarin sekarang di berikan hukuman enam bulan di penjara." Lanjut Marissa.


"Apa? Bukankah mereka hanya akan mendapat 2 bulan atau kurang dari itu?" Balas Sheila terkejut.


"Aku tahu! Ada orang yang sangat berpengaruh dibalik semua ini. Aku rasa itu Dafa! Hanya dialah orang yang mengenalmu." Ucap Sheila.


"Apa? Dafa? Kau dengar dia bukan. Dia bilang, dia tidak akan menyelamatkan aku jika aku dalam bahaya. Bagaimana mungkin itu dia? Itu tidak mungkin dia kan? Tapi memang hanya dia orang yang paling berpengaruh yang mengenal aku." Balas Sheila.


'Apakah itu memang Dafa?' pikir Sheila.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2