
Setelah Amira dan teman-temannya makan siang bersama di mall, Amira lalu mengantar Calvin ke rumahnya.
"Wow Calvin, apakah kau juga terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya?" Tanya Cindy setelah melihat rumah Calvin yang tampak begitu megah.
Calvin tersenyum kearah Cindy. Hal itu membuat Cindy menjadi merona.
Di pun berkata, "apa? Katakan saja, kenapa kau malah tersenyum tiba-tiba?"
"Terima kasih untuk hari ini." Ucap Calvin.
Dia lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Amira senyuman Calvin itu sangat menawan bukan, tidakkah kau berpikir seperti itu?" Ucap Cindy.
"Hmmm..." Balas Amira singkat.
Ariel yang duduk di kursi depan disamping Amira, terus menatap Amira dengan senyuman di wajahnya.
"Tidak bisakah kau melihat kearah lain?" Ucap Amira.
"Tidak." Balas Ariel singkat.
'Ah pasangan ini benar-benar ya...' pikir Cindy menghela napas. 'Kenapa aku malah melihat Calvin saat aku menutup mataku? Senyumannya itu benar-benar menawan.'
Amira lalu mengantar Ariel ke rumahnya dan menghentikan mobilnya.
"Pergilah sekarang." Ucap Amira kepada Ariel.
"Cuma begini saja?" Tanya Ariel.
"Memangnya apalagi?" Balas Amira.
Ariel menyeringai dan berkata, "ayo kita lanjutkan nanti, apa yang kita lakukan di mall tadi."
Ariel bangun lalu keluar dari dalam mobil dan mengedipkan matanya ke arah Amira.
"Apa-apaan itu? Dia benar-benar sudah gila. Kenapa dia mengatakan hal itu?" Ucap Amira.
"Oh ya Tuhan! Apa yang sudah dia lakukan?" Tanya Cindy dengan kegirangan.
"Duduklah di depan." Ucap Amira kepada Cindy.
"Katakan padaku... Katakan padaku..." Ucap Cindy.
Amira menghela napas dan berkata, "apakah kau mempercayai aku atau dia?"
"Tentu saja aku akan percaya padamu." Balas Cindy dengan menyembunyikan jemarinya dibelakang.
Amira menatap Cindy dan berkata, "hmmm... Aku bisa lihat itu."
Cindy terkekeh.
Di sisi lain di rumah Ariel....
Mama Ariel melihat semuanya dari jendela kamarnya. Dia turun ke lantai bawah dan bertanya kepada Ariel.
"Sayang kau tidak diizinkan untuk bertemu dengannya sampai waktunya tiba nanti." Ucap Mama Ariel.
"Kenapa?" Tanya Ariel.
__ADS_1
Mama Ariel menghela napas dan berkata, "tunggulah sebentar lagi."
Mama Ariel lalu kembali ke kamarnya setelah mengatakan hal itu.
"Apa sebenarnya maksud Mama mengatakan hal itu?" Ucap Ariel menghela napas panjang.
Dia lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
'Kenapa aku tidak menemukan apapun tentang tunangannya itu, dengan siapa dia sebenarnya bertunangan? Dan untuk Calvin, melihat apa yang terjadi hari ini, jika Cindy dan dia mempunyai perasaan satu sama lain, maka hal itu akan jadi jauh lebih baik. Aku harus mencoba melakukan sesuatu untuk menyatukan mereka agar bisa bersama.' ucap Ariel dalam hati.
************
Amira tiba di rumah Cindy.
"Mama....." Teriak Cindy dari luar rumahnya.
Mama Cindy keluar dari dalam rumah setelah mendengar teriakan putri nya.
"Ya Tuhan, apakah ini mobil barumu sayang?" Ucap Mama Cindy bertanya kepada Amira.
Amira mengangguk dan keluar dari dalam mobil. Dia membawa keluar hadiah yang dia beli untuk orang tua Cindy dan berkata, "tidakkah Tante ingin mengajak aku masuk?"
"Tentu saja." Balas Mama Cindy dengan tersenyum.
Mereka semua lalu masuk ke dalam rumah.
"Kau tidak perlu membawa semua hadiah ini." Ucap Mama Cindy.
"Ini bukan apa-apa." Balas Amira.
Ayo pergi ke kamar ku." Ucap Cindy menarik tangan Amira.
"Tapi, kau baru saja datang." Ucap Mama Cindy.
"Aku akan datang lain kali." Ucap Amira.
Amira pun kembali ke mobilnya dan tak lama setelah itu dia tiba di rumahnya.....
"Kau seharusnya bisa tinggal bersama mereka lebih lama lagi." Ucap Dafa yang mengetahui bahwa Amira dari rumah Cindy.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkan kakak ku sendirian." Balas Amira.
Dafa tertawa kecil dan berkata, "pergilah dan ganti baju mu. Setelah itu kita akan makan malam bersama."
Amira dan Dafa lalu makan malam bersama. Saat makan, Dafa berkata kepada Amira.
"Aku akan sibuk saat weekend nanti. Jadi kau yang harus menjemput Mama dan Papa."
Sendok yang dipegang Amira terjatuh. Hal itu membuat Dafa tertawa melihat keterkejutan dari wajah Amira.
'Untuk Papa, aku bisa pergi. Tapi Mama, apakah Mama tidak akan memakan ku. Aku sangat takut kepada-nya.' pikir Amira dalam hati.
Setelah selesai makan, Dafa mengajak Amira keluar rumah untuk berjalan-jalan.
"Kak, kenapa tiba-tiba kita jalan-jalan begini?" Tanya Amira.
"Kau tidak berlatih sejak minggu lalu. Mulailah latihan mu sekarang." Ucap Dafa.
'Arghhh... Aku harus melakukan banyak latihan, tapi aku sebenarnya mulai kuat karena latihan itu.' ucap Amira dalam hati.
__ADS_1
Amira melihat kearah Dafa dengan tersenyum dan berkata, "Kak Dafa adalah kakak terbaik di dunia ini."
Dafa mengusap kepala Amira.
"Aahh, kakak merusak rambut ku." Ucap Amira.
Dafa tersenyum pada Amira dan berkata, "dan kau adalah kelinci kecil terbaik."
Dafa lalu berlari setelah mengatakan hal itu.
"Hei, aku bilang kakak tidak boleh memanggilku seperti itu dan... Berhentilah... Kenapa kakak berlari." Teriak Amira dan mengikuti Dafa dengan berlari mengejarnya.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya kembali ke rumah dengan kelelahan.
"Aku tidak akan berlari lagi." Ucap Amira.
Dafa mengangguk, mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah. Seorang pelayan yang selama ini bekerja sejak Amira masih kecil, mengajak Amira masuk ke dalam kamar. Pelayan itu sudah seperti anggota keluarga bagi Dafa dan Amira. Dia tampak marah kepada mereka berdua karena lari saat larut malam.
"Nona Amira, tolong jangan buat saya khawatir." Ucap pelayan itu.
Amira memeluk pelayan itu dan berkata" ayolah Bi, tidak ada yang perlu bibi khawatir kan."
Pelayan itu lalu membalas memeluk Amira dan berkata, "pergilah dan mandi. Nona bau keringat."
Amira lalu masuk ke dalam kamar mandinya dengan wajah yang tampak malu.
'Hmmmpphhh .. Aku tidak begitu bau.' ucap Amira dalam hati.
Amira lalu mandi setelah pelayan keluar. Dia keluar dari dalam kamar mandi setelah beberapa saat kemudian dan mengeringkan rambutnya sebelum dia tidur.
"Hari ini benar-benar hari yang sangat menyenangkan." Ucap Amira lalu menghela napas.
'Wajahnya yang tampak cemburu itu begitu menggemaskan. Sekarang memikirkan dia membuatku malah mengingat apa yang dia katakan dengan kami akan melanjutkan apa yang terjadi di mall tadi. Sebenarnya apa ya maksud dari perkataannya itu? Kami kan tidak melakukan apapun. Tapi tunggu... tunggu dulu. Apa dia berpikir untuk mencium ku? Ah... Amira bagaimana kau bisa memikirkan hal yang begitu memalukan?
Apakah dia akan benar-benar mencium ku besok?
Argh.... dasar pikiran bodoh. Ayolah biarkan aku tidur.' ucap Amira dalam hati.
Amira lalu tidur setelah memikirkan tentang Ariel.
"Hei Amira, kau pikir kau mau pergi kemana? Aku tidak akan membiarkan mu untuk pergi." Ucap Ariel.
Ariel memegang dagu Amira dan memeluknya mendekat kearah dirinya. Amira tidak dapat berpikir tentang apa yang tengah terjadi. Dia tidak bisa mendorong Ariel ataupun melawannya. Ariel semakin mendekat kearah dirinya. Ariel lalu meniup wajah Amira. Amira pun menutup matanya dengan erat.
Amira lalu terjatuh dari atas tempat tidur dan berteriak.
"Ahhhhh!!!!! Apa itu tadi? Tunggu dulu, di mana aku?" Amira menghela napas. "Aku bermimpi... Aahhh menjijikkan sekali. Bagaimana bisa aku bermimpi tentang sesuatu yang seperti itu. Aaahhh... Si Ariel jahat itu, ini semua karena dia." Ucap Amira.
Dafa berlari ke arah kamar Amira setelah mendengar teriakan adiknya itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak dan kenapa kau berada di bawah?" Ucap Dafa dengan wajah khawatir.
Dafa lalu membantu Amira bangun dari lantai.
"Apa kau demam?" Ucap Dafa seraya menyentuh kening Amira.
"Tidak... Tidak... Disini terlalu panas dan aku terjatuh karena aku bermimpi. Hehehe... Kakak bisa turun dan aku akan kembali tidur." Ucap Amira.
"Kau ini ada-ada saja." Ucap Dafa seraya mengusap kepala Amira lalu berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Bersambung...