Siblings Love Story

Siblings Love Story
17. First Kiss


__ADS_3

Keduanya berlari secepat mungkin untuk menentukan siapa yang lebih dulu mencapai ranjang tempat tidur. Sheila tiba lebih dulu. Dia lalu mengejek Dafa dengan menjulurkan lidahnya. Dafa hanya menyeringai dan....


"Waah.... Aaaa....!!"


Dafa memaksa Sheila untuk berbaring diatas tempat tidur. Kemudian dia menutup Sheila dengan selimut. Dan hanya kepalanya yang terlihat.


"Hahahaha! Kau tampak seperti telur gulung!!" Ucap Dafa cekikikan.


"Ini tidak adil! Lepaskan aku! Sangat panas disini." Teriak Sheila.


Dafa mendekat ke arah Sheila.


'Oh ya Tuhan! Dia sangat dekat denganku!' pikir Sheila.


Wajah Dafa hanya beberapa senti dari wajah Sheila. Dafa memegang dagu Sheila.


"Aku tidak mau, kecuali kau memohon padaku." Ucap Dafa.


"Tidak akan pernah." Balas Sheila


"Maka kau akan menjadi telur gulung selamanya.


'Beraninya kau? Kalau begitu kau pantas mendapatkan apa yang akan aku lakukan padamu!' ucap Sheila dalam hati.


'Dia tampak sangat manis jika marah.' pikir Dafa.


Sheila mendekatkan wajahnya pada Dafa dan dia langsung menggigit bibir Dafa.


"Awww!! Bukankah kau itu kucing? Bagaimana kau bisa menjadi harimau sekarang?" Ucap Dafa.


"Karena aku adalah harimau betina yang ganas. Hahahaha kau pantas mendapatkannya!" Ucap Sheila terbahak.


Dafa menyeringai ke arah Sheila dengan senyumannya yang juga terlihat aneh.


'Apa yang akan dia lakukan?' pikir Sheila.


Dafa mendekat ke arah Sheila dan....


"Mmmmhhh....!!"


Dafa mencium Sheila. Dia memaksa Sheila agar membuka mulutnya dengan menakan bibir Sheila dengan lidahnya.


'Ya Tuhan! Ciuman langsung. Ciuman pertamaku! Tidak, aku tidak akan membiarkan dia mengambil kontrol atas semuanya.' ucap Sheila dalam hati.


Sheila merasakan bahwa selimut yang membelit tubuhnya mulai longgar. Sheila pun mengeluarkan tangannya kemudian memegang wajah Dafa dan langsung mencium Dafa lebih intens dari yang dilakukan Dafa.


Sheila menggigit lidah Dafa, dan Dafa pun menggigit lidah Sheila. Saat keduanya benar-benar memperdalam ciuman, mereka kehabisan napas.


"Hah... Hah.... Hah.."


"Hah... Hah.... Hah.."

__ADS_1


'Dia sudah mengambil ciuman pertamaku! Aku menyiapkannya untuk pasanganku dimasa depan!' ucap Sheila dalam hati.


"Ka... kau...! Beraninya kau mengambil ciuman pertamaku!" Ucap Sheila.


"Itu juga ciuman pertamaku. Jadi kita impas." Balas Dafa.


Sheila melepaskan dirinya dari dalam selimut. Dia lalu mengambil sebuah bantal guling besar.


"Karena kita berdua tidak ada yang mau tidur di lantai, jadi ayo kita bagi tempat tidur ini." Ucap Sheila.


"Ba... Baik.." Balas Dafa.


Mereka berdua tampak sedikit terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka tidur di tempat tidur yang sama dengan bantal guling yang menjadi sekat mereka.


"Ah, sangat mengantuk sekali." Ucap Dafa.


Sheila dan Dafa tidur dengan cepat malam itu.


Saat Sheila bangun, dia merasa begitu nyaman, saat menyadari bahwa seseorang tengah memeluknya.


'Tunggu dulu, ini kan pelukan Dafa! Kenapa bisa berakhir seperti ini?' pikir Sheila.


Dafa memeluk Sheila dengan begitu erat yang membuat wajah Sheila sangat dempet dengan dada Dafa.


"Hei!" Panggil Sheila.


"Mama jangan pergi." Ucap Dafa.


"Siapa yang kau panggil Mama?" Ucap Sheila.


"Apa-apaan ini? Aku bukan Mama mu atau bantal mu! Lepaskan aku!" Ucap Sheila.


"Eh!" Dafa membuka matanya. "Apa ini?"


Dafa mendorong Sheila dengan begitu kuat yang membuat Sheila terjatuh dari tempat tidur.


"Aduh, sakit sekali." Ucap Sheila. "Kau tidak perlu mendorongku seperti itu." Teriak Sheila.


"Aku tidak akan mendorongmu seperti itu, jika kau tidak berada di bagian tempat tidurku!" Ucap Dafa.


"Lihatlah dengan jelas, bagian tempat tidur siapa itu!" Ucap Sheila.


Dafa melihat dan menyadari bahwa itu adalah bagian tempat tidur Sheila.


"Oh, tapi dimana bantal guling nya?" Tanya Dafa.


'Benar juga! Dimana bantal guling yang menjadi pembatas kami? Itu pasti ulah Bibi.' pikir Sheila.


"Sudahlah, lupakan saja. Ayo kita pergi ke kampus sekarang.


Setelah selesai sarapan, mereka berdua lalu pergi ke kampus. Saat keduanya memasuki gerbang kampus, semua orang menatap Dafa.

__ADS_1


Dafa tidak pergi ke kampus beberapa hari, jadi para wanita yang tergila-gila padanya pasti mulai menggila sekarang.


Terlihat beberapa orang wanita mendekat ke arah Dafa.


"Dasar kau wanita ******. Beraninya kau berada di dekat Dafa. Menjauh lah dari pandangan ku.


Sheila hendak mengatakan sesuatu, tapi Dafa menghalanginya.


"Kau tidak berhak untuk mengatakan siapa yang bisa dan tidak bisa berada di dekatku. Sekarang menyingkir lah." Ucap Dafa marah.


Dafa lalu menarik tangan Sheila menjauh.


"Te... Terima kasih." Ucap Sheila.


"Aku melakukannya untuk diriku sendiri, bukan untukmu." Balas Dafa.


"Aku hanya ingin bersikap baik padamu, hmmmppphh...!" Ucap Sheila lagi.


Mereka pergi ke dalam kelas. Sheila tengah melihat ke arah jendela saat seorang gadis yang tak pernah dilihat Sheila masuk ke dalam kelas.


"Lola sudah kembali dari London setelah mengikuti pertukaran mahasiswa. Berikan selamat kepadanya." Ucap dosen.


Semua orang tampak memberikan ucapan selamat pada Lola. Tapi dia hanya melihat ke arah Dafa. Sementara Dafa menghindari tatapannya.


'Apakah mereka saling kenal?' pikir Sheila.


"Bisakah aku bertukar tempat duduk dengan si gadis baru ini? Aku sangat merindukan Dafa. Aku hanya ingin berada di dekatnya beberapa saat." Ucap Lola.


Lola menatap Sheila dengan tatapan lugu, seolah Sheila telah membully nya.


'Benar-benar gadis penuh dusta. Jangan pikir bahwa aku tidak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya!' ucap Sheila dalam hati.


"Maaf Lola, tapi aku rasa dosen kita tidak akan merendah untuk profesionalitasnya untuk membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau. Kau tahu, dosen itu itu orang yang sangat profesional!" Ucap Sheila.


"Tentu saja tidak Lola. Kau tidak diizinkan untuk melakukan hal itu." Ucap dosen itu.


Lola menatap Sheila dengan tatapan marah, tapi ekspresinya langsung berubah dengan senyuman yang tulus lalu duduk di bangkunya jauh dari Dafa.


Dafa melihat ke arah Sheila dan berkata, "aku berhutang budi padamu!"


********


Hari berikutnya adalah ujian bulanan dimulai.


'Ini adalah hari terbaik. Aku berpikir, bagaimana rupanya menggunakan pakaian badut!' pikir Sheila dengan tersenyum.


Materi statistik di mulai. Lola dipanggil dosen untuk menjawab pertanyaan yang ditulis di papan. Sedikit sulit. Tapi tidak bagi Sheila. Sheila dapat menyelesaikannya dalam waktu 3 detik. Namun Lola menyelesaikannya hampir satu menit. Tapi dia lebih baik dibandingkan Dafa.


"Bagus Lola! Kau boleh duduk sekarang." Ucap dosen.


Sebelum Lola kembali ke tempat duduknya, dia melihat ke arah Sheila dengan tatapan yang arogan seperti berkata, 'lihat? Aku sangat pintar!'

__ADS_1


'Iya... Iya..! Tapi jangan sampai kau menangis nanti saat kau melihat hasil akhir ujian kita! Kau bukanlah tandingan ku!' ucap Sheila dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2