Siblings Love Story

Siblings Love Story
27. Permintaan


__ADS_3

Setelah selesai makan, Amira berkata pada Ariel.


"Emmm.... Aku ingin menunjukkan sesuatu pada mu." Ucap Amira.


Amira lalu membawa Ariel menuju kamarnya. Dengan mengatakan hal itu, Amira berpikir maka kedua orang tua mereka tidak akan mengetahui bahwa mereka tengah berpacaran.


"Sepertinya dia terlihat bersikap sedikit tidak normal." Ucap Arka.


"Mungkin mereka sudah berbaikan." Ujar Mama Ariel.


Setelah selesai makan malam, kedua pasangan orang tua itu pergi ke taman untuk berjalan-jalan. Sementara Dafa pergi ke kamarnya untuk belajar dan juga menyelesaikan pekerjaan kantor yang memang sudah mulai dibebankan kepadanya itu.


Sementara itu, di dalam kamar Amira...


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Amira pada Ariel.


"Kabulkan permintaan ku." Ucap Ariel dengan tersenyum.


"Permintaan apa?" Tanya Amira kepada Ariel.


Ariel menyeringai dan berjalan mendekat ke arah Amira. Sementara Amira berjalan mundur ke belakang. Semakin dekat Ariel berjalan ke arah depan, semakin mundur Amira melangkah, tanpa ia menyadari bahwa dirinya langsung terjatuh ke atas tempat tidurnya sendiri. Ariel terjatuh di atas tubuh Amira seraya mencoba untuk menahan tubuh nya sendiri agar tak menindih Amira.


Amira kemudian mencoba untuk berdiri.


Ariel menghentikannya dan berkata, "tidakkah kau ingin mendengar permintaan ku." Ucap Ariel dengan lembut.


"Apa... Apa permintaan mu?" Ucap Amira perlahan.


"Aku ingin mencium mu." Balas Ariel.


Amira langsung terkejut dan mulai mendorong Ariel.


"Apa-apaan ini!!! Aku tidak akan pernah mengabulkan permintaan semacam itu." Ucap Amira berusaha untuk bangun.


Ariel memegang tangan Amira dan menaruh tangan Amira di dadanya.


"Tidakkah kau mendengar itu?" Ucap Ariel dengan wajahnya yang tampak begitu serius.


'Oh ya Tuhan.... Jantungnya berdetak begitu kencang. Entah kenapa dengan mendengarkan detak jantungnya, malah membuat jantungku berdetak lebih kencang lagi.' ucap Amira dalam hati.


Ariel lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Amira. Amira pun menutup matanya dengan erat.


'Apa yang akan terjadi selanjutnya.' pikir Amira dengan matanya yang tertutup.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan berkata, "Amira, bisakah aku masuk ke dalam?"


Itu adalah suara Dafa. Amira pun langsung mendorong Ariel dengan keras sehingga dia terjatuh ke lantai.


"Aduh..." Ucap Ariel meringis kesakitan.


Amira menyodorkan tangannya untuk membantu Ariel berdiri.


"Masuklah Kak." Ucap Amira.


"Kenapa kau lama sekali hanya untuk mengatakan hal itu." Ucap Dafa. "Kalian berdua, kenapa wajah kalian memerah." Ucap Dafa lagi setelah melihat kearah wajah mereka berdua.

__ADS_1


"Kakak, kurasa sepertinya Mama ariel memanggilku." Ucap Amira lantas bergegas berjalan keluar dari dalam kamar.


Dafa menatap Ariel dan berkata, "kau jangan berani-beraninya untuk melakukan hal itu." Ucap Dafa dan kemudian berjalan turun ke lantai bawah.


Ariel juga ikut turun seperti mereka berdua, namun dengan raut wajahnya yang tampak kecewa.


"Kami akan pergi sekarang." Ucap Mama Ariel kepada Alia.


Arka berkata kepada Amira dan Dafa untuk mengantar mereka keluar karena Arga sendiri ingin berbicara dengan Alia, mama mereka.


"Aku akan mengembalikan pakaian Kak Dafa besok." Ucap Ariel kepada Dafa.


Dafa pun mengangguk, mereka semua lalu keluar rumah setelah Amira mengucapkan selamat tinggal kepada mereka.


"Bisakah kita berjalan bersama?" Tanya Dafa kepada Amira dengan tangannya yang berada di pundak Amira.


"Kenapa tidak." Balas Amira.


"Kalian berdua sudah berpacaran bukan?" Tanya Dafa secara tiba-tiba.


Amira pun mulai berkeringat. "aku tahu kalian berdua sudah berpacaran." Ucap Dafa mengkonfirmasi hal tersebut.


Amira pun mengangguk dengan wajahnya yang tampan merona.


Dafa menghela napas dan berkata, "Amira, kalau sudah punya tunangan, kau tahu itu bukan?"


Amira menjadi tidak bahagia. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya terdiam sepanjang keduanya berjalan-jalan.


*********


Setelah sarapan...


"Aku pergi dulu." Ucap Amira.


"Jaga dirimu." Ucap Alia kepada putrinya itu.


Amira tersenyum kearah sang mama dan berkata jangan khawatir alia pun merasa begitu bahagia sama juga dengan apa yang dirasakan Amira.


Amira lalu menjemput Cindy dari rumahnya.


"Ada apa?" Tanya Cindy kepada Amira.


"Tidak ada." Balas Amira.


"Cindy kau yang katakan padaku." Ucap Amira seraya mengendarai mobilnya.


"Mengatakan apa adanya cindy.


"Apakah kau tengah menyukai seseorang?" Tanya Amira kepada Cindy.


Cindy langsung merona dan wajahnya tampak memerah. Dia pun mengalihkan wajahnya.


'Kenapa malah bayangan Calvin yang berada dalam pikiranku . Aku tidak menyukainya kan.' ucap Cindy dalam hati.


Amira tertawa kecil melihat kearah Cindy dan berkata, "ayo, ayo masuk kita sudah tiba sini."

__ADS_1


Cindy dan Amira lantas masuk bersama dengan tertawa kecil.


"Hai Amira." Ucap Juna seorang mahasiswa tingkat atas saat Amira masuk kedalam kelasnya.


"Hai." Balas Amira dengan senyum ramahnya.


"Ini..." Juna memberikan sebuah kartu undangan kepada Amira.


"Apa ini tanya?" Tanya Amira kepada Juna saat memegang undangan itu.


"Itu adalah undangan ulang tahun ku. Bisakah kau datang? Kau akan datang bukan?" Ucap Juna.


"Tentu saja aku akan datang dan selamat ulang tahun untuk Kak Juna." Ucap Amira dengan sopan.


Juna berterima kasih kepada Amira dan kemudian kembali ke kelasnya.


"Apakah kau benar-benar akan pergi?" Tanya Cindy dengan serius.


"Kau juga akan ikut." Balas Amira dan duduk di bangkunya.


Cindy lalu duduk di bangku milik Ariel yang berada di samping Amira karena ariel belum juga datang.


"Jangan khawatir, aku disini." Ucapan Amira kepada Cindy.


"Hei kau kecoa, minggir lah." Ucap Ariel kepada Cindy saat dia muncul di hadapan mereka berdua.


"Siapa yang kau panggil kecoak?" Ucap Cindy kepada Ariel dengan raut wajah yang marah.


Ariel menatap Cindy dengan tajam. Cindy pun lalu pindah tempat duduk. Tapi dia bertabrakan dengan Calvin. Cindy hampir saja terjatuh, tapi dengan sigap Calvin menahannya.


Amira dan Ariel pun tertawa.


Setelah beberapa saat, Pak Kim masuk bersama dengan Febby yang juga ikut masuk ke dalam kelas. Febby langsung berjalan ke arah Amira dan berlutut. Hal itu membuat Amira menjadi begitu terkejut.


"Aku minta maaf Amira." Ucap Febby.


Amira langsung berdiri dan meminta Febby untuk bangun juga.


"Aku sudah memaafkan mu." Ucap Amira.


"Aku akan dikeluarkan dari kampus."


"Itu berita yang sangat bagus." Ucap Cindy.


Amira menatap kearah Cindy. Cindy lalu menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Amira lantas berkata kepada Cindy, "semuanya akan kembali normal. Hanya saja, jangan gunakan cara kotor untuk memenangkan hati seseorang."


Febby lalu meminta maaf kepada semua orang dan dia pun berjalan keluar dari dalam kelas.


Amira menatap kearah Ariel. Saat dia duduk di kursinya, Ariel berkedip padanya dan kemudian memberikan ciuman jauh.


Amira hanya bisa tertawa.


'Sekarang hanya ada satu masalah yang harus diselesaikan, yaitu menemukan siapa tunangan Amira. Kenapa aku tidak bisa menginvestigasi apapun tentang dia. Maksudku, siapa dia sebenarnya. Aku tidak akan pernah memberikan wanitaku kepada siapapun. Amira adalah milikku.' ucap Ariel dalam hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2