
"Fyuuhh... Akhirnya mata panda ku pergi juga. Sekarang aku harus sarapan. Masih tersisa dua jam lagi." Ucap Amira.
Dia lalu turun ke lantai bawah.
Amira tengah sarapan. Seseorang datang dan berdiri di depan rumah. Pelayan pergi untuk membuka pintu saat suara bel terdengar.
"Hai cantik." Ucap Ariel pada pelayan itu.
"Silahkan masuk Tuan." Balas pelayan itu.
Amira tidak berbalik untuk melihat siapa yang datang. Dia terus fokus menyantap sarapannya. Ariel lantas duduk disampingnya dan kemudian menyapanya.
"Selamat pagi..." Sapa Ariel.
Amira melihat ke arah sampingnya dimana Ariel duduk dan langsung tersedak. Dafa langsung memberikan segelas air padanya dan Amira lantas meminum air itu dengan cepat.
Amira berkata pada Ariel.
"Apa yang kau lakukan disini?" Bentak Amira kasar.
"Amira, dimana sopan santun mu?" Ucap Dafa pada Amira dengan tampak marah.
"Mama Ariel berkata bahwa Ariel akan ikut bersama mu untuk menjemput Mama dan Papa." Ucap Dafa.
"Apa!!!" Ucap Amira tampak begitu terkejut.
Ariel tertawa kecil melihat ke arah Amira.
"Apa yang kau tertawa kan?" Tanya Amira pada Ariel.
"Tidak ada imut." Balas Ariel mengedipkan mata pada Amira.
"Kak, dia tengah menggodaku." Ucap Amira pada Dafa, tapi Dafa tidak menghiraukan mereka dan malah pergi ke kamarnya.
"Apa-apaan itu? Kenapa dia tidak mengatakan apapun." Ucap Amira pada dirinya sendiri.
"Karena ini adalah aku." Balas Ariel padanya.
Amira melihat ke arah Ariel dan memutar matanya dengan malas.
Setelah selesai makan, Amira pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Sementara Ariel tengah menunggu dirinya di ruang tamu. Dafa turun dari lantai atas.
"Jaga dia dengan baik." Ucap Dafa pada Ariel saat berjalan keluar rumah.
'Kakak Ipar, apakah kau takut? Aku ingin menggodanya, kapanpun aku melihat wajahnya yang kesal. Dia tampak begitu menggemaskan.' ucap Ariel dalam hati seraya tertawa kecil.
Amira berdiri di depan Ariel dan berkata, "hei tukang melamun..."
Ariel menatap Amira, dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, kemudian ke wajahnya dan berkata, "imut."
Amira langsung merona malu dan pergi untuk meminum air sebelum mereka pergi keluar rumah.
__ADS_1
'Arghh... Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini? Sshhh diam lah jantung bodoh.' ucap Amira dalam hati.
Ariel berjalan keluar rumah seraya berkata pada Amira, "ayo cepatlah."
Setelah beberapa saat, Amira keluar dan duduk di dalam mobil Ariel.
"Kenapa kita pergi menggunakan mobil mu?" Tanya Amira pada Ariel.
"Mama ku yang menyuruhku, itulah alasannya." Balas Ariel lantas mulai menyalakan mobilnya
Mereka akhirnya tiba di bandara setelah satu jam setelahnya. Amira dan Ariel tengah menunggu kedatangan orang tua Amira.
"Apa kau yakin orang tua mu akan datang hari ini?" Tanya Ariel pada Amira.
Amira memutar matanya dengan malas dan berkata, "iya tentu saja, dasar bodoh."
Ariel menjadi kesal dan berkata, "dari sisi manakah aku ini terlihat bodoh?"
Amira tertawa kecil dan berkata, "dari segala arah.".
"Eheemm... Putriku tampaknya tidak mengingat dimana dia berdiri." Ucap Mama Amira, Alia saat mendekat padanya.
Amira melihat ke sekeliling, orang-orang melihat ke arahnya.
Amira melihat pada Arka, papanya. Dan ternyata dibelakang papanya itu, ada mama nya. Amira lantas mendekat ke arah papanya dan memeluknya.
"Aku merindukan Papa." Ucap Amira.
"Bagaimana kabar anda, Nyonya Alia?" Tanya Ariel pada mama Amira.
"Baik, bagaimana dengan mu?" Tanya Alia balik pada Ariel.
'Lihat saja wajah Ariel yang tampak polos itu, dan mama ku, mama tidak menanyakan apapun padaku, tapi padanya.... Hmmmpphh...' ucap Amira dalam hati.
"Apakah kita tidak akan pergi dari sini?" Tanya Alia.
Ariel lantas mengajak mereka pergi ke mobilnya dan mulai berkendara. Alia meminta Amira untuk duduk di kursi depan disamping Ariel.
"Bagaimana kabar mama mu, Riel?" Tanya Alia pada Ariel.
"Mama baik-baik saja, Mama sangat merindukan anda Nyonya Alia." Ucap Ariel.
"Nyonya Alia apanya, kau panggil saja aku Tante." Ucap Alia pada Ariel.
Ariel mengangguk dengan tersenyum dan memanggil Alia dengan sebutan Tante.
Setelah beberapa saat, mereka akhirnya tiba di rumah Amira. Dafa tampak menunggu kedatangan mereka du luar rumah dengan buket bunga di tangannya.
"Mama..." Ucap Dafa dan langsung memeluk Alia.
"Apakah papa tidak terlihat Nak?" Ucap Arka pada Dafa.
__ADS_1
Amira tertawa kecil dan berkata, "ayolah Pa, kita masuk ke dalam."
Mereka semua lantas masuk ke dalam rumah bersama. Pelayan sudah menyiapkan banyak makanan untuk mereka. Setelah berganti pakaian, mereka semua duduk di meja makan untuk makan siang.
"Amira, bagaimana kuliah mu?" Tanya Alia saat makan.
"Baik seperti biasanya." Balas Amira.
Alia terus saja menatap putrinya itu.
"Ada apa?" Tanya Alia pada mamanya itu.
"Kenapa kau membuat masalah dengan teman sekelas my, Mama sudah bilang pada mu untuk tidak membuat masalah." Ucap Alia pada Amira.
"Ma..." Ucap Dafa menghentikan Alia. "Tidak kah Mama melihat luka pada Amira?" Lanjut Dafa.
Alia terlihat merasa bersalah.
"Oh ya Tuhan!!! Siapa orang jahat yang sudah menyakiti putri kesayangan Papa ini? Papa sudah menjaganya seperti boneka porselin dan siapa yang berani untuk menyakitinya." Ucap Arka.
Amira melihat ke arah Mama nya, Alia terus menyantap makanannya. Dia merasa bersalah karena tidak melihat luka pada tubuh Amira.
"Aku sudah selesai." Ucap Amira lalu berdiri dari meja makan.
"Amira, kau bahkan belum memakan makananmu." Ucap Dafa.
"Aku tidak berselera Kak." Balas Amira dengan sedikit senyuman di wajahnya.
Amira lantas berjalan keluar.
"Aku juga sudah selesai. Aku akan mengikutinya." Ucap Ariel dan berjalan keluar juga mengikuti Amira.
"Hei, kau seharusnya memakan makanan mu." Ucap Ariel pada Amira.
Amira tengah berdiri dengan bersandar di mobilnya. Dia berkata pada Ariel, "ayo kita pergi jalan-jalan."
Ariel tersenyum dan berkata, "kalau begitu biar aku yang menyetir."
Amira pun setuju.
Ariel tengah mengemudikan mobil Amira. Amira sendiri hanya duduk dalam diam dan melihat ke arah luar jendela mobilnya.
"Amira, kau akan sakit jika kau melihat ke arah luar seperti itu." Ucap Ariel pada Amira dengan rasa khawatir.
Amira langsung menutup jendela mobilnya.
"Bagaimana hubungan mu dengan Mama mu?" Tanya Amira pada Ariel.
"Ummm... Aku... Aku bertemu dengan Mama hanya saat liburan, jadi aku tidak tahu harus menjelaskan bagaimana hubungan ku dengannya." Balas Ariel.
'Dasar pembohong. Aku melihat hubungan kalian saat di pesta malam itu. Kau dan mama mu tampak begitu dekat. Kalau aku, aku hanya seorang pembuat masalah bagi mama ku. Aku pikir Mama akan menyadari bahwa aku tengah terluka, hmmm... Sepertinya aku berharap terlalu tinggi.' ucap Amira dalam hati seraya menghela napasnya.
__ADS_1
Bersambung.....