Siblings Love Story

Siblings Love Story
11. Senang


__ADS_3

Sementara itu saat kelas Amira berakhir, dia meminta kepada Cindy dan Ariel untuk pergi ke arah belakang kampus.


"Hai Amira, apakah aku bisa ikut juga?" Tanya Calvin kepada Amira.


Amira melihat kearah Calvin dan berkata, "ya tentu saja kau boleh ikut."


'Apakah dia akan marah lagi seperti yang terakhir kalinya biarkan aku melihat apa yang akan kau lakukan kali ini Ariel.' ucap Amira dalam hati.


"Calvin kau bisa duduk di kursi belakang." Ucap Amira.


Setelah beberapa menit, mereka semua lalu pergi.


"Oh ya tuhan Amira, apakah ini sungguhan ini sangat keren ini sama persis seperti dirimu." Ucap Cindy.


Amira menggelengkan kepalanya dan menghela napas.


"Masuklah." Ucap Amira.


"Apa yang dia lakukan disini tanya Ariel dengan marah.


"Aku juga ikut." Balas Calvin.


Amira menatap ariel dia lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan. Ariel terlihat marah, dia juga duduk di kursi belakang dengan Calvin.


"Kelinci, apa yang kau tertawa kan?" Tanya Cindy kepada Amira.


"Tidak ada." Balas Amira.


"Kelinci?" Ucap Calvin.


"Hmmm... Benar, aku memanggilnya kelinci." Ucap Cindy.


"Bisakah aku juga memanggilmu kelinci?" Ucap Calvin.


Cindy berbalik dan menatap kearah Calvin.


"Hanya aku dan Kak Dafa yang boleh memanggil dia seperti itu." Ucap Cindy.


"Duduk sekarang dan gunakan sabuk pengaman mu bodoh." Ucap Amira kepada Cindy.


'Kenapa dia sangat diam?' pikir Amira.


Amira melihat kearah Ariel dari cermin. Mata keduanya bertemu. Ariel menyeringai ke arah Amira.


"Hei lampu meraaah..." teriak Cindy.


"Arrgghh... Tidak bisakah kau mengatakannya lebih pelan." Ucap Amira marah.


"Apa yang kau lihat dari tadi?" Tanya Cindy.


"Api." Balas Amira.


"Api! Dimana?" Tanya Cindy lagi.


Ariel tertawa dari arah belakang mobil.


"Hei, apa yang lucu, katakan padaku." Ucap Cindy.


"Diam lah." Ucap Amira.

__ADS_1


"Hmmm.... Kau jahat." Balas Cindy memalingkan wajahnya ke arah jendela.


'Apakah aku orang ketiga diantara mereka. Tapi aku pikir mereka tidak berpacaran. Aku merasakan sakit di hatiku setelah melihat mereka berdua seperti ini. Aku seharusnya tidak ikut.' pikir Calvin.


"Masuklah kedalam, aku akan memarkirkan mobil lalu masuk." Ucap Amira.


"Tidak, kita akan masuk bersama." Ucap Cindy.


Setelah Amira memarkirkan mobilnya, mereka masuk ke dalam mall bersama.


"Ayo beli sesuatu untuk orang tuamu dan juga orang tua ku." Ucap Amira.


"Baiklah, kapan Om dan Tante akan datang?" Tanya Cindy.


"Minggu depan." Balas Amira.


Mereka lalu pergi ke toko hadiah. Amira membeli hadiah untuk orang tua Cindy.


"Apa kau mau mengunjungi rumahku hari ini kelinci?" Tanya Cindy.


"Hmmm..." Balas Amira.


"Hei lihat, bukankah para gadis itu tampak menggemaskan."


"Tutup mulutmu, tidak bisakah kau melihat bahwa mereka bersama kekasih mereka."


Dua orang laki-laki tengah membicarakan Amira dan Cindy.


Ariel menatap mereka berdua, dan kedua pria itu langsung kabur. Ariel menarik tangan Amira dan berkata, "aku ingin menunjukan sesuatu untukmu, ikutlah denganku."


"Tapi aku harus, tapi sesuatu...." Ucap Amira


"Nanti saja." Balas Ariel.


Calvin melihat ke arah Cindy dan berkata, "aku bukan orang jahat."


"Hah, apa maksudmu?" Tanya Cindy


Calvin tidak mengatakan apapun dan langsung masuk ke dalam sebuah toko diikuti oleh Cindy.


""Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Amira kepada Ariel.


"Kenapa kau membawa dia ikut bersama kita?" Ucap Ariel.


Amira menghela napas dan berkata, "itu keputusanku." Balas Amira.


Ariel menjadi marah dan berkata, "aku pergi saja kalau begitu."


"Baiklah." Balas Amira.


Amira oergi ke sebuah toko dimana Cindy fan Calvin tengah berbelanja.


"Amira, lihatlah. Bukankah ini bagus?" Tanya Cindy pada Amira.


Itu adalah sebuah patung yang terbuat dari batu dan permata.


"Iya, itu sangat bagus." Balas Amira.


Cindy membeli hadiah itu untuk Mama Amira.

__ADS_1


Amira dan Cindy adalah sahabat sejak kecil jadi keluarga mereka juga sangat dekat. Cindy tidak sekaya Amira. Dia bekerja paruh waktu. Kadang-kadang Amira juga membantunya.


"Pyuuhh.... Akhirnya selesai membeli hadiah." Uca Cindy


Mereka semua lelah, dan hari sudah beranjak sore.


"Duduklah disini sebentar, aku akan kembali." Ucap Amira oada Cindy dan Calvin.


"Apakah dia benar-benar pergi? Aku todak melihatnya sejak tadi. Maksudku... Aku benci perasaan ini. Kenapa aku merasa bersalah sekarang." Ucap Amira.


Disisi lain, Ariel tengah bersembunyi dibelakang sebuah toko dan memperhatikan Amira.


"Bodoh... Apa kau pikir aku akan pergi? Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu bersama pria bodoh itu. Aku tidak akan menyerah untuk mengejarmu." Ucap Ariel.


'Ayo coba telepon dia.' pikir Amira.


Amira lalu menelepon Ariel. Ponsel Ariel berdering dan Amira mendengar suaranya dan pergi mendekat ke arah Ariel dari belakang. Ariel tengah melihat ke arah depan tanpa menyadari apapun.


"Siapa yang kau lihat?" Ucap Amira pada Ariel dengan begitu dekat.


Ariel terkejut dan berbalik.


"Ya Tuhan, ku pikir kau adalah hantu." Ucap Ariel.


"Hahahahahaha.... Kau benar-benar seperti kucing penakut Riel."


Amira tidak dapat menahan tawanya. Ariel menjadi marah dan menarik pinggang Amira mendekat yang membuat Amira terkejut


"Apa yang kau... Lepaskan aku dasar bodoh." Teriak Amira berusaha melepaskan dirinya dari Ariel.


"Aku tidak memegangmu untuk melepaskanmu." Ucap Ariel dengan tersenyum.


Pipi Amira mulai memerah yang membuat Ariel semakin menggodanya. Ariel semakin menarik Amira mendekat kearahanya.


"Aku... Aku akan membunuhmu." Ucap Amira gugup.


"Ehemmm.... Kenapa kalian berdua tidak menyewa kamar saja." Ucap Cindy.


Cindy dan Calvin datang dari arah lain. Amira langsung mendorong Ariel dengan keras.


"Aaaa... Kelinciku merona malu." Ucap Cindy mulai menggoda Amira.


"Diam lah!!" Teriak Amira.


Banyak orang yang mulai melihat ke arah mereka. Amira lalu meminta maaf pada mereka. Cindy dan Ariel tertawa, sementara Calvin merasa tidak nyaman.


Amira melihat ke arah Calvin dan berkata, "hanya kau satu-satunya orang yang bisa mengerti aku."


Ariel tampak kesal, dia lalu memegang tangan Amira dan berkata, "ini sudah terlambat. Kakak akan khawatir."


Amira menepis tangan Ariel dan berkata, "aku sudah memberitahunya."


Amira lalu beralih menatap Calvin dan berkata, "aku akan menunjukanmu sekeliling, karena kau orang baru disini."


Calvin akhirnya tersenyum dan berkata, "tidak apa-apa. Aku sudah sering datang kesini, jadi aku sudah tahu."


Ariel menyela perbincangan Amira dan Calvin dengan wajah yang tampak kesal.


"Ayo pergi, kita seharusnya makan sesuatu. Aku yang traktir." Ucap Ariel seraya menarik tangan Amira dan berjalan lurus.

__ADS_1


'Aku merasa sangat senang sekarang, he he he he... Dia merasa cemburu.' ucap Amira dalam hati.


Bersambung.....


__ADS_2