Siblings Love Story

Siblings Love Story
14. Insiden


__ADS_3

Sheila tiba di rumah...


'Aku lelah sekali.' ucap Sheila dalam hati.


Sheila menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk. Kemudian dia bergegas untuk pergi mandi. Badannya terasa lengket karena keringat.


Setelah itu Sheila turun untuk makan malam bersama kakaknya.


"Bagaimana kuliahmu hari ini?" Tanya Sara.


"Cukup baik Kak." Balas Sheila.


"Apa kau sudah punya teman?"


Sheila tersenyum dan mengangguk.


"Itu perkembangan yang bagus." Ucap Sara.


Selesai makan malam, Sheila langsung kembali ke kamarnya.


"Andai saja aku punya hari yang bisa terus bersantai seperti saat ini." Ucap Sheila.


Sheila lalu belajar dan kemudian tidur setelahnya.


Malam itu Sheila bermimpi buruk. Dia tengah berada di dalam mobil dengan orang tua dan juga kakaknya. Mereka tengah mengobrol dengan bahagia, ketika tiba-tiba...


"Kalian semua akan mati sekarang!"


Sheila mendengar suara itu, suara yang sangat menyeramkan. Orang tua Sheila berteriak saat mobil terjatuh ke jurang. Sheila pun terbangun dengan segera.


Tubuh Sheila gemetar, dia merasa jika seseorang membunuh orang tuanya. Bukan karena kecelakaan.


Orang tua Sheila memang sudah meninggal sejak saat dia berusia 7 tahun.


'Hmmm tidak mungkin, aku berpikir terlalu berlebihan.' ucap Sheila dalam hati.


Pagi harinya Sheila bersiap untuk pergi ke kampus.


"Kau tampak tidak tidur dengan nyenyak." Ucap Sara.


"Semalam aku mimpi buruk Kak." Balas Sheila.


"Mimpi tentang Mama Papa lagi?"


"Hmmm...." Balas Sheila kemudian meminum air dihadapannya.


"Kakak minta maaf, jika kakak terlambat memberitahukanmu tentang Mama dan Papa."


"Sudahlah Kak, aku baik-baik saja. Aku sudah tidak mempermasalahkan semuanya. Aku hanya berharap, Mama dan Papa tenang disana." Ucap Sheila.


Sheila bergegas pergi ke kampus setelah selesai sarapan.


Setelah kelas pagi selesai, Sheila dan Marissa pergi makan siang di taman. Tiba-tiba, tujuh orang gadis datang dengan membawa tongkat baseball berada di hadapan mereka.


'Lagi? Tidak bisakah aku mendapatkan satu hari saja yang damai? Tuhan, apakah permintaanku terlalu banyak?' ucap Sheila dalam hati.


"Coba saja kalau kalian berani." Ucap Sheila menantang para gadis itu.

__ADS_1


Para gadis itu kemudian mulai mencoba untuk memukuli Sheila, tapi mereka gagal. Namun yang membuat Sheila terkejut adalah, saat mereka mencoba untuk memukuli Marissa. Untungnya Sheila dapat menghalangi mereka. Tapi hal itu cukup menyulitkan Sheila, karena dia harus melindungi dirinya sendiri dan juga Marissa disaat yang bersamaan.


Seorang gadis mengangkat sebuah batu besar dan langsung melempar nya ke arah Marissa.


'Ctakkk!!!'


Sheila dengan cepat mendorong Marissa dan batu itu malah mengenai dirinya.


"Aaahh....." Teriak Sheila.


Sheila memegang kepalanya dan melihat darah di seluruh tangannya. Sheila mulai merasa pusing dan kemudian berlutut. Marissa begitu panik, ia langsung memeluk Sheila dan berteriak dengan kencang.


"Sheilaaa! Seseorang...! Tolong...!" Teriak Marissa putus asa melihat Sheila yang mulai tak sadarkan diri.


Sheila membuka sedikit matanya dan melihat seorang pria berlari ke arah mereka. Sheila merasa begitu pusing untuk melihat siapa pria itu. Satu hal yang dia ingat hanya pria itu memegang dirinya dan menggendong dirinya di lengannya. Pria itu mempunyai lengan yang kuat yang membuat Sheila merasa aman.


Beberapa saat kemudian Sheila tersadar. Saat dia bangun, dia sudah berada di dalam ruangan sebuah rumah sakit. Sheila lalu duduk ditempat tidur dengan kepalanya yang masih terasa sakit dan sudah di perban.


Sheila melihat ke sekeliling dan dia melihat Marissa juga Dafa berdiri di sampingnya.


"Apa yang terjadi?" Ucap Sheila.


"Kau pingsan setelah wanita itu melempari mu dengan batu. Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Marissa.


"Masih sakit sedikit, tapi sudah lebih baik. Dan kenapa kau ada di sini?" Ucap Sheila melihat kepada Dafa.


Dafa hanya diam.


"Aku tanya, kenapa kau ada di sini? Apa kau ingin menertawai aku?" Tanya Sheila lagi kepada Dafa.


Dafa tetap tidak mengatakan apapun. Jadi Marissa mengambil keputusan untuk menjawab pertanyaan Sheila.


"Apa?" Sheila tampak terkejut.


"Bukankah aku mengatakan kepadamu untuk tidak memberi tahu dia." Ucap Dafa.


"Apa kau pikir aku tidak akan mengatakan sesuatu yang seperti itu kepada sahabatku." Balas Marissa.


'Apa? Dafa adalah orang yang membawaku kemari dengan cara menggendongku? Tidak mungkin, aku pasti bermimpi.' ucap Sheila dalam hati.


"Be... Benarkah?" Ucap Sheila.


Tapi Dafa hanya membalas dengan, "hmpphhh terserah saja."


Dafa hendak pergi tapi Sheila langsung menarik Dafa mendekat ke arahnya.


'Kenapa posisi ini sangat dekat.' ucap Dafa dalam hati.


Jantung Sheila mulai berdegup dengan cepat.


"Te... Terima kasih." Ucap Sheila.


Dafa terlihat sedikit terkejut dan kemudian dia tampak merona dan melihat kearah lainnya.


"Tidak masalah." Balas Dafa.


"Khemmm...." Marissa berdeham.

__ADS_1


Dafa kemudian pergi dengan wajahnya yang masih memerah. Sheila tidak tahu kenapa, tapi Sheila merasa bahwa Dafa tampak begitu menggemaskan.


Marissa mendekat kearah Sheila dan berkata,


"Dia mencintaimu!!!"


"A... Aaa... Apa? Apa kau bercanda?" Ucap Sheila terkejut.


"Aku Marissa, bersumpah atas nama Tuhan bahwa aku tidak berbohong." Ucap Marissa tampak slerius.


"Itu mustahil." Ucap Sheila tampak tidak percaya.


"Lalu kenapa dia merona saat kau berterima kasih padanya?" Tanya Marissa.


"Itu karena dia seorang penggoda!" Jawab Sheila.


"Penggoda tidak akan merona karena ucapan terima kasih. Saat kau merona karena sebuah ucapan terima kasih, itu berarti kau menyukai orang itu!"


'Tapi dia membully aku! Bukankah itu mustahil?' ucap Sheila dalam hati.


Sheila tampak berpikir.


'Apakah Dafa memang menyukai aku?'


**********


Sheila akhirnya harus berdiam diri di rumah untuk beberapa hari. Marissa selalu menginformasikan kepadanya tentang pelajaran di kelas. Jadi Sheila bisa belajar di rumah.


'Aahh, membosankan sekali!' gumam Sheila.


Luka di kepala Sheila sudah hampir sembuh. Dia sudah bisa pergi ke kampus keesokan harinya. Sheila tengah bermain video game saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Masuklah!" Ucap Sheila.


Ternyata itu adalah Marissa.


"Hai Marissa." Sapa Sheila.


Marissa mendekat dengan membawa tasnya. Marissa tampak aneh, dan dia terlihat sedikit marah.


"Kau adalah teman yang buruk. Kenapa kau tidak memberi tahu aku bawa kau adalah nona muda dari keluarga Abraham." Ujar Marissa tampak kesal.


"Aku sebenarnya ingin memberitahumu tapi...."


"Sudahlah, aku memaafkanmu. Tapi mulai sekarang kau tidak boleh merahasiakan sesuatu dariku, kecuali..."


"Kecuali apa?" Tanya Sheila.


"Kecuali... Jika itu untuk ulang tahunku, tentu saja bukan! Aku benci ketika orang merusak kejutan untukku!" Balas Marissa.


Mereka berdua lalu tertawa. Setelah itu, Sheila mengatakan semua tentang hidupnya kepada Marissa. Sheila tidak pernah begitu terbuka kepada orang lain, tapi dia merasa begitu lebih baik setelah memberitahukan semuanya kepada Marissa.


Marissa memeluk Sheila dengan erat dan berkata, "sekarang, kau punya aku!"


'Iya, sekarang aku punya seseorang selain kakakku.' gumam Marissa.


Mereka berdua pun belajar dan kemudian menonton film. Marissa menginap dan tidur dengan Sheila malam itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2