
Hari berikutnya, cuacanya sangat panas....
Tinggal sepuluh hari lagi sebelum ujian akhir di mulai dan Sheila sudah bersiap. Saat Sheila masuk ke dalam kelas, semua orang menatap dirinya.
Sheila bertanya dengan berbisik kepada Marissa.
"Apakah aku begitu cantik?"
"Tentu saja kau cantik, tapi aku rasa itu bukanlah alasan kenapa mereka terus menatapmu." Balas Marissa.
Hari itu berjalan dengan lancar dan Sheila merasa semua itu sangat aneh dengan tanpa adanya wanita yang memuja Dafa mengganggu dirinya dan bahkan Dafa sendiri tidak mengganggu nya.
'Mungkin Tuhan mulai mencintai aku! Mungkin.' ucap Sheila dalam hati.
Setelah kelas selesai, Sheila merasa begitu kepanasan. Tubuhnya begitu berkeringat. Jadi Sheila pun memutuskan untuk mandi di kamar mandi kampus.
Kampus Sheila memang menyediakan kamar mandi yang khusus menyediakan tempat mandi bagi para mahasiswa yang sering melakukan olahraga, seperti bermain basket atau bola dan yang lainnya.
Saat Sheila selesai mandi dan menutup tubuhnya dengan handuk. Dia hendak mengenakan pakaiannya, yang dia taruh di loker, tapi seseorang tiba-tiba masuk ke bilik mandinya.
'Sial! Bahkan kalaupun kau itu wanita, setidaknya kau tidak bisa masuk begitu saja saat seseorang tangah mandi.' pikir Sheila.
Tapi orang yang masuk ke kamar mandi itu kenyataannya bukanlah seorang gadis melainkan seorang pria. Dan itu adalah Dafa.
"Hei, keluarr....!" Teriak Sheila.
Dafa tidak menyadari kehadiran Sheila karena dia membelakangi tubuh Sheila. Saat dia berbalik, terlihat jelas wajahnya begitu terkejut. Kemudian dia melihat Sheila dari atas ke bawah. Wajahnya berubah merah setelah melihat Sheila yang hanya mengenakan handuk.
Sheila mendengar beberapa suara. Para gadis lainnya terdengar berdatangan.
Sheila berusaha untuk mendorong Dafa keluar, tapi Dafa menolak. Dafa menahan tubuh Sheila agar tak mendorongnya keluar dari dalam kamar mandi.
"Keluaar..." Ucap Sheila lagi.
Dafa menarik Sheila mendekat kearah dinding dan menutup mulut Sheila dengan tangannya. Kaki kanan Dafa berada di antara kaki Sheila. Sheila tiba-tiba merasakan panas di tubuhnya. Jantungnya berdegup begitu kencang. Sheila tidak percaya bahwa dia begitu dekat dengan Dafa dan posisi mereka hampir seperti orang yang tengah berciuman.
__ADS_1
Mereka dapat mendengar dengan jelas para gadis yang masuk ke dalam kamar mandi itu tengah mengobrol. Sheila pun mencoba untuk melepaskan dirinya dari pegangan Dafa. Tapi dia terjatuh karena lantai yang begitu licin dan dia terjatuh bersama Dafa.
'Brukkk!!!!'
"Suara apa itu?" Ucap seorang gadis. "Aahh lupakan saja."
Detik berikutnya Sheila mendapati dirinya terduduk di lantai bersama Dafa. Pinggang Dafa berada diantara kedua kaki Sheila. Sheila melihat wajah Dafa yang memerah seperti tomat dan bukan hanya itu, Dafa terlihat tengah melihat ke arah dada Sheila.
Saat Sheila melihat ke arah bawah, dia menyadari bahwa handuk yang dia kenakan sudah terlepas. Bagian dadanya ter'ekspose dengan jelas. Sheila langsung menutup dadanya dengan tangan dan lengannya. Tapi dia tidak bisa dengan mudah menyembunyikannya karena ukurannya yang terlalu besar. Jadi Sheila langsung memeluk Dafa dengan erat, agar dia tidak melihat dadanya.
"Da... Dada mu menekan ku dengan keras." Bisik Dafa dengan wajahnya yang tampak memerah.
"Ku mohon diam lah." Ucap Sheila malu.
Sheila dapat merasakan detak jantung Dafa dan juga napasnya di lehernya. Kemudian Sheila merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana yang terasa menekan pada dirinya.
'Tidak, itu tidak mungkin apa yang aku pikirkan bukan?' ucap Sheila dalam hati.
"Aku merasakan sesuatu yang keras dibawah ku." Ucap Sheila.
"Itu... Itu.... Ma... maaf... Tapi aku juga seorang laki-laki." Ucap Dafa tampak malu.
Keduanya tidak ada yang mengatakan apapun lagi. Mereka berdua takut untuk melakukan sesuatu yang malah bisa saja membuat situasi lebih buruk. Keduanya benar-benar mematung. Keduanya lalu berada dalam posisi seperti itu sampai mereka mendengar para gadis itu keluar dari dalam kamar mandi.
Hanya saat setelah sudah tidak terdengar suara apapun lagi, mereka memutuskan untuk memisahkan diri. Sheila dengan cepat memperbaiki handuk yang terjatuh dari dadanya. Mereka berdua lalu berdiri.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Sheila.
Dafa tidak berani menatap mata Sheila. Pandangan matanya melihat ke arah lain.
"Aku tengah berusaha kabur dari seseorang. Aku pikir ini adalah kamar mandi pria dan kau tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya." Ucap Dafa.
'Kabur dari seseorang? Aku rasa kau hanyalah seorang pria mesum yang sengaja masuk ke dalam kamar mandi wanita.' ucap Sheila dalam hati.
"Bagaimana kalau kita bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa?" Ucap Sheila.
__ADS_1
"Aku hampir kehilangan keperjakaanku. Bagaimana mungkin kita bisa berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa." Balas Dafa.
"Eh!!"
'Oh Tuhan, apakah dia harus membuat hal ini semakin memalukan.' ucap Sheila dalam hati.
Kemudian Dafa menyadari apa yang baru saja dia katakan dan dia langsung menutup mulutnya. Mereka berdua tampak memerah seperti tomat. Sheila lalu mengintip ke arah depan pintu kamar mandi dan tidak ada orang lagi di sana.
"Mereka semua sudah pergi, kau boleh keluar." Ucap Sheila.
Dafa lalu keluar dan setelah Sheila memakai pakaiannya, dia memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi.
'Ya Tuhan, itu adalah momen yang paling memalukan yang terjadi dalam hidupku.' ucap Dafa dalam hati seraya berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai berganti pakaian, Sheila kembali ke kelas dan mulai menerima mata kuliah yang lain. Saat kelas selesai, Sheila menceritakan semua yang terjadi di kamar mandi kepada Marissa.
Marissa mendengarkan Sheila dengan seksama dan wajahnya tampak begitu terkejut. Setelah Sheila selesai menceritakan semuanya, Marissa melihat Sheila dan berkata, "oh ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan, apakah itu benar-benar terjadi? Aku tidak percaya. Itu semua sangat..... Panas."
Marissa mengibaskan tangannya seolah kepanasan.
"Hmmmm bisakah kau tidak mengatakan sesuatu yang memalukan?" Ucap Sheila.
"Bagaimana mungkin aku tidak akan mengatakannya. Itu semua sangat menakjubkan! Dafa pasti merasa gila sekarang!!" Balas Marissa.
"Ke... Kenapa?" Tanya Sheila.
"Karena dia menyukaimu! Bayangkan bahwa seorang pria yang kau sukai hampir telanj*ng dan begitu dekat denganmu. Bagaimana mungkin kau tidak merasa gila?" Ucap Marissa.
"Tapi dia tidak menyukai aku!" Balas Sheila.
"Oh ya ampun. Berapa kali aku harus katakan padamu. Bukankah itu sudah sangat jelas! Dan aku rasa, kau juga sudah jatuh cinta padanya!" Ujar Marissa
"Berhentilah bicara omong kosong! Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya!" Ucap Sheila menggelengkan kepalanya. "Aku? Jatuh cinta padanya? Apakah itu mungkin terjadi?"
Sheila memukuli kepala Marissa.
__ADS_1
"Aduh!! Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti berbicara sekarang. Hahahaha!" Ucap Marissa tertawa.
Bersambung....